Kuliah Tamu Petinggi ASEAN Lee Yoong Yoong di HI UMM: Dari Posisi Strategis ASEAN Hingga Peluang Magang Mahasiswa

Director of Community Affairs The Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Lee Yoong Yoong menegaskan bahwa ASEAN berpotensi berada di nomor lima di dunia, di bawah Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan Jerman. Demikian disampaikan Lee pada kuliah tamu Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang, Kamis (23/11). Oleh karena itu, Lee mendukung secara penuh kebijakan ekonomi berkelanjutan yang tentunya akan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota. “Dengan eksekusi kebijakan yang optimal, maka masa depan ASEAN akan cerah,” ujarnya. Lee juga menegaskan bahwa ASEAN telah mendeklarasikan ASEAN Human Rights Dialogue (AHRD) di Jakarta pada tanggal 6 November 2023 lalu. “ASEAN juga secara terhormat menyokong hak-hak para pekerja agar mereka mendapat penghidupan yang layak,” pungkas Lee Yoong Yoong. Pada waktu yang sama, Lee juga menginformasikan terkait kesempatan magang di Sekretariat ASEAN, Jakarta. “Selama Anda memahami hubungan internasional, mahir berbahasa asing, dan bisa menulis, anda mendapatkan nilai tambah saat mengajukan aplikasi magang di Sekretariat ASEAN,” ujar Lee Yoong Yoong. Kegiatan yang menyongsong tema ‘ASEAN as the Epicentrum of Growth’ ini diiringi oleh antusiasme mahasiswa. Hal ini dibuktikan oleh beragam pertanyaan yang diajukan oleh mahasiswa dan mahasiswi Prodi HI UMM saat sesi diskusi. Mulai dari kebijakan ekonomi berkelanjutan ASEAN, hingga nasib kelas pekerja di Asia Tenggara. (fal/han)
Hadirkan Penasihat ICRC, HI UMM Tegaskan Pentingnya Perlindungan Korban Perang dalam Konflik Israel-Palestina

Konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina merupakan konflik yang sarat akan isu kemanusiaan. Merespons hal tersebut, Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan seminar praktikum mata kuliah Hukum Humaniter Internasional, Senin (20/11) di UMM. Agenda yang bertajuk “Penanganan Korban Perang dalam Konflik Israel-Palesina: Perspektif Hukum Humaniter Internasional” ini menghadirkan narasumber Rina Rusman, S.H, M.H., penasihat senior International Committee of the Red Cross (ICRC), dan M. Syaprin Zahidi, S.IP, M.A., dosen Prodi HI UMM. Dalam pemaparannya, Rina menyatakan bahwa hukum humaniter merupakan materi yang sangat strategis untuk mahasiswa studi Hubungan Internasional. “Mahasiswa Hubungan Internasional (HI) dilatih untuk berpikir kritis dan rasional mengenai konflik yang terjadi di kancah internasional,” tegasnya. Dengan analisis yang tepat, dapat ditemui bahwa pasti ada kepentingan di balik terjadinya suatu konflik. Di lain sisi, perdamaian juga dapat tercipta ketika ada sebuah kejadian yang sarat akan kepentingan di baliknya. Konflik Israel-Palestina merupakan salah satu konflik berkepanjangan yang dikelilingi oleh berbagai kepentingan. Korban jiwa yang berjatuhan merupakan sebuah harga yang akan selalu menghantui para pemangku kepentingan. Hal ini diperparah dengan adanya tindakan Israel berupa pemindahan penduduk Palestina dengan cara yang koersif. Menanggapi hal tersebut, Rina Rusman menegaskan bahwa tidak ada justifikasi untuk memindahkan penduduk secara paksa kecuali untuk mengamankan penduduk itu sendiri. “Kedua belah pihak, baik Israel ataupun Palestina, seharusnya berpikir dua kali sebelum mengeksekusi tindakan yang tidak disandarkan pada aturan perang,” pungkas Rina. Akibat ketidakbijaksanaan tersebut, fasilitas sipil layaknya rumah sakit menjadi imbasnya. Korban yang masih bisa diselamatkan justru menjadi korban keganasan militer yang tidak berpikir humanis. “Hal yang harus difokuskan saat ini ialah bagaimana caranya untuk memperkuat perlindungan terhadap korban, fasilitas sipil, dan hunian penduduk,” tutupnya. (fal/han)