Ketika Teori Bertemu Festival: ‘Atmospheral’ UMM Sulap Praktikum Akhir Jadi Spektakel Budaya

  Saat semester genap tahun ajaran 2024/2025 berakhir, Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendefinisikan ulang konsep ujian akhir. Melampaui penilaian tradisional, prodi ini menggelar “Atmospheral 3.0”, sebuah festival budaya dinamis yang berfungsi sebagai praktikum untuk mata kuliah Kajian Kawasan dalam Hubungan Internasional. Acara yang diadakan di Aula BAU UMM, pada Sabtu (5/7) ini merupakan perpaduan yang disengaja antara evaluasi akademik dan hiburan yang menyegarkan bagi mahasiswa. Proyek ambisius ini merupakan hasil kolaborasi antara Prodi HI dan Laboratorium HI UMM. Dengan tema “Cultural Voyage: Diving into Diversity”, para mahasiswa ditugaskan untuk merepresentasikan budaya dari sembilan kelompok yang berbeda: Afrika, Timur Tengah, Asia Timur, Asia Selatan, Asia Tenggara,  Amerika Latin, Eropa, Korean Dynasty, dan Korea Modern. Format imersif ini menuntut keterlibatan mendalam, mengubah pengetahuan teoretis menjadi pengalaman nyata yang dapat dirasakan. Efektivitas pendekatan pedagogis ini tergambar jelas dari testimoni salah seorang mahasiswa peserta, Faiz Putra Aryaji dari kelompok Asia Timur. “Selama ini kami belajar banyak teori tentang diplomasi budaya dan Studi Kawasan di kelas. Atmospheral ini adalah panggung praktiknya. Kami tidak hanya menampilkan kostum, tapi kami benar-benar ditantang untuk merepresentasikan identitas sebuah kawasan secara akurat. Pengalaman ini jauh lebih mendalam dan aplikatif daripada sekadar ujian tulis biasa,” ungkapnya. Apresiasi juga datang dari kalangan pengajar. Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., mengungkapkan kegembiraannya. “Senang rasanya ada pameran budaya dari Prodi HI UMM. Dapat menjadi media untuk mengenal lebih dalam budaya yang terdapat di setiap negara. Semoga menginspirasi, bisa tur ke beberapa negara dan melanjutkan studi serta menghayati yang ada di masing-masing negara,” tuturnya. Sementara itu, Hafid Adim Pradana, selaku Kepala Laboratorium HI UMM, menekankan pentingnya keberlanjutan acara ini sebagai sebuah legasi. “Praktikum ini merupakan tradisi turun temurun dari beberapa tahun. Berharap dapat diteruskan di tahun berikut-berikutnya untuk mewariskan tradisi dari prodi HI,” ujarnya. Praktikum ini mencapai puncaknya dengan penganugerahan bagi penampilan paling mengesankan: kelompok Asia Timur memenangkan best performance, Asia Selatan meraih best presentation, Afrika dianugerahi best tenant, dan Asia Tenggara berjaya dalam best fashion show. Pada akhirnya, Atmospheral 3.0 terbukti lebih dari sekadar acara yang meriah; ini adalah model pembelajaran berbasis pengalaman yang sukses, membuktikan bahwa ketajaman akademis dan perayaan kreatif dapat berjalan beriringan.

JADWAL KULIAH ANTARA SEMESTER GENAP TA 2024-2025

  HALO! Berikut mimin lampirkan Jadwal Kuliah Antara Semester Genap tahun ajaran 2024-2025. Silahkan dibaca dan dipahami secara saksama ya! Semoga, informasi ini dapat dipahami. Terimakasih semuanya, sampai bertemu di kelas! Jadwal Kuliah Antara Semester Genap tahun ajaran 2024-2025 dapat dilihat pada: Pun jika terdapat pertanyaan lebih lanjut mengenai jadwal tersebut, silahkan menghubungi dosen pengampu atau Call Center HI UMM melalui whatsapp ya!

Peserta Yudisium Periode III Tahun 2025

  HALO! Pertama-tama, kami ucapkan selamat kepada mahasiswa/i yang terdata menjadi Peserta Yudisium Periode III Tahun 2025! Selamat karena usaha teman-teman sudah terbayarkan, dan semoga apa yang telah dilalui dapat menjadi manfaat dan berkah. Berikut juga kami sampaikan informasi yang perlu dipahami untuk memperjelas informasi yang simpang siur mengenai Bebas Tanggungan: Bebas Tanggungan sebenarnya tidak ada kaitannya dengan Yudisium, melainkan dengan pengambilan IJAZAH dan WISUDA. Bebas Tanggungan adalah salah satu syarat untuk mengambil Ijazah, dan mendaftar wisuda. Jadi, mengapa disarankan untuk segera mengurus Bebas Tanggungan sebelum pelaksanaan Yudisium? Karena pendaftaran wisuda dibuka untuk seluruh program pendidikan dari sarjana, magister, sampai dengan doktoral. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pendaftaran wisuda adalah sistem ‘siapa cepat, dia dapat’. Bebas Tanggungan di urus di Perpustakaan, Lab. HI yang ketentuannya dapat dicek di masing-masing website tersebut, serta melakukan pembayaran untuk beberapa hal lainnya yang akan disampaikan di group Wisudawan. Jika seluruh persyaratan Bebas Tanggungan telah selesai, teman-teman cukup dengan mengonfirmasi ke Call Center Prodi HI di +62 811-3332-0110 dengan menunjukkan bukti Bebas Tanggungan, dan menyertakan Nama serta NIMnya. Semoga, informasi ini dapat dipahami dan tidak lagi menyebabkan simpang siurnya informasi mengenai Bebas Tanggungan. Daftar Peserta Yudisium Periode III Tahun 2025 dapat dilihat pada: Jika masih memiliki pertanyaan, silakan menghubungi Call Center Prodi HI melalui WhatsApp maupun Line.

Mahasiswa HI UMM Dorong Desa Kayu Kebek, Pasuruan, Menjadi Desa Wisata 2026 Melalui Praktikum Gerakan Sosial dan Pameran Inovasi

