Kang Yoto untuk Berbagai Pengalaman Kesuksesan OGP di Prodi HI

Jum'at, 24 Mei 2019 10:12 WIB

Bupati Bojonegoro Periode 2008-2018 Dr. Suyoto, M.Si. hadir di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk berbagi pengalaman terkait kesuksesan Open Government Partnership (OGP) di Bojonegoro. Kang Yoto, sapaannya, hadir dalam rangkaian “Ngabuburit Kelas Intermestik: Diskusi dan Buka Bersama” yang digelar oleh Program Studi Hubungan Internasional FISIP UMM, Rabu (22/5) di Aula GKB IV Lantai 9 Kampus III UMM.

Di hadapan sekitar 200 mahasiswa HI, Kang Yoto menceritakan pengalamannya mentransformasikan daerahnya menjadi percontohan dunia. Selama kepemimpinannya menjadi Bupati, mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik itu berhasil mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Bojonegoro, sekaligus mengeluarkan Bojonegoro dari deretan 10 daerah termiskin di Jawa Timur. Melalui tangan kreatifnya, Kang Yoto melakukan sejumlah terobosan untukmengakhiri “kutukan” Bojonegoro sebagai daerah tertinggal, miskin, intoleran dan langganan banjir.

Doktor lulusan Program Doktor Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMM itu juga berhasil menjadikan Bojonegoro sebagai satu-satunya daerah di Indonesia yang menjadi percontohan dunia untuk pemerintahan terbuka atau open government. “Open government adalah pemerintahan yang transparan, efektif, dan akuntabel. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, pengusaha, dan masyarakat. Transparansi, partisipasi, dan kolaborasi menjadi kata kunci dalam mewujudkan open government. OGP memberikan akses kepada masyarakat untuk mengawasi pemanfaatan anggaran seluruh instansi di lingkungan pemerintah daerah Bojonegoro,” jelasnya.

Lebih lanjut, tambah Kang Yoto, kesuksesan open government menjadikan Bojonegoro yang dulu merupakan daerah termiskin, kini sejajar dengan beberapa kota besar di dunia seperti Paris dan Madrid.Aktivis Muhammadiyah itu bahkan ratusan kali didapuk di berbagai ajang atau forum internasional untuk berbagai resep menata kota, seperti di Brasil, Afrika Selatan, Rusia, Tiongkok, Amerika Serikat, Italia, Ghana, Filipina, Vatikan, dan lainnya. “Saya diminta memberi ceramah ke banyak negara di dunia perihal demokrasi dan pengelolaan pemerintahan yang baik, pengelolaan antisipasi bencana, hak asasi manusia, pembangunan berkelanjutan, dan lainnya,” ujar pria yang juga pernah menjadi dosen Fakultas Agama Islam (FAI) UMM itu.

Di akhir, Kang Yoto memberi motivasi pada mahasiswa agar berani untuk menjadi role model. Menurutnya, dirinya telah menjadi role model tentang bagaimana mengelola daerah miskin dan tertinggal menjadi daerah yang bangkit dan dipandang di mata dunia melalui OGP. “Jangan takut dan tetaplah percaya diri untuk menjadi role model. Karena cahaya sekicil titik pun akan nampak di tengah kegelapan,” tegasnya.

Kegiatan yang merupakan praktikum Mata Kuliah Intermestik itu juga menghadirkan akademisi Prodi HI UMM Dr. Dyah Estu Kurniawati, M.Si. Menurut Wakil Dekan I FISIP UMM itu, kesuksesan OGP tidak terlepas dari adanya proses interaksi ide di berbagai level. Untuk mengkaji OGP di Bojonegoro, paparnya, tidak bisa dilepaskan dari proses interaksi ide dari level global yang melibatkan berbagai jejaring aktor, mulai dari aktor lokal dalam hal ini pemerintah Bojonegoro, nasional hingga internasional. “Dalam kajian HI, interaksi ide dari level global atau internasional hingga ke level lokal atau domestik disebut intermestik. Adapun proses mengalirnya ide itu, dalam penelitian saya, disebut dengan kapilaritas,” tandasnya.

Selain itu, menurut Dekan FISIP Dr. Rinikso Kartono, M.Si., seiring dengan kesuksesan Bojonegoro, beberapa strategi pembangunannya perlu diadopsi, sekaligus ke depan FISIP UMM akan menjadikan daerah itu sebagai laboratorium masyarakat.Laboratorium yang dimaksud dalam hal menjadikan Bojonegoro sebagai sarana pendidikan dan pengajaran, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat oleh sivitas akademika FISIP. (nk)

 

Shared: