Diskusi Intermestik: Mengkaji Dampak Invasi Rusia ke Ukraina Terhadap Indonesia

Sabtu, 16 Juli 2022 20:32 WIB   Program Studi Hubungan Internasional

Rusia resmi melancarkan operasi militer ke Ukraina pada tanggal 24 Februari 2022 melalui jalur darat dari empat arah. Invasi tersebut merupakan ujung dari konflik berkepanjangan yang terjadi antara Rusia dan Ukraina, diantaranya adalah aneksasi yang dilakukan Rusia atas wilayah Krimea yang merupakan wilayah yuridiksi Rusia. Dampak yang ditimbulkan dari invasi tersebut, salah satunya adalah suplai minyak dunia yang terbatas dan dirasakan oleh seluruh dunia, termasuk Indonesia akibat pemberlakuan sanksi embargo minyak dari Rusia oleh negara-negara Barat sebagai respon atas tindakan Rusia. Prodi HI UMM mengkaji dampak invasi Rusia ke Ukraina tersebut melalui Diskusi Intermestik bertajuk ‘Dampak Invasi Rusia ke Ukraina Terhadap Perekonomian Indonesia’ yang diselenggarakan secara daring, melalui platform zoom pada Kamis (14/06).

“Setelah invasi Rusia tanggal 24 itu, justru membuat kekhawatiran baru bahwa dunia bisa menghadapi ancaman krisis lagi bila dunia internasional tidak hati-hati dalam menyikapi krisis Ukraina-Rusia ini,” ujar Luqman Hqeem, narasumber pada diskusi kali ini yang juga seorang analis pasar GK Invest dalam pemaparannya.

Efek dari ermbargo minyak terhadap Rusia oleh negara-negara Barat berpengaruh pada kenaikan harga minyak dunia, yang kemudian merembet ke kondisi ekonomi Indonesia yang juga merupakan salah satu konsumen minyak dari Rusia. Namun di sisi lain, kenaikan produk tambang Rusia justru menguntungkan Indonesia sebagai salah satu produsen nikel dunia. Di mana melalui hal ini, diperkirakan akan membuat Indonesia dapat mengambil peranan yang lebih penting dalam aktvitas ekspornya. Sehingga melalui nikel, Indonesia mendapat berkah dengan kenaikan pendapatan yang signifikan.

Tidak hanya pada minyak dan bahan tambang, gandum yang juga merupakan komoditi unggulan Rusia mengalami kenaikan harga dan berdampak pada suplai gandum dunia. Di Indonesia, beberapa produsen roti berbahan dasar gandum menaikkan harga jualnya di pasaran. Mie instan yang juga berbahan dasar gandum, dan merupakan salah satu produk vital masyarakat Indonesia pun mengalami kenaikan harga selama satu semester belakang.

“Sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan kalua kita melihat invasi yang terjadi bulan Januari, tentu akan berdampak pada pengiriman gandung beberapa bulan kemudian,” jelas Luqman.

Efek domino dari invasi yang kemudian juga salah satunya membuat nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar turun, tentu menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi Pemerintah Indonesia. Pelemahan rupiah terhadap dolar terutama sangat berdampak pada harga minyak nasional.

“Lebih lanjut, permasalahan ekonomi yang demikian ini tentu akan menimbulkan berbagai macam termasuk permasalahan sosial politik ke depannya ,” tambahnya. (Ind)

Shared: