
Malang, 20 Mei 2026 — Di balik gemerlap kemajuan ekonomi dan industri hiburannya, Korea Selatan rupanya tengah menghadapi krisis struktural yang kian mengkhawatirkan.
Isu krusial mengenai melebarnya jurang ketimpangan di negara tersebut dibedah secara kritis oleh Shannaz Mutiara Deniar, Dosen Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melalui analisis film dokumenter bertajuk “How South Korea’s Income Gap Became Wider Than Ever”.
Fokus utama pemaparan Shannaz menyoroti bagaimana ketimpangan pendapatan di Korea Selatan berbanding lurus dengan kesenjangan pendidikan. Sistem pendidikan yang sangat kompetitif memicu terjadinya semacam “perlombaan senjata” melalui lembaga bimbingan belajar swasta atau hagwon.
Hal ini memunculkan perdebatan terkait ilusi meritokrasi versus pewarisan kekayaan. Shannaz mengajak mahasiswa mempertanyakan apakah sistem pendidikan yang mengandalkan tes masuk universitas (Suneung) benar-benar meritokratis, mengingat tingginya nilai ujian sangat dipengaruhi oleh seberapa besar uang yang bisa dihabiskan keluarga untuk membiayai tutor swasta.
Selain persoalan pendidikan, kelas kajian ini juga menyoroti pasar tenaga kerja yang terbelah ke dalam sistem ganda. Terdapat jurang yang masif antara pekerjaan korporat bergengsi di bawah naungan chaebol (konglomerasi raksasa) dan pekerjaan kontrak yang tidak stabil dengan upah jauh lebih kecil. Di saat yang sama, harga perumahan yang meroket tajam di Seoul turut menciptakan jurang kekayaan yang sangat sulit dijembatani.
Akumulasi dari kecemasan ekonomi dan iklim hiper-kapitalisme ini bermuara pada keruntuhan demografis. Besarnya biaya untuk membesarkan anak di lingkungan yang hiper-kompetitif menjadikan Korea Selatan sebagai negara dengan krisis demografi yang sangat parah. Diskusi ini menyimpulkan bahwa insentif finansial (seperti bonus melahirkan) tidak akan efektif mengatasi krisis kesuburan jika akar masalah berupa budaya sosial yang sangat kompetitif tidak dibenahi.
Melalui kajian ini, fenomena di Korea Selatan dipandang memiliki relevansi global. Krisis real estat, burnout di kalangan pelajar, hingga ketergantungan pada gig economy menjadi bahan refleksi penting. Evaluasi akhir dari diskusi ini meninggalkan satu pertanyaan besar: apakah Korea Selatan adalah sebuah anomali, ataukah negara tersebut hanya sedang menunjukkan masa depan yang akan segera dihadapi oleh negara-negara maju lainnya? (fal)