TAIWAN ACADEMIC EXCHANGE: Belajar Politik Asia Tenggara Sembari Mendalami Kultur Lokal Taiwan

TAIWAN ACADEMIC EXCHANGE: Belajar Politik Asia Tenggara Sembari Mendalami Kultur Lokal Taiwan Dalam rangka menjalankan misi menjadi program studi yang unggul dan berintegrasi tinggi sesuai dengan mutu dan standar pendidikan bertaraf internasional, Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang melakukan kunjungan ke negeri Formosa, tepatnya ke Wenzao Ursuline University yang terletak di Kota Kaohshiung. Tiga orang mahasiswa Prodi HI UMM, didampingi oleh Ibu Shannaz Mutiara Deniar selaku Dosen, banyak menjalankan kegiatan akademik sembari melakukan tur budaya di Kota Kaohshiung. Kegiatan mahasiwa Prodi HI di Wenzao Ursuline University, tepatnya di bawah Department of Southeast Asia Studies sebagian besar berkutat pada aspek kebudayaan dan politik. Dalam aspek kebudayaan, mahasiswa Prodi HI yang terdiri dari tiga orang mahasiswi angkatan 2021, yakni Zalsa Citra Vanda Gisela, Kevin Adhela Hakim, dan Tika Putri Angeli, melakukan interaksi secara langsung dengan mahasiswa lokal di kelas Bahasa Indonesia. Diketahui, para mahasiswa di Departemen Studi Asia Tenggara diwajibkan untuk memilih salah satu kelas bahasa yang dipakai oleh masyarakat di Kawasan Asia Tenggara, yakni Bahasa Indonesia, Thailand, dan Vietman. Sebagian besar mahasiswa lokal yang tergabung ke dalam Kelas Bahasa Indonesia telah cukup mahir berbahasa Indonesia. Mahasiswi Prodi HI yang bergabung dalam kelas Bahasa Indonesia di Wenzao Ursuline University turut berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran, yakni, membantu memperdalam pemahaman yang lebih mendalam melalui percakapan menggunakan Bahasa Indonesia. Tak hanya kelas Bahasa Indonesia, mahasiswa Prodi HI UMM yang melakukan kunjungan ke Taiwan juga mengikuti kelas mengenai Politik di Kawasan Asia Tenggara yang diajar oleh Profesor Samuel C. Y. Ku, Ph.D. yang merupakan Profesor ahli dalam kajian Kawasan Asia Tenggara di Taiwan. Untuk mendalami kultur di Taiwan, Para mahasiswi HI bersama dengan Ibu Shannaz juga mengunjungi tempat-tempat bersejarah di Kota Kaohshiung seperti pabrik gula tertua di Kaohshiung, desa militer, hingga Komunitas asli yang mendiami Taiwan, yakni komunitas Hakka. Selain itu, para mahasiwa Prodi HI juga menjalani program pengabdian masyarakat bersama dengan mahasiswa dari Wenzao Ursuline University dengan mengadakan bazaar untuk memperkenalkan budaya dan kehidupan Indonesia.(qsj)

Diskusi Menarik di Laboratorium Prodi Hubungan Internasional FISIP UMM: Paradiplomasi Dalam Peraturan Perundang-undangan di Indonesia

Malang, 27 Mei 2023 – Laboratorium Prodi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan sebuah acara diskusi yang sangat menarik dengan judul “Paradiplomasi dalam Peraturan Perundang-undangan di Indonesia”. Diskusi ini merupakan bagian dari program Center Of Excellence yang sedang dikembangkan di Program Studi Hubungan Internasional UMM, yang disebut Kelas Profesional Paradiplomas. Acara ini berhasil mendatangkan seorang pemateri yang sangat berkompeten di bidangnya, yaitu Dr. Takdir Ali Mukti, M.Si. Dr. Takdir merupakan seorang pakar di bidang paradiplomasi dan memiliki pengetahuan yang luas tentang peraturan perundang-undangan yang terkait dengan hal tersebut di Indonesia. Diskusi yang diadakan di Laboratorium Prodi Hubungan Internasional FISIP UMM ini berhasil menarik perhatian mahasiswa dan dosen dari berbagai jurusan. Para peserta dengan antusias mengikuti paparan Dr. Takdir Ali Mukti yang memberikan wawasan baru tentang bagaimana paradiplomasi terintegrasi dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Dr. Takdir menjelaskan pentingnya memahami bagaimana otonomi daerah dan peran pemerintah lokal berperan dalam hubungan internasional. Ia juga membahas bagaimana paradiplomasi dapat memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional. Diskusi ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep paradiplomasi dan relevansinya dalam konteks Indonesia. Menurut Hafid Adim, seorang dosen Prodi Hubungan Internasional UMM, acara ini merupakan langkah awal dalam pengembangan program Center Of Excellence di Prodi tersebut. Melalui Kelas Profesional Paradiplomas, mereka berharap dapat melahirkan lulusan yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang hubungan internasional, terutama dalam konteks paradiplomasi. Para peserta acara memberikan respon positif terhadap diskusi ini. Mahasiswa merasa terinspirasi dan semakin termotivasi untuk mempelajari lebih banyak tentang paradiplomasi dan bagaimana peraturan perundang-undangan di Indonesia mempengaruhinya. Mereka juga berterima kasih kepada Laboratorium Prodi Hubungan Internasional FISIP UMM atas kesempatan yang diberikan untuk mendapatkan wawasan dari seorang pakar di bidang ini. Dengan acara ini, Laboratorium Prodi Hubungan Internasional FISIP UMM menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian di bidang hubungan internasional. Diskusi dan kuliah tamu mengenai paradiplomasi ini menjadi langkah awal yang menjanjikan untuk menghasilkan lulusan yang siap. bersaing dan berkontribusi dalam dunia hubungan internasional. Bagi mahasiswa yang tertarik untuk terlibat dalam program Center Of Excellence dan Kelas Profesional Paradiplomas, mereka dapat menghubungi Laboratorium Prodi Hubungan Internasional FISIP UMM untuk informasi lebih lanjut.

Mobilitas Mengajar oleh Profesor Ricardo dari Portugal

Pertanyaan besar muncul di benak pengamat politik dunia selama beberapa dekade ini, “akankah kemunculan kekuatan baru dalam panggung politik global, berujung pada peperangan?” Menjadi institusi yang up to date terhadap isu-isu global, program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang menjadi tuan rumah dalam beberapa rangkaian acara Erasmus+ Teaching Mobility University of Muhammadiyah Malang. Salah satu dari serangkaian acara tersebut adalah International Relations Lecturer Forum, yang mengusung topik “The Thucydides Trap: China versus America”. Yang menjadi guest lecturer pada program tersebut adalah Prof. Ricardo de Sousa dari Universidade Autonoma de Lisboa, Portugal. Dalam Teaching Mobility yang digelar di Laboratorium Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang tersebut, Prof. Ricardo bersama dosen-dosen dari Program Studi Hubungan Internasional melakukan diskusi mengenai fenomena Thucydides Trap yang mungkin saja terjadi antara Amerika Serikat dan China. Yang dimaksud dengan Thucydides Trap di sini adalah sebuah istilah yang dipopulerkan oleh ilmuan dalam bidang Politik Luar Negeri, Graham T. Allison yang menggambarkan sebuah situasi di mana terdapat sebuah kecenderungan untuk berperang ketika kekuatan baru muncul untuk menandingi kekuatan hegemon. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kemunculan China di panggun politik global yang selama beberapa dekade cukup membuat Amerika Serikat resah. Dalam forum diskusi yang dihadiri oleh para scholar dari kajian Hubungan Internasional tersebut, diperoleh hasil pembahasan bahwasannya China memang menjadi rival AS dalam sektor ekonomi. Terlihat dari aspek GDP, China memiliki perkembangan yang lebih signifikan dari AS dalam rentang waktu Tahun 1197-2021. Namun, ditinjau dari aspek militer, China tertinggal jauh oleh Amerika. Kompetisi antara China dan Amerika baik di sektor politik, ekonomi, dan militer memang terus terjadi di berbagai wilayah di dunia. Kedua negara berkompetisi demi memperebutkan dominasi dan pengaruh di berbagai kawasan selama beberapa dekade. Oleh karenanya diperoleh kesimpulan bahwa kedua negara sedang terlibat dalam kompetisi geopolitik, dan untuk menghindari apa yang disebut dengan jebakan Thucydides, kedua negara perlu mengakui bersepakat atas kekuatan yang dimiliki oleh satu sama lain. Selai itu, untuk menghindari efek samping konflik yang destruktif, kedua negara perlu bekerja sama dalam isu-isu yang ditujukan untuk common goods, seperti proliferasi nuklir, terorisme, hingga perubahan iklim. Usai merampungkan sesi diskusi melalui lecturer forum, Prof. Ricardo tidak lupa membuat online quiz dengan metode yang menyenangkan untuk para dosen Prodi HI, guna menguji pendalaman materi selama diskusi. Kegiatan ditutup dengan sesi makan siang bersama di Laboratorium Hubungan Internasional, yang digunakan sebagai ajang untuk memperkenalkan makanan tradisional khas nusantara seperti tempe, rawon, hingga kerupuk udang. Melalui forum antar dosen yang dipimpin oleh dosen tamu dari Portugal, para dosen Prodi HI UMM mendapat banyak insight baru dalam mengkaji fenomena yang sedang terjadi di panggung politik global, yang nantinya akan diajarkan ke peserta didik, atau bahkan dijadikan topik diskusi saat kegiatan belajar mengajar.

Sharing Session Prodi HI dengan Kedutaan Besar Korea Selatan

Program Studi Hubungan Internasional (Prodi HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerima kunjungan dari perwakilan Kedutaan Besar Korea Selatan, Lee Kee Sung, pada hari Jum’at (03/03). Bertempat di Aula Lantai 4 Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV, kegiatan sesi berbagi informasi antara kedua belah pihak tersebut juga dihadiri oleh Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Najamuddin Khairur Rijal, M.Hub.Int., jajaran dosen Prodi HI, dan sekitar 50 perwakilan mahasiswa Prodi HI. Kedatangan Lee Kee Sung disambut meriah oleh mahasiswa Prodi HI yang menjadi peserta sebab dirasa menarik untuk dapat secara langsung mendapat sudut pandang dari warga Korea Selatan mengenai hubungan antar Korea Selatan dan Indonesia. Pada kesempatan ini, Lee Kee Sung juga mengulas kemiripan yang dimiliki antara Korea Selatan dan Indonesia. Salah satunya adalah budaya gotong royong yang disebut dengan gongdongche jeongsin. Tidak luput, Lee Kee Sung juga berkesempatan memberikan pemaparan mengenai berbagai bentuk kerjasama yang dilakukan oleh Korea Selatan dan Indonesia. Berdasarkan pemaparan Lee Kee Sung, 18 September 1973 merupakan penanda terjalinnya kerjasama antara Korea Selatan dan Indonesia yang lebih luas dan mencakup berbagai bidang, serta diperingatinya hubungan diplomati Korea Selatan dan Indonesia yang memasuki tahun ke 50 pada 2023 ini.. Beberapa yang ditonjolkan Lee Kee Sung dalam sesi ini adalah kerjasama di bidang EV Ecosystem, hingga kerjasama industri keamanan. Lee Kee Sung juga menyinggung adanya selebriti antar kedua negara yang menjadi public relation icon atau ikon hubungan masyarakat (humas) untuk pertukaran budaya kedua negara, yaitu Choi Siwon yang dikenal sebagai salah satu anggota boy group kondang Korea-Pop (Kpop) Super Junior, dan Dita Karang yang merupakan idola asal Indonesia yang berhasil berkarir di girl group KPop, Secreet Number. Sesi berbagi ini juga menjadi menarik dan meriah karena Lee Kee Sung membangun interaksi dua arah dengan mahasiswa yang hadir melalui kuis-kuis seputar Korea Selatan dan membagikan hadiah kaget bagi mahasiswa yang berhasil menjawab kuis yang disampaikannya. Sesi ramah tamah ini sekaligus menjadi pengingat khususnya bagi mahasiswa Prodi HI jika Korea Selatan bukan sekedar mengenai KPop. Korea Selatan merupakan negara maju yang selain KPopnya, juga memiliki budaya tradisional yang menarik, dinamika politik dan industri bisnis yang kuat. (Ind)

Kuliah Tamu Hari Jum’at, Menambah Berkah dan Manfaat

Menjemput berkah dan manfaat di hari Jum’at, Program Studi Hubungan Internasional (Prodi HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kuliah Tamu bertajuk Isu-isu Kontemporer di Asia Timur Pasca Pandemi Covid-19 yang dinarasumberi oleh Vahd Nabyl A. Mulachela yang akrab dipanggil Nabyl, Koordinator Wilayah Korea, Direktorat Asia Timur Kementerian Luar Negeri Indonesia, dan Krishnajie, akrab disapa Aji, Penasihat di Direktorat Asia Timur, Direktorat Jenderal Urusan Asia Pasifik dan Afrika pada Jum’at (03/03). Diikuti oleh mahasiswa Prodi HI yang sedang menempuh mata kuliah HI Kawasan Asia Timur, agenda tersebut dilaksanakan secara luring di Aula Lantai 9, Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV UMM. Kedua pakar kajian kawasan Asia Timur perwakilan Kementerian Luar Negeri Indonesia tersebut menelaah informasi ke Asia Timuran dengan padat sehingga informasi yang disampaikan mudah diterima oleh audienss. Nabyl dan Aji menunjukkan isu-isu kontemporer pasca pandemi covid-19 yang ramai diperbincangkan di Asia Timur, seperti memanasnya rivalitas Republik Rakyat China dan Amerika Serikat, isu politik Taiwan, kebijakan baru pertahanan Jepang, hingga isu yang berkembang di Semenanjung Korea. Sebagai perwakilan Kemlu, Nabyl dan Aji juga menyampaikan mengenai Politik Luar Negeri (Polugri) Indonesia di Kawasan Asia Timur pasca pandemi covid-19 tersebut. Indonesia menyusun program prioritas diplomasi ke negara-negara Asia Timur diantaranya adalah Diplomasi Kedaulatan dan Kebangsaan, diplomasi ekonomi dalam rangka pemulihan ekonomi nasional, dan juga peningkatan peran Indonesia di kawasan dan global. Nabyl dan Aji juga memaparkan mengenai berbagai kerja sama ekonomi Indonesia dengan mtira di Asia Timur, diantaranya adalah ekspor, pariwisata, transfer pekerja imigran Indonesia, hingga pengembangan pembangunan seperti di bidang kesehatan. Pasca berakhirnya pandemi covid-19, Kemlu memtakan jika terdapat beberapa sektor yang dapat dimaksimalkan sebagai bagian dari program diplomasi Indonesia yang di negara-negara Kawasan Asia Timur cukup sesuai dengan dinamika dalam negeri negara-negara tersebut. Ketenagakerjaan, pemasaran produk unggulan dalam negeri Indonesia, infrastruktur, hingga pertanian. Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa Prodi HI UMM mendapat berbagai perspektif baru mengenai kerjasama antara Indonesia dengan negara-negara di Kawasan Asia Timur, dan diharapan mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan baru mengenai ke-Asia Timuran untuk dapat menjadi inspirasi tugas akhir atau skripsi. (Ind) Menjemput berkah dan manfaat di hari Jum’at, Program Studi Hubungan Internasional (Prodi HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar Kuliah Tamu bertajuk Isu-isu Kontemporer di Asia Timur Pasca Pandemi Covid-19 yang dinarasumberi oleh Vahd Nabyl A. Mulachela yang akrab dipanggil Nabyl, Koordinator Wilayah Korea, Direktorat Asia Timur Kementerian Luar Negeri Indonesia, dan Krishnajie, akrab disapa Aji, Penasihat di Direktorat Asia Timur, Direktorat Jenderal Urusan Asia Pasifik dan Afrika pada Jum’at (03/03). Diikuti oleh mahasiswa Prodi HI yang sedang menempuh mata kuliah HI Kawasan Asia Timur, agenda tersebut dilaksanakan secara luring di Aula Lantai 9, Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV UMM. Kedua pakar kajian kawasan Asia Timur perwakilan Kementerian Luar Negeri Indonesia tersebut menelaah informasi ke Asia Timuran dengan padat sehingga informasi yang disampaikan mudah diterima oleh audienss. Nabyl dan Aji menunjukkan isu-isu kontemporer pasca pandemi covid-19 yang ramai diperbincangkan di Asia Timur, seperti memanasnya rivalitas Republik Rakyat China dan Amerika Serikat, isu politik Taiwan, kebijakan baru pertahanan Jepang, hingga isu yang berkembang di Semenanjung Korea. Sebagai perwakilan Kemlu, Nabyl dan Aji juga menyampaikan mengenai Politik Luar Negeri (Polugri) Indonesia di Kawasan Asia Timur pasca pandemi covid-19 tersebut. Indonesia menyusun program prioritas diplomasi ke negara-negara Asia Timur diantaranya adalah Diplomasi Kedaulatan dan Kebangsaan, diplomasi ekonomi dalam rangka pemulihan ekonomi nasional, dan juga peningkatan peran Indonesia di kawasan dan global. Nabyl dan Aji juga memaparkan mengenai berbagai kerja sama ekonomi Indonesia dengan mtira di Asia Timur, diantaranya adalah ekspor, pariwisata, transfer pekerja imigran Indonesia, hingga pengembangan pembangunan seperti di bidang kesehatan. Pasca berakhirnya pandemi covid-19, Kemlu memtakan jika terdapat beberapa sektor yang dapat dimaksimalkan sebagai bagian dari program diplomasi Indonesia yang di negara-negara Kawasan Asia Timur cukup sesuai dengan dinamika dalam negeri negara-negara tersebut. Ketenagakerjaan, pemasaran produk unggulan dalam negeri Indonesia, infrastruktur, hingga pertanian. Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa Prodi HI UMM mendapat berbagai perspektif baru mengenai kerjasama antara Indonesia dengan negara-negara di Kawasan Asia Timur, dan diharapan mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan baru mengenai ke-Asia Timuran untuk dapat menjadi inspirasi tugas akhir atau skripsi. (Ind)

Menghadirkan Pakar Jepang, CEAS Laboratorium HI UMM Selenggarakan Diskusi Tentang Peran Jepang Di Asia Tenggara

Malang (1/12/22) – Sejak masa Perang Dingin, Asia Tenggara selalu menjadi medan perebutan pengaruh antar negara. Sebagai salah satu negara maju di kawasan Asia, Jepang tentunya juga mempunyai kepentingan di Asia Tenggara. Hal ini yang pada gilirannya mengarahkan Jepang untuk turut berupaya dalam ‘mendesain’ Asia Tenggara. Pertanyaan dasar yang kemudian muncul ialah apa sesungguhnya yang menjadi kepentingan Jepang di Asia Tenggara. Guna menjawab pertanyaan tersebut, Centre for East Asia Studies (CEAS) Laboratorium HI UMM menyelenggarakan Diskusi Bulanan pada Kamis, 1 Desember 2022. Kegiatan yang dilakukan secara daring dan diikuti oleh 100 peserta tersebut mengadirkan Dr. Susy Ong, B.A, M.A, D.Sc selaku dosen senior dari Universitas Indonesia, sekaligus pakar studi kawasan Jepang. Selain itu, kegiatan Diskusi Bulanan CEAS ini tidak hanya dihadiri oleh para mahasiswa maupun  dosen-dosen Prodi HI UMM. Tetapi juga diikuti akademisi dari kampus-kampus lain diluar UMM. Di awal paparannya, Susy Ong menyampaikan mengenai awal mula pendefinisan Asia Tenggara. Selanjutnya dosen yang memiliki fokus riset tentang Jepang tersebut memaparkan mengenai kolonialisme Jepang di Asia Tenggara. Menurutnya apa yang dilakukan oleh Jepang tidak bisa dilepaskan dari upayanya dalam mempertahankan diri selama berlangsungnya Perang Dunia II. Setelah berakhirnya Perag Dunia II, Jepang memilih untuk menanggalkan pendekatan militeristik dalam politik luar negerinya. Di kawasan Asia Tenggara, Jepang lebih banyak menggunakan instrumen bantuan luar negeri serta penerapan diplomasi budaya, alih-alih diplomasi koersif. Sementara itu, dalam kaitannya dengan persaingan antar negara di Abad ke-21 yang diwarnai oleh berbagai manuver konektivitas China di Asia Tenggara, Susy Ong menyampaikan bahwa Jepang tidak mau turut mencampuri apa yang dilakukan oleh China tersebut. Sejauh program Belt Road and Initiative yang dijalankan oleh China tidak mengganggu kepentingan Jepang, khususnya di Asia Tenggara. Pada akhir forum, Susy Ong secara umum menjelaskan bahwa terdapat beberapa kepentingan Jepang di Asia Tenggara, seperti kepentingan ekonomi dan politik. “Perwujudan upaya Jepang untuk mencapai kepentingannya tersebut bisa dilihat dari ekspansi bisnis Jepang di Asia Tenggara, hingga pendirian berbagai pusat penelitian mengenai negara-negara Asia Tenggara”, ungkap dosen yang juga mengajar di School of Strategic and Global Studies UI tersebut. Antusiasme yang luar biasa ditunjukkan oleh para peserta kegiatan Guest Lecture Forum CEAS Laboratorium HI UMM. Hal ini tampak pada saat berlangsungnya sesi tanya jawab. Secara keseluruhan terdapat lebih dari 6 peserta yang mengajukan argumen hingga pertanyaan yang ditujukan kepada pembicara. Bahkan Indri Marlindasari selaku Koordinator CEAS yang menjadi moderator acara, mesti beberapa kali mengingatkan durasi waktu pada saat sesi tanya jawab mengingat banyaknya peserta yang hendak bertanya kepada pemateri. Pada kesempatan yang sama, Hafid Adim Pradana, M.A, selaku Kepala Laboratorium HI UMM tutut memberikan apresiasi positif atas terselenggaranya kegiatan Diskusi Bulanan CEAS Laboratorium HI UMM. Menurutnya, kegiatan serupa perlu untuk dilakukan secara rutin guna menjaga dan mengembangkan kultur akademis di Prodi HI UMM. “Harapan saya, untuk kedepannya setiap Komunitas Kajian yang bernaung di bawah Laboratorium HI UMM bisa menyelenggarakan kegiatan serupa. Dan tentunya, akan lebih baik jika yang menjadi pembicara adalah mahasiswa HI UMM yang aktif di Komunitas Kajian.” Pungkas dosen yang memiliki peminatan riset pada politik internasional tersebut. (yoga)

Peringati Hari Pohon Sedunia, Laboratorium Hi UMM Adakan Sarasehan Alam Dan Tanam Pohon Di Bumiaji, Batu

