Perjalanan menuju kampung Cham, Cambodia

Suostei

Chhmoh robsakhnhom ku Khoerunnisa (Mahasiswa HI Angkatan 2016)

       Pada Mei 2018 lalu, saya pergi ke salah satu negara berkembang di Asia Tenggara yaitu Kamboja dimana saya disana mengunjungi salah satu kampung muslim yang ada di dekat perbatasan Vietnam ialah Kampung Cham. Dengan kepergian saya ke Kampung Cham ialah sebagai International Village Volunteer Program, dimana yang mejembati saya hingga sampai sana ialah suatu lembaga yang memiliki misi untuk membangun masyarakat internasional khususnya masyarakat muslim yaitu: International Friendship Society. Tak hanya sekali saya mengikuti program seperti ini, sebelumnya juga sempat mengikuti di kegiatan di Jepang juga Febuari pekan lalu.

       Pasti bertanya-tanya mengapa saya suka mengikuti kegiatan ini, karna dalam diri saya memiliki rasa keperdulian kepada sesama khususnya Muslim. Memang dari ruang lingkup keluarga saya sendiri, saya selalu diajarkan sesuatu bekal rasa keperdulian yang tinggi. Dengan itu saya percaya bahwa sesuatu yang saya punya dan sedikit apa pun yang saya punya itu juga hak orang lain.

       Lalu dalam kegiatan program ini, di hari pertama saya bersama teman-teman mengunjungi KBRI Phonm Penh, dimana kami disana bertemu dengan Kedutaan Besar Indonesia yang di Phonm Penh. Dengan kedatangan kami sangatlah di sambut hangat oleh pihak KBRI Phom Penh. Pada saat itu kami melakukan perkenalan satu persatu, dan juga kita diberikan kesempatan untuk bertanya langsung tentang kamboja kepada beliau. Tak hanya itu kami disana berikan luang waktu untuk memberikan inspirasi atau kesempatan kepada penduduk Kamboja untuk membantu dalam bidang akademik dengan memberikan beasiswa kepada mereka.

 

       Setelah mengunjungi KBRI kami langsung bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju kampung Cham, dimana kampung Cham ini benar-benar jauh sekali dari kota dalam menempuh perjalanan kurang lebih 7-8 jam-an. Dengan kondisi perjalanan yang cukup melelahkan karna memang jalanan di sana masih tanah dan belum diaspal dan memang jauh dari peradaban pemukimanan. Sesampainya kami di Kampung tersebut, kami sangatlah di sambut hangat oleh penduduk sekitar. Karna memang program ini bukan program pertama kalinya, tetapi program kedua kalinya.

       Kebijakan yang diberikan dari lembaga International Friendship Society untuk membangun gedung sekolah untuk anak-anak disana. Karna memang kondisi persekolahan mereka lumayan jauh dari permukiman mereka. Dalam tahap pembangunan masih sangat mula karna memang bantuan yang kurang dan juga bahan-bahan yang cukup mahal, dan posisi penjualan peralatan semuanya itu jauh dari pemukiman sehingga memakan biaya yang lumayan banyak.

       Dalam kegiatan ini juga kami mengajarkan mereka dari sisi pendidikan dan kesehatan juga. Dalam bidang pendidikan ialah mengajarkan bahasa inggris, kebudayan Indonesia, permainan Indonesia lalu dengan bidang kesehatan juga kami memberikan pengetahuan tentang pergolongan sampah, cara menggosok gigi yang benar, lalu dengan olahraga senam pada saat pagi hari. Tak hanya itu saja, namun disisi lain kami membantu mereka masak dan gotong royong.

       Karna memang kondisi tempat yang benar-benar sangat tercukupi, dengan kondisi air yang sangat terbatas, tumbuh-tumbuhan yang gersang, kondisi perjalanan yang masih tanah sehingga menghasilakn debu yang cukup membuat sistem pernafasan yang tidak baik. Dengan pandangan saya sendiri bahwasanya kampung ini benar-benar kampung yang seharusnya diberikan perhatian yang penuh, dengan kondisi permukimanan yang seperti itu pula.

       Di kampung Cham tidak hanya menerima dan sudah dibantu oleh Indonesia saja, namun terdapat negara-negara maju lainnya seperti Jepang dan Korea. Dengan antusianya berbagai negara dalam membantu masyakarat internasional, karna itulah suatu hal yang menariik sehingga saya ingin mengikuti kegiatan seperti ini. Tak hanya memberikan bantuan sosial namun kita juga bisa mendapatkan pelajaran dalam kegiatan ini ataupun hikmah dan juga mengetahui lebih lanjut tentang kondisi negara-negara yang ada di dunia yang memang sejalan pula dengan jurusan saya ialah Ilmu Hubungan Internasional.

       Selama dua hari di sana, kami memiliki berbagai macam pengalaman yang cukup berharga baik kehidupan kita.  Sangat berat sekali bagi kami untuk meninggalkan kampung ini, sehingga ibu-ibu, anak-anak dan kita pun meneteskan air mata. Karna memang sudah lumayan banyak kenangan yang kita jalananin bersama, walaupun hanya dua hari saja namun itu semua sangatlah berharga bagi kami.

       Nah dalam program ini kami tak hanya mengunjungi satu kampung saja. Dengan itu kami melajutkan perjalanan menuju kampung satunya untuk menerapkan program yang sama dengan kampung sebelumnya. Tapi kampung ini sudah lumayan lebih maju dari Kampung Cham yang sudah memiliki tingkat pengetahuan yang lebih banyak dan sudah lumayan untuk memahami bahasa Inggris. Dan kondisi permukiman yang cukup seperti layaknya, namun tidak menjadi masalah kami dalam mengurangi rasa semangat kita dalam memberikan suatu informasi Internasional dan pengetahuan lainnya. Dengan program yang sama dengan kampung sebelumnya pula. Dan Alhamdulillah penduduknya menyambut hangat dengan kedatangan kita khususnya anak-anak yang sangat senang dengan kita berikan pemainan Indonesia dan budaya Indonesia.

       Dengan waktu yang memisahkan kita, mau tidak mau kita semua harus berpisah dan untuk pulang ke Indonesia dengan melaksanakan kegiatan kami di Indoensia pula. Dengan berat hati sekali saya harus pulang ke Indonesia, rasanya kurang sekali untuk tinggal di sana bersama mereka. Tak hanya mereka yang mendapatkan pengetahuan dari kami, namun kita juga yang lebih mendapatkan pengetahuan yang dari kampung tersebut. dari hal yang kecil sampai hal yang terbesar, dari belajar bahasa Khmer, kebudayan pula dan nilai sosial yang mereka miliki.

Arkoun

Shared: