HIMAHI Kaji Limbah Medis sebagai Tantangan Baru Lingkungan Global

Senin, 16 Agustus 2021 13:36 WIB

Pandemi Covid-19 berimplikasi terhadap peningkatan volume sampah medis. Hal ini menjadi isu kontemporer yang menjadi perhatian banyak pihak, tidak terkecuali Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) UMM. Untuk itu, dalam agenda International Relations Discussion Club (IRDC), HIMAHI menyorot persoalan tersebut sebagai tantangan baru bagi lingkungan global.

Hadir sebagai pemateri seorang aktivis lingkungan Manuel Bregmann yang merupakan CEO Social Enterprise for Cause berkebangsaan Jerman serta Erman Syamsuddin dari PT Sarana Bumi Lestari, Medical Waste Management Expert. Selain itu, hadir pula dosen HI UMM Demeiati Nur Kusumaningrum. Mengusung tema, “Medical Waste is a ‘New’ Challenge for the Global Environment”, acara diikuti ratusan mahasiswa secara virtual (14/8).

Dalam paparannya, para pemateri menyoroti peningkatan kasus Covid-19 di berbagai negara yang pada akhirnya menimbulkan kekhawatiran baru, khususnya terkait pengelolaan limbah medis. Dalam paparan Erman, dijelaskan bahwa limbah medis yang dihasilkan oleh rumah sakit antara 0,75-3 kg limbah infeksius per hari. Sekitar 90 persen dari limbah medis ini dibuang bersamaan dengan limbah umum yang pada akhirnya bermuara di tempat pembuangan sampah dan juga sungai. Hal ini meningkatkan risiko masyarakat untuk kontak langsung dengan limbah medis.

Karena itu, untuk menjaga dan menurunkan risiko masyarakat melakukan kontak langsung dengan limbah berbahaya, ada baiknya dilakukan pengolahan sebelum dibuang. Apalagi limbah medis bisa saja mengandung mikroorganisme yang menginfeksi pasien rumah sakit, petugas kesehatan, dan masyarakat umum. Sayangnya, kesadaran terkait bahaya yang ditimbulkan oleh limbah medis terhadap lingkungan masih minim.

Sementara itu, menurut Demeiati Nur Kusumaningrum, limbah medis merupakan isu yang telah lama menjadi perhatian banyak masyarakat. Limbah medis telah menjadi intermestic issue dan intermestic policy issue.  Pada tingkat isu, banyak masyarakat yang telah menaruh perhatian sejak lama. Pemerintah di setiap negara pun telah membuat peraturan dan institusi yang berwenang dalam menegakkan kebijakan tata kelola sampah medis. “Namun, isu ini mendapat perhatian lebih akhir-akhir ini bersamaan dengan tingginya kasus Covid-19 di berbagai negara. Meningkatnya upaya masyarakat dalam membentengi diri agar terhindar dari penyebaran Covid-19 membuat produksi limbah medis seperti masker menjadi meningkat. Begitu juga limbah medis yang berasal dari rumah sakit dan apotek,” jelasnya.

Adapun dalam konteks kebijakan, Indonesia telah menerbitkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Berdasarkan hal tersebut, masyarakat dan instansi diwajibkan untuk mengelola limbah yang dihasilkan, baik itu limbah rumah tangga maupun limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang biasanya dihasilkan oleh rumah sakit, perusahaan tambang, perusahaan tekstil, dan lainnya.

Terakhir, penanganan permasalahan limbah medis ini membutuhkan respons beragam aktor, seperti media, LSM, aktivis global, komunitas akademisi, dan lainnya. Aktor-aktor tersebut memegang peran penting untuk mendorong perhatian pemerintah dan masyarakat umum terhadap masalah limbah medis melalui publikasi riset, komunikasi digital, berita, dan gerakan sosial. (gfa/Himahi)

Shared: