HI UMM Apresiasi 57 Film Karya Mahasiswa

Selasa, 31 Desember 2019 17:27 WIB

Sebanyak 57 film pendek hasil karya mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional UMM mengikuti Festival Film Kominter. Festival film tersebut merupakan rangkaian praktikum mata kuliah Komunikasi Internasional yang dibina oleh dua orang dosen, Shannaz Mutiara Deniar, MA dan Devita Prinanda, M.Hub.Int. Keseluruhan film tersebut bertema social empowerment, yang memotret kisah “pahlawan” lokal yang berhasil memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungannya.

Shannaz Mutiara Deniar, MA mengungkapkan bahwa 57 film tersebut dapat disaksikan di channel Youtube “International Relations UMM”sejak pekan kedua bulan Desember. Jelas lulusan Yeungnam University Korea Selatan itu, semua film dilakukan penilaian oleh dewan juri dalam hal konten, kreativitas, nilai moral dan human interest serta jumlah penonton.

Sementara itu, Devita Prinanda, M.Hub.Int. menilai bahwa kreativitas mahasiswa HI UMM dalam menggarap film patut diapresiasi. Menurutnya, meskipun secara teknis mereka tidak pernah diajarkan tentang audiovisual, tetapi hasil film mereka sangat menarik. “Setidaknya ini menunjukkan bahwa mahasiswa HI UMM itu multitalenta. Tidak hanya menguasai dinamika politik internasional dan ragam teorihubungan internasional, tetapi juga memiliki kompetensi tambahan, salah satunya dalam hal film creator,” imbuhnya.

Lebih lanjut, setelah melalui serangkaian proses penilaian, ada 8 nominasi film terbaik. Ke delapan nominator itu adalah film berjudul Sampah Cantik Tanda Mata Kampung Biru, Pundi-Pundi di Balik Jeruji Besi, Preman Mengajar, Sebuah Perjalanan di Sudut Kota Surabaya, Pemberdayaan Pariwisata di Jodipan, The Journey of Republik Gubuk, Adas Mulyo Cerita Sembunyi di Balik Keindahan Bromo, serta Desaku Menanti.    

Adapun apresiasi dan pemberian penghargaan film terbaik dilakukan dalam rangkaian IR Exhibition “Broader and Deeper Cultural Partnership” di Sengkaling Kuliner UMM (31/12). Dalam agenda tersebut, juga dipamerkan hasil karya poster tentang konflik internasional sebagai praktikum Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik. Selain itu, juga digelar pemeran dan pertunjukan budaya Asia Tenggara dan Asia Timur. (nk)

Shared: