HI UMM Gelar Kuliah Interaktif Erasmus+ dengan Akademisi Portugal

Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan kuliah interaktif intensif selama dua hari penuh, 27-28 Mei 2025, bersama dua akademisi ternama dari Universidade da Beira Interior Portugal. Bertempat di Ruang Laboratorium HI UMM, Bruno Daniel Ferreira da Costa dan Leandro Ferreira memimpin serangkaian diskusi mendalam dengan mahasiswa, berfokus pada empat isu strategis: Sistem Politik dan Kebijakan Luar Negeri Portugal, transformasi Demokrasi di Era Digital, mekanisme Populisme dan Hoaks di Jejaring Sosial, serta perkembangan terkini Metodologi Riset dalam Ilmu Politik dan Hubungan Internasional. Kegiatan yang merupakan bagian dari program Erasmus+ Guest Lecture ini didesain secara khusus untuk menciptakan ruang dialektika setara. Shannaz Mutiara Deniar, Sekretaris Prodi HI UMM, menjelaskan bahwa format kelas pada umumnya sengaja dipilih untuk mendorong keterlibatan aktif mahasiswa dan membangun kedekatan intrapersonal. “Ini adalah strategi prodi untuk memperdalam kerja sama akademik global sekaligus melatih mahasiswa dalam analisis komparatif,” ujarnya. Pendekatan ini terbukti efektif ketika diskusi tentang tantangan demokrasi digital Eropa langsung dikaitkan mahasiswa dengan dinamika pemilu digital di Indonesia, termasuk perdebatan mengenai regulasi media sosial dan dampak algoritma pada partisipasi publik. Pada sesi tentang mekanisme hoaks, Bruno membedah teknik micro-targeting dalam kampanye populisme Portugal. Analisis ini memantik respons kritis peserta seperti Aloysius Gonzaga Alnabe, yang langsung membandingkannya dengan pola penyebaran hoaks politik di Jawa Timur. “Kami melihat bagaimana teori agenda setting Barat bisa diuji dengan fenomena lokal seperti viralnya konten provokatif menjelang Pilkada,” ucap pencetus Conatus Academy tersebut. Kolaborasi ini diharapkan menjadi pintu bagi pengembangan kerja sama lebih lanjut. Shannaz menyatakan harapan bahwa pengalaman ini dapat menjadi dasar untuk pertukaran pengetahuan dua arah di masa depan, termasuk kemungkinan dosen HI UMM membagikan perspektif Nusantara di Portugal. “Kami berkeinginan untuk suatu saat bisa memperkenalkan nilai-nilai Asia di tatanan pemikiran politik internasional,” ungkapnya. Kegiatan ditutup dengan identifikasi sejumlah inisiatif lanjutan, termasuk proyeksi pengembangan kerja sama, tidak hanya dengan akademisi Portugal, namun juga akademisi-akademisi bereputasi di kancah internasional. “Kami yakin pengalaman ini memperkuat fondasi keilmuan mahasiswa sebagai calon analis global yang berpijak pada realitas lokal,” tegas Shannaz menutup rangkaian acara.