Laboratorium HI UMM Bedah Batas Foreign Policy Analysis dalam Kajian Hubungan Internasional

  Malang, 23 Juli 2026 – Apakah setiap kajian Hubungan Internasional (HI) selalu berbicara tentang kebijakan luar negeri? Pertanyaan inilah yang menjadi pembuka sekaligus pemantik diskusi dalam Lecture Sharing Discussion bertajuk “Memahami Global dan Internasional dalam Keilmuan Hubungan Internasional” yang diselenggarakan oleh Laboratorium Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Forum ini merupakan agenda kajian bulanan yang mempertemukan dosen untuk mengkritisi sekaligus memperkuat metodologi penelitian, mulai dari pendekatan klasik hingga kontemporer dalam studi HI. Sebagai narasumber, Victory Pradhitama, M.Si. mengajak peserta untuk meninjau kembali batas-batas Foreign Policy Analysis (FPA). Menurutnya, FPA memang berfokus pada proses pembentukan kebijakan luar negeri, tetapi tidak semua penelitian dalam Hubungan Internasional dapat dimasukkan ke dalam kategori tersebut. Penentunya terletak pada unit analisis, aktor, dan level analisis yang digunakan dalam penelitian. Victory kemudian mengajukan gagasan bahwa studi Hubungan Internasional tidak selalu identik dengan foreign policy,melainkan juga dapat dipahami sebagai foreign politics. Ia menegaskan bahwa state policy tidak selalu sama dengan state behavior, sehingga perilaku negara dalam sistem internasional tidak selalu dapat dijelaskan hanya melalui proses pembuatan kebijakan. Untuk memperjelas perbedaan tersebut, Victory mencontohkan kajian Board of Peace (BoP) yang dibentuk Donald Trump. Menurutnya, BoP bukan merupakan bagian dari Foreign Policy Analysis karena yang dianalisis bukan proses kebijakan suatu negara, melainkan dinamika distribusi kekuatan pada level super-system. Sebaliknya, penelitian mengenai Politik Luar Negeri Indonesia yang berlandaskan prinsip Bebas Aktif merupakan contoh yang tepat untuk dianalisis menggunakan perspektif FPA karena berfokus pada proses dan orientasi kebijakan negara. Kepala Laboratorium Hubungan Internasional UMM, Haryo Prasodjo, M.A., menyampaikan bahwa Lecture Sharing Discussion dirancang sebagai ruang akademik yang mendorong budaya diskusi kritis di kalangan dosen. Melalui forum ini, Laboratorium HI UMM berharap lahir penguatan metodologi penelitian, peningkatan kualitas pembelajaran, serta kontribusi yang lebih besar terhadap pengembangan studi Hubungan Internasional di tingkat nasional maupun global. (HNR)

Prodi HI UMM Kembangkan Silabus Mata Kuliah Politik Lingkungan dan Hukum Humaniter Internasional Berorientasi Dampak

Foto: Dosen HI beserta mahasiswa HI bersama Prof. Madya Dr. Jeong Chun Phuoc   Malang, 23 Juli 2026 – Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kegiatan Pengembangan Silabus Mata Kuliah Politik Lingkungan dan Hukum Humaniter Internasional sebagai upaya memperkuat kualitas pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan mahasiswa dan tantangan global. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Madya Dr. Jeong Chun Phuoc dari Fakulti Undang-Undang dan Hubungan Antarbangsa, Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia, sebagai narasumber. Kegiatan dibuka oleh Dekan FISIP UMM, Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kurikulum harus mengantarkan mahasiswa melalui tiga tahapan, yaitu mengetahui, memahami, dan berdampak.Menurutnya, capaian terbaik dari sebuah mata kuliah adalah ketika ilmu yang diperoleh mampu memberikan manfaat nyata dalam kehidupan mahasiswa. Ia juga menekankan pentingnya menciptakan suasana belajar yang membuat mahasiswa merasa at home di Prodi HI UMM. Hal tersebut sejalan dengan arahan Wakil Rektor I UMM bahwa setiap mata kuliah harus mampu memberikan dampak bagi mahasiswa. Sementara itu, Kepala Program Studi HI UMM, Hafid Adim Pradana, M.A., menjelaskan bahwa kurikulum yang berjalan saat ini telah disusun sesuai dengan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK). Pengembangan silabus dilakukan untuk semakin mengoptimalkan implementasi kurikulum tersebut. Dalam sesi diskusi, Prof. Jeong membagikan sejumlah strategi pembelajaran yang efektif. Ia menyoroti pentingnya dosen menyediakan materi utama dan pendukung agar mahasiswa lebih siap mengikuti perkuliahan. Selain itu, kesenjangan pengetahuan antara dosen dan mahasiswa dapat dijembatani melalui penyajian materi yang lebih sederhana dan visual. Ia juga menekankan pentingnya umpan balik melalui pertanyaan reflektif di akhir perkuliahan. Menurutnya, proses belajar sebaiknya membangun atmosfer yang menyenangkan, berorientasi pada pelatihan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, bukan sekadar memberikan hukuman. Melalui kegiatan ini, Prodi HI UMM berkomitmen terus mengembangkan kurikulum yang inovatif, adaptif, dan berdampak bagi mahasiswa. (HNR)