Publik digemparkan dengan konflik yang berkecamuk di wilayah Israel-Palestina. Merespons hal tersebut, Laboratorium Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan agenda diskusi publik pada Jumat (27/10) dengan tajuk “Konflik Israel Palestina sebagai Media Darling”.

Pembicara dalam diskusi publik ini ialah Kepala Laboratorium HI UMM Hafid Adim Pradana, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UMM Sugeng Winarno, dan Redaktur Jawa Pos Naufal Widi Asmoro.

Adim, begitu ia kerap disapa, mengkritisi upaya aneksasi Israel terhadap wilayah Palestina. Hal ini bermula saat bangsa Yahudi bermigrasi dari daratan Eropa menuju tanah Palestina. Selanjutnya, fase-fase politik luar negeri Israel juga menjadi aspek krusial dalam pergerakan Israel di tanah Palestina.

“Hal ini bermula pada tahun 1950, yaitu saat Israel masih berupaya untuk mendapatkan pengakuan internasional,” papar Adim.

Tak dapat dipungkiri, media memiliki peran masif dalam menyebarkan informasi terkait konflik ini. Melalui perspektif media dan komunikasi politik, Sugeng Winarno menegaskan bahwa terdapat framing raksasa dalam prahara Israel-Palestina ini. “Propaganda hadir baik dari media-media yang mendukung Israel, ataupun yang mendukung Palestina,” tambah Sugeng.

Hal ini diperkuat dengan pernyataan dari Naufal Widi Asmoro yang beranggapan bahwa konflik ini bukan hanya perang senjata, melainkan perang propaganda media massa. “Dampak dari propaganda ini dapat berupa terbentuknya sikap dan pendapat warganet, serta polarisasi opini publik,” ujar Naufal.

Secara substansial, diskusi ini diadakan oleh Lab HI UMM untuk publik guna membedah lebih spesifik tentang apa yang menjadi perhatian mancanegara baru-baru ini terkait konflik Israel-Palestina, terutama peran media di dalamnya. Berkaitan dengan hal tersebut, terbesit juga harapan agar gencatan senjata segera dilakukan untuk mencegah penderitaan yang tidak diperlukan. (ist/fal/han)