Kehadiran Kepala Satuan Tugas Wilayah (Kasatgaswil) Jawa Timur Densus 88 AT Polri, Kombes Pol Iwan Ristiyanto, pada Kuliah Perdana program studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (HI UMM), pada Selasa (10/10), menjadi pelajaran berharga bagi mahasiswa baru HI UMM. Pengalaman belasan tahun Iwan menangani kasus terorisme membuka wawasan mahasiswa akan penyebaran jejaring terorisme dan organisasi radikal di Indonesia.

Dengan mengangkat topik “Terorisme di Indonesia: Tantangan dan Solusi dalam Dunia yang Saling Terhubung”, kegiatan kuliah perdana yang berlangsung di Aula GKB 4 UMM ini menjadi momentum bagi mahasiswa HI UMM untuk memahami strategi dan pengaruh global jejaring terorisme bagi bangsa Indonesia, termasuk dampaknya bagi generasi muda.

Terlebih, menurut Iwan, generasi muda merupakan sasaran indoktrinasi paham radikal, mengingat salah satu medium penyebaran doktrin tersebut adalah melalui media online dan media sosial, yang sebagian besar penggunanya adalah generasi muda. Karena itu, dalam kegiatan ini, Iwan menjelaskan tentang bagaimana agar mahasiswa tidak terpapar paham radikal. “Apalagi, aktivitas jaringan terorisme sangat rapi dan terstruktur, terlihat dari penyebaran berbagai organisasi radikal di Indonesia,” ujarnya.

Mengamini hal tersebut, Guru Besar HI UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D, mengatakan bahwa penyebaran paham radikalisme memang terus berkembang, termasuk di kalangan mahasiswa. “Karena bagi mereka mahasiswa adalah pribadi yang masih polos, punya semangat yang besar, dan juga mudah terpengaruh,” jelas Gonda.

Bagi Gonda, kegiatan ini sangat strategis bagi mahasiswa HI mengingat terorisme itu bukan hanya sekedar gerakan domestik melainkan telah menjadi bagian dari gerakan transnasional bersenjata.

Kegiatan ini, disebut Gonda, juga relevan dengan program pemerintah dalam hal kontra-terorisme di dunia pendidikan. Hal itu, kata Gonda, sejalan dengan Memorandum of Understanding (MoU) antara Densus 88/Kapolri dengan Mendikbud Nadiem Makarim terkait kewaspaadaan dini potensi berkembangnya pemikiran radikal di kalangan mahasiswa. Karena itu, agar lebih berdampak jangka panjang, kegiatan ini juga melibatkan Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) UMM, agar program tersebut dapat ditindaklanjuti di level aktivitas kemahasiswaan.

Lebih lanjut, Gonda berharap Prodi HI UMM nantinya bisa membangun kerjasama dengan Kapolri, misalnya terkait pemagangan mahasiswa yang tertarik pada kajian, riset dan strategi kontra terorisme di Densus 88. (ist/han)