Peserta Yudisium Periode II Tahun 2025
HALO! Pertama-tama, kami ucapkan selamat kepada mahasiswa/i yang terdata menjadi Peserta Yudisium Periode II Tahun 2025! Selamat karena usaha teman-teman sudah terbayarkan, dan semoga apa yang telah dilalui dapat menjadi manfaat dan berkah. Berikut juga kami sampaikan informasi yang perlu dipahami untuk memperjelas informasi yang simpang siur mengenai Bebas Tanggungan: Bebas Tanggungan sebenarnya tidak ada kaitannya dengan Yudisium, melainkan dengan pengambilan IJAZAH dan WISUDA. Bebas Tanggungan adalah salah satu syarat untuk mengambil Ijazah, dan mendaftar wisuda. Jadi, mengapa disarankan untuk segera mengurus Bebas Tanggungan sebelum pelaksanaan Yudisium? Karena pendaftaran wisuda dibuka untuk seluruh program pendidikan dari sarjana, magister, sampai dengan doktoral. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pendaftaran wisuda adalah sistem ‘siapa cepat, dia dapat’. Bebas Tanggungan di urus di Perpustakaan, Lab. HI yang ketentuannya dapat dicek di masing-masing website tersebut, serta melakukan pembayaran untuk beberapa hal lainnya yang akan disampaikan di group Wisudawan. Jika seluruh persyaratan Bebas Tanggungan telah selesai, teman-teman cukup dengan mengonfirmasi ke Call Center Prodi HI di +62 811-3332-0110 dengan menunjukkan bukti Bebas Tanggungan, dan menyertakan Nama serta NIMnya. Semoga, informasi ini dapat dipahami dan tidak lagi menyebabkan simpang siurnya informasi mengenai Bebas Tanggungan. Daftar Peserta Yudisium Periode I Tahun 2025 dapat dilihat pada: Jika masih memiliki pertanyaan, silakan menghubungi Call Center Prodi HI melalui WhatsApp maupun Line.
The sUMMit 2025 Scholarship by Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

The sUMMit 2025 Scholarship by Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) is NOW OPEN! Are you an ambitious international student dreaming of pursuing higher education in Indonesia? Universitas Muhammadiyah Malang is offering the prestigious sUMMit 2025 Scholarship, providing amazing opportunities to study in a vibrant academic environment. Whether your academic aspirations lead you toward a Bachelor, Master, or Doctoral degree Program, we invite you to seize the chance and apply for these esteemed scholarship! Don’t miss this chance to be part of UMM’s international community!👋🏻
Pakar Korea Bicara K-Drama: Ketika Korsel Taklukkan Dunia dan Jadi Senjata Budaya Global

Drama Korea (K-Drama) telah menjelma menjadi fenomena global yang tidak hanya menghibur, melainkan juga merefleksikan dinamika sosial, politik, dan budaya Korea Selatan. Hal ini diungkapkan oleh Dr. Hee-seung Irene Lee, pakar media dan budaya Korea dari University of Auckland, Selandia Baru, dalam kelas kajian bertajuk “K-Dramas on Global Platforms: Cultural Narratives and Global Impacts”. Kelas ini digelar sebagai bagian dari kolaborasi akademis Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Dr. Lee memaparkan evolusi televisi Korea sejak pertama kali diperkenalkan pada 1956, dengan era 1990-an menjadi titik balik lewat gelombang Hallyu yang membawa K-Drama ke pasar Asia melalui tema universal seperti keluarga, ambisi, dan harmoni sosial. “Ekspor K-Drama tercatat melonjak signifikan, dari pendapatan 101,6 juta pada 2005 hingga menembus 561,3 juta di tahun 2022 Peningkatan ini didorong oleh platform streaming seperti Netflix yang memperluas jangkauan global,” urai Dr. Lee. Berbagai genre K-Drama turut dibedah sebagai cerminan realitas sosial. Trendy drama seperti Business Proposal (2022) dan Crash Course in Romance (2023) menampilkan kehidupan urban yang glamor dengan fokus pada romansa komedi, meski tak lepas dari sorotan ketegangan kelas dan eksplorasi kebahagiaan individu. Sementara itu, Family Drama seperti Reply (1994) menggambarkan transformasi struktur keluarga Korea, memperlihatkan konflik antar-generasi dan idealisasi keluarga inti. Di sisi lain, Workplace Drama seperti Misaeng: Incomplete Life (2014) mengkritik budaya korporat pasca-krisis IMF, sementara Hospital Playlist (2020) menonjolkan etos kerja profesional di bidang medis. Tak ketinggalan, Sageuk atau drama sejarah seperti Mr. Sunshine (2018) menghidupkan narasi masa lalu dengan menyertakan perspektif rakyat biasa dan kelompok marginal yang kerap terabaikan. “Misaeng: Incomplete Life adalah kritik tajam terhadap budaya korporat Korea yang hierarkis, sementara Mr. Sunshine merekonstruksi sejarah kolonial dengan memberi suara pada rakyat biasa, sesuatu yang jarang dilakukan buku teks. Di sisi lain, Business Proposal justru mengkapitalisasi fantasi urban kaum muda tentang romansa dan mobilitas ekonomi, meski tetap menyelipkan satire tentang materialisme,” papar Dr. Lee. Representasi gender dalam K-Drama juga menjadi sorotan. Dr. Lee menjelaskan dualitas antara norma konservatif—seperti romansa berbasis kelas dan pernikahan sebagai klimaks cerita—dengan tren progresif yang mengeksplorasi kebebasan seksual dan identitas gender non-biner, terutama dalam drama yang menyasar audiens muda. Platform streaming seperti Netflix disebut sebagai kunci penetrasi K-Drama ke pasar non-tradisional, dari Amerika Latin hingga Timur Tengah. Serial seperti When Life Gives You Tangerines (2025) dan The Glory (2022) membuktikan kemampuan K-Drama mengangkat tema kompleks sekaligus meraih audiens global. “Namun, di saat bersamaan, kita masih melihat banyak cerita yang mengidealkan pernikahan sebagai happy ending—cerminan ambivalensi masyarakat Korea antara tradisi Konfusianisme dan gelombang feminisme generasi muda,” tambah Dr. Lee. Dr. Lee menegaskan bahwa K-Drama bukan sekadar hiburan, melainkan cermin kompleksitas masyarakat Korea yang terus berubah. Dari layar kaca hingga dominasi platform digital, K-Drama telah menjadi medium soft power yang memproyeksikan nilai-nilai Korea ke panggung global. (fal)
Jadwal Sidang Akhir dan Seminar Proposal Bulan April 2025
Berikut adalah jadwal sidang dan seminar proposal untuk bulan April 2025 (Sidang untuk Pelaporan Yudisium Periode II Tahun 2025). Mohon bagi mahasiswa yang terjadwal dapat mempersiapkan dirinya, dan membaca tata tertib ujian yang tertera pada menu Akademik – PKN & TA – Tugas Akhir – Tata Tertib Pelaksanaan Seminar Proposal dan Ujian Akhir.
Pakar Studi Korea Beberkan Kisah Disparitas Korea Utara-Selatan dan Pengaruhnya di Indonesia

Bahasa Korea, dengan sistem penulisan Hangeul yang unik, telah mengalami evolusi signifikan seiring perjalanan sejarah dan politik Semenanjung Korea. Perbedaan kebijakan linguistik antara Korea Utara dan Selatan pasca-Perang Dingin turut memperkaya dinamika bahasa ini, menciptakan variasi yang menarik untuk dikaji. Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Nicola Fraschini, pakar Studi Korea dari University of Melbourne, dalam kelas kajian kawasan bertajuk “The Korean Language: From the Hangeul to the Differences Between South and North Korean Varieties”. Kelas ini merupakan kolaborasi Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies, didukung Kementerian Pendidikan Republik Korea. “Hangeul, yang diciptakan Raja Sejong pada 1443, awalnya ditujukan untuk memudahkan literasi masyarakat umum. Namun, penerimaannya di kalangan elite terhambat oleh resistensi terhadap perubahan dari tradisi tulisan berbasis Hanja (aksara Tionghoa),” jelas Fraschini. Menurutnya, Hangeul baru benar-benar diadopsi secara luas pada abad ke-20, terutama sebagai simbol perlawanan selama pendudukan Jepang. Fraschini memaparkan, sejak pembagian Korea pada 1948, kedua negara mengembangkan kebijakan bahasa yang berbeda. Korea Selatan berfokus pada standardisasi bahasa berdasarkan dialek Seoul, dengan upaya pemurnian dialek dari pengaruh asing, terutama Jepang. Sementara itu, Korea Utara menetapkan “bahasa berbudaya” berbasis dialek Pyongyang serta menghapus penggunaan Hanja dan membatasi kosakata asing untuk memperkuat ideologi Juche. Data menunjukkan sekitar 63.000 kata berbeda digunakan di kedua negara, terutama dalam istilah teknis dan politik. Namun, intelligibility (saling pengertian) antarpengguna tetaplah tinggi. Perbedaan bahasa juga menjadi tantangan bagi pengungsi Korea Utara di Selatan. Survei Lee (2018) mengungkap 21% pengungsi merasa kesulitan beradaptasi dengan variasi Selatan, termasuk stigma terhadap aksen Utara di media dan dunia kerja. “Mereka sering tertekan untuk menghilangkan aksen asli demi integrasi sosial,” tambah Fraschini. Di sisi lain, program sister city dan pertukaran budaya antara kota-kota Korea Selatan dengan Indonesia (seperti Bandung-Suwon) turut mempopulerkan bahasa Korea di Tanah Air. “Minat generasi muda Indonesia belajar bahasa Korea meningkat signifikan, didorong gelombang Hallyu (K-Wave),” ujar Fraschini. Fraschini menekankan pentingnya kebijakan inklusif untuk merespons keragaman linguistik, seperti program bilingual bagi anak-anak dari keluarga multikultural. “Bahasa Korea tak hanya alat komunikasi, tapi juga cermin identitas dan sejarah bangsa yang terus berevolusi,” pungkasnya. Kelas ini menjadi bukti bahwa kajian bahasa tidak hanya relevan secara akademis, tetapi juga krusial dalam memahami kompleksitas hubungan internasional, khususnya di kawasan Asia Timur. Kedepan, kolaborasi serupa diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa tentang diplomasi budaya dan soft power melalui bahasa. (fal)
Dosen HI UMM Bedah Kerja Sama Indo-Korsel: Dari Sinergi, Investasi, dan Sister City

Kerjasama ekonomi antara Indonesia dan Korea Selatan saat ini semakin berkembang dalam berbagai sektor, tidak hanya dalam cakupan makro melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), namun juga pada skala mikro di sektor seperti kuliner, merchandise, dan produk kosmetik. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan ekonomi antara kedua negara semakin erat. Hal tersebut disampaikan oleb Havidz Ageng Prakoso, M.A dalam kelas Kajian Kawasan yang bertajuk “Economic Cooperations of Indonesia and Korea” Kelas ini merupakan inisiasi kerja sama Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. “Salah satu sektor yang menjadi fokus utama dalam kerjasama ini adalah energi terbarukan. Korea Selatan berinvestasi dalam proyek-proyek energi hijau di Indonesia, termasuk pembangunan pembangkit listrik tenaga surya dan angin. Tujuan dari kolaborasi ini adalah mendukung target Indonesia dalam transisi energi menuju sumber daya yang lebih berkelanjutan,” tutur Ageng menguraikan. Di sektor otomotif, merek besar asal Korea seperti KIA dan Hyundai telah memperluas bisnisnya di Indonesia. Hyundai, misalnya, telah membangun pabrik perakitan di Indonesia dan turut serta dalam pengembangan kendaraan listrik di pasar Indonesia. Kolaborasi ini juga membuka peluang kerja dan transfer teknologi bagi tenaga kerja lokal. Kerjasama ekonomi antara Indonesia dan Korea Selatan dapat dikategorikan ke dalam lima pilar utama. Pertama, peningkatan volume perdagangan (trade) antara kedua negara dengan berbagai komoditas ekspor dan impor. Kedua, investasi (investment) dari Korea ke Indonesia dalam sektor manufaktur dan infrastruktur. Ketiga, kemitraan industri (industry partnership) antara perusahaan besar dari kedua negara. Keempat, transfer teknologi dan inovasi (technology and innovations) dalam bidang industri digital dan manufaktur. Kelima, kerjasama strategis (strategic partnership) dalam berbagai bidang yang mendukung pertumbuhan ekonomi kedua negara. Data menunjukkan adanya peningkatan ekspor Indonesia ke Korea Selatan dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan data belanja online, Indonesia menjadi salah satu negara utama preferensi bagi ekspor Korea, terutama dalam produk seperti mie instan, gula, dan merek ponsel asal Korea. Ageng juga memaparkan bahwa terdapat beberapa perusahaan besar Korea yang telah menjalin joint venture dengan perusahaan lokal di Indonesia. “Perusahaan seperti Hyundai, LG, Komipo, Daewoong, CJ, Lotte, dan Samsung telah berinvestasi dan membangun fasilitas produksi di Indonesia. Ini menunjukkan kepercayaan perusahaan Korea terhadap potensi pasar dan sumber daya di Indonesia,” imbuhnya. Selain dalam bidang ekonomi, hubungan Indonesia dan Korea juga diperkuat dengan kerjasama sister city antara beberapa kota di Indonesia dan kota-kota di Korea Selatan. Beberapa contoh sister city yang telah terjalin adalah antara Bandung, Surabaya, Subang, dan Jogjakarta dengan kota-kota di Korea. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pertukaran budaya, pendidikan, serta kerjasama dalam bidang ekonomi dan teknologi. Daya tarik Indonesia bagi investor Korea Selatan didasarkan pada tiga faktor utama, yaitu sumber daya manusia (human resource) yang melimpah dan berpotensi untuk dikembangkan, stabilitas ekonomi dan kebijakan investasi (financial resource) yang mendukung, serta ketersediaan sumber daya alam (natural resource) yang mendukung berbagai sektor industri. Perkembangan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Korea Selatan telah menunjukkan transformasi signifikan yang bermanfaat bagi kedua negara. Dari sektor energi terbarukan hingga otomotif, dan dari perdagangan hingga investasi strategis, hubungan bilateral ini telah membentuk pondasi yang kokoh untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Dengan didukung oleh program sister city dan pertukaran budaya, Indonesia dan Korea Selatan tidak hanya menjalin hubungan ekonomi, melainkan juga membangun ikatan yang lebih dalam di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Keberhasilan kerjasama ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi internasional yang saling menguntungkan dapat mempercepat pembangunan dan mendorong inovasi. “Ke depannya, dengan terus memanfaatkan keunggulan komparatif masing-masing negara hubungan bilateral ini diprediksi akan semakin berkembang dan membuka lebih banyak peluang kerja sama yang strategis dan berkelanjutan. Dari yang semula kolaborasi diplomatik, menjadi celah potensial sebagai ladang investasi,” pungkas Ageng mengakhiri. (fal)
