Siasati Pandemi Covid-19, Laboratorium HI Gelar Webinar tentang INGO

Jum'at, 01 Mei 2020 04:50 WIB

Pandemi Covid-19 yang mengharuskan penerapan physical distancing tidak lantas mematikan gairah belajar civitas akademika Program Studi Hubungan Internasional UMM. Hal itu ditunjukkan melalui kegiatan Webinar yang diselenggarakan oleh Laboratorium HI UMM berupa kuliah tamu daring bertajuk “Debates on the Role of INGOs: Are they helping or harming?” (30/4). Menghadirkan Baiq LS Wardhani, Ph.D, dosen Prodi HI Universitas Airlangga Surabaya dan Shaummil Hadi, M.A, dosen Prodi HI Universitas Al Muslim Aceh. Diikuti oleh lebih 250 peserta yang “hadir” melalui aplikasi Google Meet.

Baiq Wardhani dalam pemaparannya menyampaikan tentang bagaimana studi mengenai organisasi internasional non-pemerintah (International Non-Governmental Organization/INGOs) kurang begitu mendapatkan perhatian dalam studi HI. Menurutnya, hal ini merupakan konsekuensi dari dominannya pendekatan negara-sentris dalam mempelajari HI. “Sekalipun demikian, kajian mengenai INGO merupakan suatu hal yang sangat sayang jika diabaikan begitu saja. Pentingnya kajian INGO dalam HI tidak dapat dilepaskan dari semakin kuatnya peran INGO dalam hubungan internasional kontemporer,” tegas doktor jebolan Australia itu.

Lebih lanjut, peran dari INGO ini pada gilirannya memunculkan dua pandangan yang saling bertolak belakang. Pada satu sisi beberapa pengamat HI melihat INGO sebagai aktor yang memberikan banyak manfaat, terutama dalam hal menyelesaikan beberapa persoalan kemanusiaan yang luput dari perhatian negara. “Dalam mencapai tujuannya, umumnya INGO mengambil peran sebagai implemetator, katalisator, dan partner kerja pemerintah”, tambah Ketua Program Magister HI Unair itu.

Sedangkan pada sisi lain, tidak sedikit juga yang berpandangan mengenai efek buruk yang dibawa oleh INGO bagi masyarakat. Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari ketidakmampuan INGO dalam beradaptasi dengan lingkungan tempat mereka bertugas, serta adanya beberapa skandal yang dilakukan oleh oknum-oknum dalam INGO itu sendiri.

Sementara itu, Shaummil Hadi lebih banyak menyampaikan pengalamannya selama berkecimpung sebagai aktivis INGO pasca bencana tsunami Aceh tahun 2004. Menurutnya, terdapat tiga hal yang senantiasa disoroti dari INGO yaitu funding yang berkenaan dengan sumber pendanaan, legitimasi yang berkaitan dengan kemampuan INGO dalam memahami nilai-nilai di masyarakat tempat bertugas, serta akuntabilitas dan transparansi yang berkaitan dengan keterbukaan INGO dalam menyuarakan persoalan masyarakat dalam ranah publik.

Secara terpisah, Kepala Laboratorium HI UMM, Ruli Inayah Ramadhoan, M.Si, menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya, penting bagi seluruh sivitas akademika HI UMM untuk tidak menjadikan Pandemi Covid-19 ini sebagai alasan untuk berhenti belajar dan saling berbagi pemahaman keilmuan. Ke depannya, ia berharap agar kegiatan-kegiatan semacam ini dapat terus terselenggara. “Dengan media digital seperti Google Meet ataupun Zoom kita tetap bisa menjaga keberlangsungan atmosfer akademik di HI UMM”, terangnya. (adm)

Shared: