Diplomasi Budaya Kunci Kemajuan Korea Selatan, Jepang dan China

Selasa, 31 Desember 2019 14:33 WIB

Kawasan Asia Timur merupakan kawasan yang kaya budaya. Kekayaan budaya itu menjadikan China, Jepang dan Korea Selatan aktif mempromosikan budaya mereka melalui berbagai aktivitas diplomasi budaya. Diplomasi budaya bahkan menjadi instrumen penting yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi ketiga negara itu.

Hal itu mengemuka dalam Talkshow bertajuk “Revitalizing Asia Cultural Partnership” yang digelar Program Studi Hubungan Internasional dan Laboratorium Hubungan Internasional UMM. Talkshow itu merupakan rangkaian acara IR Exhibition bertema “Broader and Deeper Cultural Partnership” yang digelar di Sengkaling Kuliner UMM (31/12).

Hadir sebagai pembicara, dosen Prodi HI UMM yang juga pegiat kajian Korea Selatan Shannaz Mutiara Deniar, MA., dosen Program Studi Sastra Jepang Universitas Dr. Soetomo Surabaya Dra. Cicilia Tantri Suryawati, M.Pd., serta Rizki Rahmadini Nurika, MA. dari Pusat Kajian Indonesia-Tiongkok UIN Sunan Ampel Surabaya.

Dalam paparannya, Shannaz mengisahkan bagaimana Korea Selatan menjadikan budaya populer mereka sebagai instrumen untuk membangun citra Negeri Gingseng itu. Menurutnya, semua orang di dunia mengenal bahkan gandrung terhadap Korean Pop Culture atau K-Pop. K-Pop sendiri, tambah lulusan Yeungnam University Korea Selatan itu, menjadi sarana diplomasi budaya dan menunjukkan bahwa Korea Selatan berhasil dalam menarik minat masyarakat dunia untuk mencintai Korea Selatan.

“Penyebaran K-Pop ke seluruh dunia sangat pasti memberikan keuntungan ekonomi bagi Korea Selatan. Tidak hanya ekonomi, K-Pop bahkan berhasil menciptakan tren kecantikan dan gaya hidup generasi milenial melalui berbagai produk kecantikan, grup musik, hingga makanan,” pungkasnya di hadapan lebih dari 300 mahasiswa.

Hal yang sama diungkapkan Cicilia Tantri dalam menggambarkan kesuksesan diplomasi budaya Jepang. Menurutnya, kekuatan diplomasi budaya Jepang salah satunya pada anime dan manga yang digemari banyak kalangan di seluruh dunia. Anime dan manga itu, tambahnya, mampu menjadi instrumen dalam memperkenalkan budaya, nilai-nilai, dan kebiasaan masyarakat Jepang. Pihaknya mencontohkan bagaimana Captain Tsubasa menjadi instrumen untuk memperkenalkan sepak bola. “Hasilnya Anda bisa lihat, sepak bola Jepang merupakan yang terkuat di Asia Timur,” imbuhnya.

Baca juga: HI UMM Pamerkan Budaya Asia Tenggara dan Asia Timur

Di sisi lain, berbeda dengan Korea Selatan dan Jepang, menurut Rizki Rahmadini, China menggunakan kekayaan budaya tradisionalnya sebagai instrumen diplomasi budaya. Bahkan China menggelontorkan dana yang sangat besar gumengajak orang ke negaranya untuk mengenal budaya masyarakat China dan nilai-nilai Konfusianisme. Menurut lulusan Universitas Airlangga itu, China ingin menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonominya saat ini berorientasi pada peacefull rise, bukan untuk tujuan yang agresif.

Secara terpisah, Ketua Program Studi HI UMM M. Syaprin Zahidi, MA mengungkapkan bahwa acara tersebut merupakan salah satu agenda tahunan HI UMM. Selain sebagai bentuk praktikum mahasiswa, tujuannya adalah untuk memperkenalkan berbagai budaya kepada mahasiswa. “Karena salah satu kekhasan Prodi HI UMM adalah mengkaji berbagai kawasan sekaligus memiliki beberapa komunitas kajian kawasan, seperti kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara,” pungkasnya.  (nk)

Shared: