Bagai Diplomat Ulung, Mahasiswa HI UMM Perang Gagasan di Praktikum Model United Nations

Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang kembali mengadakan praktikum Model United Nations (MUN) untuk mata kuliah Organisasi Internasional. Praktikum yang berlangsung di Ballroom Rayz Hotel UMM pada Minggu (30/6) ini merupakan sarana yang diberikan oleh Prodi HI UMM agar para mahasiswa dapat merasakan bagaimana menjadi seorang diplomat sesungguhnya di persidangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dengan mengusung tema Accountability for Human Rights Violations and War Crimes in the Middle East Conflict Zones, para mahasiswa berperan sebagai delegasi dari 43 negara yang mengikuti konferensi di bawah naungan United Nations Human Rights Council (UNHRC). Nantinya, mahasiswa akan saling adu argumen untuk merumuskan resolusi konflik atas krisis kemanusiaan di wilayah Timur Tengah. Indriani Sarbela Yahya, salah seorang mahasiswi yang menjadi delegasi negara Italia, bahwa para peserta telah mempersiapkan diri mereka sejak bulan April. Dengan dipandu oleh panitia, para peserta mengerjakan tugas-tugas seperti general speakers’ list, position paper, dan motion list. “Sebelum, hari-h itu rasanya nervous, tegang gitu. Waktu hari-h malah rasanya seru banget,” ungkap mahasiswi yang kerap disapa Bela tersebut. Sementara itu, terdapat kategorisasi pemenang dalam konferensi ini, antara lain: best costume yang dimenangkan oleh delegasi dari Tiongkok, best position paper yang dimenangkan oleh Suriah, dan best delegates yang dimenangkan oleh Iran. Zuhair Baheramsyah, salah perwakilan dari Iran mengaku bahwa jalannya konferensi berlangsung sangat seru. “Kelompok kami bersaing dengan kelompok lain yang merupakan negara-negara dengan power yang kuat, seperti Amerika Serikat, Israel, dan Inggris. Tapi, kami masih bisa memenangkan konferensi ini dengan draft resolution yangg telah kami susun,” urai Zuhair. (fal/han)
Perkuat Keterampilan Diplomasi, Prodi HI UMM Adakan Praktikum Press Conference

Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan praktikum Press Conference untuk mata kuliah Media Global dan Public Relations (MGPR). Kegiatan yang berlangsung di Working Space My Dormy Hostel UMM pada Kamis (20/6) ini bertujuan untuk mengasah keterampilan public speaking mahasiswa sebagai perwakilan dari instansi pemerintah dan/atau organisasi internasional. Dalam praktikum yang diikuti oleh 166 mahasiswa ini, para mahasiswa memainkan peran sebagai presiden, pimpinan organisasi internasional, juru bicara dan wartawan dari berbagai media internasional. Para mahasiswa nantinya akan mendebatkan isu-isu seperti konflik Rusia-Ukraina, konflik Laut Tiongkok Selatan, sengketa ekspor nikel Indonesia, dan krisis imigran di Eropa. M. Syahaddad Ridho, salah satu peserta praktikum, mengungkapkan bahwa ia merasa sangat antusias dalam mengikuti praktikum ini. “Acaranya seru. Saya pribadi sangat menikmati keributan saat berdebat karena memacu adrenalin,” ungkap Ridho. Selain Ridho, mahasiswa lain juga turut mengungkapkan antusiasmenya dalam praktikum Press Conference ini. M. Abimanyu Satrio Pamungkas, mahasiswa semester 6, menyatakan bahwa praktikum ini sangat bermanfaat untuk menunjang keterampilan berpikir kritis sekaligus mempersiapkan diri jika nanti bekerja di bagian hubungan masyarakat. “Di praktikum ini ‘kan kami simulasi menjadi perwakilan dari negara, organisasi internasional, dan media, jadi kami bisa memperoleh pandangan tentang bagaimana kita harus menyikapi berbagai pihak dalam konferensi pers,” urai Abimanyu. Praktikum Press Conference yang diselenggarakan oleh Program Studi Hubungan Internasional UMM ini merupakan sebuah langkah positif dalam mempersiapkan mahasiswa untuk menghadapi tantangan di dunia kerja yang sesungguhnya. Praktikum ini merupakan ujian akhir dari mata kuliah MGPR yang diampu oleh dua dosen HI UMM, yaitu Hamdan Nafiatur Rosyida dan Muhammad Subhan Setowara. Dengan mensimulasikan situasi nyata dan mendebatkan isu-isu internasional yang aktual, mahasiswa dapat mengasah keterampilan komunikasi, berpikir kritis, dan kemampuan untuk menyampaikan argumen secara meyakinkan. Inisiatif seperti ini diharapkan dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan kualitas lulusan serta mencetak calon-calon diplomat dan pejabat pemerintah yang handal di masa depan. (fal/han)
Dari Malang ke Makassar, Himpunan Mahasiswa HI UMM Torehkan Prestasi di Kompetisi Sinematografi Nasional

Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghiasi pertengahan tahun 2024 dengan prestasi yang membanggakan. Dalam Pertemuan Sela Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PSNMHII) XXXVI di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, perwakilan dari HIMAHI UMM berhasil meraih Juara 3 Cinematography Short Recap (CISR). Ihsanul Abyaz Deni (Abyaz) dan Muhammad Naufal Ramadhan (Madan) merupakan dua orang di balik ciamiknya video sinematik yang diperlombakan. Konten video sinematik tersebut merupakan rekapan perjalanan perwakilan HIMAHI UMM dari keberangkatan hingga mengikuti prosesi kegiatan. Pada acara yang diselenggarakan dari tanggal 19 Mei 2024 hingga 23 Mei 2024 ini, mahasiswa HI dari berbagai universitas di Indonesia berkesempatan untuk memperluas relasinya hingga seluruh penjuru negeri. Meskipun demikian, Abyaz dan Madan mengungkapkan bahwa mereka tidak merasa tertekan ketika harus bersaing dengan universitas-universitas lain dari berbagai provinsi di Indonesia. “Kami justru merasa enjoy dan tidak merasakan adanya pressure ketika mengikuti ajang ini. Kami hanya berusaha untuk mengupayakan yang terbaik demi prodi dan universitas,” ungkap Madan. Selama proses pengerjaan, terdapat cerita unik dari perwakilan HIMAHI UMM, yaitu ketika mereka tidak membawa uang tunai untuk membeli jajanan selama di atas kapal. Meskipun demikian, kondisi tersebut tidak memengaruhi proses pengerjaan video yang akan dilombakan. Melalui prestasi yang ditorehkan, Madan dan Abyaz membuktikan bahwa mahasiswa HI tidak hanya bisa berprestasi di ranah akademik, melainkan juga di bidang nonakademik. Prestasi ini juga menjadi sebuah respons dari mahasiswa HI terhadap percepatan industri kreatif yang kini semakin demanding. (fal/han)
Kelas Kawasan HI UMM: Soroti Percepatan Industri, Dosen Macquarie University Ajak Tiru Langkah Korea Selatan

Korea Selatan telah mencapai kemandirian industri yang signifikan, ditandai dengan laju industrialisasi yang pesat. Kemajuan tersebut tidak hanya membawa keuntungan bagi Korea Selatan, melainkan juga menimbulkan tantangan baru yang harus dihadapi oleh Korea Selatan. Demikian pengantar yang disampaikan oleh Assoc. Prof. Sung-Young Kim, seorang ahli studi Hubungan Internasional dari Macquarie University, Australia, dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Dalam kelas yang bertajuk “The Economic Development of South Korea Past to the Present” ini, Sung-Young Kim mengungkapkan bahwa terdapat banyak sekali strategi yang harus dipersiapkan bagi negara-negara berkembang, terutama Indonesia, untuk menjadi negara dengan industri maju dan mandiri seperti Korea Selatan. “Korea Selatan telah melalui perjalanan industri yang dinamis; dari imitasi menuju inovasi, dari ketergantungan menuju kemandirian. Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan strategi kunci yang harus diprioritaskan oleh negara,” ungkap Kim. Kim juga menjelaskan bahwa setelah mencapai kemajuan industrialisasi, Korea Selatan turut mengalami stagnasi ekonomi layaknya negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) lainnya. Konflik geopolitik dan isu gender menjadi dua aspek yang sedang dihadapi oleh Korea Selatan. “Tantangan-tantangan seperti memanasnya geopolitik Amerika Serikat dan Tiongkok tentu juga akan dihadapi oleh negara-negara berkembang. Meningkatnya kualitas sumber daya manusia juga akan berdampak pada daya kritis masyarakat, terlebih tentang isu gender yang kini kian populer,” urai Kim. Langkah-langkah Pemerintah Korea Selatan dalam menghadapi laju industrialisasi dapat menjadi contoh bagi Indonesia yang sedang meningkatkan investasi dan industrialisasi. “Perlu dicatat bahwa dalam fenomena ‘Keajaiban Ekonomi’ atau ‘Economic Miracle’ di Korea Selatan, negara merupakan aktor kunci dalam melakukan perubahan. Oleh karena itu, negara harus menjadi lebih proaktif dalam mengupayakan industrialisasi demi kemajuan negeri,” pungkas Kim mengakhiri. (fal/han)
Perluas Wawasan Mahasiswa HI UMM, Dosen Macquarie University Australia Paparkan Laju Industri Teknologi Korea Selatan

Roda industri Korea Selatan dikuasai oleh industri teknologi seperti Samsung dan Hyundai. Pemerintah Korea Selatan melaju dari prinsip imitasi menuju inovasi. Transformasi ini didorong oleh investasi besar-besaran dalam penelitian dan pengembangan, pendidikan berkualitas tinggi, serta kolaborasi erat antara sektor publik dan swasta. Hasilnya, Korea Selatan kini menjadi salah satu pusat inovasi teknologi terkemuka di dunia, dengan produk-produk yang mendunia dan diakui kualitasnya. Demikian pengantar yang disampaikan oleh Assoc. Prof. Sung-Young Kim, seorang ahli studi Hubungan Internasional dari Macquarie University, Australia, dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Dalam kelas yang bertajuk “The Economic Development of South Korea Past to the Present” ini, Sung-Young Kim menguraikan bahwa Korea Selatan telah mengalami transformasi industri yang panjang. “Pemerintah Korea Selatan mengejar laju era industri melalui transformasi ekonomi yang semula memegang prinsip imitasi atau meniru, menjadi mengembangkan inovasi dalam dunia teknologi,” ungkap Kim. Menindaklanjuti percepatan industri, Korea Selatan juga meningkatkan laju ekonomi melalui investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI). Sebagai contoh, Samsung membuka pabrik di Vietnam untuk memperluas ekspansi bisnisnya. “Hal ini dilakukan untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan daya saing produk Korea Selatan di pasar global. Selain itu, investasi asing langsung juga membantu Korea Selatan dalam memperoleh teknologi dan pengetahuan baru dari negara lain,” jelas Kim. Selain itu, Kim juga menyoroti peran penting pendidikan dan sumber daya manusia dalam kemajuan industrialisasi Korea Selatan. “Pemerintah Korea Selatan sangat memperhatikan kualitas pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Hal ini terbukti dari tingginya tingkat literasi dan banyaknya lulusan perguruan tinggi di Korea Selatan. Selain itu, pemerintah juga memberikan dukungan finansial bagi para pelajar dan mahasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri,” papar Kim. Tidak hanya itu, Kim juga membahas tantangan yang dihadapi Korea Selatan dalam mempertahankan pertumbuhan ekonominya. Pertarungan ekonomi dengan Tiongkok menjadi rintangan penting yang kini dihadapi oleh Korea Selatan. Akan tetapi, Kim merasa optimis bahwa Korea Selatan mampu melewati rintangan tersebut. “Korea Selatan memiliki potensi yang besar untuk terus berkembang dan menjadi negara yang lebih maju. Dengan inovasi teknologi, investasi asing langsung, dan sumber daya manusia yang berkualitas, Korea Selatan akan mampu menghadapi tantangan global dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkas Kim. (fal/han)
Prof. Mi Yung Park Paparkan Potensi Integrasi Kebahasaan Korea Pada Mahasiswa HI UMM

Bahasa Korea, sebagai bahasa nasional yang digunakan di Korea Utara dan Selatan, memiliki peran penting dalam membangun ulang identitas dan peleburan budaya antara kedua negara yang telah terpisah oleh sekat-sekat politik negara. Meskipun terdapat perbedaan dialek dan kosakata, bahasa Korea menjadi jembatan penghubung yang memperkuat rasa persatuan dan identitas bersama sebagai bangsa Korea. Pengantar tersebut disampaikan oleh Prof. Mi Yung Park, seorang pakar kebahasaan dan kebudayaan Korea dari University of Auckland, dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Dalam kelas yang bertemakan “Linguistic Diversity and Discrimination in South Korea” ini, Prof. Mi Yung Park mengungkapkan bahwa bahasa dapat menjadi medium yang menjembatani Korea Selatan dan Korea Utara. “Berdasarkan pengalaman saya, orang-orang yang berasal dari Korea Utara tidak mau mengaku secara terang-terangan mengenai identitas asli mereka dalam kelas ataupun proyek penelitian. Mereka cenderung berusaha melebur dengan kelompok tanpa memandang latar belakang identitas masing-masing,” ungkap Prof. Mi Yung Park. Prof. Mi Yung Park menekankan bahwa fenomena ini tidak lepas dari adanya diskriminasi yang masih dialami oleh masyarakat Korea Utara di Korea Selatan. Diskriminasi ini dapat berwujud dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesempatan kerja, pendidikan, hingga penerimaan sosial. “Pengalaman diskriminasi ini mendorong individu dari Korea Utara untuk menyembunyikan identitas mereka. Mereka berusaha untuk beradaptasi dengan budaya Korea Selatan dan menghindari stereotip negatif yang sering dikaitkan dengan warga Korea Utara,” jelas Prof. Mi Yung Park. Akan tetapi, di sisi lain, bahasa Korea juga dapat menjadi alat untuk mengatasi diskriminasi dan membangun pemahaman yang lebih baik antara kedua masyarakat. Melalui interaksi dan komunikasi yang lebih intensif, stereotip dan stigmatisasi dapat dikurangi, membuka jalan bagi rekonsiliasi dan integrasi yang lebih harmonis. “Bahasa Korea memiliki potensi untuk menjadi titik temu antara Korea Selatan dan Korea Utara. Dengan memahami bahasa dan budaya satu sama lain, kita dapat membangun jembatan pemahaman dan menciptakan masyarakat yang lebih inklusif,” tutup Prof. Mi Yung Park. (fal/han)
Kelas Kajian Kawasan HI UMM, Pakar Bahasa Korea Prof. Mi Yung Park Ungkap Marginalisasi Linguistik Korea Utara

Sekat yang membatasi Korea Selatan dan Korea Utara tidak hanya batas teritorial dan politik saja. Bahasa pun juga menjadi sekat pemisah yang krusial bagi dua negara yang kini sedang bersitegang ini. Pergeseran linguistik yang terjadi selama beberapa dekade terakhir, terutama setelah Perang Korea, telah menciptakan perbedaan yang signifikan dalam kosakata, pengucapan, dan bahkan struktur kalimat antara kedua bahasa Korea. Pengantar tersebut disampaikan oleh Prof. Mi Yung Park, seorang pakar kebahasaan dan kebudayaan Korea dari University of Auckland, dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Dalam kelas yang bertemakan “Linguistic Diversity and Discrimination in South Korea” ini, Prof. Mi Yung Park mengungkapkan bahwa terdapat marginalisasi dan ketidakamanan bahasa di Korea. “Terdapat perbedaan sikap yang cukup signifikan dari penutur bahasa Korea Utara jika dibandingkan dengan penutur bahasa Korea Selatan. Mereka merasa termarginalisasi akibat aksen yang digunakan, sehingga berujung pada rasa tidak nyaman, malu, atau bahkan teralienasi,” ungkap Prof. Mi Yung Park. Prof. Mi Yung Park juga mengungkapkan bahwa kondisi tersebut turut memengaruhi ranah akademik mahasiswa yang berasal dari Korea Utara. “Perasaan terpinggirkan dan kurang percaya diri dalam menggunakan bahasa asli mereka dapat menghambat partisipasi akademik mereka, antara lain: diskusi, presentasi, dan kegiatan akademik lainnya,” urai Prof. Mi Yung Park. Berdasarkan pengalamannya sebagai seorang dosen dan peneliti, Prof. Mi Yung Park melihat bahwa para mahasiswa yang berasal dari Korea Utara tidak berpasrah diri dengan keadaan. Mereka justru memanfaatkan kondisi demikian sebagai sebuah kelebihan dalam penelitian tentang Korea Utara. “Dalam sebuah kelompok penelitian tentang Korea Utara, mereka—mahasiswa asal Korea Utara—mampu memberikan informasi yang bahkan tidak ada dalam literatur. Hal tersebut tentu sangat membantu anggota kelompoknya,” ujar Prof. Mi Yung Park mengakhiri. (fal/han)
Pakar University of Auckland Dr. Hee-seung Lee Uraikan Transformasi Tren Drakor Pada Mahasiswa HI UMM

Serial drama Korea telah mengalami lonjakan popularitas yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Dengan cerita yang menarik, akting yang memukau, dan produksi berkualitas tinggi, serial-serial ini telah melampaui batas negara dan menarik penonton dari seluruh dunia. Keaslian budaya Korea dan sentuhan modern yang dipadukan dengan cara yang unik telah membuat penikmat drama barat pun tertarik untuk menikmatinya. Demikian pengantar yang disampaikan oleh Dr. Hee-seung Lee, seorang pakar kebudayaan Asia dari University of Auckland, dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Dalam kelas yang bertajuk “K-Drama on Global Platforms”, Dr. Irene mengungkapkan tren yang menjadi ciri khas serial drama Korea dalam era globalisasi dan modernisasi. Dr. Irene mengungkapkan bahwa terdapat dua kategori tren dalam alur perjalanan serial drama Korea, yaitu conservative dan progressive. “Di skema konservatif, skenario dibuat untuk menggambarkan kehidupan antara ‘si kaya’ dan ‘si miskin’. Aliran ini juga melihat bahwa pernikahan merupakan klimaks serial drama. Sementara itu, skema progresif melihat adanya sexual liberation dan individualisme dalam mengejar kebahagiaan hidup,” urai Dr. Irene. Kedua tren yang dijabarkan Dr. Irene mencerminkan dinamika yang terjadi dalam masyarakat Korea yang tengah mengalami transformasi sosial yang cepat. Di satu sisi, ada upaya untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional seperti hierarki, peran gender, dan lembaga pernikahan. Di sisi lain, terdapat gerakan yang mendorong kebebasan individu, kesetaraan gender, dan pandangan baru mengenai kebahagiaan. Meski keduanya hadir berdampingan, Dr. Irene melihat tren progresif semakin mendominasi dengan meningkatnya kesadaran akan kesetaraan dan kebebasan individu, terutama di kalangan anak muda Korea. Hal ini turut mendongkrak minat penonton global yang seiring dengan nilai-nilai tersebut. “Drama Korea memang kerap mengusung kontroversi dan kritik sosial dengan cara yang menghibur. Inilah yang menjadikannya diminati secara luas di berbagai belahan dunia,” pungkas Dr. Irene menutup paparannya. (fal/han)
Di HI UMM, Pakar University of Auckland Dr. Hee-seung Lee Ungkap Strategi Drakor Rajai Dunia Hiburan

Korea Selatan telah berhasil menyebarluaskan pengaruh budayanya di seluruh dunia melalui upaya diplomasi budaya. Salah satu strategi diplomasi budaya yang efektif dilakukan oleh negara ini adalah melalui sektor industri hiburannya. Secara tidak disangka, industri hiburan Korea Selatan telah berhasil merebut hati dan memikat para penikmat hiburan di seluruh dunia, terutama melalui produk-produk seperti musik K-Pop dan serial drama televisi (K-Drama) yang sangat populer. Demikian pengantar yang disampaikan oleh Dr. Hee-seung Lee, seorang pakar kebudayaan Asia dari University of Auckland, dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Dalam kelas yang bertajuk “K-Drama on Global Platforms”, Dr. Irene menguraikan bahwa kesuksesan Korea Selatan dalam industri hiburan disokong penuh oleh instrumen-instrumen yang tersedia di Korea Selatan. “Di Korea Selatan, setiap idol, aktor, dan aktris telah dipersiapkan sejak dini terkait dengan dunia hiburan yang akan mereka hadapi ke depannya,” terang Dr. Irene. Sistem pelatihan yang ketat dan komprehensif ini memungkinkan para talenta Korea Selatan untuk memiliki keterampilan yang dibutuhkan dalam industri hiburan yang kompetitif. Mulai dari pelatihan vokal, menari, berakting, hingga penampilan panggung, semuanya dipersiapkan dengan matang. Tidak hanya itu, mereka juga dibekali dengan pemahaman tentang cara berinteraksi dengan penggemar dan menjaga citra diri yang positif di tengah sorotan publik. “Kesuksesan Korea Selatan dalam mempromosikan budayanya melalui diplomasi hiburan ini menjadi teladan bagi negara-negara lain dalam memanfaatkan soft power untuk meningkatkan pengaruh dan citra mereka di panggung internasional. Dengan terus berinovasi dan mempertahankan kualitas, Korea Selatan berpotensi untuk mempertahankan posisinya sebagai kiblat hiburan dunia dalam waktu yang akan datang,” pungkas Dr. Irene mengakhiri. (fal/han)
Dosen Prodi HI UMM Uraikan Kolaborasi Investasi Indonesia-Korsel Kepada Mahasiswa HI UMM

Kerjasama antara Indonesia dan Korea Selatan menjadi bukti bahwa negara saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya atau bersifat interdependen. Jumlah ekspor dan impor yang seimbang merupakan indikator kerjasama interdependen yang baik. Demikian penjelasan Havidz Ageng Prakoso, MA yang disampaikan dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Dalam kelas yang bertajuk “Indonesia-Republic of Korea in Economic Cooperations”, Ageng menjelaskan bahwa kerjasama Indonesia dengan Korea Selatan merupakan bentuk simbiosis mutualisme di berbagai aspek. “Kerjasama Indonesia dengan Korea Selatan itu meliputi perdagangan, investasi, kemitraan industri, strategic partnership, dan teknologi. Tentu saja hal ini akan sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak,” urai Ageng. Ageng menambahkan bahwa kerjasama ekonomi antara Indonesia dan Korea Selatan memiliki potensi yang besar untuk terus berkembang. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar dan kelas menengah yang terus tumbuh, pasar konsumen dalam negeri menjanjikan peluang bagi produk-produk asal Korea Selatan. Di sisi lain, Indonesia kaya akan sumber daya alam yang dibutuhkan oleh industri Korea Selatan, seperti nikel mentah. “Kedua negara saling melengkapi dalam hal kebutuhan ekonomi. Indonesia membutuhkan investasi dan transfer teknologi, sementara Korea Selatan membutuhkan pasokan bahan baku dan akses ke pasar konsumen yang besar,” jelas Ageng. Selain itu, Ageng menyoroti pentingnya memperkuat kerja sama di bidang penelitian dan pengembangan. Kolaborasi antara akademisi, peneliti, dan industri dari kedua negara dapat mendorong inovasi dan menciptakan terobosan baru dalam berbagai sektor strategis. “Kemitraan dalam riset dan pengembangan teknologi akan membantu kedua negara meningkatkan daya saing global dan menghadapi tantangan-tantangan masa depan seperti perubahan iklim, energi terbarukan, dan ekonomi digital,” ujar Ageng mengakhiri. (fal/han)