Malang (26/11/22) – Dalam rangka meningkatkan kesadaran mahasiswa mengenai persoalan lingkungan global, serta memperingati hari Tanam Pohon Sedunia, Laboratorium Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang menyelenggarakan kegiatan Sarasehan Alam dan Tanam Pohon. Kegiatan ini termasuk dalam rangkaian mata kuliah politik lingkungan global sebagai respon atas banjir yang melanda kota batu di tahun 2021 pada hari Sabtu, 26 November 2022. Kegiatan menanam pohon yang dihadiri oleh lebih dari 187 peserta tersebut menghadirkan Rachmad Kristiono Dwi Susilo, Ph.D sebagai pembicara utama, serta Eko Syamsul yang merupakan Mantri Perhutani Kota Batu sebagai pembicara kedua. Dalam kegiatan menanam pohon yang dilaksanakan di Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ini, Rachmad K.D. Susilo yang kajian risetnya berfokus pada Sosiologi Lingkungan dan Sosiologi Kebencanaan ini membuka pembahasannya dengan memaparkan tentang pentingnya sebuah kesadaran Mahasiswa serta masyarakat untuk melestarikan alam beserta dengan isinya. Mengingat peran yang sangat penting dari seluruh masyarakat inilah yang membuat persoalan lingkungan serta bencana alam dapat dicegah dan diselesaikan. Menurutnya penting bagi manusia untuk dapat bersinergi dengan alam atau hutan. Bukan hanya sebatas menjadikan hutan sebagai sarana eksploitasi. Lebih lanjut, Rachmad menambahkan bahwa penting bagi seluruh masyarakat untuk sama-sama berkomitmen dalam mengatasi persoalan lingkungan hidup. Sehingga kesadaran setiap individu terkait keberadaan krisis lingkungan global dan bencana alam menjadi suatu hal yang penting. Mengingat sangat sulit jika hanya sebatas bergantung pada para warga sekitar hutan. “Maka dari itu, kesempatan dari kegiatan menanam pohon ini haruslah dimanfaatkan untuk saling belajar antara satu sama lain, antar warga dan para akademisi untuk saling mengajarkan dan mengambil perannya”, tutup dosen Prodi Sosiologi UMM tersebut. Adapun, Eko Syamsul selaku Mantri Perhutani Kota Batu juga sangat mengharapkan agar tidak hanya masyarakat sekitar hutan saja yang memiliki tanggung jawab dalam melestarikan serta merawat hutan. Tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia, terutama kaum muda dan mahasiswa. “Jika ingin melestarikan alam dan lingkungan, maka diperlukan kesadaran bagi seluruh masyarakat Indonesia supaya bencana yang sama tidak terulang lagi. Selain itu perlu  juga komitmen bersama agar agenda pelestarian ini berlanjut kedepannya. Jangan sampai hanya berhenti disini saja”. Menurut Eko, selama masih banyak orang yang belum sadar akan adannya ancaman lingkungan, maka pencegahan bencana alam dalam hutan dan pegunungan akan sulit direalisasikan. Antusiasme yang luar biasa ditunjukkan oleh para peserta kegiatan praktikum politik lingkungan global. Hal ini tampak pada saat berlangsungnya acara menanam pohon. Salah satu peserta, Firdaus Tree mengungkapkan bahwa kegiatan yang ia ikuti banyak memberikan ilmu serta pengalaman. “Saya dan teman-teman mendapatkan ilmu baru, seperti bagaimana menggali tanah yang tepat serta menanam bibit pohon dengan baik dan benar”, ungkap mahasiswa HI angkatan 2019 tersebut. Pada kesempatan yang sama, Hafid Adim Pradana, M.A, selaku Kepala Laboratorium HI UMM tutut memberikan apresiasi positif atas terselenggaranya kegiatan Sarasehan Alam dan Tanam Pohon yang merupakan rangkaian lanjutan dari kegiatan praktikum politik lingkungan. Menurutnya, penting bagi mahasiswa untuk tidak hanya sebatas belajar teori di kelas perkuliahan. Tetapi juga turut terlibat langsung di lapangan. Oleh karenanya, ia berharap agar kegiatan turun lapang praktikum mata kuliah Politik Lingkungan diharapkan mampu memberikan pengalaman baru kepada mahasiswa HI UMM. Mengingat selama dua tahun terakhir mereka selalu mengikuti pembelajaran secara daring. “Kedepannya Laboratorium HI UMM akan menindaklanjuti kegiatan yang telah dijalankan hari ini. Selain itu akan ada kegiatan-kegiatan lain yang memungkinkan mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman baru”, pungkas dosen yang memiliki peminatan riset pada politik internasional tersebut. (yoga)

Kuliah Tamu Laboratorium HI: Hubungan Utara-Selatan Dalam Politik Lingkungan Global

Malang (2/11/22) – Dalam rangka untuk semakin memperluas wawasan Mahasiswa mengenai isu lingkungan dalam politik global, Laboratorium Kajian Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang menyelenggarakan kuliah tamu mengenai politik lingkungan global yang dengan tema “North-South Relation in Global Environment Politics” pada Rabu, 2 November 2022. Kegiatan yang dihadiri oleh 323 peserta tersebut menghadirkan Manggala Ismanto, S. IP., M.A sebagai pembicara utama, dan dimoderatori oleh Hellatsani Widya Ramadhani, S. IP., M.A. Dalam perkuliahan tamu yang dijalankan secara daring melalui platform Zoom ini, Manggala Ismanto yang yang kajian risetnya berfokus pada antropologi dan lingkungan membuka pembahasannya dengan memaparkan tentang banyaknya isu lingkungan dalam ranah global yang dapat diselesaikan melalui hubungan politik antar negara. Mengingat peran yang sangat penting dari sebuah negara inilah yang membuat persoalan lingkungan hidup dapat diselesaikan. Dalam pandangan Ismanto, selama sebagian negara masih menjadikan persoalan lingkungan hidup sebagai instrumen politik untuk menindas sebagain negara yang lain, maka penyelesaian masalah krisis lingkungan hidup akan sulit direalisasikan. Selain itu, Ismanto menambahkan bahwa penting bagi negara-negara untuk sama-sama berkomitmen dalam mengatasi persoalan lingkungan hidup. Sehingga kesadaran setiap individu terkait keberadaan krisis lingkungan global menjadi suatu hal yang penting. Mengingat sangat sulit jika hanya sebatas bergantung pada peran negara-negara. “Karena itu, penting bagi kita, selaku akademisi untuk sama-sama mengambil peran”, tutup kandidat doktor dari Universiteit van Amsterdam tersebut. Antusiasme dari narasumber maupun peserta yang berfokus pada masalah politik lingkungan global ini dapat dirasakan pada saat acara berlangsung karena banyaknya pertanyaan yang diajukan oleh peserta yang menjadikan sesi tanya jawab kali ini sebagai diskusi antara narasumber dengan Mahasiswa HI UMM serta beberapa dosen tamu yang telah hadir untuk ikut memperdalam kuliah tamu tersebut. Pada kesempatan yang sama, Hafid Adim Pradana, M.A, selaku Kepala Laboratorium HI UMM memberikan apresiasi positif atas terselenggaranya kuliah tamu yang merupakan rangkaian awal dari kegiatan praktikum politik lingkungan. Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan mampu memberikan semangat kepada mahasiswa HI UMM sebelum menjalankan praktikum turun lapang di mata kuliah Politik Lingkungan. “Kedepannya Laboratorium HI akan kembali mengadakan kegiatan yang mengharuskan mahasiswa HI UMM untuk turut serta dalam aksi turun lapang langsung,” pungkas dosen yang memiliki peminatan riset pada politik internasional tersebut. (yoga)

Kunjungan Benchmarking Prodi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Mataram

Program Studi Hubungan Internasional (Prodi HI) Universitas Muhammadiyah Malang menerima kunjungan dari Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Mataram pada Kamis (06/10). Kepala Program Studi Prodi HI UMM, M. Syaprin Zahidi, M.A., Sekretaris Prodi, Shannaz Mutiara D., S.IP., M.A., Kepala Laboratorium Prodi HI, Hafid Adim P., S.IP., M.A., dan Laborat Laboratorium Prodi HI, Fitri mewakili Prodi menjamu kehadiran tamu dari Unuiversitas Mataram tersebut. Tujuan dari kedatangan Prodi HI Universitas Mataram tersebut adalah dalam rangka benchmarking yang berkenaan dengan kurikulum.  Dalam pertemuan ini, juga dikaji dan dibahas mengenai upaya-upaya pengembangan laboratorium dari kedua pelak pihak, serta potensi kerjasama yang dapat dibangun di masa yang akan datang. Melalui pertemuan ini, kedepannya diharapkan masing-masing program studi dapat saling berkolaborasi dan saling mendorong kemajuan Pendidikan di masing-masing universitas. (Ind)

Kuliah Perdana Prodi HI UMM: International Security and Cyber Issue

Apakah Anda masih mengikuti pemberitaan mengenai perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina yang menampar kita untuk mengingat akan pentingnya keamanan. Atau juga, apakah Anda masih mengikuti berita nasional mengenai pereteas Bjorka beberapa waktu silam mengklaim berhasil membobol dokumen-dokumen dan data-data rahasia negara? Keberadaannya yang menghebohkan publik tersebut seolah mengingatkan kita akan pentingnya keamanan siber di era yang serba digital ini. Keamanan siber juga merupakan hasil dari perkembangan studi keamanan yang jauh berkembang sebelum era digitalisasi khususnya dalam ruang lingkup keilmuan hubungan internasional. Hingga kini, isu-isu mengenai keamanan kian hari masih banyak diperbincangkan oleh penstudi HI. Berkaitan dengan hal ini, Program Studi Hubungan Internasional (Prodi HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan Kuliah Perdana bertajuk International Security and Cyber Issue dan dinarasumberi oleh Prof. Dr. Drs. Arry Bainus, M.A. dan Lucky Nugraha S.IP., M.A.. Kuliah perdana ini diselenggarakan secara luring dan dihadiri oleh mahasiswa baru angkatan tahun 2022 di Rays Hotel UMM, Jum’at (30/10). Prof. Bainus memulai pemaparannya dengan menyampaikan perkembangan keamanan yang mulanya dikaitkan dengan tujuan pengendalian kapabilitas militer dalam menghadapi ancaman dan kekerasan bersenjata, menjadi sebuah kajian ilmu yang lebih luas dan menjadi multidimensional, beberapa diantaranya adalah keamanan pangan, manusia, ekonomi, dan lain sebagainya. Dengan perkembangan tersebut, keamanan diartikan secara berbeda-beda oleh banyak penstudi HI. “Sehingga keamanan itu diartikan, untuk sementara oleh berbagai pihak sebagai tidak adanya ancaman terhadap nilai-nilai tertinggi negara atau masyarakat,” terang Prof. Bainus. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat diartikan jika negara akan memperoleh keamanannya jika sebagai entitas, ia mampu mempertahankan nilai-nilai yang ada di dalamnya, berfungsinya lembaga-lembaga negaranya, serta dijamin dan dilindunginya populasi di dalamnya. “Tanpa objek acuan, tidak akan ada ancaman. Dan tidak ada diskusi tentang keamanan,” jelas Prof. Bainus. Prof. Bainus juga menyinggung keamanan siber (kejahatan dunia maya) yang meski tidak berbentuk secara fisik, namun dampaknya dapat berupa fisik, dan mempengaruhi keamanan sosial, ekonomi, militer, politik, maupun individu. “Jadi, keamanan siber itu, threatnya, ancamannya itu bisa langsung ke keamanan manusia dan keamanan negara. Sehingga cyber seucirty telah menambahkan dimensi baru, dan kompleksitas baru pada hubungan internasional,” tambah Prof. Bainus. Sementara itu, Lucky Nugraha sebagai narasumber kedua berbagi informasi kepada mahasiswa yang hadir mengenai keamanan siber dan berbagai Langkah-langkah penanganan kejahatan siber yang banyak terjadi selama perkembangan terknologi ini. Internet jelas menjadi sarana beraktivitas dan media komunikasi yang sangat diperlukan oleh masyarakat di era ini. Namun di sisi lain, internet juga menimbulkan tantangan-tantangan yang kompleks, utamanya tantangan keamanan. Ini yang kemudian menjadi perhatian para pakar keamanan di keilmuan hubungan internasional. “Karena kerawanan yang timbul di dunia maya seringkali melibatkan aktor negara, dan tentunya sampai ke individu,” tutur Lucky. Hal inilah yang kini menjadi perdebatan mengenai bagaimana cara membentuk regulasi ruang siber, terutama di skala nasional, yaitu sejauh mana negara mampu menjadi aktor dalam pembentukan regulasi ruang siber yang bersifat publik, bebas, dan tidak terikat tersebut. Lucky juga menyinggung peperangan siber (cyber warfare) yang meski belum menjadi tren, tapi praktiknya sudah banyak terjadi dan merupakan salah satu bentuk penyalahgunaan internet, baik oleh individu maupun negara. Salah satu kasus peperangan siber adalah seperti yang terjadi pada pemilihan Presiden Amerika Serikat tahun 2018 silam, di mana Rusia campur tangan dengan memanfaatkan internet, dan berujung pemmulangan diplomat Rusia di Amerika Serikat. “Serangan siber seperti ini memunculkan kekhawatiran bahwa negara akan mempenetrasi jaringan komputer negara lainnya untuk menimbulkan kerusakan, atau kerugian bagi negara lain tersebut,” jelas Lucky. Merespon hal ini, berbagai kerangka kerjasama internasional maupun nasional telah dibentuk di berbagai forum bilateral maupun multilateral, salah satunya adalah Konvensi Budapest 1996 yang diinisiasi oleh Dewan Eropa. Konvensi ini berusaha untuk menyusun konsep Kerjasama internasional dalam penanggulangan kejahatan siber. Indonesia sendiri juga terbilang aktif dalam upaya-upaya penangan siber. Salah satu yang dilakukan adalah dengan bekerjasama bersama negara-negara baik di ruang lingkung regional maupun internasional. Indonesia juga memiliki The ASEAN Cyber Security Cooperation Strategy. Ini adalah sebuah upaya untuk membuat roadmap untuk Kerjasama regional untuk mencapai ruang siber ASEAN yang aman. Dalam pemaparannya, dijelaskan pula bahwa semakin tinggi tingkat kesiapan suatu negara dalam menghadapi serangan siber, maka negara itu akan memiliki posisi power yang kuat. “Untuk Indonesia sendiri, sayangnya, tingkat kesiapan kita menghadapi serangan siber itu masih tergolong rendah,” jelas Lucky. Meski tingkat kesiapan siber Indonesia masih terbilang rendah, digitalisasi ekonomi Indonesia justru memiliki potensi yang besar dan diprediksi akan terus tumbuh. “Dan jika momentum ini dijaga, maka Indonesia akan menjadi salah satu negara yang unggul dalam ekonomi digital,” tambah Lucky. Melalui kuliah perdana ini, diharapkan mahasiswa nantinya dapat lebih kritis dalam merespon keamanan baik digital maupun non digital, dan dapat memanfaatkan teknologi untuk perkembangan ke arah yang lebih baik. (Ind)