
Malang, 20 Mei 2026 — Di balik citra tertutup yang sering ditampilkan media, Korea Utara menyimpan dinamika sosial-ekonomi yang kompleks dan kerap disalahpahami oleh masyarakat internasional.
Pemahaman yang reduktif dan penuh stereotip tentang negara berjuluk “Hermit Kingdom” ini sering kali mengaburkan logika strategis rezim dan realitas kehidupan warganya.
Fenomena ini dikupas secara komprehensif oleh Viola Freddi dari Faculty of Arts & Education, University of Auckland, dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Dalam paparannya, Viola menyoroti kesenjangan antara mitos dan realitas terkait kemandirian Korea Utara. Meskipun ideologi Juche menekankan kemandirian nasional secara mutlak dan meminimalisir ketergantungan asing , pada kenyataannya ekonomi mereka sangat bergantung pada dukungan eksternal, terutama perdagangan dengan Tiongkok.
Viola juga menjelaskan bagaimana kelaparan parah atau “Arduous March” pada era 1990-an memicu kemunculan pasar informal yang dikenal sebagai jangmadang. “Korea Utara telah mengalami proses pasarisme dari bawah, melalui pengembangan ekonomi kapitalis informal untuk melawan runtuhnya sistem distribusi publik,” jelasnya, menepis anggapan bahwa negara tersebut murni berhasil mengandalkan ekonomi terpusat.
Terkait akses informasi, Viola mematahkan mitos bahwa warga Korea Utara sepenuhnya terisolasi dan “dicuci otaknya” secara seragam. Berkat masuknya Hallyu (gelombang budaya pop Korea Selatan) melalui jaringan informal seperti USB, DVD, dan radio yang diselundupkan, banyak warga mulai terpapar gaya hidup serta narasi alternatif dari luar.
Menanggapi dinamika geopolitik terkini, Viola mencatat adanya pergeseran sikap terkait masa depan Semenanjung Korea. Jika secara historis Korea Utara agresif mengejar unifikasi, di bawah kepemimpinan Kim Jong Un saat ini hal tersebut tampaknya bukan lagi prioritas. Sikap ini ditunjukkan lewat tindakan simbolis seperti pembongkaran monumen unifikasi. Di sisi lain, generasi muda Korea Selatan juga menunjukkan penurunan antusiasme terhadap gagasan penyatuan tersebut akibat kekhawatiran ekonomi dan keamanan.
Melalui kelas tamu yang interaktif ini, Viola berpesan agar mahasiswa dapat mengevaluasi sumber informasi tentang Korea Utara secara kritis, mengingat informasi yang ada sering kali sangat terpolitisasi. Pemahaman yang bernuansa dan kemampuan untuk membongkar narasi “irasionalitas” dinilai sangat penting untuk mendukung analisis kebijakan luar negeri yang lebih efektif. (fal)