Kembangkan Bisnis Fotografi, Mahasiswa Prodi HI UMM Lolos Program Pendanaan Kemendikbudristek

Romil Sahab Putra, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) angkatan 2021, kembali menorehkan prestasi gemilang. Setelah sebelumnya memenangkan ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI), kali ini ia berhasil lolos sebagai awardee dalam Program Pendanaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Romil, sapaan akrabnya, mengembangkan bisnis Cekrek ID. Sesuai dengan namanya, Cekrek ID menawarkan layanan fotografi yang tidak hanya mencakup bidang konvensional seperti wisuda dan pernikahan, melainkan juga mempromosikan properti budaya lokal Malang kepada pelanggan. Melalui pendekatan inovatif ini, Romil ingin memberikan pengalaman unik kepada pelanggan dan memberikan platform bagi seniman lokal untuk mengekspresikan kreativitas mereka. “Saya ingin mengembangkan Cekrek ID sebagai sebuah usaha yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, namun juga memberikan dampak positif dalam mempromosikan keberagaman budaya dan pertumbuhan ekonomi di Malang,” tutur Romil saat diwawancarai Senin (6/5) di Laboratorium HI UMM. Hambatan berupa keterbatasan sumber daya awal seperti modal dan peralatan tidak menghentikan semangat Romil dalam mengembangkan bisnisnya. Dedikasi Romil terbukti ketika ia melaju hingga seleksi tingkat nasional yang mencakup penilaian terhadap bagaimana usaha ini menggabungkan industri kreatif dengan kekayaan budaya lokal Malang, serta dampaknya terhadap pembangunan komunitas yang inklusif. Setelah lolos program pendanaan ini, Romil berkomitmen pada visi dalam mempromosikan keberagaman budaya dan pertumbuhan ekonomi lokal melalui usaha. “Saya berharap dapat terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi masyarakat, serta menjadi contoh inspiratif bagi mahasiswa dan wirausahawan muda lainnya,” pungkas Romil. (fal/han)

Di Kelas HI UMM, Dr. Nicola Fraschini Kupas Perbedaan Ideologi dalam Bahasa Korea Utara dan Selatan

Bahasa Korea memiliki keunikan tersendiri yang menarik untuk dikulik. Meskipun berasal dari akar budaya yang sama, Korea Selatan dan Korea Utara justru menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan dalam penggunaan bahasa sehari-hari maupun dalam ranah formal. Perbedaan ini muncul seiring terpisahnya dua negara kembar tersebut pasca Perang Dunia II dan berkembangnya politik serta ideologi yang berbeda di masing-masing wilayah. Materi tersebut diulas oleh Dr. Nicola Fraschini, dosen University of Melbourne, dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Dalam kelas yang bertemakan “Korean Language from the Hangeul to North and South Korean Divisions”, Dr. Nicola menguraikan bagaimana perbedaan bahasa di dua negara kembar namun tak seiras, Korea Selatan dan Korea Utara. “Meskipun berakar dari bahasa dan budaya yang sama, perkembangan politik dan ideologi yang berbeda di Korea Selatan dan Korea Utara pasca perpecahan pada 1945 turut mempengaruhi dinamika kebahasaan di wilayah masing-masing,” terang Dr. Nicola. Di Korea Selatan yang menganut sistem demokrasi liberal, bahasa Korea modern cenderung lebih terbuka terhadap penyerapan kosakata asing, terutama dari bahasa Inggris. Sementara di Korea Utara yang memegang teguh ideologi komunis, upaya untuk mempertahankan kemurnian bahasa jauh lebih ketat dengan pembatasan penyerapan kosakata bahasa asing. “Perbedaan sikap terhadap bahasa asing ini berujung pada munculnya banyak istilah khas yang digunakan di Korea Utara dan Korea Selatan untuk merujuk pada konsep atau benda yang sama,” ungkap Dr. Nicola. Bahasa Korea menjadi bukti bahwa bahasa dapat mencerminkan perubahan aspek sosial, politik, dan bahkan ideologi dari suatu bangsa. Tak hanya itu, bahasa Korea pun juga telah mempersatukan para peminat bahasa dari seluruh dunia, terutama dalam memahami kompleksitas dinamika regional di Semenanjung Korea. (fal/han)

Jadwal Seminar Proposal Bulan April 2024

Berikut adalah jadwal seminar proposal untuk bulan April 2024: Mohon bagi mahasiswa yang terjadwal dapat mempersiapkan dirinya, dan membaca tata tertib ujian yang tertera pada menu Akademik – PKN & TA – Tugas Akhir – Tata Tertib Pelaksanaan Seminar Proposal dan Ujian Akhir.

Jadwal Sidang Akhir Bulan April 2024

Berikut adalah jadwal sidang dan seminar proposal untuk bulan April 2024 (Sidang untuk Pelaporan Yudisium Periode III Tahun 2024). Mohon bagi mahasiswa yang terjadwal dapat mempersiapkan dirinya, dan membaca tata tertib ujian yang tertera pada menu Akademik – PKN & TA – Tugas Akhir – Tata Tertib Pelaksanaan Seminar Proposal dan Ujian Akhir.

Dosen University of Melbourne Kenalkan Sejarah Bahasa Korea Pada Mahasiswa HI UMM

Bahasa Korea, dengan lebih dari 80 juta penutur di seluruh penjuru dunia, merupakan bahasa yang menyimpan sejarah panjang. Sebagai bahasa yang popularitasnya kian meningkat, bahasa Korea mencerminkan kebudayaan dan identitas dari bangsa Korea itu sendiri. Tata bahasa yang unik serta aksara Hangeul yang indah menjadikan bahasa Korea semakin menarik minat para penggemar bahasa dan budaya dari berbagai belahan dunia. Demikian pengantar yang disampaikan oleh dosen senior di University of Melbourne, Dr. Nicola Fraschini dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Dalam kelas yang bertajuk “Korean Language from the Hangeul to North and South Korean Divisions”, Dr. Nicola menguraikan bagaimana kemunculan bahasa Korea di masa lampau. “Sejarah panjang Bahasa Korea dibuktikan dengan adanya manuskrip bernama Idu. Manuskrip tersebut ditulis oleh Raja Sejong Agung dengan menggunakan aksara Hangeul selama satu tahun di abad ke-15,” papar Dr. Nicola. Manuskrip kuno ini menandai tonggak bersejarah bagi perkembangan bahasa Korea. Diciptakan oleh Raja Sejong Agung dari Dinasti Joseon, aksara Hangeul memiliki 24 huruf dengan kombinasi bunyi yang sistematis. Aksara Hangeul dirancang khusus agar masyarakat Korea dapat membaca dan menguasai bahasa tulis mereka dengan mudah. “Penciptaan Hangeul menjadi pencapaian bahasa yang luar biasa. Ini membuktikan bahwa Bahasa Korea telah menjadi bahasa modern sejak abad ke-15,” tegas Dr. Nicola. Setelah masa kejayaan, bahasa Korea kemudian mengalami perpecahan seiring terbaginya Semenanjung Korea menjadi Korea Utara dan Korea Selatan setelah Perang Dunia II. Melalui sejarah panjang dan perkembangannya, bahasa Korea membuktikan diri sebagai bahasa yang kaya, dinamis, dan berpengaruh di kancah global. Selangkah demi selangkah, bahasa Korea terbukti mampu melampaui batas-batas geografis dan mempersatukan para penggemar lintas budaya dari berbagai belahan dunia. (fal/han).

Peneliti dari University of Auckland Ungkap Dimensi Filosofis Kuliner Korea Selatan pada Mahasiswa HI UMM

Selain industri hiburan dan budayanya, Korea Selatan juga terkenal dengan kulinernya yang menggugah selera. Kuliner Korea Selatan tidak hanya memanjakan lidah, namun juga mencerminkan budaya dan nilai-nilai masyarakat Korea Selatan. Hal tersebut disampaikan oleh pakar studi Korea dari University of Auckland, Dr. Lynne Park dalam kelas Kajian Kawasan yang diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama dengan The Academy of Korean Studies (AKS). Dalam kelas yang bertajuk “A Taste Beyond Borders: Discovering Korean Cuisine”, Dr. Lynne memaparkan bahwa popularitas budaya Korea Selatan menanjak ketika terjadi fenomena Hallyu atau Gelombang Korea. “Hallyu pertama, dimulai dengan populernya serial drama Korea di wilayah Asia pada tahun 1997 hingga pertengahan 2000. Jangkauan audiens mulai meningkat pasca Hallyu kedua pada tahun 2010-an. Saat ini, sedang terjadi Hallyu ketiga yang ditandai dengan pengaruh Korea Selatan di skala global,” urai Dr. Lynne. Selain membahas seputar kuliner, Dr. Lynne juga mengajak mahasiswa Prodi HI UMM untuk mengeksplorasi hansik atau menu diet tradisional Korea Selatan. Bagi penduduk Korea Selatan, hansik merupakan bentuk rasa syukur kepada alam yang dilakukan dengan cara mengolah hasil alam secara sehat. “Hansik mengajarkan kita tiga nilai yang secara tidak langsung kita terapkan pada saat jamuan hidangan, antara lain: saling menghormati dalam berbagi, keseimbangan dalam harmoni, dan aspek kesehatan dari makanan yang kita nikmati,” terang Dr. Lynne. Melalui pemaparannya, Dr. Lynne menekankan bahwa kuliner Korea Selatan tidak hanya sebuah hidangan, melainkan juga sebuah ekspresi dari nilai-nilai penduduk Korea Selatan yang penuh akan nilai-nilai filosofis. Tentu hal ini akan sangat bermanfaat dalam memperkaya pemahaman lintas budaya dan keberagaman di dalamnya. (fal/han)

Bangga! Dua Mahasiswa HI UMM Lolos Program IISMA ke Spanyol

Kabar membanggakan kembali datang dari Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Pasalnya, dua peserta didik terbaiknya berhasil terjaring dalam seleksi Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) tahun 2024. Ashila Karaz Humaira dari angkatan 2021 dan Aloysius Gonzaga Alnabe dari angkatan 2022 merupakan mahasiswa HI UMM yang menjadi penerima beasiswa IISMA tahun 2024 ini. Menariknya, kedua mahasiswa ini diterima di dua universitas terkemuka di Spanyol. Ashila akan melanjutkan studinya di University of Granada, sementara Gonzaga akan melanjutkan studinya di University of Pompeu Fabre Barcelona. Proses mereka dalam mempersiapkan diri tidaklah gampang. Ashila merasa kewalahan dalam proses administrasi karena juga bertepatan dengan mengurus magang. Gonzaga pun juga menguraikan keluh kesahnya. Di sela-sela waktunya, ia masih harus mengajar Bahasa Inggris di salah satu lembaga kursus di Kota Malang, Jawa Timur. Di balik lelahnya, semesta raya telah mempersiapkan kejutan kepada mereka. “Sesi wawancara itu sangat melelahkan, namun aku mempunyai teman-teman yang sangat supportive yang membantu aku latihan wawancara,” ujar Ashila. Demikian pula kisah Gonzaga. Dalam prosesnya, ia juga dikelilingi oleh teman-teman yang mendukung. “Terima kasih kepada semua orang yang sampai di titik ini telah mengiringi prosesku. Bahkan, saat waktu pengumuman pun kita berkumpul bersama. Benar-benar dari air mata menjadi penuh suka cita,” urai Gonzaga. Prestasi mereka bukan hanya sebuah pencapaian pribadi, melainkan juga menjadi sebuah inspirasi bagi seluruh mahasiswa HI UMM. Mereka telah menunjukkan bahwa dengan tekad yang kuat, kita semua bisa mencapai impian kita, tidak peduli seberapa jauh atau sulitnya. (fal/han)

Pakar Korea Selatan Prof Changzoo Song Ajarkan Mahasiswa HI UMM Strategi Modernisasi Tanpa Westernisasi

Keunikan budaya dan kondisi sosial masyarakat selalu menjadi daya tarik tersendiri ketika membahas Asia Timur, terutama Korea Selatan. Sejarah panjang Korea Selatan di Asia Timur tidak hanya memengaruhi kondisi saat ini, namun juga memberikan pengaruh terhadap bagaimana budaya dapat berkembang dan beradaptasi hingga kini. Hal tersebut diuraikan oleh Prof. Changzoo Song dalam kelas Kajian Kawasan yang diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama dengan The Academy of Korean Studies (AKS). Prof. Changzoo Song menekankan kontrasnya perbedaan dari segi sosiokultural antara Asia dan Eropa. “Orang-orang Timur (Asia) cenderung mengedepankan kehidupan sosial yang harmonis, kepatuhan terhadap pemimpin, dan nilai-nilai sopan santun. Hal itu sangat berbeda dengan Barat (Eropa) yang menjunjung tinggi kebebasan, hak asasi manusia, dan demokrasi,” terang Prof. Changzoo Song. Prof. Changzoo Song juga membahas bagaimana Korea Selatan, dengan sejarahnya yang kaya dan tradisi yang kuat, telah berhasil memodernisasi masyarakatnya tanpa mengorbankan identitas budayanya. “Korea Selatan telah menunjukkan bahwa modernisasi tidak harus berarti westernisasi. Dengan mengembangkan keunikan budaya mereka sendiri, Korea Selatan telah berhasil menggabungkan perkembangan zaman dengan nilai-nilai tradisional,” ujar Prof. Changzoo Song. Di akhir sesi, Prof. Changzoo Song mengajak para mahasiswa untuk tidak hanya mempelajari aspek sosiokultural Korea Selatan dari perspektif akademis, namun juga untuk mengalami dan memahaminya secara langsung. “Pendidikan dan pengalaman merupakan kunci untuk memahami keragaman budaya. Namun, berada di tengah-tengah budaya itu sendiri merupakan hal yang berbeda,” pungkas Prof. Changzoo Song mengakhiri. (fal/han)

Spesialis Media Sosial Ajak Mahasiswa HI UMM Optimalkan SEO untuk Menulis Konten Seputar Isu-Isu Hubungan Internasional

Industri kreatif tidak hanya mencakup konten video, namun juga konten kepenulisan. Untuk menggapai jumlah audiens, penulis harus membuat artikel yang ramah dengan Search Engine Optimization (SEO). Sederhananya, optimasi SEO yang baik akan menguntungkan situs dengan menghasilkan traffic pengunjung yang organik. Itulah yang disampaikan oleh Nurman Susanto, seorang spesialis sosial media, dalam kelas Kajian Kawasan yang diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama dengan The Academy of Korean Studies (AKS). Dengan melihat perkembangan dunia digital yang sangat dinamis, keahlian SEO menjadi semakin penting. Nurman Susanto menekankan bahwa tidak hanya kualitas konten yang harus diperhatikan, melainkan juga keterampilan dalam memahami algoritma mesin pencari. “Ketika kita menguasai SEO, tulisan kita tidak hanya menjadi lebih menarik, namun juga menjadi lebih mudah ditemukan oleh pembaca melalui mesin pencari,” ujar Nurman. Dalam kelas Kajian Kawasan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, namun juga mempraktikkan pengelolaan SEO itu sendiri. Mahasiswa diajak untuk mengelola secara langsung situs yang bernama Hachingu.com. Situs tersebut nantinya dimanfaatkan sebagai laboratorium penulisan artikel mahasiswa tentang Korea Selatan. Selain itu, Nurman juga menekankan betapa pentingnya SEO di industri kreatif. SEO membantu gagasan penulis untuk beresonansi baik di mesin pencarian ataupun di pikiran audiens. “Keterampilan SEO ini sangat berguna untuk membangun jembatan antara penulis dan audiens, sehingga ide dan informasi yang disampaikan dapat tersalurkan dengan optimal,” urai Nurman. (fal/han)

Inovasi Bidang Lingkungan, Mahasiswa HI UMM Sabet Tiga Penghargaan pada Ajang Internasional di Turki

Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) Muhammad Zair Baitil Atiq berhasil membawa pulang penghargaan sebagai juara 1 Best Project, Best Participant, dan Most Active Group dalam Fully Funded Istanbul Youth Summit yang diselenggarakan oleh Youth Break The Boundaries di Istanbul, Turki pada 3 hingga 7 Maret 2024 lalu. Zair, panggilan akrabnya mengatakan, program ini berfokus pada Sustainable Development Doals (SDGs) yang mempunyai 17 point utama. Namun pada kesempatan kali ini hanya berfokus pada empat poin, yaitu Good Health and Well-Being (SDGs 3), Equality Education (SDGs 4), Decent Work and Economic Growth (SDSs 8), dan Climate Action (SDGs 13). Dalam pelaksanaanya, ia dibagi menjadi beberapa kelompok dari setiap Universitas di berbagai negara. Adapun Zair memilih untuk mengambil tema dari SDGs 13 dan mempersiapkan beberapa program unggulan sejak bulan Desember 2023 lalu. “Kami menawarkan inovasi untuk kepentingan masyarakat. Inovasi tersebut ialah membentuk sebuah komunitas yang bernama Amerta Bumi yang berupaya menyadarkan manusia agar melakukan waste management. Terobosan ini juga berjalan berdasarkan riset yang sudah saya lakukan,” katanya. Lebih lanjut Zair menceritakan bahwa hasil penyusunan inovasi dipresentasikan secara langsung di Golden Tulip Hotel Istanbul. Selama empat hari kegiatan, ia bertemu dengan 152 partisipan dari 27 negara. “Pada hari ketiga, saya berkesempatan mempresentasikan Amerta Bumi ini. Beberapa kegiatan menarik yang kami tawarkan adalah internasional webinar, content education, membuat website, prototype alat, dan lainnya. Saat menginjak hari terakhir, saya tidak menyangka bisa memborong banyak penghargaan,” katanya. Adapun ide Bumi Amerta berdasarkan riset yang Zair lakukan. Ia menemukan bahwa angka kepedulian masyarakat Asia Tenggara cukup rendah. Yakni hanya mencapai 30% terkait pemilahan sampah plastik dan rumah tangga. Sedangkan di Indonesia kepedulian akan memilah sampah dan menciptakan iklim yang sehat hanya sebesar 31%. “Sampai saat ini, kami telah merealisasikan program internasional webinar yang membahas tentang weist management kepada teman-teman milenial dan gen Z. Apalagi mengingat mereka adalah target utama dari pembahasan ini,” tambahnya. Mahasiswa semester empat itu juga memanfaatkan kesempatan berharga ini dengan berkunjung ketempat bersejarah yang ada di Istanbul, seperti Makam Al-Fath, Museum Hagia Sophia, dan Blue Mosque. Menurutnya, ia adalah salah satu mahasiswa yang beruntung bisa mengikuti program tersebut. “Untuk teman-teman mahasiswa, cobalah mengikuti berbagai macam kegiatan karena investasi terbaik adalah pengalaman. Jangan takut gagal karena masih banyak kesempatan,” pungkas Zair. (ri/wil/han)