Simposium PPI Kawasan Asia Oseania 2018

      

  Oleh: Siti Malikatul Mushowwiroh (Mahasiswa HI Angkatan 2015)

       Berawal dari keikutsertaan saya dalam kompetisi menulis essay yang bertemakan “End The Modern-day Slavery” yang diadakan oleh PPI Kawasan Asia-Oseania, Alhamdulillah dari ratusan peserta, tulisan saya menjadi salah satu dari dua tulisan yang terpilih untuk dapat dipresentasikan pada acara “Simposium PPI Kawasan Asia-Oseania” yang diadakan di Universitas Thammasat, Bangkok. Bersama Adhitiya finalis yang mewakili Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dan saya sendiri mewakili Universitas Muhammadiyah Malang pada tanggal 11 Mei 2018 kami diberangkatkan menuju Bangkok, Thailand. Acara simposium yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Thailand (Permitha) sebagai tuan rumah di kawasan regional Asia-Oseania ini juga sekaligus menjadi acara puncak dari kompetisi essay yang diadakan. Acara ini berada dibawah naungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Thailand dan didukung oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di Thailand.

       Pada tanggal 12 Mei 2018 simposium digelar di Hall Thammasat University dengan serangkaian acara yang diawali oleh presentasi saya dan Adhit di depan para tamu undangan, peserta simposium, dan dewan juri. Tidak hanya penulisan essay, presentasi yang dilakukan pun dikompetisikan untuk mencari best essay dengan kategori pemenang pertama dan kedua. Saya sendiri mengangkat sebuah topik yang berjudul “Indonesia’s Accomplish Emancipation Approach and The Role of Youth as Way to Solve Modern-day Slavery” dimana secara keseluruhan saya membahas mengenai perputaran siklus masyarakat Indonesia yang berada pada kondisi unindependent economy dan menyebabkan terjadinya perbudakan modern dapat diatasi oleh perubahan siklus yang dapat diciptakan dengan adanya new creativity of employment yang seharusnya didukung oleh peran pemuda untuk menjadi solusi dari permasalahan perbudakan modern itu sendiri. Presentasi juga dibarengi dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang diberikan oleh audinces dan dewan juri untuk presenter, dimana sebagai sebagai hasil akhir penilaian, Alhamdulillah saya terpilih menjadi pemenang dari best essay kategori pemenang pertama.

 

  

       

Acara ini dihadiri oleh beberapa pejabat seperti Bapak Dicky Komar selaku Wakil Duta Besar KBRI Thailand yang meberikan sambutannya pada pembukaan acara. Dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Keynote Speaker yaitu Ibu Prof. Dr. Ir Hj. Damayanti Lubis selaku ahli dibidang ketenagakerjaan sekaligus Wakil Ketua DPD RI, dan diikuti oleh diskusi pada sesi pertama yang diisi oleh Bapak Drs. H Hardi Selamat Hood sebagai Anggota DPD RI- Kepulauan Riau, dan Bapak Zulfadli S.Kom selaku Koordinator PPI Kawasan Asia Oseania. Disusul oleh diskusi pada sesi kedua yang diisi oleh Asist. Prof. Dr. Sustarum Thammaboosade yang merupakan dosen dari Thammasat University, dan ada juga Bapak Hartanto Gunawan selaku koordinator Community Learning Centerfor Development of Humanity Wat Arun Rajawararam.

          Berdasarkan rangkaian diskusi pada acara ini dengan fokus yang ditujukan untuk membahas permasalahan  human trafficking, migrant worker, dan modern slavery, secara keseluruhan saya dapat mengambil pelajaran bahwa fenomena perbudakan modern yang saat ini masih kurang disadari oleh masyarakat justru telah menimbulkan dampak yang signifikan  dimana penyelesaian permasalahannya seharusnya berada pada urgensi yang tinggi. Perbudakan modern lantas tidak jauh dari keadaan dimana masyarakat berada pada sebuah tekanan dan paksaan untuk bekerja, menjadi pekerja yang tidak dibayar, bekerja dibawah tekanan hutang, eksploitasi anak-anak, perdagangan manusia, pernikahan paksa, perbudakan seks, dan masih banyak lagi. Dan untuk mengatasi hal tersebut, seperti apa yang disampaikan  oleh Ibu Darmayanti bahwa sangat penting untuk menumbuhkan rasa goodwill disemua pihak khususnya pemerintah guna memberikan penyelesaian yang tanggap pada permasalahan ini. Selain itu, melalui mekanisme pemberian pendidikan gratis dan beasiswa kepada para korban human trafficking seperti yang telah dilakukan oleh bapak Hartanto sebagai diaspora Indonesia yang membantu untuk mengatasi permasalahan human trafficking di Thailand juga menjadi hal yang patut diapresiasi dan didukung untuk diterapkan juga di Indonesia sebagai solusi untuk mengatasi perbudakan modern itu sendiri.

Shared:
Kegiatan Mahasiswa