
Malang (1/12/22) – Sejak masa Perang Dingin, Asia Tenggara selalu menjadi medan perebutan pengaruh antar negara. Sebagai salah satu negara maju di kawasan Asia, Jepang tentunya juga mempunyai kepentingan di Asia Tenggara. Hal ini yang pada gilirannya mengarahkan Jepang untuk turut berupaya dalam ‘mendesain’ Asia Tenggara. Pertanyaan dasar yang kemudian muncul ialah apa sesungguhnya yang menjadi kepentingan Jepang di Asia Tenggara.
Guna menjawab pertanyaan tersebut, Centre for East Asia Studies (CEAS) Laboratorium HI UMM menyelenggarakan Diskusi Bulanan pada Kamis, 1 Desember 2022. Kegiatan yang dilakukan secara daring dan diikuti oleh 100 peserta tersebut mengadirkan Dr. Susy Ong, B.A, M.A, D.Sc selaku dosen senior dari Universitas Indonesia, sekaligus pakar studi kawasan Jepang. Selain itu, kegiatan Diskusi Bulanan CEAS ini tidak hanya dihadiri oleh para mahasiswa maupun dosen-dosen Prodi HI UMM. Tetapi juga diikuti akademisi dari kampus-kampus lain diluar UMM.
Di awal paparannya, Susy Ong menyampaikan mengenai awal mula pendefinisan Asia Tenggara. Selanjutnya dosen yang memiliki fokus riset tentang Jepang tersebut memaparkan mengenai kolonialisme Jepang di Asia Tenggara. Menurutnya apa yang dilakukan oleh Jepang tidak bisa dilepaskan dari upayanya dalam mempertahankan diri selama berlangsungnya Perang Dunia II. Setelah berakhirnya Perag Dunia II, Jepang memilih untuk menanggalkan pendekatan militeristik dalam politik luar negerinya. Di kawasan Asia Tenggara, Jepang lebih banyak menggunakan instrumen bantuan luar negeri serta penerapan diplomasi budaya, alih-alih diplomasi koersif.
Sementara itu, dalam kaitannya dengan persaingan antar negara di Abad ke-21 yang diwarnai oleh berbagai manuver konektivitas China di Asia Tenggara, Susy Ong menyampaikan bahwa Jepang tidak mau turut mencampuri apa yang dilakukan oleh China tersebut. Sejauh program Belt Road and Initiative yang dijalankan oleh China tidak mengganggu kepentingan Jepang, khususnya di Asia Tenggara. Pada akhir forum, Susy Ong secara umum menjelaskan bahwa terdapat beberapa kepentingan Jepang di Asia Tenggara, seperti kepentingan ekonomi dan politik. “Perwujudan upaya Jepang untuk mencapai kepentingannya tersebut bisa dilihat dari ekspansi bisnis Jepang di Asia Tenggara, hingga pendirian berbagai pusat penelitian mengenai negara-negara Asia Tenggara”, ungkap dosen yang juga mengajar di School of Strategic and Global Studies UI tersebut.
Antusiasme yang luar biasa ditunjukkan oleh para peserta kegiatan Guest Lecture Forum CEAS Laboratorium HI UMM. Hal ini tampak pada saat berlangsungnya sesi tanya jawab. Secara keseluruhan terdapat lebih dari 6 peserta yang mengajukan argumen hingga pertanyaan yang ditujukan kepada pembicara. Bahkan Indri Marlindasari selaku Koordinator CEAS yang menjadi moderator acara, mesti beberapa kali mengingatkan durasi waktu pada saat sesi tanya jawab mengingat banyaknya peserta yang hendak bertanya kepada pemateri.
Pada kesempatan yang sama, Hafid Adim Pradana, M.A, selaku Kepala Laboratorium HI UMM tutut memberikan apresiasi positif atas terselenggaranya kegiatan Diskusi Bulanan CEAS Laboratorium HI UMM. Menurutnya, kegiatan serupa perlu untuk dilakukan secara rutin guna menjaga dan mengembangkan kultur akademis di Prodi HI UMM. “Harapan saya, untuk kedepannya setiap Komunitas Kajian yang bernaung di bawah Laboratorium HI UMM bisa menyelenggarakan kegiatan serupa. Dan tentunya, akan lebih baik jika yang menjadi pembicara adalah mahasiswa HI UMM yang aktif di Komunitas Kajian.” Pungkas dosen yang memiliki peminatan riset pada politik internasional tersebut. (yoga)