Kepala Bagian Hukum dan Kerja Sama Pemkot Surabaya Pandu Mahasiswa CoE Paradiplomasi HI UMM Dalami Seni Legal Drafting

Keprotokoleran tidak sekadar berkaitan dengan tata cara resmi, melainkan juga melibatkan dimensi negosiasi dan komunikasi diplomatik. Di Kelas Profesional Paradiplomasi Center of Excellence (CoE), Djoenadie Dodiek Setiyono, S.H., Kepala Bagian Hukum dan Kerja Sama Pemkot Surabaya, menekankan bahwa protokoler sejatinya adalah seni berkomunikasi yang membutuhkan kepekaan budaya, kemampuan membaca situasi, dan keterampilan diplomatis yang tinggi. Melalui materi legal drafting, para mahasiswa dikenalkan pada teknik penyusunan dokumen kerja sama internasional. Para mahasiswa juga dilatih untuk memahami struktur, bahasa, dan klausul-klausul kunci yang menjadi jantung dari sebuah perjanjian internasional. Tidak sekadar memahami teks, mereka juga diajak untuk menganalisis implikasi hukum dari setiap kalimat yang disusun. Dodiek, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa keprotokoleran memiliki spektrum yang sangat luas. “Protokoler dan legal drafting bukan sekadar tentang mengikuti aturan, melainkan bagaimana kita mampu merepresentasikan kepentingan secara tepat, jelas, dan bermartabat,” ungkapnya. Pernyataan tersebut mengingatkan bahwa setiap dokumen diplomatik membawa bobot kepentingan nasional atau institusional yang tidak bisa dianggap remeh. Selain dokumen, tata upacara, tata letak duduk, dan penempatan bendera perwakilan juga sangatlah penting. Dodiek selanjutnya mencontohkan kompleksitas protokoler dalam sebuah pertemuan internasional. “Bahkan penempatan bendera saja memiliki makna diplomatis yang sangat dalam,” jelasnya. Ia menguraikan bagaimana urutan dan tata letak bendera dapat menandakan tingkat kehormatan, hierarki diplomatik, serta potensi konflik tersembunyi yang mungkin muncul dari kesalahan kecil dalam protokoler. Kompleksitas keprotokoleran menunjukkan bahwa protokoler dan legal drafting jauh dari sekadar rutinitas administratif. Ini adalah medan pertempuran diplomatik yang sesungguhnya, di mana setiap koma, pilihan kata, dan tata letak memiliki potensi untuk mengubah dinamika hubungan internasional. (fal)