Kunjungi Pemprov Jatim, HI UMM Perkuat Kerjasama di Bidang Paradiplomasi

Tim Center of Excellence (CoE) Paradiplomasi Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (Prodi HI UMM) melakukan kunjungan ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur di Surabaya, Rabu (14/8). Kunjungan diikuti 7 dosen dan tenaga kependidikan HI UMM untuk memperkuat kerjasama dengan Pemprov Jatim dalam rangka praktik kerja lapangan (PKL) bagi mahasiswa yang mengambil program CoE Paradiplomasi. Bertempat di Kantor Biro Administrasi Pemerintahan Umum Pemprov Jatim, rombongan HI UMM diterima oleh Subkoordinator Evaluasi Pelaksanaan Kerja Sama Pemprov Jatim Muryanto Eko Priyono dan sejumlah staf di lembaga terkait. Kepala Laboratorium HI UMM Hafid Adim Pradana yang mengatakan, CoE memang merupakan program unggulan UMM yang ada di tiap Prodi di UMM. “Tujuannya, agar mahasiswa memiliki hard skill dan soft skill yang langsung diimlementasikan di bidang keahliannya,” papar Adim. Sementara itu, Direktur CoE Paradiplomasi HI UMM Haryo Prasodjo menjelaskan, kelas profesional Paradiplomasi HI UMM hadir untuk memberikan pemahaman dan pelatihan kepada mahasiswa tentang peran substate actor dalam diplomasi kerja sama luar negeri, yang akan berlagsung pada Agustus 2024 hingga Januari 2024. “Selanjutnya pada tahap berikutnya Februari hingga Juni 2025 mereka mempraktikkan paradiplomasi melalui praktik kerja lapangan di berbagai pemerintah kota dan kabupaten se-Jawa Timur,” ujar Haryo. Selanjutnya, Muryanto mengatakan, kerja sama dengan UMM tentu sangat strategis, mengingat UMM merupakan kampus yang cukup besar. Muryanto mengakui, manajemen kerja sama luar negeri merupakan tantangan yang tidak mudah mengingat harus ada koordinasi yang sinergis antara Pemprov dan instansi yang di atas maupun di bawahnya, baik pemerintahan pusat maupun pemerintahan daerah di kota dan kabupaten. “Dalam konteks demikian, maka kemitraan dengan pihak perguruan tinggi penting, misalnya dalam inventarisasi kerja sama dan potensi daerah,” paparnya. Berkaitan dengan itu, Muryanto merasa bersyukur karena sebelumnya sudah ada mahasiswa HI UMM yang magang di Pemprov Jatim. “Ada sejumlah mahasiswa HI UMM yang sebelumnya magang di sini. Saya rasa hal itu perlu di-follow up dengan kerja sama yang lebih kuat dan implementatif,” ujarnya. (han)
Mahasiswa HI UMM Lolos Program Learning Express Kolaborasi dengan Mahasiswa Polytechnic Singapore

Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) tidak pernah berhenti dalam memberikan kesempatan mahasiswanya dalam berkarya dan berprestasi. Dua Mahasiswa Prodi HI UMM dinyatakan lolos dalam program Learning Express (LEx) hasil kemitraan antara UMM dan Singapore Polytechnic. LEx adalah program internasional yang diadakan selama 12 hari, yaitu pada 30 September hingga 11 Oktober 2024, di mana mahasiswa akan dibekali dengan pola pikir design thinking dalam konteks inovasi sosial. Program ini akan diselenggarakan di Malang. Adinda Aisyah Angkatan 21 & Bimo Suryo Angkatan 22 akan menjalankan project bersama pelajar dari Singapore Polytechnic (SP). Nantinya mereka akan bermobilisasi ke salah satu desa di Malang. Kerja sama antara UMM dan Singapore Polytechnic tentunya sudah ada sejak tahun 2014. Melalui LEX nantinya awardees akan berkolaborasi bersama mahasiswa dari Singapura untuk menggali inovasi baru serta menyelesaikan masalah. Seperti pada umunya, Adinda dan Bimo harus menempuh berbagai proses seleksi dalam penerimaan program ini, mulai dari menyiapkan berbagai berkas yang diperlukan kemudian interview session dengan menggunakan bahasa inggris bersama pihak penyelenggara program. Sebagai Mahasiswa Hubungan Internasional, mereka tentunya bermotivasi tinggi untuk memperluas international exposure, terutama dalam program LEX ini. “Menurut saya, belajar bukan hanya untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan baru, tetapi juga untuk belajar perspektif baru. Program ini menjadi kesempatan untuk saya bisa melihat gambaran lebih luas atau sudut pandang lain dari suatu hal.”, terang Adinda. Sama hal nya dengan Bimo, memperluas relasi mancanegara juga menjadi motivasi besar dalam mengikuti program LEX ini. “Mempunyai teman luar negeri adalah langkah pertama untuk bisa berkontribusi dengan orang luar dan bisa bertukar pengalaman dengan teman-teman dari Singapura. Aku juga melihat LEX sebagai wadah yang tepat buat aku untuk mengembangkan diri dan mempertajam soft-skill.”, pungkas Bimo. Melalui program ini, Adinda dan Bimo bisa turut serta dalam memotivasi teman-teman HI lainnya untuk bisa ikut program internasional seperti pertukaran pelajar, Beasiswa luar negeri, dan lain-lain. Hal ini menyadarkan bahwa semua orang punya kesempatan dalam meraih apa yang dicita-citakan dan mari untuk terus membawa dampak positif kepada dunia. (ist/han)
Magang di KBRI Austria, Mahasiswi HI UMM Berbagi Pengalaman: Dari Event G77 Hingga Sidang PBB

Magang menjadi salah satu kesempatan mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan yang sangat dibutuhkan ketika nanti berada di dunia kerja. Memiliki kesempatan untuk melaksanakan program magang di luar negeri menjadi impian sebagian mahasiswa. Selain mengikuti program magang, mereka berkesempatan untuk mengenal budaya baru di negara lain. Kevin Adhela Hakim, mahasiswi Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM) angkatan 2021 yang kerap disapa dengan Kevina, memiliki kesempatan tersebut untuk melakukan magang di KBRI Vienna, Austria. Kevina menjalankan program magang dengan durasi 3 bulan yaitu dari bulan Mei hingga Agustus 2024. Sebelumnya, Kevina memang sudah pernah melaksanakan program magang di salah satu KJRI Johor Bahru. Maka dari itu, hal ini menjadikan Kevina sebuah alasan untuk melaksanakan program magang kembali di KBRI dengan lingkup yang lebih luas lagi, salah satunya benua Eropa. Kevina juga mengatakan salah satu alasannya mengapa KBRI Vienna, Austria menjadi tempat magang yang diinginkan. “It’s because not only are they the representatives of Indonesia in Vienna, Austria, but they also handle the United Nations there, which is the Permanent Mission of Indonesia in Austria,” ujarnya. Tidak melulu mudah dalam mencapai hal tersebut, Kevina menceritakan bagaimana proses seleksi hingga penerimaan magang di KBRI Vienna. Hal pertama yang dilakukan adalah mengirimkan sebuah email yang ditujukan kepada kedutaan untuk mengetahui apakah terdapat lowongan internship untuk mahasiswa, kemudian setelah itu pihak KBRI akan memberikan syarat hingga prosedur yang diperlukan untuk mendaftar. “Saya melakukan tahap seleksi selama 2 kali, yaitu seleksi berkas dan interview dengan pihak KBRI. Tidak lama dari itu, pengumuman kelulusan dan penerimaan magang disampaikan oleh pihak intansi melalui email.”, tutur Kevina. Magang di KBRI Vienna ini memberikan pengalaman yang sangat baru terhadap Kevina. Dengan ditempatkan pada Divisi Pensosbud, Protokol, dan Konsuler, ia sering kali ikut serta dalam kegiatan yang berhubungan dengan diplomasi hingga festival kebudayaan. “Saya mengikuti kegiatan Indonesian Street Festival yang diadakan untuk memperingati 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Austria. Selain itu, saya juga mengikuti kegiatan kolintang dan Choir Avip di Weltmuseum Wien. Lalu, saya juga mengikuti kegiatan diplomasi publik kedutaan besar China. Tidak hanya pada lingkup kantor KBRI, namun saya juga turut serta dalam kegiatan BIPA yang diadakan di Universitas Vienna, seperti kegiatan membatik, memasak masakan tradisional Indonesia dan belajar menari tari tradisional bersama.”, pungkasnya. Mengikuti serangkaian sidang PBB dan Event multilateral lainnya seperti G77 di Vienna International Center, Austria juga tidak dilewatkan oleh Kevina. Dalam program magang di KBRI Vienna ini, Kevina mendapatkan banyak sekali hal positif seperti memperkenalkan budaya lokal Indonesia kepada mancanegara, kemudian pengimplementasian teori HI yang telah dipelajari sewaktu berkuliah di HI UMM juga menjadi goals Kevina dalam pelaksanaan magang ini. Kevina juga sangat beruntung karena memiliki kesempatan untuk bertemu dan mengenal tokoh-tokoh penting yang ditemui saat magang di KBRI Vienna. Kevina berharap, teman-teman HI angkatan 2021 bisa terus berjuang untuk mencapai cita-cita nya dan berani mengambil keputusan yang besar. “Untuk teman-teman HI 21, semangat terus untuk belajar dan mengejar cita-cita, ya. If there’s a thing that always comes to your mind, stick to it and make it happen. Don’t ever let it go until you grab it,” pesan Kevina pada penghujung wawancara. (ist/han)
Gelaran Atmospheral 2.0 HI UMM Turut Tampilkan Dimensi Klasik dan Modern Korea Selatan

Terdapat hal unik dalam gelar praktikum kelas Kajian Kawasan dalam Hubungan Internasional yang bertajuk Atmospheral 2.0: “Exploring the World Heritage”. Dalam acara tersebut, terdapat permainan viral Squid Game yang diikuti oleh para mahasiswa yang berpartisipasi di acara tersebut. Permainan tersebut dikelola oleh kelompok Korea Selatan yang tergabung dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Panitia kelompok yang beranggotakan 19 orang pun menyuguhkan beragam permainan menarik yang bisa dimainkan oleh para mahasiswa. Bimo Suryo Nugroho, selaku ketua kelompok korea Selatan mengaku bahwa persiapan telah dilakukan sejak satu bulan sebelum praktikum digelar. “Ada beberapa permainan yang memang mengadopsi langsung dari serial Squid Game, antara lain: tarik tambang, menyeberang jembatan, red light and green light, serta dalgona,” urai Bimo. Selain permainan Squid Game, kelompok Korea Selatan juga menampilkan berbagai elemen budaya Korea Selatan lainnya. Para peserta praktikum dapat menikmati makanan khas Korea yang disediakan di stand kelompok Korea Selatan. Kesuksesan acara ini membuka peluang bagi Prodi HI UMM untuk mengembangkan kegiatan serupa di masa depan. “Kami berencana untuk menjadikan Atmospheral sebagai agenda tahunan, dengan fokus pada budaya dan warisan dunia dari berbagai negara setiap tahunnya,” ungkap Prof. Gonda Yumitro selaku Ketua Prodi HI UMM. Atmospheral 2.0 tidak hanya menjadi ajang hiburan, melainkan juga sarana pembelajaran yang efektif. Melalui kegiatan ini, mahasiswa HI UMM mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya diplomasi budaya dalam hubungan internasional, sekaligus menikmati pengalaman lintas budaya yang menyenangkan. (fal/han)
Daya Tarik dan Popularitas Budaya Korea Selatan Menjadi Inspirasi Praktikum Kawasan HI UMM

Berbeda halnya dengan kelompok kawasan lain yang merupakan benua dan sub kawasan, kelompok Korea Selatan merupakan satu-satunya kelompok kawasan yang berbentuk negara. Hal ini ialah salah satu hal unik dalam gelar praktikum Atmospheral 2.0 yang mengusung tema “Exploring the World Heritage”. Sebelum diadakannya praktikum Atmospheral 2.0, kelompok kawasan Korea Selatan merupakan para mahasiswa yang tergabung dalam kelas khusus Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. “Fokus pada Korea Selatan sebagai satu negara dalam kajian kawasan ini memungkinkan mahasiswa untuk melakukan studi yang lebih mendalam dan komprehensif. Korea Selatan menjadi model menarik karena perkembangan pesat negara ini dalam berbagai aspek, termasuk ekonomi, teknologi, dan soft power melalui K-pop dan K-drama,” ujar Prof. Gonda Yumitro Ph.D selaku Ketua Prodi HI UMM. Bimo Suryo Nugroho, ketua kelompok Korea Selatan, menuturkan bahwa kelompok Korea Selatan telah mempersiapkan diri sejak satu bulan lamanya. “Kalau persiapannya, sih, kira-kira satu bulan. Terasa lebih mudah karena hanya fokus pada satu negara, namun juga agak susah, karena harus mengelola kelompok dengan anggota 60 orang,” tutur Bimo. Bimo, kerap ia disapa, mengungkapkan harapannya untuk gelar praktikum yang sama di tahun depan. “Semoga para partisipan bisa lebih heboh, meriah, dan antusias di acara ini. Soalnya acara ini ‘kan memang menjadi acara penutup semester empat dan kita harus all in pastinya,” urai Bimo. Melalui pendekatan inovatif ini, Prodi HI UMM tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis, melainkan juga pengalaman praksis dalam memahami kompleksitas suatu negara. Atmospheral 2.0 menjadi bukti nyata bagaimana pendidikan di bidang Hubungan Internasional dapat menjembatani kesenjangan antara teori akademis dan realitas global yang dinamis. (fal/han)
Adu Pertunjukkan, Kelompok Praktikum Kajian Kawasan HI UMM Persembahkan Pentas Budaya Sejarah yang Filosofis

Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang kembali mengadakan praktikum kelas Kajian Kawasan dalam Hubungan Internasional pada Rabu (3/7) di Sengkaling Kuliner, Dau. Gelar praktikum yang biasa dikenal dengan nama Atmospheral ini merupakan hasil kolaborasi Prodi HI UMM, Lab HI UMM, beserta Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) UMM. Praktikum yang bertajuk Atmospheral 2.0 ini mengusung tema “Exploring the World Heritage”. Di dalamnya, para mahasiswa dibagi menjadi sembilan kelompok besar yang mewakili berbagai negara dan kawasan, antara lain: Asia Tenggara, Kepulauan Pasifik, Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, Korea Selatan, Asia Timur, Eropa, dan Amerika. Setiap kelompok diwajibkan untuk menampilkan pertunjukkan terbaik mereka untuk mendapatkan nominasi seperti best performance, best tenant, best fashion show, dan best costume. Kategori best performance dimenangkan oleh kelompok Kepulauan Pasifik yang mempersembahkan pertunjukkan drama yang bertajuk “Suku, Cinta, dan Darah”. Drama ini menceritakan tentang adanya praktik penjajahan yang menimpa negara-negara Kepulauan Pasifik. Kompleksitas cerita dikemas dalam alur drama yang sederhana sekaligus dibumbui dengan akting yang ciamik. M. Feryan Perwira Yudha, selaku ketua kelompok Kepulauan Pasifik, menuturkan bahwa terdapat aspek filosofis serta historis dari drama yang kelompok mereka tampilkan. “Kalau melihat sejarahnya, kawasan Pasifik ini ‘kan juga menjadi target jajahan negara-negara besar dan menjadi tempat uji coba bom nuklir dari Amerika Serikat, Inggris, dan juga Prancis,” ungkap Feryan. “Tidak hanya itu, cerita dalam drama ini juga sekaligus menyinggung praktik eksploitasi dalam perebutan hegemoni kawasan oleh Amerika Serikat dan Tiongkok. Para penjajah itu datang dengan pendekatan yang menarik simpati dan perhatian warga lokal, tapi di balik itu pasti ada maunya,” tambah Feryan. Selain alur cerita yang filosofis serta dibalut dengan aspek historis, kualitas akting dari para pemain juga turut diacungi jempol. “Villain utamanya itu, loh, he literally stole the show,” ungkap Hafiq Alhaddad, selaku ketua HIMAHI UMM yang turut menyaksikan pentas drama ini. Tidak hanya itu, Hafiq turut menyampaikan rasa terima kasihnya seluruh panitia, peserta, dan bapak/ibu dosen yang turut menyertai acara ini. “Acara ini bisa megah juga karena antusiasme peserta. Selain itu, acara ini juga menjadi sarana menjalin solidaritas teman-teman angkatan 2022,” urai Hafiq. Pentas drama oleh kelompok Kepulauan Pasifik membuktikan bahwa materi dalam studi Hubungan Internasional juga bisa dikemas dalam bentuk drama populer yang filosofis untuk mempermudah audiens dalam memahami kompleksitas materi yang ada. (fal/han)
Tutup Semester Genap Tahun Ajaran 2023/2024, Prodi HI UMM Gelar Praktikum Atmospheral 2.0

Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang kembali mengadakan praktikum kelas Kajian Kawasan dalam Hubungan Internasional pada Rabu (3/7) di Sengkaling Kuliner, Dau. Gelar praktikum yang biasa dikenal dengan nama Atmospheral ini merupakan hasil kolaborasi Prodi HI UMM, Lab HI UMM, beserta Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) UMM. Dalam gelar praktikum yang mengusung tema “Cultural Odyssey: Exploring the World Heritage”ini, para mahasiswa dibagi menjadi sembilan kelompok besar yang mewakili berbagai negara dan kawasan, antara lain: Asia Tenggara, Kepulauan Pasifik, Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, Korea Selatan, Asia Timur, Eropa, dan Amerika. Aloysius Gonzaga Alnabe, salah seorang mahasiswa yang berpartisipasi dalam gelar praktikum Atmospheral ini, menuturkan bahwa acara ini melebihi ekspektasinya. Ia beranggapan bahwa acara ini akan seperti festival-festival pada umumnya. “Aku ‘kan suka banget sama acara-acara seperti ini, tapi baru kali ini rangkaian acaranya melebihi ekspektasiku,” tutur Gonzaga yang merupakan anggota kelompok Asia Timur. Ia pun juga mengungkapkan bahwa kelompoknya telah mempersiapkan diri sejak seminggu sebelum praktikum ini digelar. Selain itu, terdapat empat nominasi yang dimenangkan oleh beberapa kelompok yang berpartisipasi, antara lain: best performance yang dimenangkan oleh kelompok Asia Pasifik, best costume yang dimenangkan oleh kelompok Asia Timur, best tenant yang dimenangkan oleh kelompok Afrika, dan best fashion show yang dimenangkan oleh kelompok Asia Tenggara. Hafid Adim Pradana, selaku Kepala Laboratorium HI UMM turut mengungkapkan harapannya di penghujung acara ini.“Acara ini menjadi sarana edukasi sekaligus hiburan mahasiswa di penghujung semester genap tahun ajaran 2023/2024 ini. Saya berharap acara ini harus sustain. Selain memiliki aspek edukatif, acara ini juga menjadi sarana refreshing mahasiswa yang dihantam banyak tugas di semester ini,” urainya. (fal/han)
Mahasiswa HI UMM Praktikkan Etiket Jamuan Makan Berstandar Internasional Melalui Short Course Table Manner

Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang kembali mengadakan short course Table Manner untuk mata kuliah Organisasi Internasional. Short Course yang berlangsung di Ballroom Rayz Hotel UMM pada Minggu (30/6) ini merupakan sarana yang diberikan oleh Prodi HI UMM agar para mahasiswa mendapatkan wawasan terkait etika dalam menerima jamuan makan secara profesional. Short course ini tidak hanya bersifat teoretis, namun juga secara praksis. Para mahasiswa dibimbing langsung oleh Yanuar Arifien selaku General Manager Rayz Hotel UMM. Sebagai calon diplomat, para mahasiswa Prodi HI UMM harus memahami etika dalam jamuan makan. Sebab, jamuan makan merupakan salah satu bentuk diplomasi untuk menjaga relasi antar negara. Tika Rama Alifia, salah seorang peserta, mengungkapkan bahwa banyak sekali wawasan yang ia dapat setelah mengikuti agenda ini. “Etiket jamuan makan itu ‘kan ilmu yang tergolong mahal, ya, tapi kita mendapatkan ilmu itu secara gratis di Prodi HI UMM,” ungkap Tika. Tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat banyak sekali pengetahuan yang di dapat dalam short course ini, antara lain: cara duduk dalam jamuan makan, cara memegang alat makan, cara mengambil makanan, hingga cara mengambil gelas untuk minum. Tentu saja hal tersebut merupakan bekal krusial bagi mahasiswa Prodi HI UMM yang nantinya akan melanjutkan karir menjadi diplomat atau stakeholder lainnya. Dengan diadakannya short course Table Manner ini, Prodi HI UMM sekali lagi membuktikan komitmennya dalam mempersiapkan mahasiswa tidak hanya secara akademis, melainkan juga secara praktis untuk menghadapi dunia diplomasi yang penuh tantangan. Kegiatan semacam ini diharapkan dapat terus dilaksanakan di masa mendatang, memberikan nilai tambah bagi para mahasiswa dalam persiapan mereka memasuki dunia kerja internasional. (fal/han)