Serial Kuliah Eurasia HI UMM: Polarisasi Politik Indonesia Meningkat, Peran Tokoh Agama Jadi Kunci

Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2024, polarisasi politik menjadi salah satu isu kunci yang perlu diperhatikan. Terlebih, Pemilu 2019 terbukti mengakibatkan terjadinya fenomena polarisasi politik masyarakat Indonesia, terutama umat Islam. Berkaitan dengan hal tersebut, Dr. Salahudin, dosen program studi Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), memaparkan materi yang bertajuk “Tren Polarisasi Politik Umat Islam di Indonesia”. Materi tersebut disampaikan pada kelas Multikulturalisme di Asia yang merupakan hasil kerja sama program studi Hubungan Internasional (HI) UMM dengan Eurasia Foundation dalam program Eurasia Lecture Series. Melalui presentasinya, Salahudin memaparkan hasil survei dari Indikator Politik Indonesia yang menyatakan bahwa angka polarisasi umat muslim Indonesia meningkat sangat tajam di kurun waktu 2019-2021. Isu keagamaan, hukum, dan politik menjadi faktor primer yang memantik adanya polarisasi umat muslim Indonesia. Sementara itu, polemik lain layaknya kesetaraan gender juga turut berpengaruh dalam terjadinya polarisasi. Isu-isu terkait aliran tertentu yang dianggap menyimpang tak luput menjadi bahan bakar perdebatan, baik dari kelompok Islam moderat ataupun konservatif. Hal ini justru diperparah dengan pengaruh partai politik yang berkontestasi pada ajang empat tahunan. “Posisi dukungan partai jelas akan memengaruhi dukungan umat Islam yang dinaunginya,” tegas Salahudin. Tidak hanya itu, eksistensi tokoh-tokoh Islam juga memiliki pengaruh yang kuat terhadap cara pandang umat muslim Indonesia. “Contohnya, influence dari pendapat salah seorang tokoh agama terkemuka, selain ada kelompok yang pro, tentu akan ada yang kontra. Itulah yang nantinya akan menyebabkan polarisasi,” tambah Salahudin. Berkaca pada fenomena polarisasi umat muslim Indonesia, perbedaan pandangan merupakan hal yang normal dalam sebuah masyarakat yang multikultur. Kebhinekaan yang ada seharusnya tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi sebuah kekuatan dalam membangun bangsa yang lebih baik. (fal/han)