HI UMM Mulai Kelas Perdana CoE Profesional Paradiplomasi Batch 3

Malang – Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mengembangkan pendidikan berbasis keunggulan praktis melalui pembukaan kelas perdana Center of Excellence (CoE) Profesional Paradiplomasi Batch 3, pada Senin (22/9/2025). Bertempat di Laboratorium HI UMM, kegiatan ini dibuka secara resmi oleh PIC Program CoE Paradiplomasi, Haryo Prasodjo, M.A., dan dilanjutkan dengan pemaparan kurikulum oleh dua dosen HI UMM, Hafid Adim Pradana, M.A., serta Shannaz Mutiara Deniar, M.A. Program CoE Paradiplomasi merupakan salah satu program unggulan HI UMM yang dirancang untuk menjembatani teori akademik dengan praktik nyata di lapangan. Paradiplomasi, yang merujuk pada peran pemerintah daerah dalam menjalin hubungan internasional, menjadi fokus utama program ini. Dalam konteks globalisasi, peran daerah semakin krusial, baik dalam membangun jejaring ekonomi, pendidikan, maupun budaya. Melalui CoE ini, mahasiswa HI UMM diharapkan mampu memahami sekaligus terlibat dalam dinamika diplomasi daerah yang saat ini tengah berkembang pesat. Tahun ini, antusiasme mahasiswa terhadap CoE Paradiplomasi meningkat tajam. Sebanyak 140 mahasiswa angkatan 2024 mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi, namun hanya 15 mahasiswa terpilih yang berhasil lolos sebagai peserta Batch 3. Seleksi ketat ini menegaskan bahwa program CoE bukan sekadar kelas tambahan, melainkan wadah pembelajaran yang berorientasi pada kualitas, kompetensi, dan kesiapan mahasiswa untuk berkontribusi dalam dunia profesional. Dalam pertemuan perdana, Hafid Adim Pradana dan Shannaz Mutiara Deniar memaparkan secara rinci mengenai kurikulum dan teknis pelaksanaan program yang akan berlangsung selama dua semester ke depan. Pada semester ganjil, mahasiswa akan fokus pada materi teoritis seputar konsep, praktik, dan tantangan paradiplomasi. Materi akan disampaikan oleh kombinasi dosen HI UMM serta praktisi berpengalaman dari berbagai pemerintah daerah di Indonesia. Pendekatan ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami teori di ruang kelas, tetapi juga mendapatkan perspektif langsung dari pelaku yang terlibat dalam hubungan internasional daerah. Fokus utama pada semester pertama adalah memperkenalkan mahasiswa pada berbagai bentuk kerja sama internasional di tingkat lokal, mulai dari sister city hingga sister province. Bentuk kerja sama ini penting untuk memperkuat daya saing daerah, memperluas akses ke sumber daya global, sekaligus membangun citra positif di kancah internasional. Paradiplomasi juga dipandang sebagai strategi jitu bagi daerah untuk memaksimalkan potensi lokal, baik di sektor pariwisata, investasi, maupun pendidikan. “Paradiplomasi bukan hanya teori, tetapi praktik nyata untuk menggali potensi daerah melalui jejaring internasional. Mahasiswa harus mampu melihat bagaimana daerah bisa menjadi aktor penting dalam hubungan internasional,” tegas tim kurikulum saat memberikan arahan dalam kelas perdana. Pada semester genap, mahasiswa akan diarahkan pada penerapan praktis melalui simulasi, proyek lapangan, hingga keterlibatan langsung dalam program kerja sama pemerintah daerah dengan mitra internasional. Pendekatan ini sejalan dengan misi CoE untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam pemahaman akademik, tetapi juga siap menghadapi dunia profesional dengan keterampilan yang relevan. Kegiatan kelas perdana Batch 3 ditutup dengan penyampaian detail penugasan teknis oleh Mohd. Agoes Aufiya, M.A., M.Phil. Ia menekankan pentingnya konsistensi dan kedisiplinan mahasiswa selama mengikuti program agar tujuan CoE dapat tercapai secara maksimal. Dengan dimulainya Batch 3, HI UMM semakin meneguhkan posisinya sebagai pelopor pengembangan kajian sekaligus praktik paradiplomasi di Indonesia. Program ini tidak hanya membekali mahasiswa dengan teori, tetapi juga membuka ruang bagi mereka untuk menjadi pionir dalam mendorong diplomasi daerah yang lebih progresif, adaptif, dan berdampak luas di era globalisasi.