
Dr. (H.C) Priyo Iswanto, M.H. meluncurkan buku “Diplomasi Tiga Zaman” yang mengupas perjalanan diplomatik selama 36 tahun pengabdiannya. Acara bedah buku yang berlangsung di Aula Lantai 9 GKB 4 pada Senin (2/12) dihadiri oleh Mr. Takeyama Kenichi, Konsul Jenderal Jepang di Surabaya, dan Dion Maulana Prasetya, dosen Prodi HI UMM, sebagai pembedah.
Mantan Duta Besar Indonesia untuk Kolombia ini mengungkap dinamika geopolitik melalui tiga era signifikan: Era Bipolar dengan konflik Barat-Uni Soviet, Era Unipolar pasca keruntuhan Uni Soviet, dan Era Multipolar di mana kekuatan global mengalami redistribusi.
Priyo menegaskan bahwa keberhasilan diplomatik melampaui kemampuan teknis. Diperlukan kepekaan kultural, adaptabilitas tinggi, dan jejaring diplomatik yang tangguh. Seorang diplomat harus memiliki analisis tajam dan pemahaman mendalam tentang dinamika geopolitik.
Pengalaman manajemen krisis di Venezuela dan eksplorasi diplomatik di Kolombia menjadi bukti nyata kompleksitas tugas diplomatik. Melalui narasi pribadinya, Priyo mengungkapkan diplomasi sebagai seni komunikasi antarbudaya yang membutuhkan kreativitas dan strategi cerdas.
“Diplomasi Tiga Zaman” bukan sekadar memoir. Buku ini mendokumentasikan perubahan lanskap hubungan internasional, mengajak pembaca memahami bagaimana seorang diplomat menavigasi tantangan geopolitik yang terus berevolusi.
Karya Priyo Iswanto menawarkan perspektif unik tentang bagaimana individu dapat menjembatani perbedaan dan berkontribusi pada dialog internasional yang konstruktif. (bel/fal)