Hadapi Mobilitas 8 Miliar Manusia, Prof. Gonda Yumitro Kupas Global Citizenship dan Multikulturalisme di Era Global

Malang, 17 September 2025 — Era global hari ini ditandai oleh mobilitas manusia lintas batas yang kian masif. Dalam kelas Multikulturalisme di Asia yang bertemakan “Living in the Global Era with Citizenship and Multiculturalism: Asian Shift between Globalization and Regionalism” yang diselenggarakan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., mengurai bagaimana pergeseran Asia di antara arus globalisasi dan regionalisme membentuk ulang praktik kewarganegaraan dan kehidupan multikultural di kawasan. Kelas ini merupakan hasil kerja sama Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. “Kita hidup pada masa ketika perpindahan manusia bukan pengecualian, melainkan norma. Dengan populasi dunia yang melampaui delapan miliar, mobilitas lintas negara menjadi motor perubahan sosial, ekonomi, dan politik,” tegas Prof. Gonda di hadapan peserta kelas. Ia menekankan bahwa migrasi hari ini tidak semata soal keluar-masuk warga negara, melainkan juga pengelolaan status, hak, dan partisipasi warga dalam lanskap masyarakat yang semakin beragam. Secara global, pola asal migran menunjukkan konsistensi dalam beberapa dekade terakhir. “India, Meksiko, dan Tiongkok telah lama menjadi lumbung diaspora internasional. Angkanya bukan hanya besar, namun juga berkelanjutan, fenomena ini membentuk jejaring transnasional yang menghubungkan ekonomi, budaya, hingga politik di berbagai negara tujuan,” papar Prof. Gonda. Menurutnya, fakta ini menjelaskan mengapa isu kewarganegaraan hari ini melampaui sekat teritorial, menuntut tata kelola yang lebih peka terhadap realitas multikultural. Fenomena serupa tampak kuat di Asia. Selain India dan Tiongkok, negara-negara seperti Filipina, Pakistan, Bangladesh, dan Indonesia mencatat proporsi pekerja migran yang signifikan di luar negeri. “Perputaran ekonomi dari pekerja migran menjadi penopang ekonomi rumah tangga dan daerah asal, namun itu juga harus diimbangi dengan kebijakan yang menjamin perlindungan, martabat kerja, serta akses terhadap layanan dasar bagi mereka dan keluarganya—baik di negara tujuan maupun setelah kembali pulang,” ujar Prof. Gonda. Ia menambahkan, istilah Tenaga Kerja Indonesia (TKI)—kini juga dikenal sebagai Pekerja Migran Indonesia—mencerminkan kebutuhan pembaharuan paradigma kebijakan yang semula dari sekadar penempatan menuju ekosistem perlindungan yang komprehensif. Di level praksis, kewarganegaraan (citizenship) dan multikulturalisme (multiculturalism) bukan hanya kerangka etik, namun juga perangkat kebijakan. “Kewarganegaraan tidak berhenti pada status legal. Ia harus hadir sebagai pengalaman hidup: akses pendidikan, kesehatan, pekerjaan layak, dan ruang partisipasi politik yang aman bagi seluruh kelompok,” jelasnya. Dalam tataran “Asian shift,” negara-negara di kawasan ditantang untuk menyeimbangkan keterbukaan ekonomi global dengan norma regional, termasuk komitmen terhadap perlindungan migran dan penguatan komunitas multikultural di kota-kota tujuan. Prof. Gonda menutup pemaparannya dengan dorongan reflektif yang membuka wawasan mahasiswa. “Tugas kita bukan sekadar membaca statistik migrasi, namun menerjemahkannya menjadi kebijakan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan. Globalisasi memberi peluang, regionalisme memberi kerangka; kewarganegaraan dan multikulturalisme memastikan tak ada yang tertinggal,” pungkasnya. (fal)

Eksplor Multikulturalisme di Malaysia, Akademisi UniSZA Malaysia Uraikan Sekat Sosial, Ketimpangan, dan Jalan Rekonsiliasi

Malang, 17 September 2025 — Dalam kelas Multikulturalisme di Asia yang bertemakan “Multiculturalism in Malaysia: Experiences, Challenges, and Future Prospects”, Assoc. Prof. Dr. Suyatno Ladiqi, M.A., Ph.D. dari Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia, mengulas bagaimana perbedaan budaya di Malaysia, terutama di antara komunitas Melayu, Tionghoa, dan India; mewarnai kehidupan sosial warganya. Kelas ini merupakan hasil kerja sama Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Suyatno, sapaan akrabnya, menekankan bahwa interaksi antarkelompok merupakan kunci menjaga keharmonisan sosial di tengah keberagaman yang tinggi. “Keberagaman di Malaysia adalah kondisi sosial yang saya hadapi sehari-hari. Tantangannya bukan sekadar merayakan perbedaan, melainkan juga tentang bagaimana kita bisa mengelolanya agar menjadi kekuatan sosial,” ujar Suyatno. Meski demikian, relasi antaretnis belum sepenuhnya mulus. Salah satu hambatan yang disorot adalah kecenderungan sebagian masyarakat untuk lebih banyak bergaul di dalam kelompok etnisnya sendiri. “Ketika ruang sosial makin terkotak-kotakkan oleh identitas, sekat-sekat itu menyempitkan kesempatan bertemu, berdialog, dan berkolaborasi lintas etnis,” jelasnya. Menurutnya, kondisi ini membatasi kemungkinan asimilasi atau pembauran budaya yang sehat dan setara. Suyatno juga menyinggung dinamika perbandingan dengan Indonesia. “Dibandingkan Indonesia yang dalam banyak kasus menunjukkan pertemuan lebih cair di ruang publik, Malaysia masih bergulat dengan ruang-ruang interaksi yang terpisah,” katanya. Ia menilai pengalaman historis, kebijakan pendidikan, hingga ekologi perkotaan turut membentuk pola pergaulan yang cenderung homogen. Di sisi lain, faktor kesenjangan ekonomi juga ikut memengaruhi kualitas interaksi antaretnis. Walaupun ketimpangan di Malaysia relatif lebih moderat dibandingkan Indonesia, perbedaan akses dan peluang antar kelompok etnis tetap terasa. “Ketimpangan ekonomi, meskipun tidak ekstrem, tetap dapat memicu rasa ketidakadilan. Itu sebabnya pemerataan akses terhadap pendidikan, pekerjaan layak, dan layanan publik harus menjadi prioritas,” tegas Suyatno. Menjawab tantangan tersebut, pemerintah Malaysia mengusung berbagai kebijakan yang mendorong persatuan dan saling pengertian, salah satunya melalui inisiatif polarisasi pendidikan untuk mengurangi jarak sosial lewat dunia pendidikan. Program ini diharapkan membuka lebih banyak ruang perjumpaan lintas latar, mengikis stereotip, dan menumbuhkan empati sejak dini. “Sekolah dan kampus adalah laboratorium kewarganegaraan. Makin sering siswa dari beragam latar bertemu dan belajar bersama, makin besar peluang tumbuhnya rasa saling menghormati,” terang Suyatno. Ia juga menegaskan bahwa Indonesia dan Malaysia sejatinya bisa saling belajar, bahwa Indonesia dapat mengadopsi pendekatan kebijakan pendidikan yang lebih terarah seperti di Malaysia, sementara Malaysia dapat menimba praktik keterbukaan ruang publik Indonesia yang mendorong pergaulan antaretnis menjadi lebih cair. Ia menutup dengan penekanan bahwa masa depan multikulturalisme di Malaysia memerlukan sinergi negara dan masyarakat. “Kebijakan yang baik butuh partisipasi warga. Dengan regulasi yang inklusif, praktik pendidikan yang membuka ruang perjumpaan, serta komitmen komunitas, keragaman dapat bergerak ke arah yang lebih positif dan adil,” pungkasnya. (fal)

