Di Kelas HI UMM, Dr. Nicola Fraschini Kupas Perbedaan Ideologi dalam Bahasa Korea Utara dan Selatan

Bahasa Korea memiliki keunikan tersendiri yang menarik untuk dikulik. Meskipun berasal dari akar budaya yang sama, Korea Selatan dan Korea Utara justru menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan dalam penggunaan bahasa sehari-hari maupun dalam ranah formal. Perbedaan ini muncul seiring terpisahnya dua negara kembar tersebut pasca Perang Dunia II dan berkembangnya politik serta ideologi yang berbeda di masing-masing wilayah. Materi tersebut diulas oleh Dr. Nicola Fraschini, dosen University of Melbourne, dalam kelas Kajian Kawasan Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kelas ini merupakan hasil kerjasama Prodi HI UMM dengan University of Auckland’s Strategic Research Institute (SRI) for Korean Studies yang turut didukung oleh Kementerian Pendidikan Republik Korea. Dalam kelas yang bertemakan “Korean Language from the Hangeul to North and South Korean Divisions”, Dr. Nicola menguraikan bagaimana perbedaan bahasa di dua negara kembar namun tak seiras, Korea Selatan dan Korea Utara. “Meskipun berakar dari bahasa dan budaya yang sama, perkembangan politik dan ideologi yang berbeda di Korea Selatan dan Korea Utara pasca perpecahan pada 1945 turut mempengaruhi dinamika kebahasaan di wilayah masing-masing,” terang Dr. Nicola. Di Korea Selatan yang menganut sistem demokrasi liberal, bahasa Korea modern cenderung lebih terbuka terhadap penyerapan kosakata asing, terutama dari bahasa Inggris. Sementara di Korea Utara yang memegang teguh ideologi komunis, upaya untuk mempertahankan kemurnian bahasa jauh lebih ketat dengan pembatasan penyerapan kosakata bahasa asing. “Perbedaan sikap terhadap bahasa asing ini berujung pada munculnya banyak istilah khas yang digunakan di Korea Utara dan Korea Selatan untuk merujuk pada konsep atau benda yang sama,” ungkap Dr. Nicola. Bahasa Korea menjadi bukti bahwa bahasa dapat mencerminkan perubahan aspek sosial, politik, dan bahkan ideologi dari suatu bangsa. Tak hanya itu, bahasa Korea pun juga telah mempersatukan para peminat bahasa dari seluruh dunia, terutama dalam memahami kompleksitas dinamika regional di Semenanjung Korea. (fal/han)