Dari Segyehwa ke Global Korea, Dosen Prodi HI UMM Ungkap Guncangan Politik Luar Negeri Korea Selatan

Kebijakan luar negeri Korea Selatan telah mengalami transformasi signifikan sejak era Segyehwa (globalisasi) pada 1990-an, menuju fase baru yang lebih ambisius: Global Korea (2008–2022). Perubahan ini tidak hanya mencerminkan ambisi negara tersebut untuk memperluas pengaruh global, melainkan juga upaya mengatasi ketidakamanan ontologis—krisis identitas yang muncul dari rasa malu dan ketidakpastian terhadap masa depan. Gagasan tersebut disampaikan oleh Hafid Adim Pradana, M.A dalam kelas Kajian Kawasan oleh Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerja sama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Kebijakan Segyehwa di era 1990-an menjadi pondasi awal integrasi Korea Selatan ke dalam tatanan global pasca-Perang Dingin. Namun, sejak 2008, pemerintah Seoul meluncurkan inisiatif Global Korea untuk memperkuat peran negara sebagai aktor internasional yang aktif dalam isu keamanan, pembangunan, dan diplomasi. Langkah ini mencakup partisipasi dalam misi perdamaian PBB, peningkatan bantuan pembangunan resmi (ODA), serta diplomasi budaya melalui gelombang K-pop dan industri kreatif. Adim, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa jika diretas melalui teori Keamanan Ontologis, negara tidak hanya mengejar keamanan fisik, namun juga stabilitas identitas nasional. Korea Selatan, sebagai negara yang pernah terpuruk akibat kolonialisme Jepang dan Perang Korea, kerap menghadapi rasa malu akibat kesenjangan antara identitas yang diinginkan (negara maju dan dihormati) dengan realitas sejarahnya,” jelasnya. Ia juga tak luput menambahkan bahwa diskontinuitas muncul dari ketidakpastian akan stabilitas identitas di tengah dinamika geopolitik, seperti ketegangan dengan Korea Utara atau tekanan dari kekuatan besar seperti AS dan Tiongkok. Mengutip ahli seperti Hugo von Essen dan Augustus Danielson, Adim menyoroti tiga sumber ketidakamanan ontologis yang dihadapi Seoul, antara lain: refleksif (kritik internal terhadap ketidakmampuan negara memenuhi standar global), relasional (interaksi dengan aktor lain, seperti persaingan dengan Jepang atau ketergantungan pada AS), dan sistemik (tekanan untuk menyesuaikan diri dengan norma internasional, seperti demokrasi dan HAM). “Melalui Global Korea, Seoul berupaya membangun narasi baru sebagai ‘negara global yang bertanggung jawab’. Kontribusi dalam agenda perubahan iklim, keanggotaan di Dewan Keamanan PBB, dan diplomasi kesehatan global selama pandemi COVID-19 menjadi bukti komitmen ini. Langkah ini tidak hanya memperkuat kepentingan materiil, namun juga membentuk identitas kolektif yang lebih stabil, mengurangi rasa malu dan ketidakpastian masa lalu,” urai Kepala Lab HI UMM tersebut. Meski dianggap sukses meningkatkan citra Korea Selatan, kebijakan Global Korea masih diuji oleh kompleksitas hubungan dengan negara tetangga dan tekanan sebagai “negara tengah” di kerlingan AS dan Tiongkok. Namun, upaya Seoul menunjukkan bahwa keamanan ontologis bukan hanya konsep teoretis, melainkan bagian integral dari strategi negara untuk bertahan di panggung global. “Dapat dilihat bahwa transformasi kebijakan luar negeri Korea Selatan mencerminkan perjalanan panjang dari negara yang pernah terfragmentasi menjadi aktor yang percaya diri, membuktikan bahwa stabilitas identitas sama krusialnya dengan keamanan fisik dalam diplomasi abad ke-21,” ujar Adim mengakhiri kelas.
Respon Kehadiran AI, Prodi HI UMM Adakan Workshop Tools Penelitian dan AI

Merespon kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di ranah akademis, Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan kelas khusus bertajuk “2nd Graduate Workshop on Mixed Methods Using Artificial Intelligence and Application”. Kelas ini merupakan bagian dari inisiatif kerja sama antara Program Studi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. “Kehadiran AI telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam ranah akademis keilmuan sosial dan humaniora. AI tidak hanya mempengaruhi aspek keamanan dan pertahanan, namun juga diplomasi, perdagangan internasional, dan interaksi global,” ujar Ahmad Fauzi, M.Pd. Fauzi, kerap ia disapa, juga menjelaskan bahwa AI dapat digunakan untuk menganalisis data dalam jumlah besar yang diperlukan dalam pembuatan kebijakan luar negeri. “Dengan kemampuan analisis data yang canggih, AI dapat membantu para pembuat kebijakan untuk membuat keputusan yang lebih akurat dan cepat. Misalnya, AI dapat digunakan untuk memprediksi konflik, menganalisis sentimen publik di media sosial, dan memonitor perkembangan situasi global secara real-time,” tambahnya. Selain itu, AI juga memiliki peran penting dalam diplomasi. “AI dapat digunakan untuk menerjemahkan bahasa secara real-time, memfasilitasi komunikasi antarnegara yang memiliki perbedaan bahasa. Selain itu, AI juga dapat membantu dalam negosiasi internasional dengan menganalisis pola dan strategi negosiasi yang efektif,” papar Fauzi. Namun, kehadiran AI juga membawa tantangan baru. “Salah satu tantangan utama adalah isu keamanan siber. AI dapat digunakan untuk serangan siber yang lebih canggih dan sulit dideteksi. Selain itu, ada juga kekhawatiran tentang etika dan privasi data, terutama dalam konteks pengumpulan dan penggunaan data oleh negara-negara,” ujarnya. Kelas ini juga membahas implikasi AI dalam perdagangan internasional. “AI dapat meningkatkan efisiensi dalam rantai pasokan global, memprediksi permintaan pasar, dan mengoptimalkan logistik. Namun, ada juga kekhawatiran bahwa AI dapat menyebabkan disrupsi di pasar tenaga kerja, di mana banyak pekerjaan yang dapat diotomatisasi,” kata Fauzi. Dalam lanskap keamanan internasional, AI memiliki potensi untuk digunakan dalam sistem senjata otonom. “Sistem senjata otonom yang dikendalikan oleh AI dapat mengubah lanskap peperangan. Namun, hal ini juga menimbulkan pertanyaan etis dan legal tentang tanggung jawab dan kontrol atas penggunaan senjata semacam itu,” tambahnya. Kelas ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada mahasiswa HI UMM tentang dampak AI dalam ilmu Hubungan Internasional. “Mahasiswa perlu memahami bahwa AI bukan hanya teknologi, namun juga faktor yang mempengaruhi dinamika hubungan internasional. Dengan pemahaman ini, mereka dapat lebih siap menghadapi tantangan dan peluang yang dibawa oleh AI di masa depan,” tutup Fauzi.
Jadwal Sidang Akhir dan Seminar Proposal Bulan Februari 2025
Berikut adalah jadwal sidang dan seminar proposal untuk bulan Februari 2025 (Sidang untuk Pelaporan Yudisium Periode II Tahun 2025). Mohon bagi mahasiswa yang terjadwal dapat mempersiapkan dirinya, dan membaca tata tertib ujian yang tertera pada menu Akademik – PKN & TA – Tugas Akhir – Tata Tertib Pelaksanaan Seminar Proposal dan Ujian Akhir.
Jadwal Perkuliahan Semester Genap 2024 – 2025
Berikut adalah jadwal perkuliahan untuk semester genap 2024 – 2025 yang akan dimulai pada 17 Februari 2025. Mohon untuk mengecek jadwal masing-masing dengan seksama, sehingga dapat mengikuti perkuliahan dengan baik dan tepat waktu. SEMANGAT MENEMPUH SEMESTER BARU!!