
Interaksi langsung antar individu atau kelompok dengan budaya yang berbeda membutuhkan perantara, yaitu bahasa. Hal tersebut menjadi bukti rasional bahwa aspek kebahasaan memiliki peran penting dalam lingkup yang multikultural. Hal tersebut disampaikan oleh Dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Dianni Risda, S.Pd., M. Ed. dalam kelas Multikulturalisme di Asia, sebuah kelas hasil kolaborasi Prodi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Eurasia Foundation.
Dalam pemaparannya, Dianni mengungkapkan bahwa ketidakpahaman akan suatu konsep ataupun konteks dalam berinteraksi akan menimbulkan sebuah prasangka yang berujung pada konflik. “Sebagai bagian dari sivitas akademika, hal yang wajib kita lakukan ialah memperluas wawasan, membuka hati agar bersikap toleran, dan tidak menjadikan budaya sendiri sebagai sebuah patokan,” tegas Dianni.
Bahasa merupakan salah satu fondasi dari sebuah budaya. Ketika bahasa telah hilang, maka budaya juga akan berpotensi hilang. Tidak hanya itu, berbagai pengetahuan yang merupakan produksi dari intelektualitas juga akan hilang dari peradaban. “Selain untuk mengembangkan kompetensi diri agar berdaya saing global, mempelajari bahasa asing juga berguna untuk membangun komunitas Asia yang multikultural,” ungkap Dianni.
Selain itu, Dianni juga menerangkan bahwa dunia industri sekarang juga sangat membutuhkan keterampilan bahasa. “Di era modern seperti saat ini, keterampilan yang diperlukan tidak hanya berpikir kritis dan kreatif, melainkan juga kemampuan berkomunikasi serta berkolaborasi,” tambah Dianni.
Dengan memahami aspek kebahasaan, Dianni juga mengedepankan nilai-nilai spesifik budaya Asia yang beragam. Melalui pemahaman terkait kultur bangsa-bangsa di Asia, melampaui perbedaan yang ada, maka keanekaragaman di Asia dapat menjadi kekuatan yang tak terduga. Hal tersebut dapat diaktualisasikan melalui komunikasi lintas budaya serta bersentuhan langsung dengan individu atau kelompok dengan latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda. (fal/han)