Malang, 3 Juni 2025 –  Semangat pemberdayaan masyarakat terus digelorakan oleh mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui kegiatan Praktikum Gerakan Sosial. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian pengabdian yang telah dilakukan sejak program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM), praktikum mata kuliah Gerakan Sosial, serta praktikum mata kuliah Politik Lingkungan. Puncak dari kegiatan ini ditandai dengan digelarnya pameran produk inovasi di Desa Kayu Kebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, yang bertujuan mendukung transformasi desa tersebut menjadi ‘Desa Wisata 2026’. Kegiatan dini diampu oleh Bapak Ruli Inayah Romadhoan, M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah Gerakan Sosial, selanjutnya dilaksanakan oleh kelompok yang terdiri dari 7 mahasiswa angkatan 2022, antara lain: Sabrina Rafika Aysiwi, Dinda Dwi Nurhidayah, Nikita Angelina Wijaya, Muhammad Adhitya Gus Ismoyo, Hans Yenanda, Ahmad Feryan Perwira Yudha, dan Alvinda Wijaya. Acara puncak yang digelar Senin lalu ini tak hanya menjadi ajang pelatihan dan unjuk karya mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang advokasi yang strategis. Kegiatan ini berhasil menarik perhatian berbagai pemangku kebijakan. Hadir dalam acara tersebut Asisten II Bupati Pasuruan yang mewakili Bupati, Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Ketua Komisi II DPRD, serta beberapa kepala dinas terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pertanian, dan Dinas Pariwisata Pasuruan. Sedangkan dari pihak UMM dihadiri oleh Dr. Salahudin, M.Si., M.P.A. selaku Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerjasama, Kepala Laboratorium HI, Hafid Adim Pradana, M.A., Sekertaris Program Studi HI, Shannaz Mutiara Deniar, M.A., serta Bapak-Ibu dosen Program Studi lainnya. Pameran Inovasi: Solusi Nyata dari Mahasiswa untuk Desa Pameran yang digelar oleh para mahasiswa UMM ini menghadirkan berbagai inovasi yang dihasilkan melalui riset dan pengamatan atas kondisi riil masyarakat Desa Kayu Kebek. Beberapa inovasi unggulan yang dipamerkan antara lain: Tong Pembakaran Sampah Less Asap (Smoke Less Burn Barrel) Inovasi ini hadir sebagai solusi terhadap tingginya produksi sampah organik dari lahan hijau desa. Tong ini dirancang untuk membakar sampah dengan emisi asap yang sangat rendah, sehingga ramah lingkungan. Inovasi ini mendapatkan perhatian khusus dari Dinas Lingkungan Hidup yang berencana mengikutsertakannya dalam lomba inovasi tingkat kementerian. Eco Enzyme dari Buah Sisa Panen Desa Kayukebek dikenal sebagai daerah pertanian dan perkebunan dengan hasil utama berupa apel, jeruk, dan lemon. Namun, buah dengan kualitas rendah kerap dibuang begitu saja ke sungai. Mahasiswa kemudian menginisiasi pembuatan eco enzyme, yaitu cairan serbaguna hasil fermentasi buah-buahan tak layak konsumsi. Produk ini dapat dimanfaatkan untuk pertanian, perikanan, peternakan, dan bahkan kesehatan tubuh. Inovasi ini menarik minat Bupati Pasuruan, khususnya untuk pengembangan sektor perikanan desa. Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah Berangkat dari keprihatinan terhadap limbah rumah tangga, mahasiswa menciptakan lilin aromaterapi dari minyak goreng bekas. Lilin ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan ekonomi. Produk ini mendapat sambutan hangat dari seorang pengusaha lokal yang menyatakan ketertarikannya untuk memproduksi lilin tersebut secara komersial. Promosi Potensi Desa Selain produk inovatif, mahasiswa juga memetakan potensi wisata desa seperti air terjun, pemandian Sendang Sri, Pijen Hills, serta kekayaan budaya lokal. Potensi ini dipresentasikan sebagai modal penting dalam mendorong status Kayukebek sebagai Desa Wisata 2026. Beberapa program dan lembaga desa juga turut dipamerkan sebagai bentuk sinergi dan kolaborasi antara warga dan mahasiswa. Dukungan Nyata dari Pemerintah Daerah Kegiatan mahasiswa ini mendapat respon positif dari DPRD Kabupaten Pasuruan yang menyatakan komitmennya untuk mendukung upaya transformasi Desa Kayukebek. Dalam kesempatan tersebut, DPRD memberikan bantuan dana sebesar Rp100 juta untuk pengembangan desa. Tak hanya itu, Ketua DPRD dan Ketua Komisi II secara pribadi juga memberikan bantuan langsung sebesar Rp8 juta untuk kegiatan keagamaan di pura desa. Dana tersebut langsung ditransfer ke rekening desa saat acara berlangsung. Tak berhenti di situ, bantuan infrastruktur seperti paving block, kendaraan roda tiga (tosa), serta peralatan lainnya turut dijanjikan sebagai bentuk konkret dukungan terhadap pembangunan desa berbasis partisipasi pemuda dan masyarakat. Praktikum yang Berdampak Dosen pengampu mata kuliah Gerakan Sosial menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran kontekstual dan advokatif bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Ini bukan hanya tentang teori sosial atau studi kebijakan, tetapi tentang bagaimana mahasiswa mampu berkontribusi langsung kepada masyarakat dan memfasilitasi perubahan,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa pendekatan multidimensi – mulai dari sosial, budaya, hingga politik lingkungan – merupakan hal penting dalam menjawab tantangan global di tingkat lokal. Dengan melibatkan pemangku kepentingan secara langsung, mahasiswa belajar untuk membangun jejaring, berdiplomasi, serta melakukan advokasi yang efektif. Menuju Desa Wisata 2026 Desa Kayu Kebek kini menatap masa depan dengan optimisme baru. Potensi yang selama ini tersembunyi mulai dikenali dan dikelola melalui pendekatan inovatif dan kolaboratif. Pemerintah desa dan masyarakat menyampaikan apresiasi atas dedikasi mahasiswa dan berharap program serupa bisa terus dilanjutkan dan diperluas. “Mahasiswa UMM telah membuka mata kami bahwa potensi itu ada, tinggal bagaimana kita mau mengelola dan mengembangkan. Kami sangat bersyukur dan siap mendukung agar Desa Kayu Kebek bisa menjadi desa wisata tahun 2026,” ujar salah satu perangkat desa. Dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan advokasi, kegiatan Praktikum Gerakan Sosial ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang belajar di ruang kelas, melainkan juga tentang merajut perubahan nyata di tengah masyarakat. Desa Kayu Kebek kini menjadi saksi bahwa gerakan sosial bisa berbuah menjadi gerakan pembangunan.

Mewakili FISIP, Mahasiswa HI Berhasil Rebut Gelar Juara 1 Ajang Band Rector Cup UMM 2025

Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukir prestasi membanggakan di luar ranah akademik, kali ini melalui ajang seni musik kampus. Kelompok band bernama “Suddenly”, yang seluruh anggotanya berasal dari Prodi HI, berhasil meraih gelar Juara 1 dalam kompetisi band bergengsi Rector Cup UMM 2025. Kemenangan ini dipersembahkan untuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang mereka wakili, menambah deret prestasi non-akademik Prodi HI yang terus bersinar. Penampilan final yang digelar pada 30 Mei 2025 di Lapangan Helipad UMM menjadi bukti ketangguhan mereka menghadapi persaingan ketat dari perwakilan berbagai fakultas se-UMM. Band “Suddenly” terdiri dari Erfian Ananta Iskandar (Vokalis), Muhammad Naufal Ramadan (Rhythm Guitar sekaligus Kapten), Wildan Rahmat Yanuar (Lead Guitar), Gilang Putra Akbar (Bassist), Alief Vilza Hidayatullah (Drummer), dan Nayaka Bisma Nitisara (Manajer). Nama band terinspirasi dari persiapan mereka yang terbilang singkat namun mampu menghasilkan penampilan memukau. Di panggung, mereka berhasil menyihir dewan juri dan penonton berkat soliditas permainan, harmonisasi vokal yang apik, kemampuan individual yang ciamik, serta inovasi dalam penampilan. Energi menggebu dan penghayatan mendalam saat membawakan lagu-lagu pilihan menciptakan atmosfer menghipnotis sepanjang penampilan. Kemenangan ini merupakan buah dari kerja keras, kedisiplinan, dan kekompakan tim baik secara profesional maupun emosional yang dijaga ketat selama dua minggu latihan intensif. Seperti diungkapkan Bisma selaku manajer, kendala utama terletak pada penyatuan ego musikal personel yang memiliki preferensi genre berbeda, mulai dari pop, rock, hingga blues. “Kami harus mencari jalan tengah agar masing-masing skill individu personel terpenuhi,” jelas Bisma tentang proses pemilihan lagu. Muhammad Naufal Ramadan, selaku kapten, menekankan sinergi tim dan dukungan penuh dari berbagai pihak sebagai kunci kesuksesan. “Kami sangat bersyukur dan senang bisa mengharumkan nama Prodi HI dan FISIP. Ini semua berkat dukungan dosen, teman-teman, dan kerja sama tim yang solid,” ungkapnya. Naufal juga menyampaikan terima kasih mendalam kepada BEM FISIP UMM, HIMAHI UMM, serta Tony Tom selaku pemilik Tom Music Studio yang menjadi lokasi latihan mereka. Prestasi gemilang ini disambut suka cita dan kebanggaan mendalam oleh lingkungan Prodi HI maupun Fakultas FISIP UMM secara keseluruhan. Pihak jurusan menilai capaian ini sebagai bukti nyata komitmen mendukung pengembangan mahasiswa yang holistik. Ruli Inayah Ramadhoan, salah satu dosen Prodi HI UMM yang juga aktif di IKABAMA UMM, menegaskan, “Ini bukti konkret bahwa mahasiswa FISIP, khususnya HI, memiliki talenta multidimensi. Mereka mampu berprestasi tinggi di bidang akademik sekaligus menunjukkan ekspresi seni dan jiwa kompetitif yang kuat di panggung seperti Rector Cup.” Gelar Juara 1 Rector Cup UMM 2025 ini semakin memperkaya portofolio prestasi non-akademik Program Studi Hubungan Internasional dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang, mengukuhkan reputasinya sebagai institusi yang melahirkan mahasiswa berkompetensi lengkap dan berprestasi di berbagai bidang. (fal)

HI UMM Gelar Kuliah Interaktif Erasmus+ dengan Akademisi Portugal

Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kuliah interaktif intensif selama dua hari penuh, 27-28 Mei 2025, bersama dua akademisi ternama dari Universidade da Beira Interior Portugal. Bertempat di Ruang Laboratorium HI UMM, Bruno Daniel Ferreira da Costa dan Leandro Ferreira memimpin serangkaian diskusi mendalam dengan mahasiswa, berfokus pada empat isu strategis: Sistem Politik dan Kebijakan Luar Negeri Portugal, transformasi Demokrasi di Era Digital, mekanisme Populisme dan Hoaks di Jejaring Sosial, serta perkembangan terkini Metodologi Riset dalam Ilmu Politik dan Hubungan Internasional. Kegiatan yang merupakan bagian dari program Erasmus+ Guest Lecture ini didesain secara khusus untuk menciptakan ruang dialektika setara. Shannaz Mutiara Deniar, Sekretaris Prodi HI UMM, menjelaskan bahwa format kelas pada umumnya sengaja dipilih untuk mendorong keterlibatan aktif mahasiswa dan membangun kedekatan intrapersonal. “Ini adalah strategi prodi untuk memperdalam kerja sama akademik global sekaligus melatih mahasiswa dalam analisis komparatif,” ujarnya. Pendekatan ini terbukti efektif ketika diskusi tentang tantangan demokrasi digital Eropa langsung dikaitkan mahasiswa dengan dinamika pemilu digital di Indonesia, termasuk perdebatan mengenai regulasi media sosial dan dampak algoritma pada partisipasi publik. Pada sesi tentang mekanisme hoaks, Bruno membedah teknik micro-targeting dalam kampanye populisme Portugal. Analisis ini memantik respons kritis peserta seperti Aloysius Gonzaga Alnabe, yang langsung membandingkannya dengan pola penyebaran hoaks politik di Jawa Timur. “Kami melihat bagaimana teori agenda setting Barat bisa diuji dengan fenomena lokal seperti viralnya konten provokatif menjelang Pilkada,” ucap pencetus Conatus Academy tersebut. Kolaborasi ini diharapkan menjadi pintu bagi pengembangan kerja sama lebih lanjut. Shannaz menyatakan harapan bahwa pengalaman ini dapat menjadi dasar untuk pertukaran pengetahuan dua arah di masa depan, termasuk kemungkinan dosen HI UMM membagikan perspektif Nusantara di Portugal. “Kami berkeinginan untuk suatu saat bisa memperkenalkan nilai-nilai Asia di tatanan pemikiran politik internasional,” ungkapnya. Kegiatan ditutup dengan identifikasi sejumlah inisiatif lanjutan, termasuk proyeksi pengembangan kerja sama, tidak hanya dengan akademisi Portugal, namun juga akademisi-akademisi bereputasi di kancah internasional. “Kami yakin pengalaman ini memperkuat fondasi keilmuan mahasiswa sebagai calon analis global yang berpijak pada realitas lokal,” tegas Shannaz menutup rangkaian acara.

Prodi Hubungan Internasional UMM Hadirkan Akademisi Rumania dalam Sharing Session Isu Keamanan dan Hubungan Uni Eropa-Indonesia

Program Studi Hubungan Internasional kembali menegaskan komitmennya terhadap penguatan perspektif global bagi mahasiswanya dengan menghadirkan Ana-Gabriela Pantea, Ph.D., Associate Professor dari Babeș-Bolyai University of Cluj-Napoca, Faculty of European Studies, Rumania. Dalam kunjungan ilmiah selama dua hari, Pantea membawakan dua sesi kuliah tamu yang membedah isu-isu keamanan kontemporer dan dinamika hubungan Uni Eropa-Indonesia secara kritis dan multidimensional. Dalam sesi yang berlangsung pada 21 April 2025 dan dihadiri oleh mahasiswa Hubungan Internasional, Ana menyampaikan presentasi bertajuk “Missed Opportunity? The Relations Between the EU-Indonesia”. Dengan penuh antusiasme, ia mengajak audiens untuk mengevaluasi ulang apakah Uni Eropa dan Indonesia telah menjadi mitra alamiah dalam rentang waktu 2006–2024. Presentasi ini tidak hanya berisi data historis dan analisis kebijakan, namun juga mempertanyakan secara filosofis apakah kesamaan nilai seperti demokrasi, pluralisme etnis dan agama, serta ekonomi pasar terbuka cukup untuk menyatukan dua kawasan tersebut sebagai mitra strategis. “Dalam banyak hal, kita bisa melihat kesamaan normatif antara Uni Eropa dan Indonesia,” ujarnya. “Namun ketika kita masuk ke detail, seperti prioritas kebijakan luar negeri, nilai-nilai sosial, dan persepsi terhadap ancaman global, justru muncul ketidaksinkronan.” Ana memaparkan bahwa meski terdapat kemitraan formal melalui Partnership and Cooperation Agreement (PCA) yang ditandatangani pada 2009 dan berlanjut dalam upaya perundingan perjanjian perdagangan bebas (FTA), hubungan ini belum sepenuhnya melampaui ranah diplomatik formal ke tingkat hubungan yang lebih substantif. Ia menyebutkan bahwa perbedaan sikap terhadap isu-isu seperti perubahan iklim, HAM, dan konflik global seperti perang Rusia-Ukraina menjadi pemisah signifikan dalam narasi strategis kedua pihak. Mahasiswa terlibat aktif dalam sesi tanya jawab, terutama terkait isu perdagangan minyak kelapa sawit dan posisi Indonesia yang kerap dianggap “netral” dalam geopolitik global. “Paparan ini membuka perspektif saya tentang bagaimana hubungan internasional tak hanya dibentuk oleh kesamaan nilai, tetapi juga oleh persepsi, kepentingan nasional, dan realitas geopolitik yang dinamis,” ujar Nadine, mahasiswa semester 6. Pada hari berikutnya, 22 April 2025, Ana-Gabriela Pantea mengadakan sesi eksklusif bersama para dosen dan peneliti Program Studi Hubungan Internasional. Dalam sesi bertajuk “Abilitare Prezentare Indonesia”, ia menyajikan eksplorasi teoretis mengenai intersubjektivitas, otherness, dan konstruksi identitas dalam wacana politik, dengan pendekatan filosofis yang tajam dan berbasis pengalaman risetnya di Asia dan Eropa. Pantea memaparkan bagaimana konsep “diri” dan “yang lain” (self and other) membentuk struktur relasi internasional. Mengacu pada teori Alexander Wendt, Carl Schmitt, hingga Nancy Choi, ia menjelaskan bagaimana konstruksi musuh sebagai entitas “non-diri” merupakan bagian dari narasi ontologis dan diskursif yang berperan dalam pembentukan identitas negara. Dalam presentasinya, ia juga menyinggung studi lapangan yang dilakukannya terhadap komunitas Roma di Rumania dan kelompok-kelompok yang mengalami eksklusi sosial-politik di Asia, termasuk kasus Uyghur di Tiongkok, Rohingya di Myanmar, dan Muslim di India. “Proses politik sering kali bergantung pada praktik pengasingan, di mana yang berbeda dikonstruksi sebagai ancaman. Ini sangat relevan untuk memahami kebangkitan populisme dan otoritarianisme baru di banyak negara,” paparnya. Diskusi ini menjadi refleksi penting bagi para akademisi di lingkungan Prodi HI. Beberapa dosen menyoroti pentingnya memperkenalkan pendekatan non-Barat dalam memahami realitas politik global saat ini, terutama dalam konteks postkolonial dan dinamika Asia Tenggara. Pantea pun menekankan ketertarikannya untuk memperluas kerja sama riset terkait populisme dan teori hubungan internasional non-Barat, khususnya dengan mitra di Asia. Menyambung Jejaring Akademik Global Kehadiran Ana-Gabriela Pantea tidak hanya memperluas cakrawala berpikir mahasiswa dan dosen, tetapi juga membuka peluang kolaborasi akademik ke depan. Pantea menyampaikan ketertarikannya untuk mengundang kontribusi peneliti Indonesia dalam Studia Europaea, jurnal ilmiah bereputasi yang dikelolanya di Babeș-Bolyai University. Ketua Prodi HI, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menyambut baik rencana ini. “Kegiatan seperti ini adalah bentuk nyata dari internasionalisasi pendidikan tinggi. Kami berharap bisa membangun kolaborasi riset dan pertukaran akademik dengan universitas-universitas di Eropa Timur,” ujarnya. Kegiatan kuliah tamu ini menjadi momentum penting bagi Prodi Hubungan Internasional dalam menghadirkan diskursus kritis dan reflektif mengenai hubungan global. Dengan mengangkat isu yang tidak hanya faktual, tetapi juga konseptual dan normatif, kegiatan ini memperkaya pengalaman belajar mahasiswa serta menguatkan jejaring akademik lintas benua.

