Pengalaman dari Asian Games

Asian Games 2018 merupakan momen yang tidak akan pernah saya lupakan. Bertemu berbagai orang penting dari 49 negara-negara di benua Asia, Presiden dan Menteri-Menteri luar negeri, atlet-atlet populer Asia dan tanah air serta teman-teman dan networking yang luar biasa. Berawal dari ajakan kawan untuk mendaftarkan diri sebagai volunteer (relawan), rasanya seperti mimpi bisa turut berkontribusi sebagai salah satu pemuda Indonesia untuk mensukseskan hajat besar bangsa ini. Untuk mendaftar menjadi volunteer acara terbesar kedua di dunia setelah Olimpiade ini sebenarnya tidak begitu sulit. Hanya membutuhkan waktu untuk bisa fokus dan niat tulus untuk turut mengabdi kepada negeri. INASGOC (Indonesia Asian Games Organizing Committee) membuka open recruitment atau pendaftaran online untuk volunteer sudah sejak Desember 2017 lalu. Pendaftaran dilakukan dengan mengisi formulir yang ada di website volunteer yang terdiri dari banyak penjelasan mengenai divisi-divisi volunteer hingga syarat bisa menjadi volunteer seperti menyertakan SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) dan CV (Curricullum Vitae) beserta sertifikat-sertifikat yang mendukung untuk mengetahui pengalaman organisasi yang pernah dialami dan kemampuan bahasa inggris. Kawan-kawan volunteer yang saya temui rata-rata adalah mahasiswa tingkat akhir atau fresh graduate SMA dan Universitas karena memiliki waktu yang lebih banyak untuk bisa fokus pada Asian Games.

Setelah lolos seleksi administrasi saya dipanggil ke Jakarta untuk seleksi tahap selanjutnya yaitu psikotes dan FGD (Focus Group Discussion). Mulai psikotes tersebut selanjutnya para calon volunteer mengikuti training-training yang mana masing-masing ditentukan hanya satu hari dan jika tidak bisa hadir serta tidak konfirmasi, maka akan otomatis gugur kesempatannya menjadi volunteer. Bulan berikutnya setelah lolos dipanggil lagi ke Jakarta untuk Training atau pelatihan pertama, yaitu pelatihan NOR (Nilai-Nilai Olahraga) dimana saya mendapatkan informasi umum mengenai Olimpiade secara keseluruhan, Asian Games, INASGOC dan ke-volunteer-an seperti logo-logo yang harus dihafalkan dan sebagainya. Kemudian pada bulan Mei, saya dipanggil lagi  untuk Training kedua di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Pada Training kedua ini saya mendapatkan ilmu-ilmu baru soal Communication Skill, International Etiquette, Intra-Personal Skill dan pengetahuan pariwisata Indonesia khususnya Jakarta karena selain menjadi volunteer, otomatis kami akan menjadi duta pariwisata Indonesia karena wajib memperkenalkan kebudayaan Indonesia saat menemani para tamu atau atlet yang datang. Pada bulan Juli, saya dipanggil lagi ke Jakarta untuk mengikuti Job Spesific Training karena list divisi bagian volunteer berkontribusi telah diumumkan sesuai dengan CV yang dikumpulkan dan minat divisi yang ingin dituju. Saya mendapatkan bagian VPA (Venue Protocol Attendance) di International Relations and Protocol Department, Deputi Kesekjenan. Training ini dilaksanakan di Grand Mercure Hotel dengandress code memakai business/formal attire seperti biasanya mahasiswa HI akan melaksanakan MUN (Model United Nations) :). Tiap divisi melaksanakan training dengan agenda berbeda dan dress code yang berbeda sesuai dengan divisinya. Pada training terakhir sebelum paravolunteer benar-benar turun lapangan ini, saya mendapatkan dan mempelajari bersama buku manual yang cukup tebal berisi informasi general mengenai Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, cabor-cabor yang diselenggarakan, jadwal-jadwal pertandingan, negara-negara serta benderanya, orang-orang VIP dan VVIP dari tiap federasi olahraga, menteri-menteri Indonesia untuk dihafalkan serta apa-apa saja yang harus dilakukan dan dilarang sebagai seorang VPA. Jadi sasaran utama atau orang yang harus diperhatikan oleh seorang VPA adalah semua para tamu VIP dan VVIP yang datang. Pada saat itu saya merasa bahwa ini benar-benar bukan mimpi bisa bertugas dengan orang-orang penting dari berbagai belahan dunia dan saya tidak sabar untuk mendapatkan inspirasi dari tamu-tamu serta atlet yang datang.

Saya mulai bekerja sebagai volunteer dari sebelum Asian Games 2018 dibuka. Setiap sebelum pertandingan pertama diadakan briefing dan venue visit untuk mengetahui dan menguasai lapangan serta venue yang ditugaskan. Tugas seorang VPA antara lain seperti mengecek bendera-bendera negara peserta yang ada di venue baik indoor maupun outdoor, mengecek national anthem atau lagu nasional tiap negara sebelum medal ceremony, menyambut tamu-tamu VIP dan VVIP yang datang di venue dan menemani mereka ketika pertandingan berlangsung. Saya bertugas pada venue-venue di GBK (Gelora Bung Karno) seperti diBadminton, Archery atau Panahan, serta Rugby 7s. setelah benar-benar bekerja di lapangan, rasanya antara berdebar-debar karena senang dengan tetap harus menjaga attitude keprotokolan. Di venue Badminton saya bertemu dan sempat berfoto ketika pagi hari sebelum pertandingan dengan Ibu Susi Susanti peraih medali emas Olimpiade yang ketika itu beliau sering bertemu dengan saya karena harus mondar-mandir mempersiapkan pertandingan sebagai tim manager kontingen Badminton Indonesia. Selain itu sehari-hari saya bertemu dengan semua atlet yang ada di venue seperti Fitriani, Jonathan Christie dan kawan-kawan atlet yang lain karena posisi pintu VIP Lounge berada dekat dengan seat dan lapangan pertandingan. Saya juga bertemu dan berkomunikasi dengan berbagai OCA (Olympic Council of Asia) dari berbagai negara, Mbak Anindya Kusuma Putri dan Maria Selena, Puteri Indonesia yag juga Spokesperson dari Kemenpora, tamu-tamu VIP dari berbagai negara dan kadang-kadang para tamu tersebut memberikan cinderamata berupa pin logo Olympic Council atau kontigen negaranya kepada saya dann teman-teman volunteer lain. Saya juga sempat menyambut mengantarkan sendiri Bapak Wiranto, Menteri Koordinator Bidang Polhukam dari VIP Lounge ke VIP seating di dekat lapangan pertandingan juga menteri-menteri olahraga dari negara yang bertanding disana.

Pada venue Archery dan Rugby 7s tidak kalah ramainya dengan Badminton. Saya lebih bersahabat dan merasa seperti keluarga sendiri dengan panitia dan volunteer dari berbagai kota di Indonesia, serta judges dari berbagai negara yang ada di dua venue tersebut karena paling lama bertugas disana dengan tujuan satu, hanya demi membanggakan Indonesia lewat mensukseskan bersama perhelatan Asian Games ini hingga detail yang paling kecil. Mengikuti tiap briefing dan evaluasinya dari pagi hari hingga malam bersama-sama. Pada kedua venue ini saya juga bertemu dan berhadapan langsung dengan Presiden Joko Widodo dan Bu Iriana dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Bapak Erick Thohir Ketua Pelaksana Asian Games 2018 dan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi beserta keluarga, Menteri Pemuda dan Olahraga Singapura Grace Fu, Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia Syed Saddiq, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Pangdam Jaya Joni Supriyanto, Ibu Titiek Soeharto yang setiap hari ke venue Archery selaku Ketua Panahan Indonesia, IOC (International Olympic Council) President Thomas Bach, Royal Family (Keluarga Kerajaan) dari KSA (Kingdom of Saudi Arabia) serta banyak tamu-tamu lainnya.

Begitu juga ketika Closing Ceremony, saya terpilih menjadi salah satu dari 2000 volunteer yang bisa masuk kedalam Main Stadium GBK (volunteer terpilih dari 11.000 volunteer) dan melihat langsung berdiri di depan pannggung bersama seluruh atlet untuk bergembira bersama menikmati malam penutupan yang akan selalu kami kenang tersebut. Banyak sekali pelajaran , ilmu, networking, serta keluarga yang saya dapat dari pengalaman menjadi seorang volunteer VPA Asian Games 2018 ini. Semua peluh, tangis haru setiap Indonesia atau negara lain dikibarkan benderanya, dan tawa yang dibagikan dari teman-teman volunteer, panitia, dan atlet-atlet dari seluruh negara terbayar karena penyeleggaraan Asian Games 2018 di Indonesia bisa sukses. Pengalaman yang sungguh tidak akan pernah terlupakan karena juga membangun karakter saya pribadi sebagai anak bangsa dan akan saya bagikan ke anak cucu di masa depan. Sekarang saatnya kita mendukung Asian Para Games 2018 yang merupakan perhelatan lanjutan di tiap negara tuan rumah Asian Games, yaitu pertandingan olahraga terbesar se-Asia dengan peserta atlet penyandang disabilitas. Semangat untuk #ParaInspirasi, dan semangat terus untuk pemuda-pemuda generasi bangsa Indonesia! Semoga tulisan ini bermanfaat. Sekian, Terimakasih :).

Nanda Aulia Dina

FISIP/HI 2014

Shared: