Praktikum Lapang Paradiplomasi, Mahasiswa HI UMM Kunjungi Pemprov Jatim

Di penghujung tahun 2024, Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berkesempatan untuk mengunjungi Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk memperluas wawasan tentang kerja sama luar negeri di tingkat daerah (16/12). Dalam kunjungan tersebut, Kepala Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah Pemprov Jatim, Dr. Lilik Pudjiastuti, S.H., M.H, menekankan pentingnya kolaborasi antara birokrat dan akademisi. “Birokrat bisa belajar dari hasil riset akademisi, sementara akademisi dapat mempelajari kondisi lapangan dari birokrat sebagai referensi penelitian,” ujarnya. Acara yang juga dihadiri oleh Hafid Adim Pradana, S.IP, M.A. ini menghadirkan talkshow dengan narasumber dari berbagai dinas, antara lain: Dinas Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta Biro Pemerintahan dan Otonomi Daerah. Elemen-elemen pemerintahan tersebut berbagi pengalaman tentang potensi dan tantangan kerja sama luar negeri Pemprov Jatim. Dalam paparannya, para narasumber menyoroti keberhasilan program Sister Province Jawa Timur, termasuk kerja sama dengan Prefektur Osaka, Jepang yang telah terjalin sejak 1984. Kerja sama ini telah menghasilkan berbagai program seperti pelatihan UMKM dan pertukaran pelajar yang memberikan dampak positif bagi kedua wilayah. Di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa, Jawa Timur juga telah memperluas jaringan Sister Province dengan menjalin kerja sama baru pada tahun 2022 bersama Provinsi Gyeongsang (Korea Selatan), Kota Tianjin (Tiongkok), dan Alexandria (Mesir). Ekspansi kerja sama ini menunjukkan komitmen Pemprov Jatim dalam membangun hubungan internasional yang lebih luas. Para mahasiswa HI UMM menunjukkan antusiasme yang tinggi selama sesi tanya jawab dengan para narasumber. Berbagai pertanyaan kritis diajukan, mulai dari mekanisme implementasi kerja sama hingga strategi mengatasi kendala budaya dan bahasa dalam pelaksanaan program Sister Province. Kunjungan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam bagi mahasiswa tentang peran penting pemerintah daerah dalam diplomasi internasional. Selain itu, interaksi langsung dengan para praktisi diharapkan dapat membantu mahasiswa mempersiapkan diri untuk terjun ke dunia kerja di bidang hubungan internasional. (fal/ind)

Kunjungan ke Pemkot Surabaya, Mahasiswa CoE HI UMM Praktik Rumuskan Kerja Sama Internasional Daerah

Mahasiswa Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Paradiplomasi Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan kunjungan ke Kantor Pemerintah Kota Surabaya pada Kamis (5/12). Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka pelatihan teknis paradiplomasi. Sebelumnya, Pemkot Surabaya telah menugaskan mahasiswa HI UMM untuk menyusun draft kerja sama internasional daerah, sehingga kunjungan kali ini juga untuk mengulas draft tersebut. Kepala Laboratorium HI UMM, Hafid Adim Pradana, mengungkapkan bahwa kunjungan ini merupakan sarana pengenalan prosedur birokrasi kerja sama internasional kepada mahasiswa. “Substansi kunjungan ini ialah memperkenalkan secara langsung praktik penyusunan kerja sama luar negeri oleh pemerintah daerah, terutama Pemerintah Kota Surabaya yang memiliki banyak pengalaman di bidang kerja sama luar negeri,” papar Adim. Salah satu agenda menarik dalam kunjungan tersebut ialah roleplaying yang dilakukan oleh mahasiswa. Para mahasiswa berperan sebagai perwakilan pemerintah daerah yang akan menjalin kerja sama dengan berbagai kota di dunia, antara lain: Seattle, Amerika Serikat; Parramatta, Australia; Busan, Korea Selatan; Sharjah, Uni Emirat Arab; dan Mombasa, Kenya. Selanjutnya, mahasiswa mempresentasikan rumusan draft kerja sama internasional daerah mulai dari rencana aksi lima tahun, preambul, teknis pembiayaan, aktor-aktor yang terlibat, serta rancangan Memorandum of Understanding (MoU) untuk kepentingan Sister City. Dalam kegiatan roleplaying tersebut, mahasiswa tidak hanya sekadar mempresentasikan draft kerja sama, melainkan juga mendapatkan masukan dan arahan langsung dari pejabat Pemkot Surabaya. “Kami ingin mahasiswa tidak sekadar memahami teori, namun juga mampu mengaplikasikannya dalam konteks praktis. Menurut saya, agenda tersebut merupakan dua jam yang sangat berharga, banyak sekali umpan balik yang konstruktif kepada para mahasiswa,” ujar Adim. Menurutnya, kegiatan ini akan memberikan bekal kompetensi yang sangat berharga bagi mahasiswa dalam menghadapi dinamika hubungan internasional yang semakin kompleks. Salah seorang mahasiswa yang terlibat, Farisa Nur Amri, mengungkapkan pengalamannya. “Kami merasa sangat terbantu dengan kesempatan ini. Kami bisa langsung melihat bagaimana draft kerja sama yang kami susun dinilai dan dikoreksi oleh praktisi pemerintahan,” ujarnya. Kunjungan ke Kantor Pemerintah Kota Surabaya ini bukan sekadar kunjungan seremonial simbolik, melainkan menjadi laboratorium langsung bagi mahasiswa untuk memahami kompleksitas kerja sama internasional daerah. Mereka diperkenalkan pada mekanisme pelayanan publik serta dinamika birokrasi pemerintahan yang sesungguhnya. (fal)

Dubes Priyo Iswanto Bedah Buku ‘Diplomasi Tiga Zaman’

Dr. (H.C) Priyo Iswanto, M.H. meluncurkan buku “Diplomasi Tiga Zaman” yang mengupas perjalanan diplomatik selama 36 tahun pengabdiannya. Acara bedah buku yang berlangsung di Aula Lantai 9 GKB 4 pada Senin (2/12) dihadiri oleh Mr. Takeyama Kenichi, Konsul Jenderal Jepang di Surabaya, dan Dion Maulana Prasetya, dosen Prodi HI UMM, sebagai pembedah. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Kolombia ini mengungkap dinamika geopolitik melalui tiga era signifikan: Era Bipolar dengan konflik Barat-Uni Soviet, Era Unipolar pasca keruntuhan Uni Soviet, dan Era Multipolar di mana kekuatan global mengalami redistribusi. Priyo menegaskan bahwa keberhasilan diplomatik melampaui kemampuan teknis. Diperlukan kepekaan kultural, adaptabilitas tinggi, dan jejaring diplomatik yang tangguh. Seorang diplomat harus memiliki analisis tajam dan pemahaman mendalam tentang dinamika geopolitik. Pengalaman manajemen krisis di Venezuela dan eksplorasi diplomatik di Kolombia menjadi bukti nyata kompleksitas tugas diplomatik. Melalui narasi pribadinya, Priyo mengungkapkan diplomasi sebagai seni komunikasi antarbudaya yang membutuhkan kreativitas dan strategi cerdas. “Diplomasi Tiga Zaman” bukan sekadar memoir. Buku ini mendokumentasikan perubahan lanskap hubungan internasional, mengajak pembaca memahami bagaimana seorang diplomat menavigasi tantangan geopolitik yang terus berevolusi. Karya Priyo Iswanto menawarkan perspektif unik tentang bagaimana individu dapat menjembatani perbedaan dan berkontribusi pada dialog internasional yang konstruktif. (bel/fal)

HI UMM Fasilitasi LHKI PP Muhammadiyah Gelar Pelatihan Diplomasi untuk Kemitraan Global

Dalam upaya berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas diplomatik, Lembaga Hubungan Kerja Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Diplomacy Training for Global Partnerships Batch 2. Kali ini, Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditunjuk sebagai fasilitator untuk kegiatan pelatihan bertema kemitraan global. Pelatihan yang diselenggarakan pada 29 November hingga 1 Desember 2024 ini berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM. Lembaga Hubungan Kerja Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Diplomacy Training for Global Partnerships Batch 2. Kali ini, Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ditunjuk sebagai fasilitator untuk kegiatan pelatihan bertema kemitraan global. Pelatihan yang diselenggarakan pada 29 November hingga 1 Desember 2024 ini berlangsung di Ruang Sidang Senat UMM. Prof. K.H. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, M.A., Ph.D., atau dikenal dengan Din Syamsuddin, turut memberikan sambutan di acara tersebut. “Umat Islam memiliki potensi yang sangat besar di kontestasi politik global. Pelatihan ini ialah salah satu upaya untuk memaksimalkan potensi tersebut,” ungkapnya. Menyambut pemikiran Din Syamsuddin tentang potensi umat Islam dalam panggung global, Prof. Gonda Yumitro, selaku Ketua Prodi HI UMM, menegaskan bahwa pelatihan diplomasi ini menjadi jembatan untuk mengubah potensi strategis menjadi kemampuan nyata dalam membaca dan memengaruhi dinamika hubungan internasional. “Kegiatan ini merupakan representasi nyata dari komitmen perguruan tinggi Muhammadiyah dalam menghasilkan kader yang memiliki kemampuan diplomatik yang berkualitas global,” urai Prof. Gonda. Kegiatan yang dihadiri oleh sekitar 80 orang peserta ini menghadirkan sejumlah pakar, akademisi, dan praktisi terkemuka yang ditunjuk sebagai pemateri utama. Deretan narasumber kompeten meliputi Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, Dubes Yuli Mumpuni Widarso, Dubes Priyo Iswanto, dan Yayah Khisbiyah. Dr. Imam Addaruqutni, M.A, selaku Ketua Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menegaskan signifikansi program tersebut dalam lanskap pembangunan berkelanjutan. “Program ini merupakan implementasi langsung dari 5 prinsip Sustainable Development Goals (SDGs),” ujarnya. Fokus utama kegiatan ini terletak pada poin Partnership atau kerja sama, yang diyakini sebagai kunci transformasi global dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. “Kami memandang program ini sebagai upaya fundamental untuk mencapai kebangkitan peradaban umat Islam,” tegasnya. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa program ini sepenuhnya sejalan dengan Risalah Islam Berkemajuan yang selama ini digaungkan oleh Muhammadiyah, yakni mewujudkan Islam yang transformatif, humanis, dan berkontribusi positif dalam dinamika global. (fal)

Kepala Bagian Hukum dan Kerja Sama Pemkot Surabaya Pandu Mahasiswa CoE Paradiplomasi HI UMM Dalami Seni Legal Drafting

Keprotokoleran tidak sekadar berkaitan dengan tata cara resmi, melainkan juga melibatkan dimensi negosiasi dan komunikasi diplomatik. Di Kelas Profesional Paradiplomasi Center of Excellence (CoE), Djoenadie Dodiek Setiyono, S.H., Kepala Bagian Hukum dan Kerja Sama Pemkot Surabaya, menekankan bahwa protokoler sejatinya adalah seni berkomunikasi yang membutuhkan kepekaan budaya, kemampuan membaca situasi, dan keterampilan diplomatis yang tinggi. Melalui materi legal drafting, para mahasiswa dikenalkan pada teknik penyusunan dokumen kerja sama internasional. Para mahasiswa juga dilatih untuk memahami struktur, bahasa, dan klausul-klausul kunci yang menjadi jantung dari sebuah perjanjian internasional. Tidak sekadar memahami teks, mereka juga diajak untuk menganalisis implikasi hukum dari setiap kalimat yang disusun. Dodiek, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa keprotokoleran memiliki spektrum yang sangat luas. “Protokoler dan legal drafting bukan sekadar tentang mengikuti aturan, melainkan bagaimana kita mampu merepresentasikan kepentingan secara tepat, jelas, dan bermartabat,” ungkapnya. Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa setiap dokumen diplomatik membawa bobot kepentingan nasional atau institusional yang tidak bisa dianggap remeh. Selain dokumen, tata upacara, tata letak duduk, dan penempatan bendera perwakilan juga sangatlah penting. Dodiek selanjutnya mencontohkan kompleksitas protokoler dalam sebuah pertemuan internasional. “Bahkan penempatan bendera saja memiliki makna diplomatis yang sangat dalam,” jelasnya. Ia menguraikan bagaimana urutan dan tata letak bendera dapat menandakan tingkat kehormatan, hierarki diplomatik, serta potensi konflik tersembunyi yang mungkin muncul dari kesalahan kecil dalam protokoler. Kompleksitas keprotokoleran menunjukkan bahwa protokoler dan legal drafting jauh dari sekadar rutinitas administratif. Ini adalah medan pertempuran diplomatik yang sesungguhnya, di mana setiap koma, pilihan kata, dan tata letak memiliki potensi untuk mengubah dinamika hubungan internasional. (fal)

Eselon Pemprov Jatim Bahas Alur Kerja Sama Internasional di Kelas CoE Paradiplomasi HI UMM

Meningkatkan kepekaan akan isu global dalam perumusan kerja sama internasional, Program Studi (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadirkan eselon Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Shinta Yudhistia Nugrahani, M.KP, di Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Paradiplomasi. Dalam kelas tersebut, Shinta berbicara tentang isu-krusial di tataran global, contohnya pendidikan dan inklusivitas. Peranan dari segala lini sangatlah dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Shinta kemudian menyinggung, bahwa salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai respon terhadap masalah tersebut adalah dengan menjalin kerja sama internasional dengan Autism Association of Western Australia (AAWA). Kerja sama tersebut tidak datang hanya dalam satu malam, melainkan membutuhkan tahapan-tahapan birokratik yang panjang. “Inisiator harus mempunyai skema konkret untuk kerja sama, lalu dilanjutkan dengan penjajakan, persetujuan legislatif daerah, hingga penandatanganan kerja sama,” papar Shinta. Kerja sama dengan organisasi nonprofit juga dirasa lebih mudah. Sebab, alur birokrasi terhadap lembaga nonpemerintah cenderung lebih sederhana jika dibandingkan kerjasama yang dijalin dengan state ataupun substate. “Birokrasi yang gampang itulah yang menjadi salah satu faktor mengapa kerja sama Pemprov Jatim dan AAWA ini bersifat longlasting,” urai Shinta. Shinta menjelaskan bahwa kerja sama internasional yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan Autism Association of Western Australia (AAWA) memiliki tujuan strategis dalam mengembangkan program pendidikan inklusif bagi anak-anak dengan spektrum autisme. Tidak sekadar pertukaran informasi, kerja sama tersebut mencakup transfer pengetahuan, pelatihan tenaga pendidik melalui lokakarya, dan pengembangan kurikulum yang responsif terhadap kebutuhan anak berkebutuhan khusus. Lebih lanjut, Shinta menekankan pentingnya perspektif global dalam setiap upaya kerja sama internasional. “Paradiplomasi bukan sekadar tentang menandatangani dokumen kerja sama, melainkan bagaimana kita mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya. Pernyataan ini mengingatkan para mahasiswa bahwa hubungan internasional sejatinya adalah upaya sistematis untuk menciptakan perubahan positif melampaui batas-batas administratif. (fal/ind)

Kaprodi HI UPN Veteran Ajak Mahasiswa CoE Paradiplomasi HI UMM Retas Potensi Tersembunyi Daerah

Citra dari suatu daerah merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan kerja sama, baik di skala domestik ataupun internasional. Berangkat dari kondisi tersebut, Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memfasilitasi para mahasiswanya dengan materi berjenjang pada kelas Center of Excellence (CoE) Paradiplomasi bertajuk Global Branding and Marketing. Kelas ini dipandu langsung oleh Ketua Prodi HI Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Surabaya, Dr. Ario Bimo Utomo, S.IP., MIR, sebagai pemateri utama. Menurutnya, pendekatan yang komprehensif harus dilakukan untuk membentuk city branding yang efektif. “Sebuah daerah tidak hanya perlu mengandalkan keindahan alam atau warisan budaya, melainkan juga harus mampu menunjukkan dinamika dan potensi pengembangan ke depan secara berkelanjutan,” papar Ario. Sebagai pengantar, Ario mengajak mahasiswa CoE Paradiplomasi untuk mengidentifikasi kelebihan diri yang bisa ditonjolkan untuk membentuk citra diri atau personal branding. Selanjutnya, mahasiswa ditugaskan dalam bentuk kelompok untuk membuat branding kota atau kabupaten yang sudah ditentukan. Di sesi ini, para mahasiswa ditantang untuk menganalisis kelebihan dan potensi daerah secara strategis guna merumuskan city branding yang efektif. Setiap kelompok diberikan tugas untuk menganalisis potensi unik dari kota atau kabupaten yang mereka terima, dengan fokus pada keunggulan geografis dan sumber daya alam daerah, potensi ekonomi dan investasi, kekayaan budaya dan sejarah, inovasi dan pengembangan teknologi, serta kualitas sumber daya manusia. Mahasiswa kemudian melakukan presentasi hasil kerja kelompok, menunjukkan strategi branding yang mereka kembangkan. Setiap kelompok diberi kesempatan untuk menjelaskan pendekatan kreatif mereka dalam membangun citra daerah yang kompetitif dan menarik bagi investor, wisatawan, dan mitra potensial. Melalui kelas tersebut, para mahasiswa diajak untuk tak sekadar berbicara tentang city branding, namun juga membongkar narasi tentang identitas dan potensi yang selama ini terlupakan atau telah berkelindan namun tidak terpikirkan sebelumnya. (fal/ind)

Direktur TETO Surabaya Soroti Potensi Semikonduktor Indonesia dalam Kuliah Umum Prodi HI UMM

Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menggelar kuliah umum di Aula Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4, lantai 4, pada Selasa (01/10). Acara yang dihadiri oleh mahasiswa baru tahun akademik 2024 ini menghadirkan Mr. Isaac C. Chiu, Direktur Jenderal Taipei Economic and Trade Office (TETO) Surabaya, sebagai pembicara utama. Tema yang diangkat dalam kuliah umum ini adalah “Taiwan’s Semiconductor Industry and Indonesia’s Potential”, yang berfokus pada industri semikonduktor Taiwan dan peluangnya di Indonesia. Dalam pemaparannya, Mr. Isaac C. Chiu menjelaskan bagaimana Taiwan, melalui perusahaan seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), berhasil mendominasi pasar semikonduktor global, terutama dalam hal teknologi chip mutakhir. “TSMC menguasai lebih dari 50% pangsa pasar foundry global dan menjadi pelopor dalam produksi chip-chip semikonduktor tercanggih yang mendukung teknologi seperti AI, 5G, dan komputasi berkinerja tinggi,” ungkap Mr. Isaac. Kuliah umum ini juga menyoroti peran penting semikonduktor dalam berbagai sektor kehidupan modern, mulai dari komunikasi, kesehatan, hingga militer. “Semikonduktor adalah elemen krusial yang memungkinkan inovasi di berbagai bidang teknologi, dan Taiwan kini berada di garis depan dalam produksi ini,” jelasnya lebih lanjut. Mr. Isaac juga tidak luput untuk menyoroti potensi besar yang dimiliki Indonesia dalam mengembangkan industri semikonduktornya sendiri. “Indonesia memiliki peluang besar, namun harus melakukan investasi serius dalam pendidikan dan pelatihan di bidang semikonduktor serta menarik investasi dari perusahaan global seperti Taiwan dan Amerika Serikat,” tegasnya. (fal/ind)

Jelang Kelas Profesional Paradiplomasi Batch 2, Prodi HI UMM Gelar FGD

Prodi HI UMM melaksanakan Prodi HI UMM melaksanakan FGD dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan Kelas Profesional Center of Excellent (COE) Paradiplomasi

Menjelang pelaksanaan Kelas Profesional Pardiplomasi batch 2 yang akan berlangsung pada September 2024 hingga Juni 2025, Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (Prodi HI UMM) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Kelas Profesional Paradiplomasi pada Senin (26/8) di Hotel Rayz UMM. Direktur Center of Excellence (CoE) Paradiplomasi HI UMM, Haryo Prasodjo, menjelaskan bahwa FGD ini memuat presentasi desain kurikulum Program CoE, diskusi, dan review kurikulum oleh para akademisi dan juga praktisi.  Desain kurikulum diperlukan untuk pemahaman konseptual mahasiswa sebelum dilanjutkan dengan praktik lapangan. “Program ini dibagi dalam dua semester, yaitu semester 5 dan semester 6. Di semester 5, para mahasiswa diberikan pemahaman teoretis terkait paradiplomasi, sedangkan di semester 6, para mahasiswa akan dimagangkan di 9 instansi pemerintahan daerah di Jawa Timur,” ungkap Haryo Hadir dalam FGD memberikan sambutan Wakil Rektor IV UMM Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, Ph.D, Koordinator CoE UMM Prof. Dr. Ir. Damat, MP, IPM, dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM Prof. Dr. Muslimin Machmud, M.Si. Sementara itu, sesi review desain kurikulum menghadirkan akadamisi baik dari internal UMM maupun dari luar UMM. Selanjutnya pada sesi review oleh praktisi menghadirkan para stakeholders dari sejumlah pemerintah daerah di Jawa Timur. Pemerintah Kota Surabaya sangat mengapresiasi inisiasi Prodi HI UMM dalam program CoE ini. Signifikansi kerja sama juga diharapkan oleh beberapa perwakilan pemerintah daerah yang hadir baik secara daring maupun luring. Djoen Dodiek, selaku perwakilan Pemerintah Kota Surabaya juga menuturkan bahwa cakupan lanskap paradiplomasi harus lebih dari kerja sama sebelumnya di Kitakyushu dan Liverpool. Inisiasi Prodi HI UMM ini diharapkan dapat menjadi langkah jangka panjang Prodi HI UMM dengan pemerintah daerah di berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu, Prodi HI UMM juga optimis bahwa Kelas Profesional Paradiplomasi ini dapat diselenggarakan dengan kurikulum yang lebih mutakhir dengan ulasan dari akademisi dan praktisi. (fal/han)

HI UMM dan HI UPN Veteran Diskusikan Pengembangan Kelas Profesional Paradiplomasi

Untuk memperkuat substansi dan kurikulum Kelas Profesional Paradiplomasi Progam Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (Prodi HI UMM), Tim Center of Excellence (CoE) Paradiplomasi HI UMM melakukan diskusi pengembangan kurikulum Kelas Profesional Paradiplomasi bersama Prodi HI Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPN). Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium HI UPN di Surabaya, Rabu (14/8) ini, diikuti oleh 7 dosen dan tenaga kependidikan HI UMM, dan diterima langsung oleh Kaprodi HI UPN, Ario Bimo Utomo. Ario mengaku sangat antusias karena Paradiplomasi termasuk bagian dari konsern utama dari HI UPN Veteran. Terlebih, bagi Ario, UMM sudah memiliki program khusus terkait Paradiplomasi yang dikonsep dalam program unggulan CoE.    Kepala Laboratorium HI UMM Hafid Adim Pradana mengatakan, CoE memang merupakan program unggulan UMM yang ada di tiap Prodi di UMM. “Nah di HI, CoE itu fokusnya pada paradiplomasi. Saat ini Program Paradiplomasi HI UMM sudah memasuki batch kedua. Program ini berlangsung selama setahun, yang dibagi dalam dua semester, yaitu semester 5 dan semester 6. Semester 5 mereka diberikan pemahaman teoritis paradiplomasi, sedangkan semester 6 dimagangkan di 9 instansi pemerintahan daerah di Jawa Timur,” jelas Adim.  Direktur CoE Paradiplomasi HI UMM Haryo Prasodjo menambahkan, kunjungan ke HI UPN oleh HI UMM ini mengingat HI UPN memiliki fokus yang kuat pada kajian paradiplomasi. “Karena itu kami berharap ada masukan terkait subtansi yang perlu dikembangkan dari kurikulum kelas profesional paradiplomasi di tempat kami yang sedang memasuki batch kedua,” paparnya. Kaprodi UPN Veteran Ario Bimo Utomo mengakui, kajian paradiplomasi ini sangat strategis dewasa ini, mengingat banyaknya pemerintahan daerah yang ingin melakukan internasionalisasi namun masih belum mengetahui apa yang hendak dilakukan. Di sisi lain, Ario juga menyebut paradiplomasi merupakan bagian dari program jangka panjang Sustainable Development Goals (SDGs). “Khususnya SDG 17 tentang cooperation dan SDG 11 tentang sustainable city,” ujarnya. (han)