Jadwal Sidang Akhir dan Seminar Proposal Bulan Mei 2025

Berikut adalah jadwal sidang dan seminar proposal untuk bulan Mei 2025 (Sidang untuk Pelaporan Yudisium Periode III Tahun 2025). Mohon bagi mahasiswa yang terjadwal dapat mempersiapkan dirinya, dan membaca tata tertib ujian yang tertera pada menu Akademik – PKN & TA – Tugas Akhir – Tata Tertib Pelaksanaan Seminar Proposal dan Ujian Akhir.

Dari Reruntuhan Perang Jadi Raksasa Ekonomi: Pakar Bedah Rahasia Keajaiban Korea Selatan pada Mahasiswa HI UMM

Korea Selatan, negara yang pada 1960-an masih tergolong miskin dengan GDP per kapita setara Ghana, kini menjelma menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Rahasia di balik “Keajaiban Sungai Han” ini diungkap oleh Professor Sung-Young Kim, pakar ekonomi politik dari Macquarie University Australia, dalam serial kelas Kajian Kawasan dalam Hubungan Internasional yang bertajuk “The Economic Development of South Korea: Past to the Present”. Kelas ini merupakan hasil kerja sama Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. “Korea Selatan membuktikan bahwa kemiskinan bukan takdir. Ini hasil dari desain kebijakan yang berani, konsisten, dan kolaborasi antara pemerintah dengan sektor swasta,” tegas Kim di hadapan mahasiswa. Kim menjelaskan bahwa konsep developmental state menjadi pondasi transformasi ekonomi Korea. Pemerintah di era Presiden Park Chung-hee (1963-1979) tidak hanya sekadar intervensi, namun merancang kebijakan industri jangka panjang dengan fokus pada sektor manufaktur berteknologi tinggi. “Negara bertindak sebagai arsitek, sementara chaebol seperti Samsung dan Hyundai menjadi pelaksana. Mereka diberi insentif, namun wajib memenuhi target ekspor dan inovasi. Jika gagal, sanksinya jelas,” paparnya. Data Bank Dunia yang ditampilkan memperlihatkan lonjakan dramatis GDP per kapita Korea dari tahun 1960-an hingga tahun 2023, sementara Indonesia masih terjebak pada stagnasi. “Ini bukan sekadar kerja keras, melainkan governed interdependence—negara dan bisnis saling memperkuat, namun tetap menjaga otonomi,” tambah Kim. Tantangan terbesar, menurut Kim, muncul pasca-Krisis Finansial Asia 1997 yang memaksa Korea melakukan reformasi struktural. “Banyak chaebol kolaps, namun justru itu momentum untuk demokratisasi ekonomi dan transparansi korporasi. Sekarang, Korea harus menghadapi ketimpangan ekonomi yang menganga dan tekanan geopolitik AS-China,” ujarnya. Kim juga menyoroti upaya Korea beralih ke ekonomi hijau melalui Green New Deal 2020, meski investasi energi terbarukan masih tertinggal dari Tiongkok. “Mereka sadar pertumbuhan lama tak sustainable. Namun, transisi ini harus diimbangi dengan kebijakan inklusif agar tak meninggalkan kelompok rentan,” imbuhnya. Dalam tataran ekonomi dan politik Indonesia, Kim menekankan pentingnya belajar dari kesuksesan Korea tanpa menjiplak mentah-mentah. “Indonesia punya sumber daya alam dan SDM melimpah. Namun, tantangan besar bagi Indonesia ialah eksistensi birokrasi yang kompeten dan kebijakan industri yang fokus. Berhenti ekspor bahan mentah seperti nikel—olah jadi produk bernilai tinggi, seperti baterai lithium. Korea dulu mengubah baja impor jadi produk ekspor, sekarang merekalah raksasa semikonduktor,” urai Kim. “Keajaiban ekonomi bisa jadi bumerang jika tak diimbangi dengan keadilan sosial. Pertumbuhan tinggi di era Park Chung-hee dicapai dengan represi politik dan eksploitasi buruh. Sekarang, tantangannya adalah menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan ramah lingkungan,” pungkasnya. Bagi Indonesia, kisah Korea Selatan bukan sekadar inspirasi, melainkan menjadi sebuah pengingat bahwa pembangunan berkelanjutan memerlukan keberanian menata ulang sistem secara holistik. (fal)

Dari Alat Makan hingga Hallyu: Pakar Korea Ungkap Kunci Sejarah Korea dalam Kolaborasi UMM dan Auckland

Asia dan Eropa memiliki perbedaan yang signifikan secara historis. Homogenitas dan Heterogenitas menjadi kunci prakondisi antara kedua wilayah tersebut. Sebagai contoh, Prioritas nilai-nilai Timur (Asia) bertumpu pada keharmonisan sosial dan kepatuhan terhadap otoritas. Sementara itu, Barat (Eropa) memprioritaskan kebebasan individu, demokrasi, dan hak asasi manusia (HAM). Hal tersebut turut dipengaruhi oleh iklim religi dua kawasan tersebut: Barat yang erat dengan tradisi monoteistik Judaeo-Christianism dan Asia dengan keberagaman tradisi atas kepercayaan serta nilai-nilai ketuhanan. Hal tersebut diungkapkan oleh Prof. Changzoo Song, pakar Studi Korea dari University of Auckland, dalam kelas kajian kawasan bertajuk “East Asia and Korea: A Historical and Cultural Introduction to Korean Culture & Society”. Kelas ini merupakan kolaborasi Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies, didukung Kementerian Pendidikan Republik Korea. Heterogenitas kebudayaan di Asia tercermin di tiga negara, antara lain: Korea Selatan, Tiongkok, dan Jepang. Meskipun secara umum terlihat mirip, namun, perbedaan ketiga negara tersebut akan dapat dilihat jika ditilik secara detail. Ketika berbicara perihal alat makan, pada awalnya, Korea dan Tiongkok menggunakan sendok sebagai peralatan makan sehari-hari. Sebab, makanan utamanya masih berupa sup, semur, dan serealia. “Kebiasaan menggunakan sendok dari Tiongkok berubah ketika mie menjadi makanan sehari-hari, sementara masyarakat Korea masih bertahan dengan sendok,” tambah Prof. Song. Jepang juga menggunakan sumpit, namun bentuknya lebih ramping. Berbeda dengan sumpit Korea yang terbuat dari logam, sumpit di Jepang terbuat dari kayu ataupun bambu. Kebiasaan ini disebabkan oleh makanan keseharian masyarakat Jepang yang berupa beras Japonica yang lengket dan lebih mudah diambil jika menggunakan sumpit. Diantara ketiga negara tersebut, Korea Selatan dianggap lebih perkasa di dunia hiburan internasional melalui Hallyu. “Korea Selatan tetap mempertahankan identitas kulturalnya dan justru menjadikannya sebagai senjata dalam persaingan kepentingan internasional. Mereka memanfaatkan unique selling point dari kebudayaannya secara maksimal,” urai Prof. Song.