Perluas Cakupan Kerja Sama, Prodi HI UMM Jajaki Kerja Sama Riset dan Publikasi Internasional dengan UniSZA Malaysia

Malang, 17 September 2025 — Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperluas jejaring kolaborasi global. Pada Rabu (17/9/2025), Prodi HI UMM menghadiri undangan Wakil Rektor Bidang 4 (Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama) dalam diskusi penguatan kerja sama penelitian dan publikasi ilmiah bersama Dr. Suyatno, M.A., Ph.D., perwakilan Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia. Dalam pertemuan tersebut, Prof. Suyatno memaparkan sejumlah skema kolaborasi strategis yang dapat dijalankan bersama UMM. Salah satunya pertukaran mahasiswa selama satu semester, baik melalui mekanisme kredit transfer maupun non-kredit. Program ini ditujukan untuk memperluas wawasan akademik, lintas kurikulum, dan pengalaman internasional mahasiswa dari kedua kampus. Pembahasan juga menyoroti peluang visiting lecture antara HI UMM dan UniSZA. Dosen dari kedua universitas berkesempatan saling mengisi perkuliahan, berpartisipasi dalam pertemuan akademik, hingga menyelenggarakan lokakarya bersama. Inisiatif ini diharapkan memperkaya proses belajar-mengajar sekaligus membuka ruang kolaborasi lanjutan di bidang riset dan pengabdian kepada masyarakat. Aspek pendanaan turut menjadi fokus. Keduanya menjajaki skema pembiayaan bersama dan pengajuan dana riset kolaboratif untuk menghasilkan luaran publikasi bereputasi, khususnya jurnal internasional terindeks Scopus, serta kontribusi book chapter. Dengan dukungan pendanaan bersama, target luaran akademik dinilai lebih terukur dan berkelanjutan. Selain riset dan publikasi, pertemuan juga membahas peluang pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) internasional selama tiga minggu. Program KKN lintas negara ini dirancang untuk melibatkan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian di luar negeri sekaligus memperkuat jejaring internasional kampus. Melalui rangkaian peluang tersebut, penjajakan kerja sama HI UMM—UniSZA diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat reputasi akademik, memperluas jejaring global, dan meningkatkan kontribusi ilmu pengetahuan pada tingkat internasional. (fal)

Rapat Kedua Persiapan CoE Paradiplomasi Batch 3, Prodi HI UMM Matangkan Agenda Strategis, SOP, dan Penempatan Magang

Malang, 10 September 2025 — Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melanjutkan koordinasi persiapan pelaksanaan Center of Excellence (CoE) Paradiplomasi Batch 3 melalui rapat kedua di Laboratorium HI. Forum ini menjadi langkah penting untuk memastikan perkuliahan yang menggabungkan pendekatan teoritis dan praktik lapanganberjalan efektif pada periode 15 September 2025 hingga 10 Januari 2026. Kelas CoE Paradiplomasi akan menghadirkan pemateri dari kalangan praktisi dan akademisi, sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang terintegrasi antara teori dan praktik. Rapat menyepakati empat fokus utama: sosialisasi kelas perdana pada Senin, 22 September 2025, pukul 10.00–11.00 WIB yang dipandu Bagian Kurikulum; Focus Group Discussion (FGD) peserta pada Selasa, 23 September 2025, pukul 13.00 WIB di Laboratorium HI dengan penugasan Bagian Kurikulum menyiapkan materi dan teknis; dan penyusunan SOP kelas untuk memastikan standar teknis di setiap pertemuan; serta penetapan tempat magang mahasiswa CoE Paradiplomasi Batch 3. Penempatan magang disusun untuk mempertemukan pembelajaran kelas dengan kebutuhan nyata mitra daerah. Adapun sebarannya meliputi: Pemerintah Provinsi Jawa Timur (2 mahasiswa/i), Pemerintah Kota Surabaya (3 mahasiswa/i), Kabupaten Banyuwangi/Dinas Pariwisata (2 mahasiswa/i), Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (2 mahasiswa/i), Pemerintah Kota Semarang (2 mahasiswa/i), Pemerintah Provinsi Jawa Barat (2 mahasiswa/i), dan Pemerintah Kota Bandung (2 mahasiswa/i). Skema ini dirancang agar mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung praktik paradiplomasi di tingkat provinsi maupun kota/kabupaten. CoE Paradiplomasi Prodi HI UMM menjadi penanda kuat diferensiasi kurikulum yang tidak hanya membahas paradiplomasi dari sisi teoritis, melainkan juga mengimplementasikannya melalui praktik nyata di lapangan. Branding unggulan ini menjadi bukti komitmen Prodi HI UMM melahirkan lulusan berkompetensi global sekaligus peka pada dinamika lokal. Dengan persiapan yang kian matang, CoE Paradiplomasi Batch 3 diharapkan memperkuat reputasi UMM sebagai pelopor pendidikan tinggi yang memadukan teori dan praktik, serta menjembatani mahasiswa menjadi aktor diplomasi di tingkat global maupun daerah. (fal)

Perkuat Pondasi Praktikal, Prodi HI UMM Gelar Rapat Koordinasi Persiapan Batch 3 Kelas Profesional Paradiplomasi

Malang, 12 Agustus 2025 — Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memantapkan langkahnya dalam mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis praktik dan kolaborasi internasional. Untuk mengaktualisasi visi tersebut, Prodi HI UMM menggelar rapat koordinasi terkait persiapan Kelas Center of Excellence (COE) Paradiplomasi untuk Semester Ganjil Tahun Ajaran 2025/2026. Kegiatan COE Paradiplomasi menjadi salah satu program unggulan Prodi Hubungan Internasional UMM dalam membekali mahasiswa dengan pengalaman belajar yang memadukan teori dan praktik di lapangan. Melalui konsep ini, mahasiswa tidak hanya memahami dinamika hubungan internasional dari sisi akademik, melainkan juga dilatih untuk menguasai keterampilan diplomasi tingkat daerah (paradiplomasi) yang relevan dengan perkembangan global. Dalam rapat yang berlangsung di Laboratorium Hubungan Internasional UMM, para Koordinator Mata Kuliah (MK) sepakat untuk meningkatkan koordinasi dan keterlibatan aktif seluruh tim pengajar. Salah satu fokus pembahasan adalah pengaturan pertemuan rutin serta pemilihan materi oleh dosen praktisi, sehingga setiap perkuliahan dapat berjalan efektif, terarah, dan sesuai kebutuhan mahasiswa. Selain itu, telah disepakati beberapa agenda penting, seperti pertemuan bersama di Bidang 4 untuk membahas kerja sama dengan pihak pemerintah provinsi, kota, dan kabupaten; serta pertemuan koordinasi lanjutan untuk membahas template tugas akhir yang berlaku lintas mata kuliah. Beriringan dengan pelaksanaan Batch 3, Direktur CoE Paradiplomasi UMM, Haryo Prasodjo, S.IP., M.A., menyampaikan evaluasi positif terhadap batch sebelumnya. “Evaluasi terhadap kinerja dan pembelajaran pada Batch 1 dan Batch 2 telah memberikan hasil yang memuaskan dan menjadi pondasi kuat untuk penyelenggaraan Batch 3 kali ini,” tegas Haryo saat diwawancarai. Persiapan pun terus berjalan, dimana dosen pendamping lapangan dari Batch II akan segera berkoordinasi dengan mitra kerja sama guna menyelesaikan administrasi Surat Kesanggupan Mengajar (SKM). Hal ini dilakukan guna memastikan kesiapan semua pihak sebelum perkuliahan dimulai. Pada Batch 3 ini, sekitar 15 mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional UMM yang tergabung dalam CoE Paradiplomasi akan langsung terlibat dalam magang dan proyek lapangan, tentunya berbekal pelatihan khusus paradiplomasi selama satu semester dari dosen dan stakeholder pemerintah sebagai praktisi. Mereka akan ditempatkan di berbagai instansi mitra strategis, seperti Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat; Pemerintah Kota Surabaya, Bandung, Semarang; serta Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dan Jember. Penempatan langsung ini merupakan implementasi inti dari strategi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), yang dirancang untuk memperluas jaringan profesional dan meningkatkan kompetensi mahasiswa di dunia kerja nyata. Dengan segala persiapan yang dilakukan, CoE Paradiplomasi diharapkan semakin efektif sebagai wadah pengembangan kompetensi unggulan bagi mahasiswa HI UMM. Secara bersamaan, program ini juga diharapkan dapat memperkuat reputasi UMM sebagai perguruan tinggi yang aktif menjembatani ilmu pengetahuan dengan penerapan nyata, baik di tingkat global maupun lokal.

Prodi HI UMM Perluas Kerja Sama Paradiplomasi dengan Pemkot Semarang

Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperluas jejaring kerja sama paradiplomasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Inisiatif ini merupakan realisasi visi UMM Pasti melalui Center of Excellence (CoE) Paradiplomasi HI UMM dalam menjalin kolaborasi dengan pemerintah daerah. Delegasi yang terdiri atas dosen struktural Prodi HI UMM dan Tim Task Force CoE Paradiplomasi disambut hangat oleh Sub-Dinas Kerja Sama Luar Negeri Pemkot Semarang. Secara informal, Pemkot Semarang menyepakati peran sebagai mitra strategis CoE Paradiplomasi HI UMM. Komitmen ini mencakup penyediaan data pendukung untuk riset mahasiswa, kesediaan menjadi lokasi Praktik Kerja Lapangan (PKL)/Magang bagi peserta Kelas Profesional Paradiplomasi, serta pelibatan aktif mahasiswa dalam menyumbang ide pengembangan kerja sama luar negeri Pemkot Semarang. Kerja sama ini menciptakan sinergi mutualisme. Bagi Pemkot Semarang, kolaborasi ini menyediakan perspektif akademis dan wawasan global untuk kebijakan kerjasama internasionalnya. Sementara bagi Prodi HI UMM, kerja sama menjadi laboratorium praktis bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu paradiplomasi dan melakukan penelitian berbasis kebutuhan riil pemerintah daerah. Kedua belah pihak berkomitmen segera menyusun Nota Kesepahaman (MoU) formal. “Kolaborasi ini memberi mahasiswa pengalaman langsung di paradiplomasi, sekaligus menyediakan ide segar dan dukungan riset bagi Pemkot,” tegas Haryo Prasodjo, M.A., selaku Direktur CoE Paradiplomasi HI UMM. Pihak Pemkot Semarang menyambut positif jembatan antara kebutuhan akademik dan program internasional mereka. Inisiatif ini semakin mengukuhkan CoE Paradiplomasi HI UMM sebagai pusat kajian hubungan internasional subnasional terkemuka di Indonesia, sekaligus merealisasikan kontribusi UMM bagi pembangunan daerah. (fal)

Jadwal Sidang Akhir dan Seminar Proposal Bulan Agustus 2025

  Berikut adalah jadwal sidang dan seminar proposal untuk bulan Agustus 2025 (Sidang untuk Pelaporan Yudisium Periode IV Tahun 2025). Mohon bagi mahasiswa yang terjadwal dapat mempersiapkan dirinya, dan membaca tata tertib ujian yang tertera pada menu Akademik – PKN & TA – Tugas Akhir – Tata Tertib Pelaksanaan Seminar Proposal dan Ujian Akhir.  

Dari Dinasti Korea ke Panggung Dunia: Mahasiswa HI UMM Hidupkan Diplomasi Budaya di Atmospheral 3.0

  Panggung “Atmospheral 3.0” di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi saksi lahirnya talenta diplomasi budaya tingkat dunia pada Sabtu lalu. Keberhasilan acara ini merupakan buah manis dari sebuah kolaborasi internasional bergengsi antara Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM, University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies, dan Kementerian Pendidikan Republik Korea. Sinergi tiga negara ini diwujudkan melalui penampilan istimewa dari satu kelas khusus yang dibagi menjadi tiga kelompok: Korean Dynasty, Korea Modern, dan Asia Timur. Ketiganya tampil dalam gelaran yang diadakan di Aula BAU UMM dengan tema besar “Cultural Voyage: Diving into Diversity”. Dimas Nugraha Andriyanto, mahasiswa dari kelompok Korean Dynasty, menuturkan kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar yang ia rasakan. “Kami sadar membawa nama besar, bukan hanya UMM, melainkan juga University of Auckland dan dukungan dari Korea. Beban itu kami ubah menjadi motivasi untuk menunjukkan bahwa kolaborasi ini benar-benar menghasilkan pemahaman budaya yang otentik. Setiap detail kostum dan gerakan kami adalah wujud dari keseriusan itu,” ungkapnya. Kepala Laboratorium HI UMM, Hafid Adim Pradana, memvalidasi kualitas yang ditampilkan. “Kualitas dari kelas kerja sama ini jelas melampaui ekspektasi. Keterlibatan mitra internasional seperti Auckland SRI meningkatkan standar riset dan kedalaman materi. Mahasiswa kami jadi terbiasa dengan standar global, dan Atmospheral menjadi panggung pembuktiannya,” ujar Hafid. Apresiasi serupa datang dari pimpinan universitas. Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., melihat acara ini sebagai sebuah model pendidikan masa depan. “Model kerja sama seperti ini adalah masa depan pendidikan tinggi. Atmospheral 3.0 menunjukkan bahwa sinergi antara universitas, lembaga riset asing, dan dukungan pemerintah mampu menciptakan ekosistem pembelajaran yang luar biasa. Ini adalah cetak biru yang akan kami replikasi untuk bidang studi lainnya,” tuturnya. Keberhasilan kolaborasi ini semakin nyata saat kelompok Asia Timur, yang juga berasal dari kelas istimewa tersebut, dianugerahi penghargaan best performance. Pementasan mereka menjadi sorotan utama dan membuktikan bagaimana kemitraan global mampu memperkaya pengalaman akademis secara nyata dan maksimal.

Kolaborasi Tiga Negara Lahirkan Talenta Diplomasi Budaya di Panggung Atmospheral UMM

  Panggung “Atmospheral 3.0” di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi saksi lahirnya talenta diplomasi budaya tingkat dunia pada Sabtu lalu. Keberhasilan acara ini merupakan buah manis dari sebuah kolaborasi internasional bergengsi antara Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM, University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies, dan Kementerian Pendidikan Republik Korea. Sinergi tiga negara ini diwujudkan melalui penampilan istimewa dari satu kelas khusus yang dibagi menjadi tiga kelompok: Korean Dynasty, Korea Modern, dan Asia Timur. Ketiganya tampil dalam gelaran yang diadakan di Aula BAU UMM dengan tema besar “Cultural Voyage: Diving into Diversity”. Dimas Nugraha Andriyanto, mahasiswa dari kelompok Korean Dynasty, menuturkan kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar yang ia rasakan. “Kami sadar membawa nama besar, bukan hanya UMM, melainkan juga University of Auckland dan dukungan dari Korea. Beban itu kami ubah menjadi motivasi untuk menunjukkan bahwa kolaborasi ini benar-benar menghasilkan pemahaman budaya yang otentik. Setiap detail kostum dan gerakan kami adalah wujud dari keseriusan itu,” ungkapnya. Kepala Laboratorium HI UMM, Hafid Adim Pradana, memvalidasi kualitas yang ditampilkan. “Kualitas dari kelas kerja sama ini jelas melampaui ekspektasi. Keterlibatan mitra internasional seperti Auckland SRI meningkatkan standar riset dan kedalaman materi. Mahasiswa kami jadi terbiasa dengan standar global, dan Atmospheral menjadi panggung pembuktiannya,” ujar Hafid. Apresiasi serupa datang dari pimpinan universitas. Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., melihat acara ini sebagai sebuah model pendidikan masa depan. “Model kerja sama seperti ini adalah masa depan pendidikan tinggi. Atmospheral 3.0 menunjukkan bahwa sinergi antara universitas, lembaga riset asing, dan dukungan pemerintah mampu menciptakan ekosistem pembelajaran yang luar biasa. Ini adalah cetak biru yang akan kami replikasi untuk bidang studi lainnya,” tuturnya. Keberhasilan kolaborasi ini semakin nyata saat kelompok Asia Timur, yang juga berasal dari kelas istimewa tersebut, dianugerahi penghargaan best performance. Pementasan mereka menjadi sorotan utama dan membuktikan bagaimana kemitraan global mampu memperkaya pengalaman akademis secara nyata dan maksimal.

Pecah Tiga, Kelas Korea HI UMM Pamerkan Nuansa Korea dan Asia Timur di Atmospheral 3.0

  Sebuah pemandangan unik menjadi pusat perhatian dalam gelaran “Atmospheral 3.0” yang berlangsung di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu lalu. Tiga kelompok dengan penampilan memukau—Korean Dynasty, Korea Modern, dan Asia Timur—ternyata berasal dari satu kelas istimewa yang sengaja dipecah untuk menampilkan kajian yang lebih mendalam. Kelas tersebut merupakan kelas A, hasil kerja sama Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies, yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Keputusan untuk membaginya menjadi tiga kelompok dalam praktikum akhir ini terbukti menjadi strategi brilian. Dalam acara yang mengusung tema “Cultural Voyage: Diving into Diversity”, pemecahan ini memungkinkan eksplorasi yang kaya. Kelompok “Korean Dynasty” membawa penonton ke masa lalu , “Korea Modern” menampilkan dinamika budaya pop kontemporer , sementara kelompok “Asia Timur” memberikan konteks regional yang lebih luas. Strategi ini membuahkan hasil gemilang saat kelompok Asia Timur dianugerahi penghargaan best performance. Zuhair Baheramsyah, mahasiswa dari kelompok Korean Dynasty, membagikan pengalamannya terkait tantangan unik ini. “Awalnya kami kira akan sulit, satu kelas dibagi tiga dengan tema beririsan. Tapi justru di situlah tantangannya. Kelompok kami harus benar-benar fokus pada aspek historis agar tidak tumpang tindih dengan Korea Modern. Ini memaksa kami riset lebih dalam dan spesifik, bukan lagi sekadar mempresentasikan sebuah kawasan, namun juga mempertahankan identitas unik di tengah ‘saudara’ kami sendiri,” jelasnya. Kepala Laboratorium HI UMM, Hafid Adim Pradana, menjelaskan strategi pedagogis di balik keputusan tersebut. “Atmospheral setiap tahunnya adalah laboratorium inovasi kami. Dengan memecah kelas kerja sama ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang wilayahnya, namun juga belajar bagaimana menegosiasikan identitas dan memposisikan ‘produk’ diplomasi mereka di antara kelompok lain yang serupa. Ini adalah simulasi dinamika regional dalam skala mikro,” ujarnya. Apresiasi tinggi datang dari Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., yang melihat pencapaian ini sebagai cerminan visi besar universitas. “Apa yang kita saksikan dari kelas kerja sama ini adalah buah nyata dari visi internasionalisasi UMM. Ini bukan hanya tentang pertukaran budaya, melainkan tentang menciptakan mahasiswa yang mampu berpikir kritis dan menghasilkan karya berkualitas. Keberhasilan mereka menjadi standar baru bagi mahasiswa lainnya,” tuturnya. Pada akhirnya, pementasan dari kelas kerja sama internasional ini menjadi sorotan utama Atmospheral 3.0. Langkah untuk memecah kelas menjadi tiga entitas tidak hanya memperkaya festival, namun juga membuktikan bagaimana sebuah model pembelajaran berbasis pengalaman mampu menggali potensi mahasiswa secara maksimal.