
Program Studi Hubungan Internasional kembali menegaskan komitmennya terhadap penguatan perspektif global bagi mahasiswanya dengan menghadirkan Ana-Gabriela Pantea, Ph.D., Associate Professor dari Babeș-Bolyai University of Cluj-Napoca, Faculty of European Studies, Rumania. Dalam kunjungan ilmiah selama dua hari, Pantea membawakan dua sesi kuliah tamu yang membedah isu-isu keamanan kontemporer dan dinamika hubungan Uni Eropa-Indonesia secara kritis dan multidimensional.
Dalam sesi yang berlangsung pada 21 April 2025 dan dihadiri oleh mahasiswa Hubungan Internasional, Ana menyampaikan presentasi bertajuk “Missed Opportunity? The Relations Between the EU-Indonesia”. Dengan penuh antusiasme, ia mengajak audiens untuk mengevaluasi ulang apakah Uni Eropa dan Indonesia telah menjadi mitra alamiah dalam rentang waktu 2006–2024. Presentasi ini tidak hanya berisi data historis dan analisis kebijakan, namun juga mempertanyakan secara filosofis apakah kesamaan nilai seperti demokrasi, pluralisme etnis dan agama, serta ekonomi pasar terbuka cukup untuk menyatukan dua kawasan tersebut sebagai mitra strategis.
“Dalam banyak hal, kita bisa melihat kesamaan normatif antara Uni Eropa dan Indonesia,” ujarnya. “Namun ketika kita masuk ke detail, seperti prioritas kebijakan luar negeri, nilai-nilai sosial, dan persepsi terhadap ancaman global, justru muncul ketidaksinkronan.”
Ana memaparkan bahwa meski terdapat kemitraan formal melalui Partnership and Cooperation Agreement (PCA) yang ditandatangani pada 2009 dan berlanjut dalam upaya perundingan perjanjian perdagangan bebas (FTA), hubungan ini belum sepenuhnya melampaui ranah diplomatik formal ke tingkat hubungan yang lebih substantif. Ia menyebutkan bahwa perbedaan sikap terhadap isu-isu seperti perubahan iklim, HAM, dan konflik global seperti perang Rusia-Ukraina menjadi pemisah signifikan dalam narasi strategis kedua pihak.
Mahasiswa terlibat aktif dalam sesi tanya jawab, terutama terkait isu perdagangan minyak kelapa sawit dan posisi Indonesia yang kerap dianggap “netral” dalam geopolitik global. “Paparan ini membuka perspektif saya tentang bagaimana hubungan internasional tak hanya dibentuk oleh kesamaan nilai, tetapi juga oleh persepsi, kepentingan nasional, dan realitas geopolitik yang dinamis,” ujar Nadine, mahasiswa semester 6.
Pada hari berikutnya, 22 April 2025, Ana-Gabriela Pantea mengadakan sesi eksklusif bersama para dosen dan peneliti Program Studi Hubungan Internasional. Dalam sesi bertajuk “Abilitare Prezentare Indonesia”, ia menyajikan eksplorasi teoretis mengenai intersubjektivitas, otherness, dan konstruksi identitas dalam wacana politik, dengan pendekatan filosofis yang tajam dan berbasis pengalaman risetnya di Asia dan Eropa.

Pantea memaparkan bagaimana konsep “diri” dan “yang lain” (self and other) membentuk struktur relasi internasional. Mengacu pada teori Alexander Wendt, Carl Schmitt, hingga Nancy Choi, ia menjelaskan bagaimana konstruksi musuh sebagai entitas “non-diri” merupakan bagian dari narasi ontologis dan diskursif yang berperan dalam pembentukan identitas negara.
Dalam presentasinya, ia juga menyinggung studi lapangan yang dilakukannya terhadap komunitas Roma di Rumania dan kelompok-kelompok yang mengalami eksklusi sosial-politik di Asia, termasuk kasus Uyghur di Tiongkok, Rohingya di Myanmar, dan Muslim di India. “Proses politik sering kali bergantung pada praktik pengasingan, di mana yang berbeda dikonstruksi sebagai ancaman. Ini sangat relevan untuk memahami kebangkitan populisme dan otoritarianisme baru di banyak negara,” paparnya.
Diskusi ini menjadi refleksi penting bagi para akademisi di lingkungan Prodi HI. Beberapa dosen menyoroti pentingnya memperkenalkan pendekatan non-Barat dalam memahami realitas politik global saat ini, terutama dalam konteks postkolonial dan dinamika Asia Tenggara. Pantea pun menekankan ketertarikannya untuk memperluas kerja sama riset terkait populisme dan teori hubungan internasional non-Barat, khususnya dengan mitra di Asia.
Menyambung Jejaring Akademik Global
Kehadiran Ana-Gabriela Pantea tidak hanya memperluas cakrawala berpikir mahasiswa dan dosen, tetapi juga membuka peluang kolaborasi akademik ke depan. Pantea menyampaikan ketertarikannya untuk mengundang kontribusi peneliti Indonesia dalam Studia Europaea, jurnal ilmiah bereputasi yang dikelolanya di Babeș-Bolyai University.
Ketua Prodi HI, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menyambut baik rencana ini. “Kegiatan seperti ini adalah bentuk nyata dari internasionalisasi pendidikan tinggi. Kami berharap bisa membangun kolaborasi riset dan pertukaran akademik dengan universitas-universitas di Eropa Timur,” ujarnya.
Kegiatan kuliah tamu ini menjadi momentum penting bagi Prodi Hubungan Internasional dalam menghadirkan diskursus kritis dan reflektif mengenai hubungan global. Dengan mengangkat isu yang tidak hanya faktual, tetapi juga konseptual dan normatif, kegiatan ini memperkaya pengalaman belajar mahasiswa serta menguatkan jejaring akademik lintas benua.