Mahasiswa HI UMM Dorong Desa Kayu Kebek, Pasuruan, Menjadi Desa Wisata 2026 Melalui Praktikum Gerakan Sosial dan Pameran Inovasi

Malang, 3 Juni 2025 – Semangat pemberdayaan masyarakat terus digelorakan oleh mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui kegiatan Praktikum Gerakan Sosial. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian pengabdian yang telah dilakukan sejak program Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM), praktikum mata kuliah Gerakan Sosial, serta praktikum mata kuliah Politik Lingkungan. Puncak dari kegiatan ini ditandai dengan digelarnya pameran produk inovasi di Desa Kayu Kebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, yang bertujuan mendukung transformasi desa tersebut menjadi ‘Desa Wisata 2026’. Kegiatan dini diampu oleh Bapak Ruli Inayah Romadhoan, M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah Gerakan Sosial, selanjutnya dilaksanakan oleh kelompok yang terdiri dari 7 mahasiswa angkatan 2022, antara lain: Sabrina Rafika Aysiwi, Dinda Dwi Nurhidayah, Nikita Angelina Wijaya, Muhammad Adhitya Gus Ismoyo, Hans Yenanda, Ahmad Feryan Perwira Yudha, dan Alvinda Wijaya. Acara puncak yang digelar Senin lalu ini tak hanya menjadi ajang pelatihan dan unjuk karya mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang advokasi yang strategis. Kegiatan ini berhasil menarik perhatian berbagai pemangku kebijakan. Hadir dalam acara tersebut Asisten II Bupati Pasuruan yang mewakili Bupati, Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Ketua Komisi II DPRD, serta beberapa kepala dinas terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pertanian, dan Dinas Pariwisata Pasuruan. Sedangkan dari pihak UMM dihadiri oleh Dr. Salahudin, M.Si., M.P.A. selaku Kepala Biro Riset, Pengabdian, dan Kerjasama, Kepala Laboratorium HI, Hafid Adim Pradana, M.A., Sekertaris Program Studi HI, Shannaz Mutiara Deniar, M.A., serta Bapak-Ibu dosen Program Studi lainnya. Pameran Inovasi: Solusi Nyata dari Mahasiswa untuk Desa Pameran yang digelar oleh para mahasiswa UMM ini menghadirkan berbagai inovasi yang dihasilkan melalui riset dan pengamatan atas kondisi riil masyarakat Desa Kayu Kebek. Beberapa inovasi unggulan yang dipamerkan antara lain: Tong Pembakaran Sampah Less Asap (Smoke Less Burn Barrel) Inovasi ini hadir sebagai solusi terhadap tingginya produksi sampah organik dari lahan hijau desa. Tong ini dirancang untuk membakar sampah dengan emisi asap yang sangat rendah, sehingga ramah lingkungan. Inovasi ini mendapatkan perhatian khusus dari Dinas Lingkungan Hidup yang berencana mengikutsertakannya dalam lomba inovasi tingkat kementerian. Eco Enzyme dari Buah Sisa Panen Desa Kayukebek dikenal sebagai daerah pertanian dan perkebunan dengan hasil utama berupa apel, jeruk, dan lemon. Namun, buah dengan kualitas rendah kerap dibuang begitu saja ke sungai. Mahasiswa kemudian menginisiasi pembuatan eco enzyme, yaitu cairan serbaguna hasil fermentasi buah-buahan tak layak konsumsi. Produk ini dapat dimanfaatkan untuk pertanian, perikanan, peternakan, dan bahkan kesehatan tubuh. Inovasi ini menarik minat Bupati Pasuruan, khususnya untuk pengembangan sektor perikanan desa. Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah Berangkat dari keprihatinan terhadap limbah rumah tangga, mahasiswa menciptakan lilin aromaterapi dari minyak goreng bekas. Lilin ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan ekonomi. Produk ini mendapat sambutan hangat dari seorang pengusaha lokal yang menyatakan ketertarikannya untuk memproduksi lilin tersebut secara komersial. Promosi Potensi Desa Selain produk inovatif, mahasiswa juga memetakan potensi wisata desa seperti air terjun, pemandian Sendang Sri, Pijen Hills, serta kekayaan budaya lokal. Potensi ini dipresentasikan sebagai modal penting dalam mendorong status Kayukebek sebagai Desa Wisata 2026. Beberapa program dan lembaga desa juga turut dipamerkan sebagai bentuk sinergi dan kolaborasi antara warga dan mahasiswa. Dukungan Nyata dari Pemerintah Daerah Kegiatan mahasiswa ini mendapat respon positif dari DPRD Kabupaten Pasuruan yang menyatakan komitmennya untuk mendukung upaya transformasi Desa Kayukebek. Dalam kesempatan tersebut, DPRD memberikan bantuan dana sebesar Rp100 juta untuk pengembangan desa. Tak hanya itu, Ketua DPRD dan Ketua Komisi II secara pribadi juga memberikan bantuan langsung sebesar Rp8 juta untuk kegiatan keagamaan di pura desa. Dana tersebut langsung ditransfer ke rekening desa saat acara berlangsung. Tak berhenti di situ, bantuan infrastruktur seperti paving block, kendaraan roda tiga (tosa), serta peralatan lainnya turut dijanjikan sebagai bentuk konkret dukungan terhadap pembangunan desa berbasis partisipasi pemuda dan masyarakat. Praktikum yang Berdampak Dosen pengampu mata kuliah Gerakan Sosial menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran kontekstual dan advokatif bagi mahasiswa Hubungan Internasional. “Ini bukan hanya tentang teori sosial atau studi kebijakan, tetapi tentang bagaimana mahasiswa mampu berkontribusi langsung kepada masyarakat dan memfasilitasi perubahan,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa pendekatan multidimensi – mulai dari sosial, budaya, hingga politik lingkungan – merupakan hal penting dalam menjawab tantangan global di tingkat lokal. Dengan melibatkan pemangku kepentingan secara langsung, mahasiswa belajar untuk membangun jejaring, berdiplomasi, serta melakukan advokasi yang efektif. Menuju Desa Wisata 2026 Desa Kayu Kebek kini menatap masa depan dengan optimisme baru. Potensi yang selama ini tersembunyi mulai dikenali dan dikelola melalui pendekatan inovatif dan kolaboratif. Pemerintah desa dan masyarakat menyampaikan apresiasi atas dedikasi mahasiswa dan berharap program serupa bisa terus dilanjutkan dan diperluas. “Mahasiswa UMM telah membuka mata kami bahwa potensi itu ada, tinggal bagaimana kita mau mengelola dan mengembangkan. Kami sangat bersyukur dan siap mendukung agar Desa Kayu Kebek bisa menjadi desa wisata tahun 2026,” ujar salah satu perangkat desa. Dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan advokasi, kegiatan Praktikum Gerakan Sosial ini membuktikan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang belajar di ruang kelas, melainkan juga tentang merajut perubahan nyata di tengah masyarakat. Desa Kayu Kebek kini menjadi saksi bahwa gerakan sosial bisa berbuah menjadi gerakan pembangunan.