Dari Mata-Mata Kejam hingga Pujaan Hati: Evolusi Wajah Korea Utara dalam Budaya Populer Korea Selatan

Malang, 3 Juni 2026 — Budaya populer Korea Selatan (K-Culture) tidak hanya berhasil menaklukkan dunia hiburan global, tetapi juga memainkan peran penting dalam meredefinisi wajah Korea Utara di mata publik. Dinamika dan evolusi pandangan terhadap negara berjuluk “Hermit Kingdom” tersebut dikupas secara mendalam oleh pakar studi Korea, Dr. Stephen Epstein, dalam dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan Victorya University of Wellington yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Melalui rujukan berbagai karya akademisnya, Dr. Epstein membedah bagaimana transformasi karakter Korea Utara dalam sinema dan televisi mencerminkan sekaligus membentuk pemahaman masyarakat Selatan sepanjang abad ke-21. Dr. Epstein menjelaskan bahwa sebelum tahun 1998, representasi Korea Utara di media Korea Selatan umumnya bersifat satu dimensi. Tokoh mata-mata dari Utara selalu dikonstruksikan sebagai sosok jahat atau perwujudan iblis yang mutlak. Namun, seiring berjalannya era Kebijakan Sinar Matahari (Sunshine Policy) pada awal 2000-an, muncul pergeseran masif menuju pendekatan tayangan yang lebih ringan, penuh ironi, farce, dan komedi. Kehadiran para pembelot Korea Utara (talbukja) juga mulai mewarnai lanskap media Korea Selatan. Salah satu fenomena televisi yang disoroti adalah acara talk show varietas Now on My Way to Meet You. Acara ini secara unik mencampurkan unsur humor, daya tarik visual, dan penampilan budaya dengan narasi-narasi tragis tentang pelarian, kerja paksa, hingga perpisahan keluarga para pembelot. Memasuki era 2010-an, sinema Korea Selatan menampilkan tren baru yang mengejutkan, di mana mata-mata Korea Utara justru diposisikan sebagai pahlawan baru dalam film layar lebar. Dr. Epstein mencatat adanya perubahan kiasan (trope) penting: jika dulu stereotip hubungan berpusat pada pameo “Namnam Buknyeo” (Pria Selatan, Wanita Utara), kini bergeser menjadi “Buknam Minam” (Pria Utara, Pria Tampan). Agen rahasia Utara kini digambarkan sebagai sosok petarung elite yang tampan, multibahasa, patriotik, dan sangat setia pada keluarga. Karakter “idola pop” dari Utara ini kerap diperankan oleh aktor muda populer Korea Selatan, sementara karakter intelijen Selatan (National Intelligence Service) justru diperankan oleh aktor-aktor senior. Memasuki era 2020-an, kehadiran platform streaming raksasa seperti Netflix membawa narasi domestik ini ke hadapan audiens global. Drama hit Crash Landing on You menjadi tonggak penting dengan menampilkan maskulinitas ideal pria Korea Utara melalui karakter Kapten Ri Jeong-hyeok. Meskipun drama komedi romantis ini membangkitkan nostalgia budaya, menampilkan solidaritas desa, dan menonjolkan sisi romantis, realitas mengenai kekejaman negara, pemadaman listrik, kemiskinan, hingga kesenjangan sosial di Korea Utara tetap ditampilkan secara autentik berkat keterlibatan konsultan dari kalangan pembelot. Karakter pembelot Utara yang tangguh juga semakin menonjol untuk konsumsi internasional, seperti yang terlihat pada karakter ikonik Kang Saebyeok dalam serial global Squid Game. Melalui analisisnya, Dr. Stephen Epstein menyimpulkan bahwa para produsen konten Korea Selatan berhasil memanfaatkan posisinya sebagai pemimpin budaya pop global untuk menyuarakan isu geopolitik. Melalui layar kaca, mereka secara tidak langsung mengomunikasikan pesan kepada dunia bahwa di balik ketegangan politik dan pembatasan ideologi yang kaku, masyarakat Korea Utara pada dasarnya terdiri dari individu-individu biasa yang memiliki sisi kemanusiaan yang kompleks. (fal)
Dari Pekerja Migran hingga Penikmat K-Pop: Guru Besar HI UMM Bedah Realitas Kehidupan Muslim di Korea Selatan

Malang, 3 Juni 2026 — Korea Selatan kini tengah mengalami transisi besar dari negara beretnis tunggal (dan-il minjok) menjadi masyarakat yang semakin majemuk dan terglobalisasi. Transformasi dan irisan antara Islam dengan masyarakat Korea ini dibedah secara mendalam oleh Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Menurut Prof. Gonda, kehadiran Islam di Korea bukanlah hal yang terjadi dalam semalam. Akar sejarahnya membentang dari jaringan perdagangan kuno Jalur Sutra, pengenalan Islam oleh tentara Turki saat bernaung di bawah pasukan PBB, hingga terbangunnya fondasi institusional seperti Masjid Sentral Seoul di Itaewon pada tahun 1976. Saat ini, wajah komunitas Muslim di Korea sangat beragam dan tidak bisa dipandang sebagai satu kelompok monolitik. Lanskap demografinya diisi oleh mualaf asli Korea, mahasiswa asal Malaysia, ekspatriat dari Timur Tengah, hingga pekerja migran asal Pakistan, Bangladesh, dan Indonesia. “Komunitas Indonesia merupakan salah satu kelompok nasional Muslim terbesar di Korea,” jelas pemaparan tersebut. Masyarakat Indonesia di sana memainkan peran yang dinamis, mulai dari mahasiswa penerima beasiswa, pekerja manufaktur di bawah Employment Permit System (EPS), akademisi, hingga pengusaha yang membuka restoran halal dan toko kebutuhan Islam. Meski demikian, proses integrasi kelompok Muslim di Korea tidak selalu berjalan mulus. Prof. Gonda menyoroti berbagai tantangan harian di tempat kerja, seperti terbatasnya akses sertifikasi makanan halal, minimnya fasilitas untuk ibadah shalat lima waktu, hingga benturan budaya dengan norma sosial Korea (seperti budaya minum-minum usai jam kerja). Isu Islamofobia juga sempat mencuat, terlihat dari adanya penolakan warga lokal terhadap pembangunan masjid di luar Itaewon, seperti kasus yang terjadi di Daegu. Di sisi lain, terdapat peluang ekonomi dan diplomasi yang sangat menjanjikan. Korea Selatan kini aktif mengincar pasar industri halal global melalui sertifikasi produk dan pariwisata ramah Muslim. Ketertarikan masyarakat Muslim dunia terhadap Korea juga didorong kuat oleh fenomena Hallyu (Gelombang Korea), di mana K-Pop, K-Drama, dan produk kosmetik Korea mendapatkan tempat istimewa di berbagai negara mayoritas Muslim. Sebagai penutup, Prof. Gonda menekankan pentingnya pertukaran pelajaran antara Indonesia dan Korea Selatan. Korea Selatan dipandang perlu belajar dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika dan tradisi toleransi lintas agama yang ada di Indonesia. Sebaliknya, Indonesia dapat mengadopsi keberhasilan Korea dalam membangun sistem kesejahteraan migran yang didanai negara, seperti Pusat Dukungan Keluarga Multikultural. (fal)