Maycomm Kaji Problem Kabut Asap di Asia Tenggara

Sabtu, 10 Oktober 2020 01:06 WIB

Malang-ASEAN Youth Community (Maycomm) kembali mengadakan kajian daring #ASEAN Sharing (9/10). Topik yang dibahas adalah “Kabut Asap dan Ancaman Terhadap Human Security di Kawasan Asia Tenggara”. Menghadirkan pembicara Dr. Yusnarida Eka Nizmi, M.Si. selaku Ketua Pusat Studi ASEAN LPPMP Universitas Riau. Diikuti lebih dari 80 peserta yang tergabung melalui Zoom.

Dr. Nizmi dalam pemaparannya menyampaikan bahwa sejak 1982, Asia Tenggara hampir setiap tahun berhadapan dengan kabut asap. Penyebabnya, pembakaran rumput, hutan, dan gambut yang hampir semuanya terjadi di Indonesia. Asap ini selanjutnya berdampak pada kesehatan dan mempengaruhi ekonomi setidaknya enam negara ASEAN. “Polusi kabut asap ini merupakan krisis lingkungan lintas negara yang pertama di mana ASEAN berusaha untuk mengatasinya secara kolektif,” imbuhnya.

Lebih lanjut, polusi kabut asap yang terjadi disebabkan oleh pembersihan lahan yang dilakukan dengan metode pembakaran. Berdasarkan bukti dari potret satelit dan investigasi lapangan, banyak tuduhan diarahkan pada perkebunan-perkebunan kelapa sawit, termasuk perusahaan yang terdapat di Singapura dan Malaysia. Polusi kabut asap ini juga disebabkan oleh para pemilik perkebunan kelas menengah dan kecil yang menggunakan metode yang sama untuk membersihkan lahan dengan dalih biaya yang murah.

Dalam kaitannya dengan itu, polusi kabut asap secara jelas dan nyata mengancam keamanan masyarakat yang terkena imbas bencana regional ini. Polusi asap berpengaruh terhadap kesehatan populasi masyarakat Asia Tenggara dengan perkiraan jutaan orang beresiko terhadap masalah pernapasan, termasuk juga resiko terpapar penyakit jangka panjang, seperti kanker karena terpapar asap berbahaya. “Selain itu, polusi kabut asap juga berdampak di bidang perekonomian dan pariwisata. Malaysia dan Singapuran misalnya, dikarenakan kabut asap ini, kedua negara tersebut mengalami kerugian diperkirakan mencapai USD 150 juta di sektor pariwisata,” papar dosen yang pernah menjadi pengajar di HI UMM ini.

Dalam konteks regional, ASEAN telah melakukan berbagai upaya dalam menghadapi ancaman polusi kabut asap. Seperti pada tahun 2002, ASEAN menyepakati ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP) untuk mengendalikan pencemaran asap di Asia Tenggara. Namun AATHP memiliki kelemahan yang tertuang dalam pasalnya yaitu sulitnya birokrasi yang harus dijalani, di mana pihak pemerima dan pemberi bantuan harus melaporkan rincian atas bantuan yang diminta atau diberikan kepada ASEAN itu sendiri. Keterlibatan ASEAN sebagai pihak ketiga juga menghambat efisiensi penganan polusi kabut asap yang melanda di Asia Tenggara. AATHP menghambat tindakan inisiatif atas sebuah negara anggota terhadap negara anggota lainnya. Hal tersebut dikerenakan bantuan hanya boleh diberikan jika ada permintaan dan persetujuan dari pihak yang meminta. (Maycomm/nur)

Shared: