CEAS Kaji Korean Pop Culture

Jum'at, 18 Oktober 2019 20:46 WIB

Wujud kecintaan terhadap budaya Korea rupanya tidak hanya sebatas fanatisme idola semata. Community of East Asia Studies (CEAS) HI UMM dalam kajian rutin membahas materi tentang "Korean Popular Culture" lewat perspektif unik (18/10), bertempat di Laboratorium HI. Dengan menggunakan sudut pandang akademik, ternyata proses berkembangnya budaya Korea hingga populer seperti saat ini tidak dapat dilepaskan dari konsep diplomasi.

Shannaz Mutiara Deniar, MA sebagai pemateri menjelaskan bahwa artis atau idol Korea menjalani banyak pelatihan, salah satunya pelatihan bahasa. Tujuannya adalah agar para idol ini juga bisa terkenal di mancanegara. Para idol umumnya belajar bahasa Inggris, Mandarin, dan Jepang agar dapat lebih dekat berinteraksi dengan penggemarnya, baik lewat lagu maupun konser langsung. "Menyapa para fans dengan bahasa mereka dapat mendongkrak popularitas idol tersebut", ujar dosen HI UMM jebolan Korea Selatan ini.

Sementara itu, mahasiswa HI UMM pengkaji budaya Korea Safira Dwitasari Kusuma menyampaikan strategi-strategi yang digunakan oleh agensi hiburan Korea. Menggunakan contoh SM Entertainment, dirinya menjelaskan ada dua cara agensi untuk menjual "produk" dari artis mereka. Cara pertama yaitu B to B atau "business to business", di mana agensi menjual konten seperti jingle atau iklan ke perusahaan agensi atau media lain. Sedangkan cara kedua adalah B to C atau "business to customer", di mana agensi hiburan menjual langsung lagu atau video klip artisnya ke konsumen melalui penjualan kaset, album, konser dan lain sebagainya. "Selain itu, kesuksesan dunia industri hiburan di Korea juga tidak terlepas dukungan positif dari Pemerintah", imbuhnya.

Para peserta yang hadir sangat antusias mendengarkan bahkan mengomentari diskusi kajian. Salah satu peserta, Eva Ermylina, berkomentar tentang ketatnya pelatihan yang dijalani para Idol Korea. Di balik kesuksesan dan popularitas para idol, ternyata banyak yang harus dikorbankan, salah satunya pendidikan. "Banyak idol Korea yang mulai training di agensi sejak usia sekolah. Terkadang idol-idol juga mengorbankan masa kanak-kanak mereka akibat padatnya jadwal latihan. Beberapa dari mereka juga akhirnya drop-out dari sekolah karena berfokus membangun karier di dunia entertainment", terangnya. (ceas)

Shared: