Perjalanan ke Kota Perdamaian Hiroshima, Jepang

Kon’nichiwa

Namae wa Khoerunnisa (Mahasiswa HI Angkatan 2016)

       Pada bulan Febuari 2018 lalu, saya pergi ke salah satu negara maju di Asia Timur yaitu Jepang. Dimana Jepang ini sebagai negara impian saya yang ingin saya kunjungi. Mengapa? Karna saya bangga atau takjub akan karya maupun kreativitas yang dimiliki oleh masyarakat Jepang. Dengan salah satu lembaga yang bisa membawa saya ke sana ialah International Friendship Society, dimana lembaga ini memiliki visi-misi pengabdian masyarakat pemuda Indonesia kepada masyakarat Internasional. Dengan berbagai tahap untuk bisa mengikuti program ini, dan pada akhirnya saya bisa untuk mengikuti program tersebut. Dalam kegiatan tersebut saya bisa mewakili sekaligus mengharumkan UMM dan khususnya jurusan saya HI UMM dalam ranah Nasional maupun Internasioal. Kegiatan ini sebagai program pengabdian masyarakat berkala Internasional sekaligus saya dan teman-teman belajar tentang arti sebuah perdamaian, lalu bagaimana kita bisa meimplikasikan pada diri kita sendiri.

       Sesampainya kami di Hiroshima, kami langsung meranjak ke Peace Culture Village. Di mana lokasi dari bandara cukup memakan waktu sekitar 3jam-an, dan pendiri dari Peace Culture Village ialah berasal dari Amerika Serikat. Dengan tujuan pendiri inilah untuk rasa balas budi terhadap Jepang karna kesalahan yang sudah mereka buat dan Jepang pun sangat membuka lebar dengan program tersebut. program Peace Culture Village sebagaimana bagaimana kita bisa belajar bahasa Jepang, bercocok tanam, budaya Jepang, sejarah Jepang dan bagaimana caranya mengembala sapi.  Lalu kami juga belajar bagaimana menerapkan itu semua dan membantu masyarakat

 

       Pada hari kedua kami pergi menuju Hiroshima kota untuk berkunjung ke Peace Memorial Park. Dalam perjalanan menuju sana kurang lebih 7 jam-an sesampainya kami di Hiroshima Kota, kami menuju Hotel untuk cek in sekaligus istrirahat. Keesokan harinya kami berkunjung ke Peace Memorial park untuk mewawancari pengunjung yang ada disana, tentang kehadiran mereka kesana. Kami mewawancari penduduk asli Jepang dan pengunjung dari negara lain dan khsususnya warna AS yang datang berkunjung. Dengan hasil wawancara kami mengetahui arti sebuah perdamaian yang sesungguhnya. Menurut salah satu pengunjung AS ia berpendapat bahwasanya perdamaian diciptakan dari sebuah kesatuan atau tidak adanya perbedaan diantara masyakarat. Dan masyakarat AS juga ia mempelajari dari sekolah tentang sejarah Jepang yang sempat di bom oleh AS sendiri. Dan dari masyarakat Jepang sendiri, bahwasanya perdamaian berasal dari diri kita sendiri dan masa lalu sebagai pelajaran dimasa yang akan datang. Perdamaian bercerminan untuk kesuksesan suatu negara untuk lebih baik.  di Peace Culture Village kami mengelilingi area lokasi untuk bisa mengetahui sejarah sekaligus edukasi budaya.

        Setelah itu kami menuju ke Hiroshima Languange Exchange untuk belajar bahasa Inggris dan bahasa Jepang dengan berbagai warga negara. Di sana kami mendapatkan ilmu dan teman baru, dari berbagai umur bisa belajar di HSE. Lalu di hari keempat kami berkunjung ke Hiroshima University untuk melakukan presentasi dari hasil wawancara yang sudah kami dapat dengan teman kelompok yang sudah ditentukan dari panitia sekaligus tour campus. Alhamdulillah dari hasil presentasi kelompok saya bersama teman kelompok saya yaitu:  Imron Agung Mahasiswa Universitas Darussalam Gontor, Aryani Sari Mahasiswi Universitas Atmajaya Yogyakarta, dan Khoerunnisa Mahasiswi Univeristas Muhammadiyah Malang meraih hasil best Presentation.

       Hari terakhir kami ialah perpulangan menuju bandara Hiroshima, dalam kegiatan ini saya belajar cara untuk berdamai antara individu maupun kelompok. Perbedaan lahir dari diri kita sendiri dan Agama adalah faktor pertama sehingga terjadinya konflik.

Origataogozaimashita

Shared: