Para Pakar Bahas Ancaman Proxy War di Refleksi Akhir Tahun HI UMM

Sabtu, 29 Desember 2018 10:25 WIB

Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Laboratorium Kajian Hubungan Internasional, dan Komunitas Kajian Keamanan Global dan Terorisme (K3GT) HI UMM menggelar Refleksi Akhir Tahun Dari UMM Untuk Bangsa yang bertajuk  “Indonesia Di Tengah Ancaman Proxy War (Analisa Multi Perspektif)” (27/12). Bertempat di Aula GKB 4 lantai 9, acara itu menghadirkan para pakar yang ahli dalam bidangnya. Peserta yang hadir dalam acara merupakan tamu undangan, dosen dan mahasiswa prodi HI.

Dr. David Hermawan, M.P. IPM selaku Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) yang juga pakar pertanian dan keamanan pangan memaparkan bahwa saat ini kondisi pertanian dan kelautan Indonesia mulai melemah. Banyak diantara petani yang mulai kehilangan pekerjaan. Sebab banyaknya lahan yang telah dialih fungsi dan kurangnya perhatian dari pemerintah. Hal tersebut membuktikan bahwa ancaman proxy war sangatlah nyata.

Ia melanjutkan, saat ini, di daratan pemerintah sedang melakukan impor besar-besaran, dan dilaut pemerintah melarang penangkapan ikan, dengan dalih untuk pelestarian. Hal itu berdampak pada kondisi ekonomi petani dan peternak yang mulai tak menentu. “Hal menyedihkan yang terjadi saat ini adalah ketika para petani sedang panen raya, sementara pemerintah melakukan impor beras secara besar-besaran,” tuturnya.

Sementara itu, Dr. Asep Nurjaman, M.Si. selaku pakar politik pemerintahan menjelaskan bahwa ancaman proxy war sudah terjadi sejak lama, namun dulu lebih dikenal dengan istilah kolonialisasi. Proxy war juga sangat mempengaruhi budaya dan Pendidikan di Indonesia. Negara-negara besar secara tidak langsung sudah menyebarkan budayanya ke negara lain, salah satunya Indonesia. Hal tersebut dapat menggeser nasionalitas masyarakat Indonesia,

Asep menambahkan, bahwa dalam bidang pendidikan, negara-negara besar memberikan berbagai macam beasiswa untuk belajar dinegara tersebut. Hal itu merupakan salah satu bukti lain dari adanya ancaman proxy war. “Ketika mahasiswa berangkat ke luar negeri dan mengenyam pendidikan disana, maka mahasiswa tersebut telah terkena proxy war,” tuturnya, yang disambut dengan tepuk tangan yang riuh.

Selain itu, pakar di antaranya pakar ekonomi Yunan Syaifullah, M.Sc.; pakar politik hukum Dr. Dr. Sulardi, M.Si; pakar sosiologi lingkungan Rachmad Kristiono Dwi Susilo, Ph.D; Dr. Saiman, M.Si. selaku pakar politik perbatasan; pakar media dan komunikasi Sugeng Winarno, MA; pakar teknologi dan cyber Saifuddin, M.Kom.; serta pakar Hubungan Internasional dan terorisme Gonda Yumitro, MA. (sis/nk)

 

 

 

Shared: