Eselon Pemprov Jatim Bahas Alur Kerja Sama Internasional di Kelas CoE Paradiplomasi HI UMM

Meningkatkan kepekaan akan isu global dalam perumusan kerja sama internasional, Program Studi (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadirkan eselon Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Shinta Yudhistia Nugrahani, M.KP, di Center of Excellence (CoE) Kelas Profesional Paradiplomasi. Dalam kelas tersebut, Shinta berbicara tentang isu-krusial di tataran global, contohnya pendidikan dan inklusivitas. Peranan dari segala lini sangatlah dibutuhkan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Shinta kemudian menyinggung, bahwa salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai respon terhadap masalah tersebut adalah dengan menjalin kerja sama internasional dengan Autism Association of Western Australia (AAWA). Kerja sama tersebut tidak datang hanya dalam satu malam, melainkan membutuhkan tahapan-tahapan birokratik yang panjang. “Inisiator harus mempunyai skema konkret untuk kerja sama, lalu dilanjutkan dengan penjajakan, persetujuan legislatif daerah, hingga penandatanganan kerja sama,” papar Shinta. Kerja sama dengan organisasi nonprofit juga dirasa lebih mudah. Sebab, alur birokrasi terhadap lembaga nonpemerintah cenderung lebih sederhana jika dibandingkan kerjasama yang dijalin dengan state ataupun substate. “Birokrasi yang gampang itulah yang menjadi salah satu faktor mengapa kerja sama Pemprov Jatim dan AAWA ini bersifat longlasting,” urai Shinta. Shinta menjelaskan bahwa kerja sama internasional yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan Autism Association of Western Australia (AAWA) memiliki tujuan strategis dalam mengembangkan program pendidikan inklusif bagi anak-anak dengan spektrum autisme. Tidak sekadar pertukaran informasi, kerja sama tersebut mencakup transfer pengetahuan, pelatihan tenaga pendidik melalui lokakarya, dan pengembangan kurikulum yang responsif terhadap kebutuhan anak berkebutuhan khusus. Lebih lanjut, Shinta menekankan pentingnya perspektif global dalam setiap upaya kerja sama internasional. “Paradiplomasi bukan sekadar tentang menandatangani dokumen kerja sama, melainkan bagaimana kita mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya. Pernyataan ini mengingatkan para mahasiswa bahwa hubungan internasional sejatinya adalah upaya sistematis untuk menciptakan perubahan positif melampaui batas-batas administratif. (fal/ind)