CEAS Talk Hadirkan Pembicara dari China, Jepang, Taiwan dan Korea Selatan

Kamis, 02 April 2020 05:49 WIB

Komunitas Kajian Asia Timur, Community of East Asia Studies (CEAS) HI UMM menggelar CEAS Talk (1/4) secara daring. Dengan tema “Covid-19 In East Asia”. Sebagai narasumber adalah beberapa WNI yang menetap di berbagai wilayah Asia Timur. Yakni, Nila Aprilia (Institut Teknologi, China), Siti Fatimah (Universitas Yeungnam, Korea Selatan), Arin Yonata (Universitas Asia, Taiwan), serta Devi Marpuatin (Perawat Panti Jompo, Jepang).

Arin Yonata mengisahkan bagaimana kondisi Covid-19 di Taiwan. Taiwan mengeluarkan sebuah kebijakan khusus untuk melakukan karantina terhadap warga negara asing yang masuk ke Taiwan dengan cara menerapkan pembatasan warga negara yang ingin masuk maupun keluar dari Taiwan. Selain itu, pemerintah Taiwan juga memberikan fasilitas kesehatan seperti masker yang dibagikan secara gratis. Menurutnya, hingga saat ini, Taiwan menjadi salah satu negara yang dapat dikatakan penyebaran Covid-19 yang paling sedikit. Karena pemerintah Taiwan yang cepat dan tanggap dalam mencegah penyebaran Covid-19.

Berbeda dengan China, yang memberi pengawasan ketat dengan cara menunjukkan kode QR sebagai salah satu persyaratan masuk kampus bagi mahasiswa asing. Segala identitas dan riwayat penyakit akan terekam di kode QR. “Penyebaran virus Covid-19 di Wuhan disebabkan masyarakat yang sudah terinfeksi Covid 19, namun pulang ke daerahnya masing-masing. Hal itulah yang membuat virus corona menyebar dengan cepat,” papar Nila Aprilia. Dalam hal ini,  pemerintah China mengambil kebijakan dengan cara melarang seluruh warga negara asing untuk datang ke China. Warga negara China pun juga dilarang untuk keluar maupun masuk China.

Sementara itu, Siti Fatimah berbagi pengalaman selama ia menetap di Korea. Ia mengatakan bahwa beberapa hari terakhir Korea Selatan sempat mengalami peningkatan wabah Covid-19. Pada saat itu, warga negara Indonesia sempat panik. Namun dari pihak KBRI menghimbau agar seluruh WNI yang berada di Korea Selatan tetap tenang dan tidak panik. Dalam menanggapi pandemi Covid-19 ini, pihak staf KBRI Seoul menunjukkan kepeduliannya dengan cara mengecek dan memantau WNI yang berada di Korea Selatan. Beberapa staf KBRI ditugaskan untuk menghubungi mahasiswa Indonesia untuk menanyakan kabar dan memberikan peringatan untuk tetap berhati-hati.

Berbeda dengan situasi di Jepang, Devi Marpuatin yang menjadi salah satu perawat panti jompo di Kota Aomori, Jepang, mengatakan bahwa masyarakat Jepang tidak terlalu merasakan panik ataupun khawatir terhadap pandemi Covid-19. Seluruh aktivitas masih berjalan seperti biasanya. Mal dan tempat umum masih ramai lalu lalang.  Namun, masyarakat Jepang sempat mengalami panic buying dengan membeli tisu dalam skala besar. Pemerintah Jepang sendiri belum menerapkan kebijakan lockdown negaranya. Akan tetapi, dalam menanggapi pandemi Covid-19 pemerintah Jepang tindak cepat dengan cara menjemput seluruh warga negara Jepang yang berada di China serta mengarantina warga negaranya selama 14 hari.

Kajian daring perdana yang digelar CEAS ini disambut antusiasi oleh mahasiswa. Salah satunya pesertanya bahkan salah satu mahasiswa UMM yang sedang menempuh beasiswa pertukaran pelajar Erasmus+ di Italia. (nrd)

Shared: