Perluas Cakupan Kerja Sama, Prodi HI UMM Jajaki Kerja Sama Riset dan Publikasi Internasional dengan UniSZA Malaysia

Malang, 17 September 2025 — Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali memperluas jejaring kolaborasi global. Pada Rabu (17/9/2025), Prodi HI UMM menghadiri undangan Wakil Rektor Bidang 4 (Riset, Pengabdian, dan Kerja Sama) dalam diskusi penguatan kerja sama penelitian dan publikasi ilmiah bersama Dr. Suyatno, M.A., Ph.D., perwakilan Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia. Dalam pertemuan tersebut, Prof. Suyatno memaparkan sejumlah skema kolaborasi strategis yang dapat dijalankan bersama UMM. Salah satunya pertukaran mahasiswa selama satu semester, baik melalui mekanisme kredit transfer maupun non-kredit. Program ini ditujukan untuk memperluas wawasan akademik, lintas kurikulum, dan pengalaman internasional mahasiswa dari kedua kampus. Pembahasan juga menyoroti peluang visiting lecture antara HI UMM dan UniSZA. Dosen dari kedua universitas berkesempatan saling mengisi perkuliahan, berpartisipasi dalam pertemuan akademik, hingga menyelenggarakan lokakarya bersama. Inisiatif ini diharapkan memperkaya proses belajar-mengajar sekaligus membuka ruang kolaborasi lanjutan di bidang riset dan pengabdian kepada masyarakat. Aspek pendanaan turut menjadi fokus. Keduanya menjajaki skema pembiayaan bersama dan pengajuan dana riset kolaboratif untuk menghasilkan luaran publikasi bereputasi, khususnya jurnal internasional terindeks Scopus, serta kontribusi book chapter. Dengan dukungan pendanaan bersama, target luaran akademik dinilai lebih terukur dan berkelanjutan. Selain riset dan publikasi, pertemuan juga membahas peluang pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) internasional selama tiga minggu. Program KKN lintas negara ini dirancang untuk melibatkan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian di luar negeri sekaligus memperkuat jejaring internasional kampus. Melalui rangkaian peluang tersebut, penjajakan kerja sama HI UMM—UniSZA diharapkan menjadi langkah strategis untuk memperkuat reputasi akademik, memperluas jejaring global, dan meningkatkan kontribusi ilmu pengetahuan pada tingkat internasional. (fal)
Rapat Kedua Persiapan CoE Paradiplomasi Batch 3, Prodi HI UMM Matangkan Agenda Strategis, SOP, dan Penempatan Magang

Malang, 10 September 2025 — Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melanjutkan koordinasi persiapan pelaksanaan Center of Excellence (CoE) Paradiplomasi Batch 3 melalui rapat kedua di Laboratorium HI. Forum ini menjadi langkah penting untuk memastikan perkuliahan yang menggabungkan pendekatan teoritis dan praktik lapanganberjalan efektif pada periode 15 September 2025 hingga 10 Januari 2026. Kelas CoE Paradiplomasi akan menghadirkan pemateri dari kalangan praktisi dan akademisi, sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang terintegrasi antara teori dan praktik. Rapat menyepakati empat fokus utama: sosialisasi kelas perdana pada Senin, 22 September 2025, pukul 10.00–11.00 WIB yang dipandu Bagian Kurikulum; Focus Group Discussion (FGD) peserta pada Selasa, 23 September 2025, pukul 13.00 WIB di Laboratorium HI dengan penugasan Bagian Kurikulum menyiapkan materi dan teknis; dan penyusunan SOP kelas untuk memastikan standar teknis di setiap pertemuan; serta penetapan tempat magang mahasiswa CoE Paradiplomasi Batch 3. Penempatan magang disusun untuk mempertemukan pembelajaran kelas dengan kebutuhan nyata mitra daerah. Adapun sebarannya meliputi: Pemerintah Provinsi Jawa Timur (2 mahasiswa/i), Pemerintah Kota Surabaya (3 mahasiswa/i), Kabupaten Banyuwangi/Dinas Pariwisata (2 mahasiswa/i), Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (2 mahasiswa/i), Pemerintah Kota Semarang (2 mahasiswa/i), Pemerintah Provinsi Jawa Barat (2 mahasiswa/i), dan Pemerintah Kota Bandung (2 mahasiswa/i). Skema ini dirancang agar mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung praktik paradiplomasi di tingkat provinsi maupun kota/kabupaten. CoE Paradiplomasi Prodi HI UMM menjadi penanda kuat diferensiasi kurikulum yang tidak hanya membahas paradiplomasi dari sisi teoritis, melainkan juga mengimplementasikannya melalui praktik nyata di lapangan. Branding unggulan ini menjadi bukti komitmen Prodi HI UMM melahirkan lulusan berkompetensi global sekaligus peka pada dinamika lokal. Dengan persiapan yang kian matang, CoE Paradiplomasi Batch 3 diharapkan memperkuat reputasi UMM sebagai pelopor pendidikan tinggi yang memadukan teori dan praktik, serta menjembatani mahasiswa menjadi aktor diplomasi di tingkat global maupun daerah. (fal)
Perkuat Pondasi Praktikal, Prodi HI UMM Gelar Rapat Koordinasi Persiapan Batch 3 Kelas Profesional Paradiplomasi

Malang, 12 Agustus 2025 — Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus memantapkan langkahnya dalam mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis praktik dan kolaborasi internasional. Untuk mengaktualisasi visi tersebut, Prodi HI UMM menggelar rapat koordinasi terkait persiapan Kelas Center of Excellence (COE) Paradiplomasi untuk Semester Ganjil Tahun Ajaran 2025/2026. Kegiatan COE Paradiplomasi menjadi salah satu program unggulan Prodi Hubungan Internasional UMM dalam membekali mahasiswa dengan pengalaman belajar yang memadukan teori dan praktik di lapangan. Melalui konsep ini, mahasiswa tidak hanya memahami dinamika hubungan internasional dari sisi akademik, melainkan juga dilatih untuk menguasai keterampilan diplomasi tingkat daerah (paradiplomasi) yang relevan dengan perkembangan global. Dalam rapat yang berlangsung di Laboratorium Hubungan Internasional UMM, para Koordinator Mata Kuliah (MK) sepakat untuk meningkatkan koordinasi dan keterlibatan aktif seluruh tim pengajar. Salah satu fokus pembahasan adalah pengaturan pertemuan rutin serta pemilihan materi oleh dosen praktisi, sehingga setiap perkuliahan dapat berjalan efektif, terarah, dan sesuai kebutuhan mahasiswa. Selain itu, telah disepakati beberapa agenda penting, seperti pertemuan bersama di Bidang 4 untuk membahas kerja sama dengan pihak pemerintah provinsi, kota, dan kabupaten; serta pertemuan koordinasi lanjutan untuk membahas template tugas akhir yang berlaku lintas mata kuliah. Beriringan dengan pelaksanaan Batch 3, Direktur CoE Paradiplomasi UMM, Haryo Prasodjo, S.IP., M.A., menyampaikan evaluasi positif terhadap batch sebelumnya. “Evaluasi terhadap kinerja dan pembelajaran pada Batch 1 dan Batch 2 telah memberikan hasil yang memuaskan dan menjadi pondasi kuat untuk penyelenggaraan Batch 3 kali ini,” tegas Haryo saat diwawancarai. Persiapan pun terus berjalan, dimana dosen pendamping lapangan dari Batch II akan segera berkoordinasi dengan mitra kerja sama guna menyelesaikan administrasi Surat Kesanggupan Mengajar (SKM). Hal ini dilakukan guna memastikan kesiapan semua pihak sebelum perkuliahan dimulai. Pada Batch 3 ini, sekitar 15 mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional UMM yang tergabung dalam CoE Paradiplomasi akan langsung terlibat dalam magang dan proyek lapangan, tentunya berbekal pelatihan khusus paradiplomasi selama satu semester dari dosen dan stakeholder pemerintah sebagai praktisi. Mereka akan ditempatkan di berbagai instansi mitra strategis, seperti Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat; Pemerintah Kota Surabaya, Bandung, Semarang; serta Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dan Jember. Penempatan langsung ini merupakan implementasi inti dari strategi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), yang dirancang untuk memperluas jaringan profesional dan meningkatkan kompetensi mahasiswa di dunia kerja nyata. Dengan segala persiapan yang dilakukan, CoE Paradiplomasi diharapkan semakin efektif sebagai wadah pengembangan kompetensi unggulan bagi mahasiswa HI UMM. Secara bersamaan, program ini juga diharapkan dapat memperkuat reputasi UMM sebagai perguruan tinggi yang aktif menjembatani ilmu pengetahuan dengan penerapan nyata, baik di tingkat global maupun lokal.
Prodi HI UMM Perluas Kerja Sama Paradiplomasi dengan Pemkot Semarang

Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperluas jejaring kerja sama paradiplomasi dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Inisiatif ini merupakan realisasi visi UMM Pasti melalui Center of Excellence (CoE) Paradiplomasi HI UMM dalam menjalin kolaborasi dengan pemerintah daerah. Delegasi yang terdiri atas dosen struktural Prodi HI UMM dan Tim Task Force CoE Paradiplomasi disambut hangat oleh Sub-Dinas Kerja Sama Luar Negeri Pemkot Semarang. Secara informal, Pemkot Semarang menyepakati peran sebagai mitra strategis CoE Paradiplomasi HI UMM. Komitmen ini mencakup penyediaan data pendukung untuk riset mahasiswa, kesediaan menjadi lokasi Praktik Kerja Lapangan (PKL)/Magang bagi peserta Kelas Profesional Paradiplomasi, serta pelibatan aktif mahasiswa dalam menyumbang ide pengembangan kerja sama luar negeri Pemkot Semarang. Kerja sama ini menciptakan sinergi mutualisme. Bagi Pemkot Semarang, kolaborasi ini menyediakan perspektif akademis dan wawasan global untuk kebijakan kerjasama internasionalnya. Sementara bagi Prodi HI UMM, kerja sama menjadi laboratorium praktis bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu paradiplomasi dan melakukan penelitian berbasis kebutuhan riil pemerintah daerah. Kedua belah pihak berkomitmen segera menyusun Nota Kesepahaman (MoU) formal. “Kolaborasi ini memberi mahasiswa pengalaman langsung di paradiplomasi, sekaligus menyediakan ide segar dan dukungan riset bagi Pemkot,” tegas Haryo Prasodjo, M.A., selaku Direktur CoE Paradiplomasi HI UMM. Pihak Pemkot Semarang menyambut positif jembatan antara kebutuhan akademik dan program internasional mereka. Inisiatif ini semakin mengukuhkan CoE Paradiplomasi HI UMM sebagai pusat kajian hubungan internasional subnasional terkemuka di Indonesia, sekaligus merealisasikan kontribusi UMM bagi pembangunan daerah. (fal)
Dari Dinasti Korea ke Panggung Dunia: Mahasiswa HI UMM Hidupkan Diplomasi Budaya di Atmospheral 3.0

Panggung “Atmospheral 3.0” di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi saksi lahirnya talenta diplomasi budaya tingkat dunia pada Sabtu lalu. Keberhasilan acara ini merupakan buah manis dari sebuah kolaborasi internasional bergengsi antara Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM, University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies, dan Kementerian Pendidikan Republik Korea. Sinergi tiga negara ini diwujudkan melalui penampilan istimewa dari satu kelas khusus yang dibagi menjadi tiga kelompok: Korean Dynasty, Korea Modern, dan Asia Timur. Ketiganya tampil dalam gelaran yang diadakan di Aula BAU UMM dengan tema besar “Cultural Voyage: Diving into Diversity”. Dimas Nugraha Andriyanto, mahasiswa dari kelompok Korean Dynasty, menuturkan kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar yang ia rasakan. “Kami sadar membawa nama besar, bukan hanya UMM, melainkan juga University of Auckland dan dukungan dari Korea. Beban itu kami ubah menjadi motivasi untuk menunjukkan bahwa kolaborasi ini benar-benar menghasilkan pemahaman budaya yang otentik. Setiap detail kostum dan gerakan kami adalah wujud dari keseriusan itu,” ungkapnya. Kepala Laboratorium HI UMM, Hafid Adim Pradana, memvalidasi kualitas yang ditampilkan. “Kualitas dari kelas kerja sama ini jelas melampaui ekspektasi. Keterlibatan mitra internasional seperti Auckland SRI meningkatkan standar riset dan kedalaman materi. Mahasiswa kami jadi terbiasa dengan standar global, dan Atmospheral menjadi panggung pembuktiannya,” ujar Hafid. Apresiasi serupa datang dari pimpinan universitas. Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., melihat acara ini sebagai sebuah model pendidikan masa depan. “Model kerja sama seperti ini adalah masa depan pendidikan tinggi. Atmospheral 3.0 menunjukkan bahwa sinergi antara universitas, lembaga riset asing, dan dukungan pemerintah mampu menciptakan ekosistem pembelajaran yang luar biasa. Ini adalah cetak biru yang akan kami replikasi untuk bidang studi lainnya,” tuturnya. Keberhasilan kolaborasi ini semakin nyata saat kelompok Asia Timur, yang juga berasal dari kelas istimewa tersebut, dianugerahi penghargaan best performance. Pementasan mereka menjadi sorotan utama dan membuktikan bagaimana kemitraan global mampu memperkaya pengalaman akademis secara nyata dan maksimal.
Kolaborasi Tiga Negara Lahirkan Talenta Diplomasi Budaya di Panggung Atmospheral UMM

Panggung “Atmospheral 3.0” di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi saksi lahirnya talenta diplomasi budaya tingkat dunia pada Sabtu lalu. Keberhasilan acara ini merupakan buah manis dari sebuah kolaborasi internasional bergengsi antara Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM, University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies, dan Kementerian Pendidikan Republik Korea. Sinergi tiga negara ini diwujudkan melalui penampilan istimewa dari satu kelas khusus yang dibagi menjadi tiga kelompok: Korean Dynasty, Korea Modern, dan Asia Timur. Ketiganya tampil dalam gelaran yang diadakan di Aula BAU UMM dengan tema besar “Cultural Voyage: Diving into Diversity”. Dimas Nugraha Andriyanto, mahasiswa dari kelompok Korean Dynasty, menuturkan kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar yang ia rasakan. “Kami sadar membawa nama besar, bukan hanya UMM, melainkan juga University of Auckland dan dukungan dari Korea. Beban itu kami ubah menjadi motivasi untuk menunjukkan bahwa kolaborasi ini benar-benar menghasilkan pemahaman budaya yang otentik. Setiap detail kostum dan gerakan kami adalah wujud dari keseriusan itu,” ungkapnya. Kepala Laboratorium HI UMM, Hafid Adim Pradana, memvalidasi kualitas yang ditampilkan. “Kualitas dari kelas kerja sama ini jelas melampaui ekspektasi. Keterlibatan mitra internasional seperti Auckland SRI meningkatkan standar riset dan kedalaman materi. Mahasiswa kami jadi terbiasa dengan standar global, dan Atmospheral menjadi panggung pembuktiannya,” ujar Hafid. Apresiasi serupa datang dari pimpinan universitas. Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., melihat acara ini sebagai sebuah model pendidikan masa depan. “Model kerja sama seperti ini adalah masa depan pendidikan tinggi. Atmospheral 3.0 menunjukkan bahwa sinergi antara universitas, lembaga riset asing, dan dukungan pemerintah mampu menciptakan ekosistem pembelajaran yang luar biasa. Ini adalah cetak biru yang akan kami replikasi untuk bidang studi lainnya,” tuturnya. Keberhasilan kolaborasi ini semakin nyata saat kelompok Asia Timur, yang juga berasal dari kelas istimewa tersebut, dianugerahi penghargaan best performance. Pementasan mereka menjadi sorotan utama dan membuktikan bagaimana kemitraan global mampu memperkaya pengalaman akademis secara nyata dan maksimal.
Pecah Tiga, Kelas Korea HI UMM Pamerkan Nuansa Korea dan Asia Timur di Atmospheral 3.0

Sebuah pemandangan unik menjadi pusat perhatian dalam gelaran “Atmospheral 3.0” yang berlangsung di Aula BAU Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu lalu. Tiga kelompok dengan penampilan memukau—Korean Dynasty, Korea Modern, dan Asia Timur—ternyata berasal dari satu kelas istimewa yang sengaja dipecah untuk menampilkan kajian yang lebih mendalam. Kelas tersebut merupakan kelas A, hasil kerja sama Program Studi Hubungan Internasional (HI) UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies, yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Keputusan untuk membaginya menjadi tiga kelompok dalam praktikum akhir ini terbukti menjadi strategi brilian. Dalam acara yang mengusung tema “Cultural Voyage: Diving into Diversity”, pemecahan ini memungkinkan eksplorasi yang kaya. Kelompok “Korean Dynasty” membawa penonton ke masa lalu , “Korea Modern” menampilkan dinamika budaya pop kontemporer , sementara kelompok “Asia Timur” memberikan konteks regional yang lebih luas. Strategi ini membuahkan hasil gemilang saat kelompok Asia Timur dianugerahi penghargaan best performance. Zuhair Baheramsyah, mahasiswa dari kelompok Korean Dynasty, membagikan pengalamannya terkait tantangan unik ini. “Awalnya kami kira akan sulit, satu kelas dibagi tiga dengan tema beririsan. Tapi justru di situlah tantangannya. Kelompok kami harus benar-benar fokus pada aspek historis agar tidak tumpang tindih dengan Korea Modern. Ini memaksa kami riset lebih dalam dan spesifik, bukan lagi sekadar mempresentasikan sebuah kawasan, namun juga mempertahankan identitas unik di tengah ‘saudara’ kami sendiri,” jelasnya. Kepala Laboratorium HI UMM, Hafid Adim Pradana, menjelaskan strategi pedagogis di balik keputusan tersebut. “Atmospheral setiap tahunnya adalah laboratorium inovasi kami. Dengan memecah kelas kerja sama ini, mahasiswa tidak hanya belajar tentang wilayahnya, namun juga belajar bagaimana menegosiasikan identitas dan memposisikan ‘produk’ diplomasi mereka di antara kelompok lain yang serupa. Ini adalah simulasi dinamika regional dalam skala mikro,” ujarnya. Apresiasi tinggi datang dari Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., yang melihat pencapaian ini sebagai cerminan visi besar universitas. “Apa yang kita saksikan dari kelas kerja sama ini adalah buah nyata dari visi internasionalisasi UMM. Ini bukan hanya tentang pertukaran budaya, melainkan tentang menciptakan mahasiswa yang mampu berpikir kritis dan menghasilkan karya berkualitas. Keberhasilan mereka menjadi standar baru bagi mahasiswa lainnya,” tuturnya. Pada akhirnya, pementasan dari kelas kerja sama internasional ini menjadi sorotan utama Atmospheral 3.0. Langkah untuk memecah kelas menjadi tiga entitas tidak hanya memperkaya festival, namun juga membuktikan bagaimana sebuah model pembelajaran berbasis pengalaman mampu menggali potensi mahasiswa secara maksimal.
Ketika Teori Bertemu Festival: ‘Atmospheral’ UMM Sulap Praktikum Akhir Jadi Spektakel Budaya

Saat semester genap tahun ajaran 2024/2025 berakhir, Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mendefinisikan ulang konsep ujian akhir. Melampaui penilaian tradisional, prodi ini menggelar “Atmospheral 3.0”, sebuah festival budaya dinamis yang berfungsi sebagai praktikum untuk mata kuliah Kajian Kawasan dalam Hubungan Internasional. Acara yang diadakan di Aula BAU UMM, pada Sabtu (5/7) ini merupakan perpaduan yang disengaja antara evaluasi akademik dan hiburan yang menyegarkan bagi mahasiswa. Proyek ambisius ini merupakan hasil kolaborasi antara Prodi HI dan Laboratorium HI UMM. Dengan tema “Cultural Voyage: Diving into Diversity”, para mahasiswa ditugaskan untuk merepresentasikan budaya dari sembilan kelompok yang berbeda: Afrika, Timur Tengah, Asia Timur, Asia Selatan, Asia Tenggara, Amerika Latin, Eropa, Korean Dynasty, dan Korea Modern. Format imersif ini menuntut keterlibatan mendalam, mengubah pengetahuan teoretis menjadi pengalaman nyata yang dapat dirasakan. Efektivitas pendekatan pedagogis ini tergambar jelas dari testimoni salah seorang mahasiswa peserta, Faiz Putra Aryaji dari kelompok Asia Timur. “Selama ini kami belajar banyak teori tentang diplomasi budaya dan Studi Kawasan di kelas. Atmospheral ini adalah panggung praktiknya. Kami tidak hanya menampilkan kostum, tapi kami benar-benar ditantang untuk merepresentasikan identitas sebuah kawasan secara akurat. Pengalaman ini jauh lebih mendalam dan aplikatif daripada sekadar ujian tulis biasa,” ungkapnya. Apresiasi juga datang dari kalangan pengajar. Wakil Rektor I UMM, Prof. Akhsanul In’am, Ph.D., mengungkapkan kegembiraannya. “Senang rasanya ada pameran budaya dari Prodi HI UMM. Dapat menjadi media untuk mengenal lebih dalam budaya yang terdapat di setiap negara. Semoga menginspirasi, bisa tur ke beberapa negara dan melanjutkan studi serta menghayati yang ada di masing-masing negara,” tuturnya. Sementara itu, Hafid Adim Pradana, selaku Kepala Laboratorium HI UMM, menekankan pentingnya keberlanjutan acara ini sebagai sebuah legasi. “Praktikum ini merupakan tradisi turun temurun dari beberapa tahun. Berharap dapat diteruskan di tahun berikut-berikutnya untuk mewariskan tradisi dari prodi HI,” ujarnya. Praktikum ini mencapai puncaknya dengan penganugerahan bagi penampilan paling mengesankan: kelompok Asia Timur memenangkan best performance, Asia Selatan meraih best presentation, Afrika dianugerahi best tenant, dan Asia Tenggara berjaya dalam best fashion show. Pada akhirnya, Atmospheral 3.0 terbukti lebih dari sekadar acara yang meriah; ini adalah model pembelajaran berbasis pengalaman yang sukses, membuktikan bahwa ketajaman akademis dan perayaan kreatif dapat berjalan beriringan.
Mahasiswa HI UMM Dorong Desa Kayu Kebek, Pasuruan, Menjadi Desa Wisata 2026 Melalui Praktikum Gerakan Sosial dan Pameran Inovasi

Malang, 3 Juni 2025 – Semangat pemberdayaan masyarakat terus digelorakan oleh mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui kegiatan Praktikum Gerakan Sosial. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian pengabdian yang telah dilakukan sejak program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM), praktikum mata kuliah Gerakan Sosial, serta praktikum mata kuliah Politik Lingkungan. Puncak dari kegiatan ini ditandai dengan digelarnya pameran produk inovasi di Desa Kayu Kebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, yang bertujuan mendukung transformasi desa tersebut menjadi ‘Desa Wisata 2026’. Kegiatan dini diampu oleh Bapak Ruli Inayah Romadhoan, M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah Gerakan Sosial, selanjutnya dilaksanakan oleh kelompok yang terdiri dari 7 mahasiswa angkatan 2022, antara lain: Sabrina Rafika Aysiwi, Dinda Dwi Nurhidayah, Nikita Angelina Wijaya, Muhammad Adhitya Gus Ismoyo, Hans Yenanda, Ahmad Feryan Perwira Yudha, dan Alvinda Wijaya. Acara puncak yang digelar Senin lalu ini tak hanya menjadi ajang pelatihan dan unjuk karya mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang advokasi yang strategis. Kegiatan ini berhasil menarik perhatian berbagai pemangku kebijakan. Hadir dalam acara tersebut Asisten II Bupati Pasuruan yang mewakili Bupati, Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Ketua Komisi II DPRD, serta beberapa kepala dinas terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pertanian, dan Dinas Pariwisata Pasuruan. Sedangkan dari pihak UMM dihadiri oleh Dr. Salahudin, M.Si., M.P.A. selaku Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerjasama, Kepala Laboratorium HI, Hafid Adim Pradana, M.A., Sekertaris Program Studi HI, Shannaz Mutiara Deniar, M.A., serta Bapak-Ibu dosen Program Studi lainnya. Pameran Inovasi: Solusi Nyata dari Mahasiswa untuk Desa Pameran yang digelar oleh para mahasiswa UMM ini menghadirkan berbagai inovasi yang dihasilkan melalui riset dan pengamatan atas kondisi riil masyarakat Desa Kayu Kebek. Beberapa inovasi unggulan yang dipamerkan antara lain: Tong Pembakaran Sampah Less Asap (Smoke Less Burn Barrel) Inovasi ini hadir sebagai solusi terhadap tingginya produksi sampah organik dari lahan hijau desa. Tong ini dirancang untuk membakar sampah dengan emisi asap yang sangat rendah, sehingga ramah lingkungan. Inovasi ini mendapatkan perhatian khusus dari Dinas Lingkungan Hidup yang berencana mengikutsertakannya dalam lomba inovasi tingkat kementerian. Eco Enzyme dari Buah Sisa Panen Desa Kayukebek dikenal sebagai daerah pertanian dan perkebunan dengan hasil utama berupa apel, jeruk, dan lemon. Namun, buah dengan kualitas rendah kerap dibuang begitu saja ke sungai. Mahasiswa kemudian menginisiasi pembuatan eco enzyme, yaitu cairan serbaguna hasil fermentasi buah-buahan tak layak konsumsi. Produk ini dapat dimanfaatkan untuk pertanian, perikanan, peternakan, dan bahkan kesehatan tubuh. Inovasi ini menarik minat Bupati Pasuruan, khususnya untuk pengembangan sektor perikanan desa. Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah Berangkat dari keprihatinan terhadap limbah rumah tangga, mahasiswa menciptakan lilin aromaterapi dari minyak goreng bekas. Lilin ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan ekonomi. Produk ini mendapat sambutan hangat dari seorang pengusaha lokal yang menyatakan ketertarikannya untuk memproduksi lilin tersebut secara komersial. Promosi Potensi Desa Selain produk inovatif, mahasiswa juga memetakan potensi wisata desa seperti air terjun, pemandian Sendang Sri, Pijen Hills, serta kekayaan budaya lokal. Potensi ini dipresentasikan sebagai modal penting dalam mendorong status Kayukebek sebagai Desa Wisata 2026. Beberapa program dan lembaga desa juga turut dipamerkan sebagai bentuk sinergi dan kolaborasi antara warga dan mahasiswa. Dukungan Nyata dari Pemerintah Daerah Kegiatan mahasiswa ini mendapat respon positif dari DPRD Kabupaten Pasuruan yang menyatakan komitmennya untuk mendukung upaya transformasi Desa Kayukebek. Dalam kesempatan tersebut, DPRD memberikan bantuan dana sebesar Rp100 juta untuk pengembangan desa. Tak hanya itu, Ketua DPRD dan Ketua Komisi II secara pribadi juga memberikan bantuan langsung sebesar Rp8 juta untuk kegiatan keagamaan di pura desa. Dana tersebut langsung ditransfer ke rekening desa saat acara berlangsung. Tak berhenti di situ, bantuan infrastruktur seperti paving block, kendaraan roda tiga (tosa), serta peralatan lainnya turut dijanjikan sebagai bentuk konkret dukungan terhadap pembangunan desa berbasis partisipasi pemuda dan masyarakat. Praktikum yang Berdampak Dosen pengampu mata kuliah Gerakan Sosial menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran kontekstual dan advokatif bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Ini bukan hanya tentang teori sosial atau studi kebijakan, tetapi tentang bagaimana mahasiswa mampu berkontribusi langsung kepada masyarakat dan memfasilitasi perubahan,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa pendekatan multidimensi – mulai dari sosial, budaya, hingga politik lingkungan – merupakan hal penting dalam menjawab tantangan global di tingkat lokal. Dengan melibatkan pemangku kepentingan secara langsung, mahasiswa belajar untuk membangun jejaring, berdiplomasi, serta melakukan advokasi yang efektif. Menuju Desa Wisata 2026 Desa Kayu Kebek kini menatap masa depan dengan optimisme baru. Potensi yang selama ini tersembunyi mulai dikenali dan dikelola melalui pendekatan inovatif dan kolaboratif. Pemerintah desa dan masyarakat menyampaikan apresiasi atas dedikasi mahasiswa dan berharap program serupa bisa terus dilanjutkan dan diperluas. “Mahasiswa UMM telah membuka mata kami bahwa potensi itu ada, tinggal bagaimana kita mau mengelola dan mengembangkan. Kami sangat bersyukur dan siap mendukung agar Desa Kayu Kebek bisa menjadi desa wisata tahun 2026,” ujar salah satu perangkat desa. Dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan advokasi, kegiatan Praktikum Gerakan Sosial ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang belajar di ruang kelas, melainkan juga tentang merajut perubahan nyata di tengah masyarakat. Desa Kayu Kebek kini menjadi saksi bahwa gerakan sosial bisa berbuah menjadi gerakan pembangunan.
Mewakili FISIP, Mahasiswa HI Berhasil Rebut Gelar Juara 1 Ajang Band Rector Cup UMM 2025

Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengukir prestasi membanggakan di luar ranah akademik, kali ini melalui ajang seni musik kampus. Kelompok band bernama “Suddenly”, yang seluruh anggotanya berasal dari Prodi HI, berhasil meraih gelar Juara 1 dalam kompetisi band bergengsi Rector Cup UMM 2025. Kemenangan ini dipersembahkan untuk Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) yang mereka wakili, menambah deret prestasi non-akademik Prodi HI yang terus bersinar. Penampilan final yang digelar pada 30 Mei 2025 di Lapangan Helipad UMM menjadi bukti ketangguhan mereka menghadapi persaingan ketat dari perwakilan berbagai fakultas se-UMM. Band “Suddenly” terdiri dari Erfian Ananta Iskandar (Vokalis), Muhammad Naufal Ramadan (Rhythm Guitar sekaligus Kapten), Wildan Rahmat Yanuar (Lead Guitar), Gilang Putra Akbar (Bassist), Alief Vilza Hidayatullah (Drummer), dan Nayaka Bisma Nitisara (Manajer). Nama band terinspirasi dari persiapan mereka yang terbilang singkat namun mampu menghasilkan penampilan memukau. Di panggung, mereka berhasil menyihir dewan juri dan penonton berkat soliditas permainan, harmonisasi vokal yang apik, kemampuan individual yang ciamik, serta inovasi dalam penampilan. Energi menggebu dan penghayatan mendalam saat membawakan lagu-lagu pilihan menciptakan atmosfer menghipnotis sepanjang penampilan. Kemenangan ini merupakan buah dari kerja keras, kedisiplinan, dan kekompakan tim baik secara profesional maupun emosional yang dijaga ketat selama dua minggu latihan intensif. Seperti diungkapkan Bisma selaku manajer, kendala utama terletak pada penyatuan ego musikal personel yang memiliki preferensi genre berbeda, mulai dari pop, rock, hingga blues. “Kami harus mencari jalan tengah agar masing-masing skill individu personel terpenuhi,” jelas Bisma tentang proses pemilihan lagu. Muhammad Naufal Ramadan, selaku kapten, menekankan sinergi tim dan dukungan penuh dari berbagai pihak sebagai kunci kesuksesan. “Kami sangat bersyukur dan senang bisa mengharumkan nama Prodi HI dan FISIP. Ini semua berkat dukungan dosen, teman-teman, dan kerja sama tim yang solid,” ungkapnya. Naufal juga menyampaikan terima kasih mendalam kepada BEM FISIP UMM, HIMAHI UMM, serta Tony Tom selaku pemilik Tom Music Studio yang menjadi lokasi latihan mereka. Prestasi gemilang ini disambut suka cita dan kebanggaan mendalam oleh lingkungan Prodi HI maupun Fakultas FISIP UMM secara keseluruhan. Pihak jurusan menilai capaian ini sebagai bukti nyata komitmen mendukung pengembangan mahasiswa yang holistik. Ruli Inayah Ramadhoan, salah satu dosen Prodi HI UMM yang juga aktif di IKABAMA UMM, menegaskan, “Ini bukti konkret bahwa mahasiswa FISIP, khususnya HI, memiliki talenta multidimensi. Mereka mampu berprestasi tinggi di bidang akademik sekaligus menunjukkan ekspresi seni dan jiwa kompetitif yang kuat di panggung seperti Rector Cup.” Gelar Juara 1 Rector Cup UMM 2025 ini semakin memperkaya portofolio prestasi non-akademik Program Studi Hubungan Internasional dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Malang, mengukuhkan reputasinya sebagai institusi yang melahirkan mahasiswa berkompetensi lengkap dan berprestasi di berbagai bidang. (fal)