Mobilitas Mengajar oleh Profesor Ricardo dari Portugal

Pertanyaan besar muncul di benak pengamat politik dunia selama beberapa dekade ini, “akankah kemunculan kekuatan baru dalam panggung politik global, berujung pada peperangan?” Menjadi institusi yang up to date terhadap isu-isu global, program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang menjadi tuan rumah dalam beberapa rangkaian acara Erasmus+ Teaching Mobility University of Muhammadiyah Malang. Salah satu dari serangkaian acara tersebut adalah International Relations Lecturer Forum, yang mengusung topik “The Thucydides Trap: China versus America”. Yang menjadi guest lecturer pada program tersebut adalah Prof. Ricardo de Sousa dari Universidade Autonoma de Lisboa, Portugal. Dalam Teaching Mobility yang digelar di Laboratorium Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang tersebut, Prof. Ricardo bersama dosen-dosen dari Program Studi Hubungan Internasional melakukan diskusi mengenai fenomena Thucydides Trap yang mungkin saja terjadi antara Amerika Serikat dan China. Yang dimaksud dengan Thucydides Trap di sini adalah sebuah istilah yang dipopulerkan oleh ilmuan dalam bidang Politik Luar Negeri, Graham T. Allison yang menggambarkan sebuah situasi di mana terdapat sebuah kecenderungan untuk berperang ketika kekuatan baru muncul untuk menandingi kekuatan hegemon. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kemunculan China di panggun politik global yang selama beberapa dekade cukup membuat Amerika Serikat resah. Dalam forum diskusi yang dihadiri oleh para scholar dari kajian Hubungan Internasional tersebut, diperoleh hasil pembahasan bahwasannya China memang menjadi rival AS dalam sektor ekonomi. Terlihat dari aspek GDP, China memiliki perkembangan yang lebih signifikan dari AS dalam rentang waktu Tahun 1197-2021. Namun, ditinjau dari aspek militer, China tertinggal jauh oleh Amerika. Kompetisi antara China dan Amerika baik di sektor politik, ekonomi, dan militer memang terus terjadi di berbagai wilayah di dunia. Kedua negara berkompetisi demi memperebutkan dominasi dan pengaruh di berbagai kawasan selama beberapa dekade. Oleh karenanya diperoleh kesimpulan bahwa kedua negara sedang terlibat dalam kompetisi geopolitik, dan untuk menghindari apa yang disebut dengan jebakan Thucydides, kedua negara perlu mengakui bersepakat atas kekuatan yang dimiliki oleh satu sama lain. Selai itu, untuk menghindari efek samping konflik yang destruktif, kedua negara perlu bekerja sama dalam isu-isu yang ditujukan untuk common goods, seperti proliferasi nuklir, terorisme, hingga perubahan iklim. Usai merampungkan sesi diskusi melalui lecturer forum, Prof. Ricardo tidak lupa membuat online quiz dengan metode yang menyenangkan untuk para dosen Prodi HI, guna menguji pendalaman materi selama diskusi. Kegiatan ditutup dengan sesi makan siang bersama di Laboratorium Hubungan Internasional, yang digunakan sebagai ajang untuk memperkenalkan makanan tradisional khas nusantara seperti tempe, rawon, hingga kerupuk udang. Melalui forum antar dosen yang dipimpin oleh dosen tamu dari Portugal, para dosen Prodi HI UMM mendapat banyak insight baru dalam mengkaji fenomena yang sedang terjadi di panggung politik global, yang nantinya akan diajarkan ke peserta didik, atau bahkan dijadikan topik diskusi saat kegiatan belajar mengajar.