Serial Kuliah Eurasia Prodi HI UMM: Indonesia Konsisten Dukung Palestina Sejak Era Orde Lama

Indonesia merupakan negara yang memiliki hubungan mesra dengan Palestina. Secara kausalitas, fakta historis menyebutkan bahwa Palestina merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto pada 6 September 1944. Pernyataan tersebut ditegaskan oleh Staf Ahli Menteri Sekretaris Negara Bidang Politik, Pertahanan dan Keamanan Kementerian Sekretariat Negara RI Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M. Hum. pada kelas Multikulturalisme di Asia Prodi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Prof. Dadan menekankan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam tataran politik internasional. “Indonesia merupakan salah satu anggota G20, lalu bisa menjadi host di tahun 2022. Indonesia juga merupakan salah satu negara penyumbang personel pasukan perdamaian PBB. Tidak hanya itu, Indonesia juga pernah menjadi mediator konflik bersenjata di Thailand dan Filipina,” urai Prof. Dadan. Hubungan romantis Indonesia dengan Palestina telah berlangsung lama. Pada era Orde Lama, Presiden Soekarno menyerukan kepada negara-negara yang terintegrasi dalam Konferensi Asia-Afrika untuk memberikan bantuan moral dan material kepada rakyat Palestina. Di era kepresidenan Soeharto pun Indonesia juga mendukung Palestina. Terbukti ketika Presiden Soeharto mendukung Yasser Arafat, selaku pendiri Palestinian Liberation Organization (PLO). Posisi Indonesia di era reformasi dapat dibilang masih konsisten. Bahkan Indonesia juga dengan gagahnya mendukung Palestina secara terang-terangan dan mengecam agresivitas Israel. “Baru-baru ini, saya sangat bangga akan sikap Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, ibu Retno Marsudi, yang dengan tegas menyatakan di Forum PBB bahwa Indonesia mengecam tindakan Israel di Gaza, Palestina,” terang Prof. Dadan. Langkah yang diambil oleh Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia tetap konsisten dalam mendukung Palestina dari masa ke masa. Prinsip kemanusiaan dan keadilan yang tertuang pada Pembukaan UUD 1945 Alinea Pertama terus saja digaungkan. “Terserah pandangan Anda apa. Akan tetapi, yang jelas, Indonesia akan tetap tegak berdiri di belakang Palestina,” tutup Prof. Dadan. (fal/han)

Serial Kuliah Eurasia HI UMM: Dosen Auckland Sebut Migrasi Muslim Xinjiang Pengaruhi Inovasi Kuliner Korea

Korea Selatan seakan-akan tidak pernah kehabisan inovasi di bidang kuliner. Mulai dari penggunaan sepeda bekas hingga mesin pemanggang otomatis, industri kuliner Korea Selatan telah menyebabkan dampak secara global. Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Studi Asia di University of Auckland, New Zealand, Prof. Chanzoo Song pada kelas Multikulturalisme di Asia, sebuah kelas kolaborasi Prodi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Eurasia Foundation. Pada dekade 1980-an, komunitas Muslim Xinjiang yang tinggal di Korea membawa tradisi panggang daging mereka yang menggunakan daging domba. Hal tersebut menginspirasi para pengusaha kuliner Korea untuk berinovasi, mulai dari menggunakan sepeda bekas untuk tusuk sate hingga alat pemanggang otomatis. “Ide revolusioner tersebut menambah keunikan cikal bakal kuliner Korea yang hingga saat ini menjadi semakin populer,” terang Prof. Changzoo. Migrasi Muslim Xinjiang ke Korea tersebut tentu menimbulkan dampak, yaitu munculnya masyarakat yang multikultural. “Pada awalnya, memasak barbeque menggunakan daging domba bukanlah hal yang lazim di Korea. Namun, sejak kehadiran masyarakat Muslim Xinjiang, hal ini menjadi lazim dan populer,” ungkap Prof. Changzoo. Hingga saat ini, tren barbeque Korea tersebut telah menyebar di berbagai penjuru dunia, memengaruhi restoran, kebiasaan makan, hingga merambah ke industri pangan internasional. Produsen daging layaknya Selandia Baru pun turut merasakan dampak positif tren kuliner ini. Perjalanan tersebut bukan hanya seputar kuliner, melainkan juga proses tercampurnya budaya asing dan lokal, sehingga dapat menciptakan identitas budaya baru. Hal ini menjadi bukti bahwa kondisi masyarakat yang multikultural juga dapat membawa dampak pada sektor kuliner. “Melalui kisah inovatif tusuk sate dari komponen sepeda bekas, kita dapat melihat masa depan kuliner yang kian bertransformasi dan mempesona,” tutup Prof. Chen. (fal/han)

​​Serial Kuliah Eurasia Prodi HI UMM: Profesor Asia University Taiwan Yinghuei Chen Ungkap Pentingnya Solidaritas Internasional di Era Pasca Pandemi

Globalisasi memiliki perjalanan panjang dalam sejarah umat manusia. Globalisasi mengarah pada menyusutnya ruang dan waktu sebagai akibat dari mudahnya akses terhadap komunikasi dan mobilisasi. Begitulah penjelasan dari Prof. Yinghuei Chen, Ph.D, profesor dari Asia University Taiwan, terkait dengan globalisasi dalam kelas Multikulturalisme di Asia oleh Prodi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Prof. Chen, kerap ia disapa, memberikan pengantar mengenai kondisi multikulturalisme di era globalisasi pasca pandemi kepada para mahasiswa. Menurutnya, pandemi COVID-19 sangat berdampak kepada arus globalisasi. “Adanya lockdown atau bahkan isolasi nasional di setiap negara tentu saja memengaruhi mobilitas dan likuiditas proses globalisasi,” jelas Prof. Chen. Lockdown atau isolasi nasional yang diberlakukan oleh negara-negara tersebut dapat diartikan sebagai solidaritas internasional. Dengan diberlakukannya pembatasan akses masuk ke sebuah negara dari jalur darat, laut, maupun udara, maka negara-negara secara tidak langsung telah bersolidaritas demi melawan penyebaran virus COVID-19. Dengan tujuan yang sama, yaitu memberantas COVID-19, negara-negara telah bersolidaritas lintas batas. Keterlibatan dan partisipasi aktif negara-negara dalam menghadapi COVID-19 tentu melibatkan berbagai pihak dari beragam etnis, ras, dan agama. Jika menilik solidaritas internasional selama pandemi, maka akan terlihat jelas bahwa tantangan global akan dapat diatasi melalui kolaborasi bersama. Solidaritas lintas batas tersebut merupakan bukti rasional bahwa kondisi multikulturalisme dapat membawa banyak dampak positif, terutama saat memosisikan diri dalam menghadapi tantangan global. “Dengan mengedepankan inklusivitas, menghargai perbedaan yang ada, dan mengutamakan kepentingan bersama, maka kita pasti bisa menghadapi berbagai tantangan, baik dari lingkup regional maupun internasional,” urai Prof. Chen mengakhiri. (fal/han)

Serial Kuliah Eurasia Prodi HI UMM: Pentingnya Bahasa Asing sebagai Fondasi Daya Saing Global

Interaksi langsung antar individu atau kelompok dengan budaya yang berbeda membutuhkan perantara, yaitu bahasa. Hal tersebut menjadi bukti rasional bahwa aspek kebahasaan memiliki peran penting dalam lingkup yang multikultural. Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Dianni Risda, S.Pd., M. Ed. dalam kelas Multikulturalisme di Asia, sebuah kelas hasil kolaborasi Prodi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Eurasia Foundation. Dalam pemaparannya, Dianni mengungkapkan bahwa ketidakpahaman akan suatu konsep ataupun konteks dalam berinteraksi akan menimbulkan sebuah prasangka yang berujung pada konflik. “Sebagai bagian dari sivitas akademika, hal yang wajib kita lakukan ialah memperluas wawasan, membuka hati agar bersikap toleran, dan tidak menjadikan budaya sendiri sebagai sebuah patokan,” tegas Dianni. Bahasa merupakan salah satu fondasi dari sebuah budaya. Ketika bahasa telah hilang, maka budaya juga akan berpotensi hilang. Tidak hanya itu, berbagai pengetahuan yang merupakan produksi dari intelektualitas juga akan hilang dari peradaban. “Selain untuk mengembangkan kompetensi diri agar berdaya saing global, mempelajari bahasa asing juga berguna untuk membangun komunitas Asia yang multikultural,” ungkap Dianni. Selain itu, Dianni juga menerangkan bahwa dunia industri sekarang juga sangat membutuhkan keterampilan bahasa. “Di era modern seperti saat ini, keterampilan yang diperlukan tidak hanya berpikir kritis dan kreatif, melainkan juga kemampuan berkomunikasi serta berkolaborasi,” tambah Dianni. Dengan memahami aspek kebahasaan, Dianni juga mengedepankan nilai-nilai spesifik budaya Asia yang beragam. Melalui pemahaman terkait kultur bangsa-bangsa di Asia, melampaui perbedaan yang ada, maka keanekaragaman di Asia dapat menjadi kekuatan yang tak terduga. Hal tersebut dapat diaktualisasikan melalui komunikasi lintas budaya serta bersentuhan langsung dengan individu atau kelompok dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda. (fal/han)

Serial Kuliah Eurasia Prodi HI UMM: Staf Kedubes Indonesia di Uzbekistan Bicara Perihal Budaya dan Relasi Strategis Indonesia-Uzbekistan

Uzbekistan merupakan negara yang menyimpan kekayaan kultural yang melimpah. Kondisi yang demikian diakibatkan oleh banyaknya etnis yang menempati Uzbekistan, antara lain: Uzbek, Rusia, Tajik, dan Karakalpak. Hal tersebut dijelaskan oleh Sekretaris Pribadi Kedutaan Besar Indonesia di Uzbekistan, M. Mufti Rakadia Sumaryadi, pada kelas Multikulturalisme di Asia Prodi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sejarah Uzbekistan tak dapat dilepaskan dengan Amir Timur atau Timur Lenk yang merupakan keturunan Genghis Khan. Melalui pengalamannya, Mufti bercerita bahwa di Tashkent terdapat monumen yang didedikasikan untuk Amir Timur. Selain itu, Uzbekistan juga terkenal akan sejarah Islamnya. “Imam Bukhari dan Ibnu Sina berasal dari Uzbekistan. Oleh karena itu, pengaruh kedua tokoh ini juga sangat besar di sana,” terang Mufti. Meskipun Uzbekistan merupakan negara dengan sistem sekuler, regulasi terkait dengan Islam berlaku sangat ketat, mulai dari regulasi seleksi imam, desain arsitektur masjid, hingga pelaksanaan salat tarawih selama bulan Ramadan. “Hal unik pada pelaksanaan salat tarawih di Uzbekistan adalah membaca surat sunnah secara berkelanjutan, jadi sepanjang bulan Ramadan bisa khatam Qur’an melalui salat tarawih,” jelas Mufti. Dengan berbekal pengalaman selama empat tahun tinggal di Uzbekistan, Mufti merasa masyarakat Uzbekistan tidak jauh bedanya dengan masyarakat Indonesia. Kondisi yang multikultur sama saja ia rasakan saat berada di Uzbekistan. Dengan kondisi yang hampir sama inilah Mufti mengajak mahasiswa Prodi HI UMM untuk melanjutkan studi di Uzbekistan. Pemuda yang menguasai sembilan bahasa ini berpesan kepada mahasiswa Prodi HI UMM agar senantiasa mempelajari bahasa asing. Hal ini dikarenakan oleh banyaknya kesempatan yang akan didapatkan jika kita telah menguasai bahasa asing, termasuk dalam melanjutkan studi ke luar negeri. “Terkadang bahasa bisa menjadi kendala dalam berkolaborasi lintas budaya, apalagi lintas negara,” tutup Mufti. (fal/han)

Serial Kuliah Eurasia Prodi HI UMM: Akademisi India Nilai Inklusivitas sebagai Modal Membangun Harmoni Multikulturalisme Asia

Sebagai benua terluas, Asia memiliki kekayaan kultural yang beragam. Dimulai dari Asia Selatan, Asia Timur, Asia Barat, hingga Asia Tenggara. Keberagaman tersebut dapat diamati dari ragam etnis, agama, hingga kebudayaan. Menyikapi kondisi tersebut, Guru Besar Jawaharlal Nehru University (JNU) India, Prof. Gautam Kumar Jha, Ph.D mengajak para mahasiswa Prodi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memahami betapa pentingnya menghargai dan memahami beragam budaya selain Indonesia. Melalui kelas Multikulturalisme di Asia, sebuah kelas hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan Eurasia Foundation, Prof. Gautam menegaskan bahwa kita harus mendorong upaya persatuan dan kesatuan tanpa memandang etnis, budaya, maupun agama dalam lingkungan yang multikultural. “Kesetaraan, inklusivitas, dan toleransi merupakan kunci untuk membangun komunitas Asia yang presisi,” terang Prof. Gautam. Menurut Prof. Gautam, nilai-nilai tersebut relevan dengan ajaran Mahatma Gandhi, yaitu tentang antikekerasan dan menghargai perbedaan. Jika diimplementasikan dengan baik, maka aktualisasi visi terciptanya komunitas masyarakat multikultural yang harmonis dapat tercapai. Salah satu cara mengimplementasikan nilai-nilai tersebut ialah melalui pendidikan. “Sosialisasi dan edukasi terkait dengan penerimaan kondisi yang multikultural menjadi sangat penting, hal ini dikarenakan oleh nilai-nilai seperti inklusivitas dan toleransi dapat diterapkan mulai dari lingkungan sekolah atau pendidikan. Pertukaran pelajar dapat menjadi jembatan pertukaran budaya dan bahasa oleh peserta didik,” urai Prof. Gautam. Pada kesempatan yang sama, Prof. Gautam juga menawarkan kesempatan untuk melanjutkan studi ke India kepada para mahasiswa, terutama ke Jawaharlal Nehru University. “Salah satu manfaat komunitas di masyarakat yang multikultural ialah terbukanya aktivitas ekonomi yang lebih inklusif dan banyaknya peluang untuk melanjutkan studi ke luar negeri,” Prof. Gautam mengakhiri. (fal/han)

Serial Kuliah Eurasia Prodi HI UMM: Diplomasi Sains, Langkah Strategis Membangun Kolaborasi Global

Keberagaman yang ada di Indonesia bukanlah suatu beban, melainkan aset berharga yang dapat meningkatkan kekuatan dan harmoni masyarakat. Keberagaman di Indonesia tidak lepas kaitannya dengan eksistensi pendidikan. Pendidikan memiliki peran kunci dalam memberdayakan masyarakat untuk memelihara keanekaragaman dan bijaksana dalam mengelola perbedaan. Demikian hal tersebut disampaikan fisikawan Indonesia Prof. Dr. Yudi Darma, S.Si., M.Si. dalam kelas Multikulturalisme di Asia, sebuah kelas hasil kerjasama Prodi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Eurasia Foundation. Keberagaman dapat menjadi sumber daya yang dapat memberikan kontribusi positif pada kemajuan suatu bangsa. Kontribusi positif dapat diaktualisasikan dengan ditunjang dengan perkembangan sains dan teknologi. “Apalagi kita sekarang berada dalam era globalisasi. Kita bisa memanfaatkan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisional ataupun kearifan lokal,” ungkap Prof. Yudi. Era globalisasi tidak hanya membawa dampak positif pada masyarakat multikultural. Hal yang justru terjadi ialah meningkatnya kompleksitas permasalahan masyarakat. Permasalahan yang kompleks tersebut tidak bisa diselesaikan secara lokal, sektoral, ataupun monodisiplin. Kolaborasi multidisipliner memerlukan  kontribusi aktif antar individu, kelompok, negara, minat, dan kepakaran. “Dengan memanfaatkan perkembangan sains dan teknologi, para akademisi bisa melakukan kolaborasi dengan cara diplomasi sains. Mahasiswa HI juga harus paham. Dalam menjalin hubungan diplomatik, ilmu pengetahuan dan teknologi sangat bisa digunakan untuk menjalin kerjasama ilmiah secara global,” urai Prof. Yudi. Untuk merealisasikan diplomasi sains yang optimal, sangat diperlukan adanya aktualisasi pendidikan yang berkualitas. Idealnya, multikulturalisme eksis untuk membawa masyarakat yang semula hanya menerima kondisi yang dianggap homogen menjadi toleran terhadap heterogenitas di lingkungannya. “Kita sebagai bagian dari masyarakat yang multikultural harus bisa menjadi agen perubahan positif yang memandang keberagaman sebagai pondasi kemajuan bersama,” tutup Prof. Yudi. (fal/han)

Kuliah Tamu Petinggi ASEAN Lee Yoong Yoong di HI UMM: Dari Posisi Strategis ASEAN Hingga Peluang Magang Mahasiswa

Director of Community Affairs The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Lee Yoong Yoong menegaskan bahwa ASEAN berpotensi berada di nomor lima di dunia, di bawah Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan Jerman. Demikian disampaikan Lee pada kuliah tamu Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang, Kamis (23/11). Oleh karena itu, Lee mendukung secara penuh kebijakan ekonomi berkelanjutan yang tentunya akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota. “Dengan eksekusi kebijakan yang optimal, maka masa depan ASEAN akan cerah,” ujarnya. Lee juga menegaskan bahwa ASEAN telah mendeklarasikan ASEAN Human Rights Dialogue (AHRD) di Jakarta pada tanggal 6 November 2023 lalu. “ASEAN juga secara terhormat menyokong hak-hak para pekerja agar mereka mendapat penghidupan yang layak,” pungkas Lee Yoong Yoong. Pada waktu yang sama, Lee juga menginformasikan terkait kesempatan magang di Sekretariat ASEAN, Jakarta. “Selama Anda memahami hubungan internasional, mahir berbahasa asing, dan bisa menulis, anda mendapatkan nilai tambah saat mengajukan aplikasi magang di Sekretariat ASEAN,” ujar Lee Yoong Yoong. Kegiatan yang menyongsong tema ‘ASEAN as the Epicentrum of Growth’ ini diiringi oleh antusiasme mahasiswa. Hal ini dibuktikan oleh beragam pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa dan mahasiswi Prodi HI UMM saat sesi diskusi. Mulai dari kebijakan ekonomi berkelanjutan ASEAN, hingga nasib kelas pekerja di Asia Tenggara. (fal/han)

Hadirkan Penasihat ICRC, HI UMM Tegaskan Pentingnya Perlindungan Korban Perang dalam Konflik Israel-Palestina

Konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina merupakan konflik yang sarat akan isu kemanusiaan. Merespons hal tersebut, Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan seminar praktikum mata kuliah Hukum Humaniter Internasional, Senin (20/11) di UMM. Agenda yang bertajuk “Penanganan Korban Perang dalam Konflik Israel-Palesina: Perspektif Hukum Humaniter Internasional” ini menghadirkan narasumber Rina Rusman, S.H, M.H., penasihat senior International Committee of the Red Cross (ICRC), dan M. Syaprin Zahidi, S.IP, M.A., dosen Prodi HI UMM. Dalam pemaparannya, Rina menyatakan bahwa hukum humaniter merupakan materi yang sangat strategis untuk mahasiswa studi Hubungan Internasional. “Mahasiswa Hubungan Internasional (HI) dilatih untuk berpikir kritis dan rasional mengenai konflik yang terjadi di kancah internasional,” tegasnya. Dengan analisis yang tepat, dapat ditemui bahwa pasti ada kepentingan di balik terjadinya suatu konflik. Di lain sisi, perdamaian juga dapat tercipta ketika ada sebuah kejadian yang sarat akan kepentingan di baliknya. Konflik Israel-Palestina merupakan salah satu konflik berkepanjangan yang dikelilingi oleh berbagai kepentingan. Korban jiwa yang berjatuhan merupakan sebuah harga yang akan selalu menghantui para pemangku kepentingan. Hal ini diperparah dengan adanya tindakan Israel berupa pemindahan penduduk Palestina dengan cara yang koersif. Menanggapi hal tersebut, Rina Rusman menegaskan bahwa tidak ada justifikasi untuk memindahkan penduduk secara paksa kecuali untuk mengamankan penduduk itu sendiri. “Kedua belah pihak, baik Israel ataupun Palestina, seharusnya berpikir dua kali sebelum mengeksekusi tindakan yang tidak disandarkan pada aturan perang,” pungkas Rina. Akibat ketidakbijaksanaan tersebut, fasilitas sipil layaknya rumah sakit menjadi imbasnya. Korban yang masih bisa diselamatkan justru menjadi korban keganasan militer yang tidak berpikir humanis. “Hal yang harus difokuskan saat ini ialah bagaimana caranya untuk memperkuat perlindungan terhadap korban, fasilitas sipil, dan hunian penduduk,” tutupnya. (fal/han)

HI UMM Perkuat Kerjasama dengan ICLRS-BYU Law Amerika Serikat

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kian memperkuat kemitraan dengan The International Center for Law and Religion Studies (ICLRS),  J. Reuben Clark Law School at Brigham Young University (BYU Law) Amerika Serikat. Hal itu ditandai dengan Memorandum of Understanding (MoU) dan gelaran Kuliah Tamu oleh Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM, Sabtu (18/11). Kemitraan dengan ICLRS-BYU Law tersebut, kata Wakil Rektor I UMM, Prof Dr Syamsul Arifin, sebenarnya sudah dibangun sejak 2010. Sejak tahun tersebut, ICLRS rutin mengadakan Master Level Course (MLC) on Human Rights bersama UMM, namun sempat terhenti sejak 2020 karena pandemi. Karena itu, untuk memperkuat kerjasama tersebut, penandatanganan MoU kembali dilakukan antara UMM dan ICLRS. Di antara poin kerjasama tersebut, sebagaimana tertuang dalam MoU, memfasilitasi proyek akademik, seperti pengembangan kurikulum mata kuliah, pelatihan, konferensi, simposium, seminar, kuliah tamu, untuk mempromosikan kebebasan beragama dan hak asasi manusia (HAM). Selain itu, kemitraan juga melingkupi publikasi buku dan jurnal, pertukaran mahasiswa, visiting fellows, dan program-program lain yang strategis bagi kedua institusi. Penandatanganan MoU ini dirangkai dengan kuliah tamu bertema “Dignity and International Human Rights Law” dengan pembicara Direktur ICLRS-BYU Prof Brett Scharffs, dengan peserta para dosen program studi Hubungan Internasional (HI) UMM dan mahasiswa HI yang mengambil mata kuliah Hukum Humaniter Internasional. Bagi Brett, martabat manusia (human dignity) memiliki peran kunci dalam memulihkan, memperbarui, dan memperkuat HAM. Brett mengakui, selalu ada relasi mengenai HAM antar masing-masing agama, misalnya dalam perspektif Kristen, Katolik, dan Islam. “Jadi, dalam implementasi menjaga perdamaian, tidak menjadi soal bagaimana HAM itu menurut sudut pandang agama tertentu,” papar Brett. (ist/han)