Prodi HI Segera Miliki Pakar Intermestik Indonesia

Selasa, 15 Mei 2018 06:26 WIB

Suasana diskusi pakar di Laboratorium HI UMM

Program Studi (Prodi) Ilmu Hubungan Internasional (HI) FISIP UMM segera akan memiliki pakar kajian internasional dan domestik (intermestik) dengan kehadiran doktor baru, yaitu Dr. Dyah Estu Kurniawati, M.Si. Sebagai bentuk dukungan terhadap dosen senior Prodi HI itu, Prodi HI bersama Laboratorium HI menggelar Diskusi Pakar sebagai persiapan sidang terbuka doktoral Dyah di Universitas Gadjah Mada.

Dengan tema “Kapilaritas dalam Proses Perubahan Kebijakan: Studi Intermestik Desentralisasi di Indonesia 1974-2004”, diskusi pakar berlangsung di Laboratorium HI (14/5). Dihadiri oleh Dekan FISIP UMM Dr. Rinikso Kartono, M.Si., Wakil Direktur II Program Pascasarjana UMM Dr. Wahyudi, M.Si., Kepala Perpustakaan UMM Dr. Asep Nurjaman, M.Si., Dekan Fakultas Hukum UMM Dr. Sulardi, M.Si., dan dosen Prodi Ilmu Pemerintahan UMM Drs. Khrisno Hadi, MA. Semuanya merupakan pakar desentralisasi dan otonomi daerah.

Dalam pemaparannya, Dyah yang merupakan Wakil Dekan I FISIP UMM itu menyampaikan bahwa di era globalisasi proses perubahan maupun pengambilan kebijakan tidak lagi dapat dipandang sebagai urusan domestik semata. Dengan terbentuknya jejaring lintas batas di antara aktor negara maupun non negara yang memiliki kesadaran yang sama atas isu tertentu, proses perubahan kebijakan berlangsung dalam two way process. Yakni proses dialektik antara pengaruh internasional dengan dinamika politik domestik, yang kemudian disebut sebagai gejala intermestik.

Terkait hal itu, Rinikso menanggapi bahwa globalisasi sebagai kondisi yang memungkinkan adanya tekanan eksternal dalam pengambilan keputusan di Indonesia sebenarnya bukan merupakan fenomena baru, mengingat fenomena tersebut sebenarnya telah ada sejak Indonesia berada pada sebelum dan selama masa kolonial. “Globalisasi di Indonesia telah muncul sejak masa awal penyebaran agama-agama yang dibawa oleh orang-orang India, Arab, Tiongkok, dan Eropa,” katanya.

Hal yang sama dikemukakan oleh Asep Nurjaman, yang menyebutkan bahwa sejak masa Soekarno dan Soeharto, pengambilan kebijakan di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengaruh asing, terutama Amerika Serikat. Karena itu, yang menjadi penting menurut Khrisno Hadi adalah pemetaan siapa saja aktor-aktor aspek internasional yang dapat mempengaruhi proses pengambilan kebijakan desentralisasidi level domestik.

Sementara itu, Kepala Laboratorium HI Ruli Inayah Ramadhoan, M.Si. berharap kesuksesan Dyah memperoleh gelar doktor kelak mampu menjadikan kajian intermestik sebagai ciri khas Prodi HI UMM. “Penting bagi kami untuk mendukung Bu Dyah dalam memperoleh gelar doktor, karena kami akan memiliki pakar yang ahli pada kajian intermestik. Sehingga, dalam waktu dekat akan diadakan kembali evaluasi kurikulum guna menempatkan intermestik sebagai kekhasan HI UMM,” tutupnya. (adm)

Shared: