Gandeng Academy of Korean Studies, HI UMM Bedah Strategi Diplomasi Korea Selatan

Sistem politik yang berubah-ubah, dinamika di Semenanjung Korea, dan diplomasi budaya yang kuat membuat Korea Selatan terus menarik perhatian global. Korea Selatan, dengan ekonominya yang maju dan diplomasi yang kuat, telah menjadi pemain kunci dalam isu-isu regional dan bahkan global. Demikian hal tersebut ditegaskan oleh salah satu dosen Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Hafid Adim Pradana M.A, dalam seri kelas Kajian Kawasan oleh Prodi HI UMM dan The Academy of Korean Studies (AKS). Adim, kerap ia disapa, menyoroti bagaimana Korea Selatan dapat beradaptasi dengan perubahan ekonomi dan politik global melalui kebijakan baik luar ataupun dalam negerinya. Selain itu, Adim juga menguraikan bahwa Korea Selatan dapat menjadi percontohan dalam menuntaskan dinamika historis dan geopolitik. “Korea Selatan tidak hanya menjadi pusat inovasi teknologi, melainkan juga menjadi ‘kiblat’ bagaimana sebuah negara dapat mengatasi tantangan historis dan geopolitik.” ungkap Adim. Korea Selatan dikenal luas karena diplomasi budayanya yang menarik. Namun, di balik daya tarik budayanya, negara ini juga menghadapi tantangan geopolitik yang serius, terutama ketegangan dengan kembaran tak seirasnya, Korea Utara. “Dari konflik dengan Korea Utara hingga hubungan dagang dengan negara-negara besar, Korea Selatan telah menunjukkan ketangguhan dan fleksibilitas dalam kebijakan politiknya,” terang Adim. Dalam menghadapi konflik ini, Korea Selatan telah menunjukkan fleksibilitas politik yang luar biasa. Fleksibilitas ini mencerminkan komitmen Korea Selatan untuk mencari solusi damai dan stabil di Semenanjung Korea, meskipun dihadapkan pada ancaman dan provokasi. “Dengan mata yang tertuju pada masa depan, Korea Selatan terus berjalan di jalur diplomasi yang dinamis, berusaha untuk menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernisasi, antara kepentingan nasional dan komitmen globalnya, sekalipun dihadapkan dengan panasnya konflik dengan tetangganya,” urai Adim mengakhiri. (fal/han)
Perkuat Keterampilan Metodologi, Prof Gonda Yumitro Latih Mahasiswa HI UMM Gunakan Software Penunjang Penelitian

Dunia penelitian yang dinamis menuntut perkembangan baru dalam hal teknologi sekaligus metodologi. Oleh karena itu, menulis tidak hanya mengandalkan kerja keras, namun juga kerja cerdas. Itulah poin yang disampaikan oleh Prof. Gonda Yumitro Ph.D dalam mata kuliah Kajian Kawasan oleh Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berkolaborasi dengan The Academy of Korean Studies (AKS). Pada pertemuan pertama, mahasiswa tidak hanya diperkenalkan dengan aplikasi-aplikasi yang membantu proses penelitian seperti Harzing: Publish or Perish, VOSviewer, dan NVivo. Akan tetapi, mahasiswa juga diajak untuk mengeksplorasi lebih dalam bagaimana aplikasi-aplikasi tersebut dapat secara signifikan meningkatkan kualitas dan efisiensi penelitian. Aplikasi-aplikasi tersebut memang dirancang secara khusus untuk menunjang proses penelitian. Oleh karena itu, mahasiswa harus mengambil inisiatif untuk mengintegrasikan teknologi ini ke dalam penelitiannya. Sebab, pemanfaatan aplikasi-aplikasi tersebut menawarkan fungsi yang dapat mempercepat proses dan memperkaya data dalam penelitian. “Menguasai software penelitian merupakan salah satu bekal awal teman-teman (mahasiswa) dalam kepenulisan dan penelitian akademis. Ekstraksi dan visualisasi data menjadi lebih mudah jika kita memanfaatkan aplikasi,” urai Prof. Gonda. Selain itu, Prof. Gonda juga menekankan kepada mahasiswa bahwa jangan selalu mengandalkan aplikasi dalam penelitian. Aplikasi-aplikasi tersebut memang sangat memudahkan proses penelitian. Akan tetapi, keterampilan berupa berpikir kritis dan analitis juga harus selalu dikembangkan. “Keterampilan metodologis ini tidak hanya berguna di masa studi teman-teman (mahasiswa), namun juga akan sangat berguna dalam persaingan karir profesional di masa yang akan datang,” pungkas Prof. Gonda. (fal/han)
Jadwal Sidang Akhir Bulan Maret 2024
Berikut adalah jadwal sidang dan seminar proposal untuk bulan Maret 2024 (Sidang untuk Pelaporan Yudisium Periode II Tahun 2024). Mohon bagi mahasiswa yang terjadwal dapat mempersiapkan dirinya, dan membaca tata tertib ujian yang tertera pada menu Akademik – PKN & TA – Tugas Akhir – Tata Tertib Pelaksanaan Seminar Proposal dan Ujian Akhir.
Jadwal Sidang Akhir dan Seminar Proposal Bulan Februari 2024
Berikut adalah jadwal sidang dan seminar proposal untuk bulan Februari 2024 (Sidang untuk Pelaporan Yudisium Periode II Tahun 2024). Mohon bagi mahasiswa yang terjadwal dapat mempersiapkan dirinya, dan membaca tata tertib ujian yang tertera pada menu Akademik – PKN & TA – Tugas Akhir – Tata Tertib Pelaksanaan Seminar Proposal dan Ujian Akhir.
Dorong Diplomasi Linguistik, Mahasiswa HI UMM Kembangkan Aplikasi Digital Bahasa Indonesia di Ajang DiploFest 2024 Kemenlu RI

Romil Sahab Putra, seorang mahasiswa Hubungan Intenasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2021, membuka awal tahun 2024 dengan prestasi gemilang di ranah akademis. Capaian tersebut diperoleh pada ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) oleh Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri (BSKLN) Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia tema “Proyeksi Diplomasi Indonesia Menyongsong Indonesia Emas 2045”. Romil, kerap ia disapa, mengusung penelitian berjudul “IndoMinds: “Aplikasi Digital Bahasa Indonesia untuk Mendorong Diplomasi Linguistik Indonesia Emas 2045″. Melalui karya tulis tersebut, ia mengusulkan pengembangan aplikasi bahasa yang bertujuan untuk memperkuat posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan bahasa diplomatik yang diakui di berbagai forum internasional. “Melalui pengembangan aplikasi tersebut, aku berharap akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian Indonesia Emas 2045, di mana bahasa Indonesia tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga lambang kekayaan budaya dan kearifan lokal yang dihormati di dunia internasional,” tutur Romil. Pemuda yang juga menjabat sebagai Ketua Eksternal UKM Forum Diskusi Ilmiah (FDI) UMM tersebut juga mengungkapkan bahwa selama perlombaan, ia bersaing dengan 142 karya tulis ilmiah dari seluruh Indonesia. Setelah melalui proses seleksi dan eliminasi, karya Romil berhasil mendapatkan juara ke-3 bersanding dengan dua pemenang lain dari Universitas Jember dan Universitas Pertahanan. Prestasi ini tidaklah lepas dari prinsip yang dipegang teguh oleh Romil. “Setiap tempat adalah sekolah, dan setiap orang yang kita temui di tempat itu adalah guru. Intinya ialah bagaimana agar kita selalu belajar dan belajar dari lingkungan, orang yang kita temui, dan peristiwa yang kita alami,” pungkas Romil. (fal/han)
Mahasiswa HI UMM Inayah Aulia Hijrah Raih Beasiswa Erasmus+ ke Portugal

Inayah Aulia Hijrah, mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) angkatan 2021, berhasil lolos dalam program Erasmus+ Awardees International Credit Mobility (ICM) KA 171 Project di University of Minho, Portugal. Setelah bersaing dengan ribuan mahasiswa dari berbagai kampus mancanegara, Inayah berhasil menjadi salah satu mahasiswa yang lolos dalam seleksi Erasmus yang dikenal ketat dan kompetitif. Hal itu merupakan hasil jerih payahnya setelah sebelumnya gagal dalam berbagai program student exchange. Seperti halnya mahasiswa pada umumnya, Inayah memiliki motivasi yang amat kuat untuk bisa belajar di luar negeri sembari travelling. Disiplin dan manajemen waktu yang seimbang merupakan kunci sukses Inayah dalam meraih beasiswa tersebut. “Tantangannya saat pengumpulan berkas karena tenggat waktu yang cukup mepet. Saya juga harus menulis Motivation Letter dan melewati sesi wawancara,” ucap Inayah. Menurut Inayah, Erasmus menjadi pilihan terbaik untuk mahasiswa yang sedang mencari beasiswa student exchange. Pasalnya, Erasmus mengover semua biaya di antaranya akomodasi pulang pergi, uang saku bulanan, dan asuransi. Lebih dari itu, menurut Inayah, keunggulan terbesar dari Erasmus adalah koneksi yang luas serta bisa bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai negara yang akan membawakan pengalaman baru. “Erasmus+ ICM super duper seru, left me out words! Tidak sebanding dengan ketakutan kamu”, tambahnya. Setelah berjuang melalui usaha yang tidak mudah, Inayah memberikan pesan kepada rekan HI UMM untuk jangan takut dan jangan berhenti dalam mencoba hal baru. Karena pada akhirnya, lanjut Inayah, usaha dan jerih payah akan terbayarkan dengan hasil yang membahagiakan. (ist/han)
Ubaidah Adielah, Mahasiswi HI UMM yang Jadi Finalis Putra Putri Kampus Jawa Timur

Motivasi Ubaidah Adielah, mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk terus berkompetisi di ajang pageant membuahkan hasil. Ia sukses menjadi finalis dalam ajang bergengsi Putra Putri Kampus Jawa Timur 2024. Hal itu tentu sangat membanggakan, mengingat seorang mahasiswa tentunya tidak hanya dituntut memiliki kelebihan di bidang akademik, tetapi juga non-akademik. Hal ini menjadi keunggulan yang dimiliki oleh Ubaidah Adielah. Di tengah kesibukannya sebagai seorang mahasiswa, Ubaidah mengembangkan bakatnya melalui ajang yang diadakan oleh Paguyuban Duta Kampus Jawa Timur tersebut. Sebelumnya, Ubaidah memang sudah berkali-kali mencoba mengikuti ajang pageant seperti halnya Putra Putri Kampus, tetapi sering mengalami kegagalan. “Perjuanganku untuk bisa menjadi finalis di ajang ini yaitu meyakinkan diri sendiri dengan meningkatkan rasa percaya diri”, kata Ubaidah. Menurut Ubaidah, keyakinan dalam diri sendiri adalah kunci keberhasilannya untuk sampai di titik ini. Semua yang ia lalui merupakan sebuah proses di atas kesabaran dari berbagai tantangan yang dihadapi. Usaha yang Ubaidah kerahkan juga didukung oleh teman, keluarga, serta UMM yang turut serta men-support Ubaidah dalam melalui ajang Putra Putri Kampus Jawa Timur ini. Ubaidah juga memberikan pesan untuk teman-teman yang sedang berjuang menjadi mahasiswa yang berprestasi. “Jangan ragu berapapun usia atau semester kalian. Lakukan apa saja yang bisa kalian lakukan, because everything is matter”, ujarnya. (ist/han)
Wujudkan Kesadaran Peduli Lingkungan, Prodi HI UMM Gelar Praktikum Konservasi Pantai Kondang Merak

Generasi yang hebat ialah generasi yang sadar akan kondisi lingkungan. Itulah prinsip yang dipegang oleh Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dalam praktikum mata kuliah Gerakan Sosial Global. Kegiatan yang mengusung tema “Membangun Kesadaran Lingkungan Global melalui Gerakan Lingkungan Kolaboratif” ini dilaksanakan di Pantai Kondang Merak, Kabupaten Malang. Agenda kolaboratif ini merupakan inisiatif Prodi HI UMM yang dieksekusi bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Timur, Pusat Studi Kewilayahan dan Penanggulangan Bencana (PUSKA-PB) UMM, Komunitas Sahabat Alam Indonesia, dan Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) UMM. Kegiatan tersebut diawali dengan talkshow bersama Andik Syaifudin dari komunitas Sahabat Alam Indonesia. Materi yang dibawakan cukup menarik, yaitu seputar konservasi terumbu karang. Andik pun menjelaskan kondisi terumbu karang di Pantai Kondang Merak yang sangat dijaga dan dilestarikan. “Pantai Kondang Merak ini memiliki zona reef flat dengan kondisi perairan yang cukup tenang karena dilindungi oleh reef crest atau puncak terumbu, sehingga terumbu karang dapat terlindungi dari arus deras,” papar Andik. Setelah pemaparan materi, para mahasiswa Prodi HI UMM diajak untuk secara langsung mempraktikkan penanaman terumbu karang di Pantai Kondang Merak. Tentu hal ini menjadi pengalaman baru yang berharga bagi para mahasiswa. Sebab, aksi nyata dalam isu lingkungan dan sumber daya alam merupakan agenda krusial dalam studi Hubungan Internasional. Tidak berhenti di situ, mahasiswa kemudian diarahkan oleh tim dari Sahabat Alam Indonesia untuk menanam pohon bakau, kelapa, dan elo di sekitaran Pantai Kondang Merak. Tanaman bakau sendiri berguna sebagai pencegah abrasi di bibir pantai. “Melalui upaya-upaya seperti konservasi terumbu karang dan reboisasi hutan bakau, kita secara langsung telah membantu stabilitas ekosistem laut. Stabilnya ekosistem laut akan membawa manfaat baik bagi flora dan fauna laut, ataupun manusia dengan mata pencahariannya,” pungkas Andik. (fal/han)
Serial Kuliah Eurasia HI UMM: Menyoal Harmonisasi Multikultural dan Ketahanan Lingkungan, Akademisi IPB University Soroti Hutan Wakaf

Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan potensi atas keragaman ekologinya. Keragaman ini seharusnya menjadi kekayaan dan kekuatan bagi bangsa Indonesia, namun juga menjadi tantangan dalam menciptakan harmoni dan toleransi di tengah masyarakat yang multikultural. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga harmoni multikultural adalah dengan mengembangkan hutan wakaf. Begitulah yang disampaikan oleh Dr. Khalifah Muhammad Ali, B.Sc., M.sc, seorang akademisi IPB University, dalam kelas Multikulturalisme di Asia Prodi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Hutan wakaf adalah hutan yang dibangun di atas tanah wakaf, yaitu tanah yang disumbangkan oleh individu atau lembaga untuk kepentingan umum, khususnya pelestarian lingkungan. Hutan wakaf memiliki banyak manfaat, baik dari segi ekologis, ekonomis, sosial, pendidikan, dakwah, kemanusiaan, maupun penelitian. Hutan wakaf juga dapat menjadi sarana untuk mempererat kerjasama dan kebersamaan antara berbagai pihak, seperti pemerintah, masyarakat, wakif, nazir, dan stakeholder terkait. “Hutan wakaf juga dapat menjadi media untuk mengembangkan sikap toleransi dan saling menghargai antara umat beragama yang berbeda. Dengan berpartisipasi dalam hutan wakaf, kita dapat belajar untuk menghormati keyakinan dan kepercayaan orang lain, serta menghargai keragaman yang ada,” terang Ali. Hutan wakaf juga dapat menjadi ajang untuk berdialog dan berinteraksi secara positif dengan orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Dengan demikian, hutan wakaf dapat menjadi salah satu solusi untuk menciptakan harmoni multikultural dalam lingkungan masyarakat yang dipenuhi akan diversitas. Hutan wakaf dapat menjadi simbol dari kesadaran, kepedulian, dan kerjasama antara berbagai elemen bangsa dalam menjaga kelestarian lingkungan dan keutuhan negara. “Hutan wakaf juga dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa yang berkelanjutan sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs),” ujar Ali mengakhiri. (fal/han)
Serial Kuliah Eurasia HI UMM: Pendidikan Resolusi Konflik Penting Bagi Multikulturalisme Indonesia

Kondisi masyarakat yang multikultur menimbulkan beragam risiko, mulai dari fenomena intoleransi agama, polarisasi politik, hingga disintegrasi bangsa. Untuk menghadapi berbagai risiko tersebut, maka pendidikan resolusi konflik merupakan langkah preventif yang konkret dan realistis. Hal tersebut ditegaskan oleh Prof. Dr. Elly Malihah, M.Si. dalam kelas Multikulturalisme di Asia. Dalam kelas yang merupakan kolaborasi Prodi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan Eurasia Foundation, Prof. Elly mengingatkan para mahasiswa terkait keragaman Indonesia yang meliputi keragaman geografis, sosial, dan budaya. “Indonesia memiliki keberagaman yang berpotensi menjadi sebuah kekayaan jika dapat dimanfaatkan dengan baik,” ungkap Prof. Elly. Keberagaman tersebut justru berpotensi menjadi ancaman jika tidak diiringi dengan pendidikan yang berkualitas, termasuk pendidikan resolusi konflik. Idealnya, sistem pendidikan di Indonesia dilandaskan pada prinsip mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada kenyataannya, sistem pendidikan Indonesia masih memiliki PR yang cukup signifikan. “Terdapat tiga ‘dosa besar’ pendidikan Indonesia yang hingga kini belum terselesaikan, antara lain: masih adanya intoleransi yang lingkungan peserta didik, masih maraknya kasus bullying, hingga eksistensi narkotika di lingkungan pengenyam pendidikan,” urai Prof. Elly. Tidak hanya itu, kasus kekerasan seksual juga menjadi salah satu pembahasan dalam agenda ini. Untuk menanggulangi hal tersebut, maka diluncurkanlah Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 sebagai antisipator kasus kekerasan seksual di institusi pendidikan. “Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh kampus, mulai dari melembagakan pendidikan resolusi konflik, mengembangkan ruang lingkup yang menitikberatkan pada partisipasi mahasiswa, hingga menjalin kerjasama dengan pihak luar,” tutup Prof. Elly. (fal/han)