Serial Kuliah Eurasia HI UMM: Kolaborasi dan Toleransi Penentu Eksistensi Kebinekaan

Selain isu internasional, isu-isu domestik juga merupakan aspek yang tidak boleh dilupakan oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi program studi Hubungan Internasional (HI) di Indonesia, terutama ketika berbicara mengenai multikulturalisme di negeri ini. Hal itu dijelaskan oleh M. Syaprin Zahidi, S.IP., M.A., salah seorang dosen program studi HI Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui kelas Multikulturalisme di Asia, sebuah kelas hasil kolaborasi Prodi HI UMM dengan Eurasia Foundation, mahasiswa diajak untuk mengeksplorasi isu-isu yang dihadapi Indonesia dalam merekatkan masyarakat yang multikultural. Mulai dari pembangunan yang tidak merata, perkembangan kurikulum pendidikan, hingga peranan media dalam memberikan tayangan yang nantinya akan dikonsumsi oleh anak muda. “Jika ditilik secara historis, hambatan perkembangan multikulturalisme Indonesia akan membuka luka lama. Eksistensi kebinekaan cenderung dipudarkan di era Presiden Soeharto, ditambah dengan pembangunan yang cenderung berpusat di Pulau Jawa. Tentu hal ini menjadi ‘kotak Pandora’ bagi Indonesia,” urai Syaprin. Pemerintah Indonesia juga sedang berupaya untuk menemukan formula yang tepat untuk mengentaskan masalah pendidikan. “Negara-negara yang homogen saja perlu trial and error untuk mencari kurikulum yang tepat untuk pendidikan, apalagi negara yang multikultural seperti Indonesia,” pungkasnya. Di lain sisi, terdapat berbagai tantangan yang dihadapi oleh generasi penerus bangsa. Tayangan-tayangan televisi yang didominasi oleh konten yang tidak mendidik cenderung berdampak negatif pada pembentukan karakter anak muda. Tayangan-tayangan layaknya gosip juga memicu sifat provokatif yang nantinya akan berpengaruh terhadap psikis generasi muda. “Media memiliki andil besar dalam menyebarkan perspektif-perspektif baru yang akan diterima oleh generasi muda. Muatan konten media saat ini harus bertransisi yang awalnya diisi oleh tayangan gosip, menjadi media yang edukatif, informatif, dan tidak provokatif,” tegas Syaprin. Banyaknya masalah yang menerpa Indonesia bukan berarti menjadi jalan buntu dalam menuju persatuan dan kesatuan. Kolaborasi pemangku wewenang dan masyarakat dalam mengupayakan resolusi konflik merupakan jalan tengah dalam mengintegrasikan masyarakat yang multikultural. Sikap toleransi dan saling menghargai ialah kunci untuk menjaga persatuan negeri ini. (fal/han)
Serial Kuliah Eurasia HI UMM: Polarisasi Politik Indonesia Meningkat, Peran Tokoh Agama Jadi Kunci

Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2024, polarisasi politik menjadi salah satu isu kunci yang perlu diperhatikan. Terlebih, Pemilu 2019 terbukti mengakibatkan terjadinya fenomena polarisasi politik masyarakat Indonesia, terutama umat Islam. Berkaitan dengan hal tersebut, Dr. Salahudin, dosen program studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), memaparkan materi yang bertajuk “Tren Polarisasi Politik Umat Islam di Indonesia”. Materi tersebut disampaikan pada kelas Multikulturalisme di Asia yang merupakan hasil kerja sama program studi Hubungan Internasional (HI) UMM dengan Eurasia Foundation dalam program Eurasia Lecture Series. Melalui presentasinya, Salahudin memaparkan hasil survei dari Indikator Politik Indonesia yang menyatakan bahwa angka polarisasi umat muslim Indonesia meningkat sangat tajam di kurun waktu 2019-2021. Isu keagamaan, hukum, dan politik menjadi faktor primer yang memantik adanya polarisasi umat muslim Indonesia. Sementara itu, polemik lain layaknya kesetaraan gender juga turut berpengaruh dalam terjadinya polarisasi. Isu-isu terkait aliran tertentu yang dianggap menyimpang tak luput menjadi bahan bakar perdebatan, baik dari kelompok Islam moderat ataupun konservatif. Hal ini justru diperparah dengan pengaruh partai politik yang berkontestasi pada ajang empat tahunan. “Posisi dukungan partai jelas akan memengaruhi dukungan umat Islam yang dinaunginya,” tegas Salahudin. Tidak hanya itu, eksistensi tokoh-tokoh Islam juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap cara pandang umat muslim Indonesia. “Contohnya, influence dari pendapat salah seorang tokoh agama terkemuka, selain ada kelompok yang pro, tentu akan ada yang kontra. Itulah yang nantinya akan menyebabkan polarisasi,” tambah Salahudin. Berkaca pada fenomena polarisasi umat muslim Indonesia, perbedaan pandangan merupakan hal yang normal dalam sebuah masyarakat yang multikultur. Kebhinekaan yang ada seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi sebuah kekuatan dalam membangun bangsa yang lebih baik. (fal/han)
Serial Kelas Eurasia HI UMM: Potensi Multikultural Perlu Dioptimalkan untuk Perkuat Harmonisasi di Asia

Kondisi masyarakat di kawasan Asia yang plural akan ras, etnis, dan agama tentu akan memicu berbagai kemungkinan: konfliktual ataupun harmonis. Pada kelas Multikulturalisme di Asia, Dedik Fitra Suhermanto, dosen program studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), memaparkan kondisi Asia yang multikultural sebagai percepatan harmonisasi di kawasan Asia. Kelas ini merupakan hasil kolaborasi prodi HI UMM dengan Eurasia Foundation yang bertajuk Eurasia Lecture Series. Dedik, sapaan akrabnya, menjelaskan terdapat peran bahasa di tengah-tengah situasi yang multikultural. “Bahasa bisa menjadi perantara individu yang awalnya tidak saling kenal, menjadi dapat berinteraksi satu sama lain,” ujarnya. Penyebaran bahasa asing juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Contohnya, bisa melalui film, musik, atau serial kartun. Dedik juga memaparkan bahwa multikulturalisme tidak hanya berdampak pada sektor kebudayaan, melainkan juga berdampak pada sektor ekonomi. “Contohnya ialah Kanada, mereka terbuka akan imigrasi karena mereka membutuhkan tenaga kerja produktif. Akibatnya, ekonomi Kanada bisa mencapai surplus,” ungkap Dedik. Kanada tentu bisa menjadi contoh bagi negara-negara Asia yang sedang mengalami ageing population atau kekurangan tenaga kerja berusia produktif supaya semakin terbuka dengan imigrasi. Dengan kebijakan yang tepat, maka optimalisasi potensi multikultural sebagai jembatan di sektor ekonomi akan maksimal. Melihat situasi yang demikian, multikulturalisme bukan lagi pilihan, melainkan merupakan keadaan yang harus dihadapi dengan kebijaksanaan. Melalui kelas ini, diharapkan para mahasiswa dapat memahami dan menghargai perbedaan antar individu ataupun kelompok guna terciptanya harmonisasi, tidak hanya di kawasan Asia, namun seluruh dunia. (fal/han)
Dosen Prodi HI Gonda Yumitro Jadi Guru Besar Termuda di UMM

Dosen Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Gonda Yumitro, Ph.D, berhasil meraih jabatan fungsional sebagai Guru Besar di bidang Ilmu Politik di usia 38 tahun 7 hari, terhitung mulai tanggal 1 Juli 2023. Hal ini membuat Gonda yang lahir pada tanggal 24 Juni 1985, menjadi profesor termuda di UMM. Sebelumnya, Gonda juga meraih gelar Dosen Berprestasi III Tingkat Universitas pada tahun 2020, dan Dosen Berprestasi I Tingkat Universitas pada tahun 2022. Beragam prestasi tersebut ia peroleh dari konsistensinya dalam kepenulisan ilmiah. Hal itu dibuktikan dari jurnal-jurnalnya yang terbit di berbagai portal jurnal terindeks SINTA ataupun Scopus. Dengan fokus penelitian di bidang politik Islam, Gonda telah menghabiskan 11 tahun hidupnya untuk meneliti jaringan terorisme, baik jaringan nasional ataupun internasional. “Sebagai seorang dosen, kita perlu memaksimalkan performa di bidang akademik. Prinsipnya, saya berusaha melakukan yang terbaik dan berusaha menjadi lebih baik. Insha Allah, juga akan diberikan hasil yang terbaik,” pungkasnya. Penulis buku Masalah Politik Dunia Islam, Terorisme dalam Kajian Intermestik, dan Belajar dari Negeri Gandhi ini juga berharap prestasinya bukan hanya sebagai kebanggaan pribadinya, tetapi memberikan manfaat untuk penguatan di sektor kelembagaan dan akademik di Universitas Muhammadiyah Malang, terutama di Prodi HI. Selain itu, ia berharap prestasi ini juga menjadi motivasi bagi generasi muda untuk lebih berprestasi dibandingkan dirinya. Ia berpendapat bahwa setiap anak muda perlu membakar semangat untuk mengejar mimpi di ranah manapun. “Mahasiswa sekarang didominasi oleh Gen Z, generasi yang melek akan teknologi dan informasi. Bekal bacaan untuk melakukan riset juga semakin mudah didapatkan, tinggal kita bisa mengoptimalkan potensi tersebut atau tidak,” tambah Gonda. Gonda berpandangan bahwa landasan riset yang baik merupakan modal penting bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan di masa depan. Karena dengan bekal tersebut, mereka dapat menganalisis permasalahan yang kompleks di karirnya nanti. Menurut Kaprodi HI UMM, Dr. Dyah Estu Kurniawati, M.Si, prestasi Prof. Gonda Yumitro, Ph.D di usia yang relatif muda merupakan bukti nyata dari sebuah komitmen, konsistensi, dan dedikasi yang luar biasa di bidang akademik. “Segenap sivitas akademika Prodi HI UMM memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas prestasi yang telah diraih” tutupnya. (fal/han)
Dosen HI UMM: Perang Palestina-Israel Bukan Konflik Agama

Konflik antara Israel dan Palestina tak kunjung mereda. Bahkan perang terbaru kembali pecah saat Hamas menyerang Israel 7 Oktober lalu dan di balas Israel dengan serangan udara. Dalam hal ini, Septifa Leiliano Ceria, S.Sy., M.MECAS, dosen Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menegaskan bahwa perang Palestina dan Israel bukanlah konflik agama. Dia menjelaskan, pada zaman sebelum Turki Usmani itu runtuh, bangsa arab di wilayah yerusalem sangat damai dan tentram. Bangsa arab tersebut terdiri dari berbagai agama, meliputi agama Islam, Kristen, dan Yahudi. Namun terjadi ketimpangan tatkala Turki Usmani runtuh dan negara di timur dikuasai oleh Inggris. Diperparah dengan efek perang dunia pertama di mana banyak sekali etnis Yahudi di luar wilayah Yerusalem tertindas pada masa kekuasaan Nazi. Hal tersebut menyebabkan banyak sekali etnis Yahudi yang berbondong-bondong untuk mengungsi di Yerusalem. Fenomena itu juga tidak lepas dari janji negara Inggris yang akan memberikan wilayah kedaulatan bagi etnis Yahudi di tanah Yerusalem. “Wilayah tersebut adalah Palestina. Hal itulah yang mendorong etnis Yahudi terus melakukan perluasan wilayah di tanah itu. Oleh beberapa pihak dan oknum, isu yang harusnya perebutan wilayah digeser menjadi perang agama,” jelasnya. Ano, begitu ia kerap disapa, memberikan beberapa strategi yang dilakukan untuk menyelesaikan perebutan wilayah tersebut. Di antaranya dengan melakukan negosiasi antar negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, Amerika, serta tentunya Israel untuk melalakukan kesepakatan terhadap hak asasi warga palestina. Setelah itu dilanjutkan dengan membuat kesepakatan batas-batas wilayah antara Palestina dengan Israel. Hal itu bertujuan untuk menentukan batas-batas wilayah teritorial masing-masing negara. “Seperti yang kita ketahui, Israel memang tidak menghendaki pengurangan wilayahnya, namun perlindungan hak warga palestina harus diperhatikan. Harus ada perjanjian khusus yang mengatur hal tersebut, kemudian baru dilanjutkan dengan kesepakatan atas pembagian wilayah,” ungkapnya. Dia juga menawarkan beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh Indonesia dalam konflik tersebut. Misalnya saja terkait isu kemanusiaannya dengan memberikan bantuan logistik makanan, pendidikan, hingga pengobatan bagi para korban perang “Isu kemanusiaan perlu kita angkat secara intensif. Apalagi mengingat jarak yang jauh antara Indonesia dan Palestina. Sehingga kecil kemungkinan untuk melakukan bantuan secara diplomasi,” ujarnya mengakhiri. (*faq/wil)
Keren! Dosen HI UMM Jadi Tim Riset di University of Tokyo

Tonny Dian Efendi, dosen program studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang saat ini sedang studi doktoral di National Sun Yat-Sen University, Taiwan, kian memperluas jejaring internasionalnya dengan terlibat dalam tim penelitian sebuah lembaga riset yang berbasis di University of Tokyo, Jepang. Bersama para ahli yang berlatarbelakang akademisi, pegawai pemerintah, dan pegawai swasta dari berbagai negara di dunia, Tonny tergabung dalam tim penelitian yang dikembangkan oleh Research Center for Advanced Science and Technology Open Laboratory for Emergence Strategies (ROLES), University of Tokyo. “Secara garis besar, kami mendiskusikan perihal berbagai isu mulai agama, geopolitik, ideologi, keamanan dan teknologi, terutama di wilayah Indo-Pasifik” terang Tonny. Tonny juga memaparkan bahwa di dalam ROLES terdapat beberapa kelompok penelitian, salah satunya ialah Indo-Pacific Security International Working Group. “Kelompok tersebut kemudian dibagi lagi menjadi beberapa tim penelitian yaitu security and defense strategy, maritime and transportation security, Sustainable Development Goals (SDGs) and diplomatic strategies, dan new and emerging technology,” tuturnya. Dengan latar belakang sebagai pakar diplomasi, Tonny tergabung dalam divisi Sustainable Development Goals (SDGs) dan Diplomatic Strategies. Di dalam divisi tersebut terdapat 10 anggota yang berasal Amerika Serikat, Australia, Singapura, Korea Selatan, dan Vietnam. Menariknya, Tonny merupakan satu-satunya anggota divisi yang berasal dari Indonesia. Selain itu Tonny juga berharap pengalamannya ini dapat menjadi motivasi bagi generasi Z untuk menekuni ranah akademik. Mulai banyak membaca, berani bereksperimen, dan melakukan evaluasi merupakan langkah awal dalam memulai penelitian. Membudayakan diskusi untuk memberdayakan iklim akademik di lingkungan sekitar juga merupakan aspek penting yang ditekankan olehnya. “Yang dibutuhkan bukanlah kerangka berpikir yang rumit namun tidak signifikan implikasinya, melainkan kerangka berpikir sederhana dengan ide-ide segar yang memiliki dampak signifikan kepada masyarakat, kemudian berani untuk dikompetisikan secara internasional,” pungkas Tonny. (fal/han)
Serial Kuliah Eurasia HI UMM: Fenomena Pekerja Migran Pengaruhi Identitas Nasional dan Dinamika Multikulturalisme

Dampak koheren globalisasi merupakan sebuah keniscayaan di era modern saat ini. Beragam aspek kehidupan mulai dari segi ekonomi, keamanan nasional, hingga kewarganegaraaan merupakan topik yang menarik untuk dikaji. Merespons situasi tersebut, Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) bersama dengan Eurasia Foundation menyelenggarakan kelas perdana mata kuliah Multikulturalisme di Asia dengan tajuk “Migrant Workers, National Identity, and Citizenship: Asian Experiences” dengan Prof. Gonda Yumitro sebagai pemateri. Ketika berbicara mengenai pekerja migran atau migran workers, maka yang pertama kali terlintas dalam pikiran kita ialah wilayah perantauan seperti Taiwan, Hongkong, dan Malaysia. Tidak dapat dipungkiri bahwa Taiwan dan Hongkong merupakan destinasi favorit para pekerja migran yang berasal dari Indonesia. “Kedatangan para pekerja migran asal Indonesia yang didominasi penganut agama Islam tentu mendorong terciptanya kondisi yang multikultural di Taiwan,” ujar Prof. Gonda. Selain itu, di tengah fenomena ageing population yang melanda Taiwan, kedatangan para pekerja migran ini jelas menguntungkan. Di satu sisi, kebutuhan suplai tenaga produktif Taiwan dapat tercukupi, dan di sisi lain kebutuhan ekonomi para pekerja migran juga terpenuhi. Selain memaparkan fenomena migrasi pekerja Indonesia ke Taiwan, Prof. Gonda juga menceritakan pengalamannya di “Negeri Gandhi”. Para mahasiswa diajak untuk mengeksplorasi negara India selama kelas berlangsung. Ia membagikan salah satu pengalamannya di India, yaitu ketika ditanya oleh seorang kolega dari Malaysia, “Indonesia di mana?”. Pengalaman tersebut dikaitkan dengan konsep cultural relativism oleh seorang filsuf kenamaan, G.W.F Hegel, yaitu konsep yang mengasumsikan bahwa di setiap tempat, budaya itu bersifat relatif dan tidak selalu sama. “Di Indonesia, pertanyaan tersebut akan mengarah kepada di mana letak negara Indonesia, sedangkan yang dipertanyakan oleh teman saya yaitu Indonesia bagian mana,” tuturnya. “Kondisi yang multikultur mengharuskan kita agar tidak bersikap sombong, karena di dunia ini bukan hanya agama, etnis, dan bangsa kita yang ada di dalamnya,” tegas Prof. Gonda. Dengan demikian, kelas ini bukan hanya sekadar forum akademis, melainkan juga sebagai sarana pembentukan karakter yang toleran dan berpola pikir global. (fal/han)
Belajar dari Jepang, Prof Nishi Yoshimi dari Kyoto University Ajarkan Mahasiswa HI UMM Strategi Mitigasi Bencana

Berbekal pengalaman mitigasi bencana dari berbagai negara di belahan dunia, terutama Jepang dan Indonesia, Guru Besar Kyoto University Jepang Prof. Nishi Yoshimi ajarkan mahasiswa program studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM), Rabu (1/11). Kuliah ini merupakan bagian dari Eurasia Lecture Series hasil kerja sama antara HI UMM dengan Eurasia Foundation. Melalui materinya, Nishi memaparkan sebuah pelajaran dari peristiwa gempa Kobe pada 1995. Yaitu seputar siapa saja yang bisa menolong ketika terjadi sebuah bencana. Persentase paling besar berada di unit self help yang bermula dari diri sendiri, kemudian keluarga, lalu tetangga. “Jangan bergantung kepada korban lain dan aparatus, karena persentase ditolong akan sangat kecil,” ujar Nishi. Dalam mitigasi bencana pun tidak hanya mempertimbangkan perbedaan kelembagaan. Namun, juga mempertimbangkan perbedaan kebudayaan. Dengan kondisi etnis maupun geografis Indonesia yang berbeda dari wilayah satu dengan wilayah lainnya, maka peran individu-individu yang dapat menjembatani perbedaan tersebut sangatlah diperlukan. “Indonesia memiliki keunggulan berupa masyarakat yang tidak segan dalam menerima dan membantu orang lain yang berbeda budaya,” pungkas Nishi. Adanya kelas ini diharapkan dapat menjadi momentum transfer gagasan dari Jepang menuju Indonesia di bidang mitigasi bencana di era globalisasi saat ini. Dengan melihat potensi bencana yang hampir serupa antara Indonesia dan Jepang, maka gagasan-gagasan tersebut tentu saja kompatibel dengan kondisi Indonesia. (fal/han)
Melalui Diskusi Publik, Laboratorium HI UMM Kritisi Aneksasi Israel atas Palestina

Publik digemparkan dengan konflik yang berkecamuk di wilayah Israel-Palestina. Merespons hal tersebut, Laboratorium Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan agenda diskusi publik pada Jumat (27/10) dengan tajuk “Konflik Israel Palestina sebagai Media Darling”. Pembicara dalam diskusi publik ini ialah Kepala Laboratorium HI UMM Hafid Adim Pradana, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UMM Sugeng Winarno, dan Redaktur Jawa Pos Naufal Widi Asmoro. Adim, begitu ia kerap disapa, mengkritisi upaya aneksasi Israel terhadap wilayah Palestina. Hal ini bermula saat bangsa Yahudi bermigrasi dari daratan Eropa menuju tanah Palestina. Selanjutnya, fase-fase politik luar negeri Israel juga menjadi aspek krusial dalam pergerakan Israel di tanah Palestina. “Hal ini bermula pada tahun 1950, yaitu saat Israel masih berupaya untuk mendapatkan pengakuan internasional,” papar Adim. Tak dapat dipungkiri, media memiliki peran masif dalam menyebarkan informasi terkait konflik ini. Melalui perspektif media dan komunikasi politik, Sugeng Winarno menegaskan bahwa terdapat framing raksasa dalam prahara Israel-Palestina ini. “Propaganda hadir baik dari media-media yang mendukung Israel, ataupun yang mendukung Palestina,” tambah Sugeng. Hal ini diperkuat dengan pernyataan dari Naufal Widi Asmoro yang beranggapan bahwa konflik ini bukan hanya perang senjata, melainkan perang propaganda media massa. “Dampak dari propaganda ini dapat berupa terbentuknya sikap dan pendapat warganet, serta polarisasi opini publik,” ujar Naufal. Secara substansial, diskusi ini diadakan oleh Lab HI UMM untuk publik guna membedah lebih spesifik tentang apa yang menjadi perhatian mancanegara baru-baru ini terkait konflik Israel-Palestina, terutama peran media di dalamnya. Berkaitan dengan hal tersebut, terbesit juga harapan agar gencatan senjata segera dilakukan untuk mencegah penderitaan yang tidak diperlukan. (ist/fal/han)
HI UMM Kolaborasi dengan 9 Pemda, Branding Kota Berstandar Internasional

Sebanyak 32 mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) yang tergabung dalam program Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Paradiplomasi diterjunkan ke 9 kota dan kabupaten di Indonesia. Melalui program pemagangan selama 4 bulan, periode September-Desember 2023, mereka bertugas membranding kota-kota tersebut agar berstandar internasional. Sejumlah mahasiswa HI UMM itu, kata Person in Charge (PIC) CoE Paradiplomasi, Hafid Adim Pradana, menyebar ke Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta, Pemkot Surakarta, Pemkot Surabaya, Pemkot Probolinggo, Pemkot Malang, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Dinas Pariwisata Kota Batu, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Jember, dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Malang. Sebelum mereka terjun ke kota-kota tersebut, melalui kelas Paradiplomasi selama satu semester, Hafid Adim menjelaskan, para mahasiswa dibekali pemahaman dan pelatihan tentang peranan diplomasi substate actor (paradiplomasi), regulasi atau undang-undang terkait paradiplomasi, manajemen kerja sama luar negeri untuk pemerintah daerah (Pemda), serta inventarisir potensi daerah untuk branding kota berstandar internasional. Salah satu daerah yang menjadi mitra HI UMM yaitu Kota Surabaya. Hilal Wakid, mahasiswa yang bertugas di kota tersebut menjelaskan, selama magang di Pemkot Surabaya, ia dan rekan-rekan mahasiswa HI UMM menjadi jembatan antara Kota Surabaya dengan kota-kota di luar negeri. “Yang terbaru, kami bersama Pemkot Surabaya berkoordinasi perihal agenda sister city dengan Kota Kitakyushu, Jepang,” ujar Hilal. Kemitraan Kota Surabaya dengan Kitakyushu, difokuskan pada branding Kota Surabaya menjadi kota berstandar internasional melalui pengembangan sumber daya manusia (SDM), transfer teknologi, optimalisasi pariwisata, hingga pertukaran pelajar. “Kami juga ikut mengatur strategi pengembangan kerja sama Kota Surabaya dengan kota-kota mancanegara lainnya, termasuk strategi media sosial,” pungkas Hilal. Melalui program CoE Paradiplomasi ini, diharapkan mahasiswa HI UMM dapat berkontribusi aktif dalam implementasi Permendagri No. 25 Tahun 2020 tentang Tata Cara Kerja Sama Daerah dengan Pemerintah Daerah di Luar Negeri dan Kerja Sama Daerah dengan Lembaga di Luar Negeri. Sehingga, setelah lulus nanti para mahasiswa dapat menjadi diplomat muda yang berdaya saing internasional, namun tetap strategis bagi pengembangan daerah. (fal/han)