Membangun Common Identity Jadi Tantangan Integrasi ASEAN

Selasa, 31 Desember 2019 14:52 WIB

Program Studi Hubungan Internasional bersama Laboratorium Hubungan Internasional UMM menggelar Talkshow bertajuk “Revitalizing Asia Cultural Partnership”. Acara itu merupakan rangkaian agenda IR Exhibition bertema “Broader and Deeper Cultural Partnership”. Digelar di Sengkaling Kuliner UMM (31/12), acara dimeriahkan oleh pameran kebudayaan serta pertunjukan budaya sepuluh negara Asia Tenggara dan juga Asia Timur.

Sebagai pembicara, hadir dosen Prodi HI yang juga Pembina Malang-ASEAN Youth Community (Maycomm) Najamuddin Khairur Rijal, M.Hub.Int. dan Abubakar Eby Hara, Ph.D., dosen Prodi HI Universitas Jember. Dalam paparannya, keduanya mendiskusikan terkait diplomasi budaya dan urgensinya bagi Asia Tenggara dan ASEAN.

Najamuddin Khairur Rijal, dalam pemaparannya, menilai bahwa diplomasi budaya menjadi hal yang penting dalam merekatkan hubungan antar negara. ASEAN sendiri telah bertransformasi sebagai organisasi yang tidak lagi elitis dengan berfokus pada isu high politics, tetapi berkembang menjadi organisasi yang mulai memandang aspek sosial-budaya sebagai hal yang urgen. Hal itu terlihat pada visi untuk membangun ASEAN Community yang salah satu pilarnya adalah sosial-budaya.

Dalam kaitannya dengan itu, tantangan bagi ASEAN saat ini adalah mendefinisikan apa yang menjadi common identity mereka. ASEAN memiliki semboyan “One Vision, One Identity, One Community”. Namun, menurutnya, belum ada rumusan yang jelas tentang apa yang dimaksud dengan one identity itu. “Kalau one identity atau common identity yang ingin dibangun adalah
common cultural identity, tentu itu tidak mungkin. Sebab, negara Asia Tenggara memiliki keragaman budaya yang kaya dan akar kultural mereka berbeda-beda. Karena itu, one identity itu perlu dilihat sebagai identitas yang menyatukan mereka sebagai satu kesatuan regional,” imbuh lulusan Universitas Airlangga itu.

Baca juga: Diplomasi Budaya Kunci Kemajuan Korea Selatan, Jepang dan China

Senada dengan itu, Abubakar Eby Hara menilai bahwa beberapa negara Asia Tenggara telah secara intens melakukan berbagai aktivitas diplomasi budaya, khususnya Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Vietnam. Menurutnya, budaya telah dipandang sebagai elemen penting untuk membangun kemitraan antar negara sekaligus mencapai berbagai kepentingan nasional masing-masing.

Namun demikian, dalam konteks tren global, negara-negara Asia Tenggara pada saat yang sama menerima berbagai budaya populer, di antaranya Korean Pop Culture, Japan Pop Culture dan lainnya. Karena itu, tantangannya adalah bagaimana mempertahankan identitas dan budaya nasional di tengah persentuhannya dengan tren global. “Dalam konteks itu, bisa melahirkan resistensi budaya lokal atau terjadi percampuran atau hibridisasi budaya,” ujardoktor lulusan Australia National University itu. (nk)

Shared: