Hubungan Internasional
Universitas Muhammadiyah Malang
Hubungan Internasional
Universitas Muhammadiyah Malang

Belajar kepada Korea Selatan dan Jepang

Author : Administrator | Senin, 25 Januari 2010 13:31 WIB

Pada hari Selasa (18/8/09), Pusat Kajian Asia Timur (Centre for East Asia Studies/CEAS) Jurusan Hubungan Internasional UMM, mengadakan diskusi dengan tema “Budaya Korea”. Diskusi ini dilaksanakan di Ruang 611, FISIP UMM dengan mendatangkan pembicara Ms. Kim Jung Mi, salah satu staf KOICA (Korea International Cooperations Agency) di Indonesia. Dalam diskusi ini, Kak Mia, panggilan Kim Jung Mi bercerita tentang perbandingan budaya dan kehidupan antara masyarakat Indonesia dan Korea Selatan. Salah satu pernyataan beliau yang cukup membuat peserta terkejut adalah pandangannya mengenai pola pengajaran terhadap anak-anak di Indonesia yang menurutnya terlalu bebas dan permisif, berbeda dengan di Korea Selatan dimana anak-anak diajarkan tentang tanggung jawab dan disiplin tinggi. Setelah acara selesai, anggota CEAS mengajak Kak Mia untuk berkunjung ke Jurusan HI UMM dan diakhiri dengan makan siang bersama di Laboratorium Hubungan Internasional, di Masjid AR. Fachrudin Lantai1 dengan menu makanan tradisional Indonesia yaitu pecel dan beberapa jajanan pasar.

Satu minggu setelah kedatangan tamu dari Korea Selatan, CEAS mengadakan kunjungan ke Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, pada Kamis, 27 Agustus 2009. Hal yang membanggakan adalah ketika CEAS berhasil “berdiplomasi” dan hanya membutuhkan waktu satu minggu, untuk mendapatkan ijin berkunjung dan berdiskusi dengan Konsul Jenderal Jepang di Surabaya, HE. Yasuji Odoko.

Dalam kesempatan ini, beliau menjelaskan tiga hal penting tentang Jepang yaitu Ekonomi, Demokrasi dan HAM. Diplomat yang pernah menjadi perwakilan Jepang di International Labour Organization (ILO) PBB dan beberapa negara di Afrika ini juga menjelaskan tentang prospek Pemilu Jepang yang dilaksanakan pada 30 Agustus 2009.

Ditengah-tengah diskusi, CEAS disuguhi dengan pemutaran film tentang kehidupan masyarakat Jepang. Dari lima film yang ditampilkan, terdapat tiga film yang mengundang decak kagum para anggota CEAS yaitu film tentang bagaimana masyarakat Jepang membangun taman-taman diatas gedung bertingkat untuk mengurangi efek Global Warming. Film kedua tentang penggunaan teknologi dan robot dalam sistem pertanian di Jepang yang berteknologi tinggi. Film ketiga tentang penggunaan HP/telepon genggam yang dilengkapi dengan chip yang berfungsi layaknya ATM. Sehingga masyarakat Jepang kemana-mana tidak perlu membawa uang tunai atau kartu ATM untuk berbelanja, membeli tiket kereta api atau mengambil uang di ATM, cukup dengan memindai bagian belakang HPnya pada sensor yang telah disediakan. Setelah kunjungan dari Konsulat Jepang di Surabaya, anggota CEAS berkunjung ke Masjid Cheng Ho dan The Little Shanghai di Pandaan dengan menggunakan pakaian tradisional China dan Jepang.

 (Tonny, Sept 09)

Shared:

Komentar

Tambahkan Komentar


characters left

CAPTCHA Image